Renungan Harian 296 (Jumat, 21 Juni 2019)

Tanda Anak Manusia

Devotion from Matius 24:29-35

Yesus mengatakan bahwa kehancuran Yerusalem menjadi tanda bahwa Anak Manusia bertakhta di atas segala bangsa. Ini merupakan nubuat yang telah dinyatakan di dalam Perjanjian Lama. Yesus mengutip Yesaya 13:10 dan Yesaya 34:4 sebagai ayat-ayat yang menyatakan berakhirnya kekuasaan bangsa-bangsa. Seluruh nubuat ini tidak dimaksudkan untuk ditafsirkan secara literal. Tuhan Yesus tidak memaksudkan matahari menjadi gelap atau bintang-bintang berjatuhan ke bumi. Yang dimaksudkan Yesus, sama seperti yang dimaksudkan Yesaya, adalah kegoncangan besar di antara bangsa-bangsa di bumi. Kuasa politik dengan mudah hancur dan tumbang. Kebesaran raja-raja dan kuasa kerajaan-kerajaan yang ada terus menerus bergolak dan berpindah. Sejak Yesaya menulis nubuatnya hingga saat Yesus Kristus menyatakannya di dalam bacaan hari ini, kuasa politik bangsa yang paling besar sekalipun tidak ada yang bertahan terus menerus. Sejak saat kerajaan Asyur menjadi besar dan menghancurkan begitu banyak bangsa, kemudian kemunculan kerajaan Babel yang menghancurkan Asyur, hingga Romawi yang menghancurkan begitu banyak kerajaan dan muncul menjadi kerajaan terbesar dan terkuat saat itu, tidak ada satu pun kerajaan yang tidak diruntuhkan dan dihancurkan untuk memberi jalan bagi kebangkitan kerajaan lain. Maka, sebagaimana digambarkan Yesaya, bangsa-bangsa akan hancur dan kuasa-kuasa besar yang paling agung sekalipun akan runtuh. Hanya Kerajaan Allah yang tidak akan runtuh, malah akan terus bertambah besar di dalam pengaruh dan kekuatan di bumi ini (Dan. 2:44).

Tuhan Yesus mengingatkan kembali para murid tentang nubuat tersebut. Bangsa-bangsa akan goyah, tetapi Kerajaan Allah akan semakin besar dinyatakan. Kerajaan Allah yang bertakhta di surga akan dipimpin oleh Sang Raja yang juga bertakhta di surga sambil menanti waktu ketika Dia akan menjadikan semua bangsa menjadi tumpuan kaki-Nya. Inilah yang telah Allah nyatakan melalui Daniel (Dan. 7:13-14) dan yang Yesus ulangi di dalam ayat 30. Anak Manusia adalah istilah yang Daniel gunakan untuk menggambarkan Sang Raja yang akan kekal memerintah seluruh bumi. Anak Manusia ini akan menggantikan seluruh kerajaan dan seluruh kuasa di muka bumi. Tetapi sebelum saatnya Dia dinyatakan di seluruh bumi dan seluruh bangsa ditaklukkan kepada Dia, Dia terlebih dahulu harus duduk di takhta yang diberikan oleh Bapa di surga dengan duduk di sebelah kanan Allah. Inilah takhta Kristus. Tidak ada posisi dan takhta apa pun di dunia yang layak bagi Dia. Hanya posisi dan takhta di sebelah kanan Allah penguasa alam semestalah satu-satunya tempat yang layak bagi Dia. Saat Yesus Kristus dipermuliakan dengan duduk di sebelah kanan Allah inilah umat tebusan-Nya sedang dipersiapkan di seluruh bumi. Dengan Dia berada di takhta yang tertinggi, maka umat tebusan-Nya ini akan dipanggil dari seluruh bumi, dan Kerajaan-Nya akan menyebar dengan kekuatan paling besar di seluruh bumi. Kekuatan paling besar untuk menyebar, menaklukkan, dan bertahan di tengah situasi paling sulit sekalipun.

Tetapi umat-Nya ini justru akan dipanggil dari berbagai penjuru bumi, dan bukan lagi dari Israel. Yerusalem dihancurkan, tetapi penganiayaan, kebinasaan, dan sengsara besar yang dibawa bersama-sama dengan kehancuran Yerusalem hanyalah permulaan penderitaan menjelang zaman baru (Mat. 24:8). Permulaan penderitaan tetapi disusul dengan pemanggilan umat-Nya, yaitu mereka yang percaya kepada Kristus, dari seluruh penjuru bumi. Yerusalem hancur. Bait Suci hancur. Israel harus melarikan diri. Orang-orang Kristen di Yerusalem dan di Yudea pun harus melarikan diri. Mereka dikepung, dihancurkan, dianiaya, dan dibinasakan oleh Romawi tanpa ampun. Penderitaan yang sangat besar, bahkan mungkin salah satu bencana paling besar yang pernah mereka alami, adalah di tangan Romawi pada tahun 70-an Masehi. Yesus Kristus telah memberikan nubuat dan peringatan-Nya dengan sangat jelas.

Inilah penggenapan dari janji Tuhan kepada Israel. Sang Raja, Anak Daud, telah datang. Tetapi mengapa Dia tidak diberikan tempat di Yerusalem? Mengapa Dia tidak menyatukan kuasa politik dengan kuasa agama di Israel? Mengapa Dia harus mati? Mengapa setelah bangkit pun Dia tidak mendirikan kerajaan-Nya di Israel? Karena Kerajaan-Nya harus mencapai seluruh bumi (Yes. 49:6). Kerajaan-Nya menyebar bukan dengan berpusat di Yerusalem dan di Bait Suci yang dibangun Herodes. Dia sendirilah Bait Suci. Di sebelah kanan Allah Bapa-Nya di surgalah tempat yang paling layak bagi Dia, jauh lebih tinggi daripada seluruh kerajaan di dunia, dan jauh lebih tinggi daripada takhta Daud di Yerusalem. Maka Kristus menjadi Raja dan Kerajaan-Nya tidak tergoncangkan. Seluruh kuasa di bumi bangkit dan hancur. Seluruh bangsa di bumi menjadi berkuasa, tetapi kemudian menjadi takluk. Tidak ada yang bertahan. Tetapi takhta Kristus yang melampaui bumi dan langit, takhta Kristus yang ada di sebelah kanan Allah Bapa di surga, tidak tergoyahkan sampai selama-lamanya!

Takhta Kristus di atas inilah sumber kekuatan yang pasti dan dahsyat sehingga umat Kristus terus bertambah dan semakin besar memenuhi bumi ini. Mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, lalu menyebar ke daerah-daerah orang Yunani, Mesir, Roma, hingga Spanyol, dan akhirnya seluruh bumi, benih-benih Injil disebarkan dan orang-orang beriman dimunculkan. Ketika Kristus datang kedua kali nanti, ketika para malaikat mengumpulkan umat Tuhan, yaitu gandum-gandum yang telah ditabur sejak Kristus bangkit hingga kedatangan-Nya yang kedua, barulah menjadi nyata kuasa yang tidak tergoyahkan yang dimiliki oleh Kristus dan para pengikut-Nya yang tersebar di seluruh bumi. Kristus yang sejati akan datang kembali dengan cara seperti ini. Mesias palsu tidak sanggup menghadapi kuasa kerajaan dunia ini, tetapi Kristus yang sejati, Dialah yang akan mengakhiri kuasa seluruh kerajaan di dunia ini.

Kehancuran Yerusalem telah terjadi di tahun 70 Masehi. Panglima Romawi bernama Titus mengepung Yerusalem ketika orang-orang Yahudi dari berbagai daerah dan bangsa sedang berkumpul. Ketika itu terjadi peperangan yang sangat dahsyat, tetapi pada akhirnya Romawi menang. Bait Suci dibakar, dan Yerusalem dihancurkan. Penganiayaan yang timbul ketika itu sangat dahsyat. Orang Israel yang tidak melarikan diri mati terbunuh, dan yang melarikan diri harus pergi tanpa mengingat harta mereka. Kehancuran yang mereka alami mengingatkan kembali saat Babel menghancurkan kota Yerusalem. Tetapi Romawi melakukannya dengan lebih brutal karena mereka berniat menghancurkan sama sekali Yerusalem beserta penduduknya yang terus menerus menjadi sumber masalah bagi mereka. Mereka membakar Bait Suci dan mendirikan simbol Romawi di tengah-tengahnya. Mereka mempersembahkan korban di tengah-tengah Bait Suci kepada dewa Jupiter yang mereka sembah sebagai raja para dewa. Kematian yang mengerikan menjadi pemandangan yang sangat banyak ditemui di kota itu setelah Romawi menang. Josephus, sejarawan Yahudi, mengatakan bahwa tentara-tentara Roma begitu brutal mencari siapa pun yang bisa mereka bantai. Dan ketika mereka sudah kehabisan orang untuk dibantai, maka mereka melampiaskan kemarahan mereka ke bangunan-bangunan yang ada, terutama bangunan Bait Suci. Mereka membakar tempat itu hingga runtuh. Baik orang Kristen maupun orang Yahudi tidak mungkin selamat dari murka bangsa Romawi ini kecuali mereka telah terlebih dahulu lari meninggalkan Yerusalem seperti yang telah diperingatkan oleh Tuhan Yesus. Tetapi di tengah-tengah kekacauan ini, perkataan Tuhan Yesus menjadi kekuatan yang sangat besar. Langit dan bumi sekalipun boleh berlalu, tetapi firman Tuhan tetap selamanya. Kerusakan, kehancuran, perang, bahkan pemusnahan massal boleh dilakukan oleh kerajaan-kerajaan dan bangsa-bangsa yang kuat, tetapi ada Kristus yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga, jauh lebih tinggi dari siapa pun dan jauh lebih kuat dari kuasa apa pun. Dialah yang akan menjaga dan memelihara kita. Bahkan kematian pun tidak akan memisahkan kita dari tangan-Nya yang penuh kuasa dan kasih setia (Rm. 8:17-18). (JP)