Renungan Harian 300 (Selasa, 25 Juni 2019)

Tanggung Jawab para Hamba

Devotion from Matius 25:14-30

Perumpamaan berikut yang Tuhan Yesus berikan mengenai berjaga-jaga hingga akhir adalah tentang hamba-hamba yang dipercayakan harta tuan mereka yang akan pergi ke negeri yang jauh. Sama seperti bagian sebelumnya, yaitu perumpamaan mengenai gadis-gadis penyambut kedatangan pengantin, demikian juga bagian ini menekankan relasi antara tuan dan hamba. Bahkan perumpamaan-perumpamaan ini pun dimulai dengan satu perumpamaan mengenai hamba yang baik dan hamba yang jahat (Mat. 24:45-51). Dalam semua perumpamaan ini Yesus memberikan penekanan bahwa menantikan kedatangan sang tuan adalah penantian di dalam sebuah tanggung jawab. Mereka tidak menantikan tuan mereka di dalam keadaan menganggur. Perumpamaan pertama mengatakan bahwa para hamba itu dipercayakan hamba-hamba tuannya yang lain. Perumpamaan kedua mengatakan bahwa para perempuan itu dipercayakan obor dan tugas untuk menyambut. Perumpamaan ketiga mengatakan bahwa hamba-hamba itu dipercayakan uang tuan mereka. Semua memiliki tugas, dan tugas yang mereka harus jalankan itu sangat penting. Tidak satu pun dari mereka yang dipercayakan hal yang bisa dipermainkan. Tugas mengawasi hamba-hamba lain adalah tugas yang sangat penting karena meletakkan seorang hamba menjadi hamba kepercayaan tuannya. Menyambut sang pengantin adalah tugas yang penting dan sangat penuh dengan penantian untuk bersukacita bersama-sama kedua pengantin. Dipercayakan harta tuan adalah kehormatan yang sangat besar bagi seorang hamba.

Perumpamaan kali ini juga memberikan gambaran yang sama. Tiga orang hamba dipercayakan harta tuan mereka. Apa maksudnya hal ini? Hal ini menempatkan ketiga hamba itu sebagai orang kepercayaan sang tuan untuk mengelola harta. Mereka diberikan otoritas dari sang tuan untuk memutuskan apa yang perlu guna mengusahakan harta tuan mereka. Mereka bukan lagi hamba biasa, tetapi wakil dari tuan mereka. Betapa besarnya tuan mereka menghargai mereka! Meskipun ketiga orang itu dipercayakan uang dalam jumlah yang berbeda, tetapi setiap mereka telah diangkat menjadi wakil kepercayaan untuk mengembangkan harta tuan mereka. Tuan mereka memberikan penghargaan besar kepada ketiga orang hamba itu.

Mendapatkan kepercayaan besar seperti itu tentu seharusnya membuat para hamba itu gentar. Mereka seharusnya merasa tidak layak dan mereka seharusnya mengerjakan apa yang dipercayakan kepada mereka dengan tekun, takut, dan gentar. Kedua orang hamba yang pertama, yang dipercayakan lima talenta uang dan dua talenta uang bersikap penuh tanggung jawab. Mereka sadar bahwa tuan mereka mengambil risiko sangat besar dengan memercayakan mereka uang. Tuan itu meletakkan usahanya untuk maju atau hancur di tangan para hamba ini. Tetapi hamba yang ketiga menghina penghormatan yang diberikan oleh tuannya itu. Dia tidak gentar karena dia tidak menghormati tuannya sehingga penghormatan yang diberikan tuannya itu dianggap sepi olehnya. Tindakan hamba ini bukan saja malas, tetapi jahat! Mengapa jahat? Karena dia menganggap jahat motivasi tuannya yang memberikan kepercayaan kepada dia. Jika seseorang dengan tulus ingin memberikan penghargaan kepada kita, mengangkat kita untuk melakukan pekerjaan yang terhormat, dan memberikan kepercayaan kepada kita kuasa atas uang dia untuk kita kelola, bukankah sangat jahat kalau kita menyebut dia jahat dan kejam, mau menuai di tempat dia tidak menabur? Bukankah jahat kalau kita menyebut dia memanfaatkan dan memeras kita?

Hamba yang ketiga menganggap tuannya jahat. Tuannya yang ingin menghormati dia dan memercayakan kepada dia pekerjaan yang sangat penting ini dicap jahat! Tetapi jika benar tuannya itu jahat, bukankah dia seharusnya melakukan sesuatu terhadap uang itu? Hamba yang malas ini tidak konsisten. Mulutnya mengatakan bahwa tuannya jahat, tetapi tingkahnya yang menyembunyikan uang tuannya dan tidak mau bekerja ini sebenarnya sedang menunjukkan bahwa dia menganggap tuannya itu lemah dan tidak akan menuntut apa-apa. Ini hanya mungkin terjadi jika tuannya itu adalah seorang yang baik dan penuh kesabaran. Orang sabar dan baik akan sering dianggap remeh dan diabaikan. Tuhan yang baik dan sabar pun sering manusia anggap remeh dan abaikan. Jadi dengan mulutnya hamba itu mengatakan tuannya jahat dan menyerap keuntungan tanpa bekerja, tetapi dengan tindakannya dia menyatakan bahwa tuannya itu gampang dipermainkan. Seluruh tindakan hamba yang ketiga ini membuktikan bahwa dia malas, menghina tuannya, tidak peduli anugerah, dan tidak menaruh hormat sama sekali kepada tuan yang telah menghormati dia dengan kedudukan sebagai pengusaha atas uang tuan itu.

Perumpamaan ditutup dengan pemberian kepercayaan yang besar kepada hamba pertama dan kedua, ditambah dengan talenta hamba yang ketiga kepada hamba yang pertama. Siapa yang menunjukkan kesetiaannya terhadap perkara-perkara yang dipercayakan, besar atau kecil, akan ditambahkan kepercayaan oleh Tuhan. Siapa yang gagal menjalankan kepercayaan yang telah diberikan, dia tidak akan lagi diberikan kepercayaan itu. Hamba ketiga dipercayakan dan gagal. Hamba pertama dipercayakan dan setia. Maka hamba pertama diberikan penghormatan berupa tanggung jawab lebih dan hamba ketiga dibiarkan dengan tangan kosong karena dia tidak setia.

Ini menjadi perumpamaan yang sangat penting bagi kita. Jika Tuhan memercayakan pekerjaan apa pun untuk melayani Dia, apakah kita telah sanggup untuk melihatnya dengan benar, yaitu sebagai bentuk penghormatan yang Tuhan berikan, di mana kita sama sekali tidak layak untuk menerimanya? Atau, seperti hamba yang jahat itu, kita menganggap Dia sedang menyusahkan kita dengan niat untuk menyerap tenaga dan usaha kita demi diri-Nya sendiri? Tuhan tidak perlu kita! Jika kita diberikan kepercayaan, maka itu adalah anugerah bagi kita. Tuhan rela memakai kita. Tuhan rela memercayakan “harta-Nya” kepada kita sekalian untuk kita kelola. Jika Tuhan hanya ingin mendapatkan untung, apakah mungkin kemampuan kita dapat memuaskan Dia? Bukankah para malaikat di surga dapat melakukan apa pun dengan jauh lebih baik daripada kita?

Hamba yang pertama dan kedua menyadari penghormatan yang diberikan tuan mereka. Itulah yang mendorong mereka untuk mengerjakan bagian mereka dengan setia. Mereka tidak mempermasalahkan berapa besar kepercayaan itu diberikan. Fakta bahwa tuan mereka rela memberikan kepercayaan itu telah menjadi kekuatan yang cukup bagi mereka untuk menjalankan uang tuan mereka itu dengan giat hingga menghasilkan keuntungan. Kita yang diizinkan hidup sebagai umat-Nya, apakah kita sadar bahwa Tuhan pun sedang memercayakan harta-Nya kepada kita saat ini? Saat ini, di dalam hidup kita, Tuhan sedang memberikan kepercayaan kepada kita. Mari kita perjuangkan agar apa yang mau dinyatakan oleh Tuhan dapat benar-benar kita jalankan dengan segenap usaha dan kerelaan. Tempat kita bekerja, usaha, studi, melayani, dan hidup, itulah sebenarnya “harta” milik Tuan kita, yaitu Kristus sendiri. Dia mengambil risiko sangat besar dengan memercayakan itu ke bejana tanah liat yang retak seperti kita. Inilah hak istimewa dan penghormatan yang Tuhan rela berikan kepada kita yang sangat tidak layak mendapatkannya. (JP)