Rela Mati demi Tuhan?

Devotion from Matius 26:30-35

Setelah mengucapkan berkat dan memanjatkan puji-pujian yang umum dilakukan di dalam perjamuan Paskah, Yesus melanjutkan perjalanan-Nya bersama dengan murid-murid menuju bukit Zaitun. Pada waktu itu Yesus kembali mengingatkan murid-murid-Nya akan apa yang harus segera terjadi. Sang Gembala akan dipukul oleh Allah. Sang Gembala akan dihantam oleh karena dosa orang banyak. Tetapi, berbeda dengan berita mengenai kematian-Nya sebelumnya, kali ini Yesus mengatakan bahwa murid-murid-Nya akan lari meninggalkan Dia. Ini tercatat di dalam Zakharia 13:7. Domba-domba Sang Gembala akan lari tercerai berai karena Sang Gembala telah mati. Kematian Kristus akan sangat menggoncangkan semua pengikut-Nya, terutama para murid yang senantiasa bersama-sama Dia. Saat penggenapan janji Allah di dalam Perjanjian Lama telah dekat, tetapi semakin dekat janji itu menjadi genap, semakin berat bagi Yesus dan bagi para murid karena mereka harus mengalami bagaimana Sang Gembala, yaitu Yesus, dipaku di atas kayu salib demi genapnya janji Allah itu. Janji yang begitu agung bagi umat-Nya diberikan dengan cuma-cuma karena penebusan yang dilakukan oleh Sang Gembala Israel. Sang Gembala harus mati demi domba-domba-Nya, tetapi para domba harus untuk sementara waktu tercerai berai akibat tidak adanya gembala. Jika gembala yang jahat membuat domba-domba tercerai berai karena mereka jahat dan tidak memerhatikan para domba (Yeh.34:2-5), Kristus membuat domba-domba tercerai berai untuk sementara waktu karena Dia harus mati untuk menebus dosa-dosa mereka. Kematian itu menceraiberaikan untuk sementara waktu, tetapi akhirnya kematian itu akan mengumpulkan seluruh domba dari seluruh penjuru dunia.

Namun reaksi dari Petrus sangat tidak pantas. Di saat Yesus sedang menyatakan kerelaan-Nya untuk menjadi lemah dan mati, Petrus justru ingin menyatakan kekuatannya yang sebenarnya tidak ada. Yesus mengabarkan bahwa Dia akan mati, tetapi setelah itu akan bangkit dan mendahului mereka tiba di Galilea. Murid-murid belum sempat pulang ke Galilea, mereka masih di Yerusalem karena perayaan Paskah, tetapi Yesus mengatakan bahwa Dia akan segera berjumpa mereka di Galilea. Berita yang menyatakan kematian dan kebangkitan ini ternyata ditanggapi Petrus dengan tidak imbang. Petrus memerhatikan ketika Yesus berkata bahwa Dia akan mati. Tetapi Petrus tidak memerhatikan ketika Yesus berkata bahwa Dia akan bangkit dan mendahului para murid ke Galilea. Dia sangat terfokus kepada berita kematian Yesus dan murid-murid yang melarikan diri karena kematian tersebut sehingga dia justru mengabaikan bagian berita yang lain. Petrus dengan sangat percaya mengatakan bahwa dia tidak akan lari. Dia bahkan berjanji akan mati bagi Yesus. Janji yang dinyatakan karena semangat yang berlebihan, tetapi tidak dinyatakan dengan pengenalan diri yang benar.

Yesus memberitahukan kepada Petrus bahwa sebenarnya dia begitu rapuh dan goyah. Bukan saja Petrus akan menjadi takut, tetapi dia juga akan ditopang terus oleh belas kasihan Tuhan sehingga Tuhan berjanji memberikan pemulihan bahkan sebelum Petrus melakukan dosa itu. Petrus berjanji ikut Tuhan, tetapi seperti di dalam Yosua 24:19, dia tidak sanggup menjalankan janjinya. Petrus dipilih oleh Tuhan menjadi salah satu dari ke-12 murid bukan karena dia memiliki kualitas yang penting bagi Tuhan. Dia dipilih karena Tuhan mau berbelaskasihan kepada dia. Petrus hanyalah seorang penakut yang mudah diintimidasi. Dia bukanlah orang yang kuat dan setia seperti yang dia kira. Maka bagian ini menjadi bagian yang sangat penting juga bagi kerohanian kita.

Kerohanian yang buruk adalah kerohanian yang merasa diri diberkati Tuhan sebagai hasil dari kualitas yang ada pada diri kita. Tuhan tidak pernah memanggil orang karena dia berkualifikasi untuk melakukan hal-hal penting. Tuhan pilih orang hanya berdasarkan belas kasihan-Nya. Dia tidak mencari orang-orang berbakat, atau orang-orang potensial yang memiliki begitu banyak potensi yang belum tergali. Dia mencari orang-orang yang terhilang. Dokter tidak mencari orang tersehat untuk dia rawat. Dia akan mencari orang sakit untuk dia sembuhkan. Yesus tidak mencari orang benar, tetapi orang-orang berdosa (Mrk. 2:17). Mari kita buang konsep penghargaan karena jasa yang terus mengganggu pikiran ini. Jasa kita tidak akan membuat kita menjadi layak di hadapan Tuhan. Tuhan tidak memerlukan itu semua. Lagipula semua kemampuan kita toh berasal dari Dia. Dialah yang memberikannya kepada kita. Karena Dia adalah sumber segala kemampuan yang ada pada kita, maka Dia tidak memerlukan kita. Kitalah yang memerlukan Dia.

Petrus adalah orang labil yang sangat tidak konsisten. Tuhan memilih dia bukan karena sifat labil dan tidak konsistennya. Tuhan memilih dia karena Tuhan ingin menyatakan belas kasihan-Nya kepada dia. Maka Tuhan pun menyatakan seperti apakah Petrus sebenarnya. Petrus tidak kuat, tetapi lemah. Petrus tidak berani berkorban, dia akan lari meninggalkan Tuhan Yesus. Dia tidak akan mati bagi Tuhan, dia bahkan akan menyangkal Tuhannya sendiri. Petrus menjadi gambaran bagi kita semua. Mari kita pun tidak merasa diri lebih bernilai daripada orang lain. Kita harus sadar siapa kita. Kita harus tahu bahwa sifat penakut Petrus juga bagian dari diri kita. Kita pun hanyalah orang-orang berdosa yang sangat mudah menjual Yesus karena keadaan.

Pengenalan diri yang tepat akan membuat kita terus bergantung kepada Tuhan. Jika kita sadar bahwa kita tidak lebih baik daripada tokoh-tokoh Alkitab yang dibongkar dosanya, maka kita juga sadar bahwa kita harus bergantung kepada Tuhan dengan sepenuh hati dan setiap hari. Hari demi hari kiranya Tuhan kuatkan kita untuk menjadi orang-orang yang makin memuliakan nama Tuhan. Pengenalan diri yang tepat inilah yang membuat Petrus kembali dikuatkan. Dia sadar betapa lemahnya dia, maka dia pun mengharapkan Tuhan sebagai penopang satu-satunya bagi dia. Tidak ada yang sanggup menopang, mengoreksi, menegur, membentuk, mendidik, dan menyatakan teladan selain daripada Allah. Kristus, Anak Allah, memohon kepada Bapa di surga agar iman Petrus kembali dipulihkan. Anak Allah, yaitu Kristus, juga adalah pendoa syafaat bagi kita semua. Biarlah kita sadar betapa rapuh dan tak berdayanya kita. Biarlah kita sadar juga betapa mudah kita menyangkal Yesus dan meninggalkan Dia jika bukan karena Roh Kudus yang menopang kita. Siapakah kita? Kita hanyalah orang-orang berdosa yang tidak layak. Jika kita melihat kelemahan para tokoh Alkitab, segera kita sadar bahwa kita juga tidak lebih baik daripada mereka. Jika kita melihat kejatuhan para tokoh Alkitab, segera kita sadar bahwa kita pun perlu ditopang oleh tangan Tuhan supaya tidak jatuh ke dalam dosa yang sama. Dengan terus berkaca kepada kelemahan-kelemahan kita, maka kita akan memiliki kepekaan untuk meninggalkan godaan. Jika godaan datang orang Kristen harus sadar bahwa Tuhan adalah tempat untuk bergantung. Jangan bersandar diri karena diri kita ini mungkin akan segera menyangkal Yesus di depan seorang hamba perempuan yang masih muda. Mari berdoa supaya Tuhan pelihara iman kita. Jika kita menghadapi godaan, lingkungan rekan-rekan kita yang berdosa, ancaman, bahaya, dan ketakutan, marilah kita sujud kepada Allah dan memohon kekuatan dari Dia sehingga kita tidak mempermalukan Dia. Inilah satu-satunya cara kita dapat menang. Inilah satu-satunya cara kita dapat berjuang dengan segiat dan sekuat mungkin untuk mengikut Yesus. (JP)