Renungan Harian 312 (Minggu, 7 Juli 2019)

Yesus Disalib

Devotion from Matius 27:27-37

Setelah diputuskan bersalah, Yesus disesah oleh Pilatus (ay. 26), dan setelah itu Pilatus menyerahkan Yesus kepada para tentara untuk disalibkan. Maka dimulailah penderitaan Yesus Kristus di dalam jalan menuju bukit Golgota. Setelah dicambuk dengan sangat keji, ayat 28 mengatakan Yesus harus menanggung olok-olok dari para serdadu Romawi. Mereka semua berkumpul untuk memulai proses penobatan Yesus menjadi raja. Dengan tubuh penuh luka setelah dicambuk, sekarang Yesus harus mengalami penghinaan dari tentara Romawi ini. Tetapi, ironis, hanya tentara inilah yang mempersiapkan jalan bagi Yesus menuju salib. Yesus dipersiapkan untuk mengambil takhta-Nya dan memang dengan jalan menuju salib inilah Dia akan menuju takhta-Nya di sebelah kanan Allah Bapa di surga. Tidak ada seorangpun memberikan kepada-Nya jubah kerajaan yang seharusnya dikenakan oleh seorang raja, tetapi tentara-tentara Romawi itu memberikan Dia sebuah jubah ungu. Tidak ada seorang pun memahkotai Dia, tetapi mahkota duri menjadi simbol bahwa Dia memang akan mengambil takhta kerajaan, tetapi dengan jalan menuju salib. Seluruh penghinaan itu diterima-Nya dengan tenang dan dengan penuh kesabaran Dia menanggung itu semua. Yerusalem tidak lagi pernah menobatkan seorang raja keturunan Daud sejak Yoyakhin (2Raj. 24:8) – atau, jika penobatan oleh raja Babel dimasukkan dalam perhitungan, sejak Zedekia (2Raj. 24:17) – dan sekarang Sang Anak Daud yang sejati telah tiba untuk mengambil alih takhta, dan Dia diberi mahkota duri.

Penghinaan itu makin besar karena para serdadu itu sekarang mulai memukul kepala-Nya dengan kayu, meludahi wajah-Nya, dan menghina Dia. Mereka benar-benar tidak tahu apa yang mereka sedang perbuat. Mereka tidak tahu kalau konsekuensi tindakan mereka begitu besar. Mereka tidak tahu kalau mereka sedang menghina Allah yang akan menghakimi mereka pada zaman akhir nanti. Tetapi semua ini ditanggung Yesus dengan penuh kerelaan. Dia dengan sabar menanggung semua itu, tanpa berbicara, tanpa membela diri. Dia yang memiliki kuasa atas langit dan bumi, sekarang diam seperti seorang lemah yang tidak mempunyai otoritas apa pun. Dia telah menyamakan diri-Nya dengan orang-orang yang paling lemah di seluruh bumi ini. Dia diam dan membiarkan hinaan besar ini dilontarkan oleh para tentara itu.

Setelah puas menghina Yesus, para tentara itu mengenakan kembali pakaian Yesus dan mempersiapkan segala yang perlu untuk penyaliban Dia. Setelah dicambuk dengan keji, orang-orang yang akan disalib akan dipermalukan dengan disuruh berjalan sambil memikul salib mereka. Yesus pun diberikan salib untuk dipikul dari tempat Dia ditahan sampai ke bukit Golgota (Yoh. 19:17), tetapi karena keadaan Yesus yang sudah sangat lemah, maka para tentara itu memaksa seorang bernama Simon dari Kirene untuk memikul salib Yesus. Apakah para tentara Romawi ini mulai berbelaskasihan kepada Yesus? Tidak. Mereka hanya tidak mau Yesus mati sebelum disalib. Inti dari penyaliban adalah memamerkan kematian seorang hina yang telah takluk di atas kayu salib, bukan ketika memikul salib. Karena keadaan-Nya yang lemah, maka para tentara itu memaksa Simon memikul salib Yesus. Di manakah para murid? Di manakah orang-orang yang mengaku setia kepada Dia? Mengapa di saat Yesus paling menderita, mereka semua pergi? Inilah kesetiaan manusia kepada Tuhan Yesus. Mereka pergi begitu melihat bahwa mengikut Yesus itu berat dan sulit. Mengapa tidak ada seorang pun yang menemani Yesus, sehingga jikalau Dia memerlukan sesuatu murid ini dapat menolong Dia? Tidak ada seorang pun yang terlihat ada di dekat Yesus. Semua yang di dekat Yesus adalah para musuh. Yang lain, walaupun mengikuti Yesus hingga di Golgota, tetapi menjaga jarak yang cukup jauh dengan Dia sehingga tidak diperintahkan oleh tentara Roma untuk memikul salib Yesus.

Ketika mereka telah tiba di bukit Golgota, Yesus pun diberikan minuman untuk sedikit meredakan rasa sakit, karena tanpa minuman itu, hukuman salib akan menjadi terlalu menyiksa bagi orang yang disalib. Kadang-kadang ada orang-orang kaya di Yerusalem yang merasa kasihan dengan kekejaman salib. Mereka menyogok penjaga dan tentara untuk mengizinkan pemberian minuman yang dapat mematikan syaraf dan berfungsi seperti obat bius untuk meredakan rasa sakit. Yesus mengecapnya sedikit, tetapi menolak untuk meminumnya. Yesus berniat untuk mengalami seluruh peristiwa yang seharusnya dialami oleh orang yang disalib! Dia tidak mau mengurangi apa pun penderitaan-Nya di atas kayu salib. Maka Yesus pun dipaku. Tangan dan kaki-Nya dipakukan di kayu salib dan Dia digantung di situ. Tuhan kita tergantung di kayu salib, tergantung antara langit dan bumi, memberikan simbol tertolak. Tertolak di bumi dan tertolak di surga. Di bumi orang-orang menghina, menghujat, dan memaki-maki Dia. Di surga Allah menutup diri dan tidak berkenan kepada Dia karena dosa-dosa manusia yang ditanggung-Nya. Dia menjadi tertolak demi kita. Saudara dan saya yang harusnya tergantung antara surga dan bumi. Kita tidak layak menerima hak tinggal di bumi ciptaan Tuhan, dan kita pun tidak berhak memperoleh posisi mulia di surga dekat takhta Allah. Kitalah yang seharusnya ditolak oleh bumi dan surga!

Salib Kristus menggambarkan betapa beratnya akibat dosa. Hukuman dosa sangat mengerikan dan tidak mungkin tertahankan bila harus ditanggung oleh manusia. Tetapi pengorbanan untuk penebusan juga sangat mahal dan berat. Mahal karena memerlukan darah Orang Kudus satu-satunya, yaitu Yesus. Berat karena pengorbanan yang harus diberikan oleh Yesus. Dia harus mengalami penderitaan yang sangat berat, baik penderitaan fisik, penghinaan secara mental, maupun penolakan Bapa yang menghancurkan hati-Nya. Tidak ada seorang pun yang rela melakukan apa yang Yesus lakukan. Tidak ada seorang pun yang sanggup melakukan apa yang Yesus lakukan.

Setelah Dia tergantung di kayu salib, penghinaan dari orang-orang di sekitar-Nya semakin menjadi-jadi. Jika sebelum Dia disalib mungkin masih ada yang gentar dan menantikan apakah benar Yesus itu Sang Mesias. Setelah Dia dipaku di kayu salib, orang-orang ini menjadi makin berani menghujat Yesus. Mana mungkin Allah di surga membiarkan Sang Mesias-Nya digantung seperti ini. Pasti Yesus adalah pendosa besar, maka Allah di surga meninggalkan Dia. Di dalam ayat 35 dikatakan bahwa para tentara yang menyalibkan Yesus membagi-bagi pakaian Yesus dan mengundi siapa yang boleh mendapatkan jubah-Nya. Inilah penggenapan dari Mazmur 22:17-19. Tidak ada perasaan hormat sama sekali. Yesus dipaku di kayu salib, dan para tentara berbagi jarahan.

Dengan dipakunya Yesus di kayu salib, maka sekarang Dia menjadi wakil semua orang pilihan yang sungguh-sungguh beriman kepada Yesus. Mengapa? Karena Dia telah membuktikan kemenangan-Nya di dalam hidup dan Dia telah membuktikan kesetiaan-Nya untuk rela taat hingga dipaku di kayu salib. Siapakah yang sungguh-sungguh menjalankan kehendak Bapa dengan setia sampai akhir? Sebelum Yesus tidak ada seorang pun yang sanggup. Tetapi, dengan cara yang amat sangat berat, Yesus berhasil menggenapi semuanya hingga di atas kayu salib. Di dalam penantian saat kematian-Nya dengan cara yang paling mempermalukan, hina, dan terkutuk inilah saat-saat kemenangan-Nya akan dinyatakan. Ketika Dia menundukkan kepala dan mati, itulah saat kemenangan yang sejak Adam belum pernah berhasil dilakukan oleh satu orang pun. Tidak seorang pun sanggup menjalani apa yang Allah Bapa tuntut. Tetapi Allah Anak menjalani rencana Bapa dengan setia dan sempurna. Dialah teladan sejati dari seluruh umat manusia yang mau taat kepada Bapa. Dialah satu-satunya yang menjalaninya dengan ketaatan mutlak kepada Bapa. Taat hingga mati, bahkan mati di kayu salib (Flp. 2:28). Inilah ketaatan Kristus yang menjadikan Dia satu-satunya pengharapan bagi kita untuk diterima oleh Allah karena Dia telah menjalankan ketaatan itu demi kita semua yang percaya kepada-Nya. (JP)