Renungan Harian 314 (Selasa, 9 Juli 2019)

Kematian Anak Manusia

Devotion from Matius 27:45-56

Beberapa tanda besar terjadi menjelang kematian Yesus Kristus. Tanda pertama adalah kegelapan. Matahari tertutup, entah oleh awan tebal atau oleh gerhana. Kegelapan selalu menjadi tanda Allah yang marah, atau tanda kehadiran Allah yang menyatakan penghakiman. Martin Luther mengatakan bahwa kegelapan, awan yang tebal, dan asap menunjukkan ketersembunyian Allah. Allah menyembunyikan diri-Nya karena pemberontakan dan dosa manusia. Demikian juga pada peristiwa penyaliban Yesus. Keberdosaan manusia yang berani memakukan Anak Allah di atas kayu salib, serta betapa beratnya hukuman atas dosa yang harus ditanggung oleh Yesus Kristus membuat alam menyatakan apa yang Allah Bapa rasakan. Allah Bapa murka sekaligus berduka karena kedegilan hati manusia. Misteri kehadiran Allah dan penghakiman Allah menjadi pernyataan yang sangat jelas melalui kegelapan di siang hari seperti ini. Matahari tidak menyatakan sinarnya, terhalang oleh dukacita yang dinyatakan oleh Bapa karena Anak. Bapa berduka karena Sang Anak harus menjadi korban bagi dosa manusia. Matahari tidak menyatakan sinarnya, terhalang oleh kebrutalan orang-orang yang dikasihi Tuhan karena mereka memakukan Sang Mesias, Raja mereka, di atas kayu salib. Matahari tidak menyatakan sinarnya, terhalang oleh pemandangan yang sangat menggentarkan, Sang Anak Allah sekarang menjadi orang buangan yang ditinggalkan oleh semuanya.

Tanda berikutnya adalah seruan Yesus kepada Allah. Pada jam tiga sore Yesus berseru dengan suara keras karena Bapa di surga meninggalkan Dia. Dia sedang menjadi manusia terkutuk yang ditinggalkan oleh Allah. Dialah yang sekarang menjadi penanggung dosa-dosa orang-orang yang dipilih Tuhan untuk diselamatkan dan dikuduskan (Ef. 1:4). Dia yang menebus, Dia jugalah yang menjadi pemimpin semua orang-orang kudus untuk hidup bagi Allah di dalam kekudusan. Tetapi untuk menebus umat-Nya, Kristus harus menanggung hukuman dosa mereka. Dia harus mengambil posisi kita semua, dan posisi kita adalah ditinggalkan oleh Allah. Dia ditinggalkan oleh Allah karena kita. Dia ditinggalkan oleh Allah supaya kita boleh dikembalikan di dalam relasi yang benar dengan Allah. Seruan-Nya membuat kita sekarang memahami apa yang sedang Dia alami. Dia sedang ditimpakan murka Allah. Inilah penggenapan dari perkataan Daud di dalam Mazmur 22:2. Di dalam Mazmur itu Daud merasa semua telah meninggalkan dia dan menginginkan kematiannya. Musuh-musuhnya sekarang mengepung dan tidak ada yang menolong. Yang makin membuat hancur hatinya adalah bahwa dia merasa bahkan Tuhan pun telah meninggalkan dia. Perasaan kosong, hampa, dan sepi ini dialami ketika musuh-musuhnya telah mengepung dia dan siap membunuh dia. Ini merupakan perasaan yang dialami Daud, dan ternyata di atas kayu salib, perasaan Daud ini menggambarkan dengan tepat apa yang Yesus rasakan. Para musuh seolah-olah menang dan mereka menghina dengan sangat kejam. Tetapi yang paling menghancurkan hati-Nya adalah karena Allah-Nya meninggalkan Dia. Kekosongan dan kehampaan karena diabaikan oleh Allah inilah derita terbesar bagi Yesus yang sangat mengasihi Allah Bapa-Nya. Orang-orang yang mendengarnya mengira Dia sedang memanggil Elia. Jika saja Elia bisa datang dan menolong Dia, maka pastilah Dia benar-benar Mesias yang diutus Tuhan. Tetapi jika tidak, maka benarlah anggapan para pemimpin Yahudi, bahwa Yesus menyesatkan rakyat (Yoh. 7:12). Ada juga yang kembali menawarkan minuman pereda rasa sakit, tetapi Yesus tidak mau meminumnya. Ini berarti seruan itu sangat menggugah hati dan menunjukkan penderitaan yang amat. Begitu besar penderitaan yang Dia derita terdengar dari seruan-Nya itu. Jika orang-orang yang disalib bisa bertahan beberapa hari, maka Yesus Kristus hanya sebentar di kayu salib, lalu Dia mati. Apakah penyebab kematian-Nya? Apakah karena darah-Nya yang terlalu banyak tertumpah? Tidak. Apakah karena Dia telah begitu lemah? Tidak. Ayat 50 mengatakan bahwa Yesus masih bisa berseru dengan suara nyaring untuk menyerahkan nyawa-Nya. Apakah yang membuat Dia mati dengan lebih cepat? Hatinya yang hancur karena dukacita. Itulah yang membuat kematian-Nya datang lebih cepat. Hati yang hancur karena wajah Allah di surga dipalingkan dari Dia. Dia ditinggalkan dan diabaikan. Dia ditolak dan dibuang. Dia ditinggalkan karena dosa-dosa manusia yang sedang Dia pikul di tubuh-Nya (Yes. 53:4)

Tanda berikut yang terjadi adalah tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Ini menandakan bahwa jalan menuju kepada Allah telah terbuka dengan kematian Yesus. Jalan yang dahulu dihalang oleh tabir itu sekarang tidak lagi terhalang. Dahulu dosa-dosa kita menghalangi kita untuk datang kepada Allah. Ini disimbolkan dengan tempat paling kudus di Bait Suci di mana hanya Imam Besar yang boleh masuk ke sana untuk mempersembahkan korban. Sekarang Yesus, Sang Imam Besar sejati, telah masuk ke tempat paling kudus itu untuk mempersembahkan diri-Nya sendiri sehingga sekarang pemisah antara ruang di dalam Bait dengan ruang paling suci sudah tidak ada lagi. Allah telah meruntuhkan tembok penghalang untuk orang-orang datang kepada-Nya melalui kematian Anak-Nya di atas kayu salib. Inilah suatu keadaan baru bagi orang-orang yang percaya kepada Kristus. Inilah kebebasan sejati dari Kristus yang telah membebaskan kita sehingga kita dapat datang kepada Bapa di surga tanpa rintangan dan halangan.

Tanda berikutnya di dalam ayat 51. Dikatakan di sana bahwa terjadi gempa bumi yang dahsyat. Bayangkan betapa banyaknya tanda-tanda yang menyertai kematian Yesus. Awan gelap, gempa bumi, bukit-bukit batu terbelah, dan orang-orang yang di dalam kuburan bangkit. Orang-orang di dalam kubur bangkit? Ya. Siapakah yang dimaksud? Yang dimaksud kemungkinan besar adalah orang-orang yang sudah mati dan dikubur, diizinkan Tuhan untuk mengalami kebangkitan. Kebangkitan sebagai tanda mujizat yang Yesus kerjakan meskipun Dia menuju kepada kematian-Nya. Ini melampaui apa yang pernah dilakukan Elisa. Hingga saat Yesus melayani, tidak ada kebangkitan orang mati yang lebih dahsyat daripada kebangkitan yang dilakukan melalui tulang-tulang Elisa. Betapa limpahnya Tuhan memakai Elisa. Tulang-tulangnya pun membangkitkan orang mati. Tetapi bagian ini mengatakan bahwa Yesus jauh lebih besar lagi. Hari, bahkan saat kematian-Nya membuat terjadinya gempa bumi yang dahsyat dan kebangkitan orang mati. Banyak orang kudus yang bangkit sebagai tanda kuasa Yesus, lalu mereka masuk ke dalam kota Yerusalem dan menampakkan diri kepada banyak orang. Yesus akan mati, tetapi keadaan-Nya yang sekarat pun tetap berkuasa membangkitkan sejumlah orang yang sudah dibaringkan di dalam kuburan, sehingga mereka hidup kembali.

Gempa bumi, kegelapan, dan pecahnya bukit-bukit batu membuat kepala pasukan dan tentara-tentaranya, yang sebelumnya terlalu berani membuka mulut dan menghina Yesus, sekarang menjadi begitu gentar. Di tengah-tengah kegentarannya itulah mereka berseru bahwa Yesus adalah Anak Allah. Inilah kalimat kesimpulan yang tepat. Sebab tanda-tanda di langit, yaitu matahari menjadi gelap; tanda-tanda di bumi, yaitu gempa bumi; dan tanda-tanda dari dunia orang mati, yaitu bukit terbelah dan orang-orang mati bangkit, adalah tanda yang mengarahkan semua orang kepada kesimpulan bahwa yang dipaku di atas kayu salib ini adalah Sang Anak Allah. Biarlah hari ini kita lewati dengan perenungan tentang kematian Kristus. Bagaimana mungkin Allah mengerjakan hal sebesar ini untuk menebus kita semua? Tetapi inilah yang terjadi. Allah benar-benar mengerjakan hal ini untuk penebusan kita. Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk mati bagi kita. Yesus mati! Itulah tanda cinta kasih Allah. Yesus mati! Itulah tanda kasih Yesus kepada kita. Yesus mati, dan dari langit sampai dunia orang mati menyatakan tanda untuk berduka atas saat yang mengerikan ini. Mengerikan, tetapi sekaligus penuh kasih karunia bagi manusia. Biarlah dalam setiap hari, dalam setiap langkah yang kita ambil, bahkan dalam setiap tarikan nafas yang kita hirup, kita selalu ingat apa yang telah diperbuat Allah bagi kita. (JP)