Renungan Harian 315 (Rabu, 10 Juli 2019)

Berita Kebangkitan Yesus

Devotion from: Matius 27:57-28:8

Setelah Yesus mati, seorang pengikut Yesus yang terpandang, yaitu Yusuf dari Arimatea, meminta mayat Yesus untuk dikuburkan di dalam gua tempat pemakaman yang dimilikinya. Dia memberikan penghormatannya untuk Gurunya dengan cara membaringkan Yesus di dalam kuburan itu. Sekarang seolah-olah pengharapan dari para murid telah habis bersamaan dengan terbaringnya mayat Yesus di dalam kuburan milik Yusuf ini. Tetapi perkataan Yesus, yang sering kali tidak ditanggapi, bahkan oleh murid-murid-Nya sendiri, telah diberitakan berkali-kali oleh Yesus sendiri, yaitu Dia harus mati, tetapi Dia akan bangkit. Kematian-Nya bukanlah akhir dari karya-Nya, tetapi awal dari pemanggilan orang-orang kudus-Nya. Jika Dia tidak mati, bagaimana mungkin akan ada penebusan dosa? Jika Dia tidak bangkit, bagaimana mungkin akan ada kemenangan? Lalu, siapakah yang mengingat perkataan Yesus itu? Para murid? Tidak. Perempuan-perempuan yang mengikut Yesus? Juga tidak. Lalu siapa? Ayat 63 mengatakan bahwa yang mengingat perkataan Yesus ini, ironisnya, adalah orang-orang Farisi bersama-sama dengan imam-imam kepala! Merekalah yang mengingat perkataan ini. Maka mereka meminta Pilatus untuk mengirimkan beberapa penjaga agar mayat Yesus tidak dicuri oleh para murid. Tetapi mungkinkah para murid mencuri mayat Yesus kemudian menyebarkan berita bahwa Dia telah bangkit kembali? Tidak mungkin. Mereka terlalu hancur hati untuk membicarakan nama Yesus dengan yakin jika Yesus tidak pernah bangkit. Jika Yesus tidak bangkit, bagaimana mungkin mereka punya kekuatan untuk terus mengabarkan nama ini? Nama yang telah sangat mengecewakan mereka seandainya Dia tidak bangkit. Nama yang menunjukkan kepalsuan pengharapan dan nama yang menunjukkan kekalahan besar. Jika Dia tidak bangkit maka orang-orang yang paling akan kecewa adalah para murid. Tidak mungkin mereka bersiap untuk mencuri mayat Yesus lalu memberitakan kebohongan terbesar dalam sejarah dengan mengatakan Yesus bangkit. Mengapa para murid dengan berani dan penuh semangat serta sukacita, terus memberitakan kebangkitan Yesus? Karena Dia benar-benar telah bangkit!

Maka sekarang, dengan penjaga-penjaga dari Pilatus, pintu kubur Yesus yang ditutup oleh sebuah batu besar aman terjaga. Ayat 66 bahkan mengatakan bahwa pintu itu telah disegel dengan otoritas petinggi agama Yahudi. Tidak ada seorang pun yang dapat mendekat kubur itu tanpa diketahui oleh para penjaga. Lalu di Minggu pagi, dua orang perempuan bernama Maria datang ke kubur itu. Sebelum mereka tiba, terjadilah gempa bumi yang sangat besar. Gempa ini terjadi karena seorang malaikat Tuhan turun untuk menggulingkan batu penutup kubur Yesus. Para penjaga, ketika melihat malaikat itu, langsung gemetar dan menjadi seperti orang-orang mati. Ketakutan yang luar biasa sekarang menimpa mereka. Tetapi kepada para perempuan itu malaikat mengatakan bahwa Yesus telah bangkit. Malaikat memberikan berita ini kepada para perempuan, sehingga mereka menjadi saksi pertama atas kebangkitan Yesus. Saksi yang melihat kubur kosong dan mendengar kesaksian malaikat. Siapakah yang dapat menahan Yesus tetap mati? Allah Bapa yang membangkitkan-Nya tidak mungkin bisa dicegah oleh siapa pun. Apakah tentara-tentara yang menjaga bisa mencegah Allah membangkitkan Yesus? Tidak mungkin. Inikah saat kemenangan itu. Maut tidak berkuasa atas Dia. Inilah cara Allah menyatakan kemenangan Kristus atas maut. Dia menyatakan kemenangan dengan menghadapi maut dan menang! Kematian telah ditaklukkan oleh Kristus. Dosa dan maut telah dikalahkan dengan kebangkitan-Nya. Betapa agung berita yang dinyatakan ini. Yesus, yang sudah disalib itu, tidak ada lagi di sini. Mengapa mencari Dia yang hidup di tengah-tengah orang mati (Luk. 24:5)? Penjaga-penjaga dari Pilatus tidak sanggup menahan Dia. Kubur tidak sanggup menahan Dia. Kematian tidak sanggup menahan Dia. Dia sudah bangkit!

Upah dosa adalah maut (Rm. 6:23). Kematian menjadi bagian dari hidup manusia sepanjang keberadaannya di bumi setelah Adam jatuh ke dalam dosa. Kematian telah menjadi bagian dari hidup manusia yang terus menerus terjadi, tetapi tidak pernah akan terasa wajar oleh orang-orang yang akan mengalaminya. Kematian memberikan ketakutan dan kegentaran terbesar, lebih dari kegentaran yang dirasakan manusia karena hal-hal lain. Bahkan setiap hal yang paling menggentarkan manusia hanya membuat manusia gentar karena hal-hal tersebut dapat membawa kepada kematian. Manusia takut perang, sakit penyakit, bencana, semua itu karena hal-hal itu membawa kematian. Siapakah yang dapat memberikan harapan atas kematian? Hanya Yesus. Hanya Dia yang bangkit dari antara orang mati dengan kemenangan dari Allah. Tetapi bukankah banyak orang yang pernah bangkit? Elia pernah membangkitkan seorang anak. Elisa juga. Bahkan Yesus membangkitkan begitu banyak orang mati. Baru saja kita baca pada bagian sebelumnya bahwa kematian Yesus membangkitkan orang-orang mati di sekitar Yerusalem. Jadi apakah keunikan kebangkitan Yesus? Kebangkitan Yesus menjadi unik karena segala hal yang terjadi pada peristiwa salib. Kebangkitan-Nya menandakan bahwa segala hal yang dituduhkan kepada Yesus, yaitu bahwa Dia adalah Mesias palsu, pemberontak, ditolak Allah, dan semua tuduhan kejam lainnya, sekarang telah terbukti salah. Dia tidak ditolak oleh Allah. Allah menolak Dia karena dosa-dosa yang kita perbuat, tetapi setelah Dia mati di kayu salib menggenapi rencana Allah, Allah menerima Dia, bahkan meninggikan Dia lebih dari siapa pun! Dia Sang Mesias yang tidak ditaklukkan oleh kematian. Dia Sang Raja Anak Daud yang telah menang atas kematian. Yang membuat kebangkitan-Nya unik dibandingkan semua kebangkitan lain adalah karena siapa Dia ketika Dia masih hidup. Kebangkitan-Nya juga unik karena kebangkitan-Nya terjadi tanpa ada seorang manusia pun yang membangkitkan. Kebangkitan-Nya juga unik karena kebangkitan itu menjadi tanda pembenaran kita (Rm. 4:25). Kebangkitan-Nya juga unik karena menjadi kebangkitan sulung di mana di dalamnya semua orang percaya akan berbagian juga dalam kebangkitan. Yesus bangkit menandakan bahwa pernyataan tentang siapa Dia selama ini yang diajarkan oleh-Nya sendiri terbukti benar. Semua hal yang Yesus katakan tentang Dia sekarang tidak lagi terbantahkan. Siapakah yang masih membantah Dia adalah Orang Benar? Jika ada yang membantahnya karena Dia mati dengan cara sangat terhina, maka sekarang dia harus tutup mulut karena ternyata Yesus bangkit.

Inilah keagungan pengharapan kita di dalam Kristus. Kita tidak mengharap mendapat pengajaran saja melalui Yesus. Kita tidak berharap hanya kepada teladan hidup-Nya saja. Kita juga tidak berharap hanya kepada mujizat kesembuhan yang Dia lakukan. Apalagi kepada makanan, roti untuk 5.000 orang saja. Kita berharap pada Yesus karena Dia telah menang atas maut. Dia telah mengalahkan kuasa maut. Kematian-Nya adalah kematian yang mematikan kuasa maut, dan kebangkitan-Nya membuktikan hal itu. Sekarang setelah derita salib telah dilalui-Nya, maka Dia tiba kepada kemuliaan kemenangan-Nya. Kemenangan yang diperoleh karena Dia rela taat dan merendahkan diri, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp. 2:8-9). Kebangkitan Kristus mengalahkan pemberontakan manusia, karena Dia telah mengambil akibat pemberontakan itu dan menggantinya dengan ketaatan sampai mati. Kebangkitan Kristus mengalahkan kejahatan manusia karena kejahatan itu telah dipikulnya sampai Dia mati, dan kebangkitan-Nya menyatakan bahwa kejahatan tidak lagi berkuasa. Kebangkitan Kristus mengalahkan murka Allah karena kematian-Nya adalah karena memikul murka Allah, dan kebangkitan-Nya menyatakan bahwa murka Allah telah dipuaskan. Kebangkitan Kristus mengalahkan maut karena kematian-Nya tidak menelan Dia, sebaliknya kematian-Nya telah menelan kuasa maut, dan kebangkitan-Nya membuktikan itu. Jika ketakutan akan dosa, penghakiman Allah, murka Allah, dan maut semua telah ditelan oleh kematian Kristus dan dinyatakan kekalahannya oleh kebangkitan Kristus, apakah yang masih sangat membebani hidup kita? Bangkitlah, hai Saudaraku sekalian! Bukankah kecemaran, murka Allah, dan maut, semua telah dimatikan oleh Yesus? Apakah yang masih menghalangi kita untuk hidup dengan kekudusan, kasih, dan semangat yang menyala-nyala bagi Allah kita? Di manakah kuasa kemenangan dan kebangkitan Yesus di dalam hidup kita? Kiranya berita kebangkitan Yesus menggerakkan kita selamanya untuk hidup di dalam kemenangan. (JP)