Renungan Harian 317 (Jumat, 12 Juli 2019)

Saksi Kristus Sampai Ke Ujung Dunia

Devotion from Kisah Rasul 1:1-11

Ayat 1-3
Di bagian awal Kitab ini, Lukas mencatat tentang pengutusan yang sangat agung, yaitu pengutusan oleh Yesus Kristus bagi para murid. Bagian ini dimulai dengan percakapan para murid dengan Yesus Kristus. Yesus Kristus yang bangkit mengalahkan maut sekarang melanjutkan relasi kasih-Nya dengan para murid-Nya. Di dalam Yohanes 13:1 dikatakan bahwa Tuhan Yesus senantiasa mengasihi murid-murid-Nya sampai pada kesudahannya. Kasih ini tidak bisa dihentikan oleh maut. Kristus tidak terhalangi untuk mengasihi para murid karena Dia mati. Dia juga tidak terhalangi untuk mengasihi para murid di dalam tubuh-Nya yang dibangkitkan. Dia tidak mengasihi para murid-Nya sebagai roh yang melayang-layang tanpa wujud fisik. Dia mengasihi murid-murid-Nya setelah Dia bangkit sama seperti Dia mengasihi murid-murid-Nya sebelum Dia mati. Dia mengasihi-Nya di dalam tubuh-Nya yang hidup. Dia menyatakan relasi-Nya dengan manusia hidup dengan keadaan-Nya yang hidup. Tuhan tidak pernah membiarkan dunia fisik dan tubuh kita ditaklukkan oleh dosa dan maut. Tuhan memberikan kemenangan yang sangat dahsyat atas maut melalui kebangkitan Yesus Kristus.

Ayat 4-5
Setelah bangkit Yesus menyatakan diri-Nya kepada para murid. Bukan saja Dia membuktikan kepada mereka bahwa Dia hidup, tetapi Dia juga melanjutkan persekutuan yang penuh kasih dengan mereka dan menyatakan janji penyertaan-Nya yang tidak akan pernah gagal. Dia bersekutu dengan mereka, makan dengan mereka, dan mengingatkan kepada mereka akan karya Allah yang telah Dia genapi dan harus murid-murid lanjutkan. Karya yang sangat berat untuk dijalankan dengan kekuatan manusia. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan kepada mereka untuk menunggu hingga Sang Penghibur, yaitu Roh Kebenaran, tiba pada mereka untuk menyertai dan memimpin mereka (Kis. 1:4-5). Apakah Roh Kebenaran, yaitu Roh Kudus, baru datang menyertai para murid saat itu? Apakah sebelumnya Roh Kudus tidak berkarya melalui para murid? Roh Kudus telah bekerja dan tetap bekerja sejak pertama dunia dijadikan hingga nanti saat dunia dipulihkan oleh Allah. Tetapi pada bagian ini Yesus Kristus memberitakan karya Roh Kudus melanjutkan pekerjaan Tuhan Yesus dan memanggil orang-orang di seluruh dunia untuk datang kepada Kristus. Pekerjaan Roh Kudus memanggil gereja Tuhanlah yang dimulai pada waktu kedatangan-Nya sesuai dengan perkataan Tuhan Yesus ini.

Ayat 6-8
Menyadari betapa besarnya kuasa yang dipercayakan Tuhan, murid-murid bertanya kapan Tuhan Yesus akan memulihkan kerajaan Israel (ay. 6). Ini adalah pertanyaan yang penuh pengharapan. Yesus sudah menang atas maut, tentu kuasa besar-Nya ini sanggup untuk memulihkan kembali kerajaan Israel. Tetapi para murid tidak sadar bahwa kuasa yang Yesus akan berikan kepada mereka membuat merekalah yang akan memulihkan kerajaan itu, meskipun mereka tidak perlu tahu kapan waktunya pemulihan itu menjadi sempurna. Tuhan Yesus telah berjanji memberikan kuasa kepada para murid karena para murid akan pergi, mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi. Para murid akan memperkenalkan Sang Raja ke seluruh daerah kekuasaan-Nya. Daerah kekuasaan-Nya bukan hanya wilayah Israel yang dikenal pada abad pertama. Daerah kekuasaan-Nya, yaitu kerajaan Israel yang sejati, mencakup wilayah Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai seluruh dunia. Inilah yang mau diberitakan oleh Lukas di dalam kitab ini. Kisah yang diawali dengan pengutusan para murid sebelum Yesus naik, hingga tersebarnya berita Injil Kristus di Yerusalem (Kis. 2:5-11), Yudea (10:44-48), Samaria (8:5-6), sampai ke pusat kota Roma (28:16-31). Inilah catatan sejarah yang begitu menakjubkan tentang karya Allah menyatakan Anak-Nya, yaitu Kristus, dengan berbagai-bagai perbuatan ajaib dan segala kuasa pemberitaan firman. Roh Kudus menggerakkan, menguatkan, mendorong para murid, dan memberikan kuasa yang melampaui dunia ini di dalam pelayanan mereka.

Ayat 9-11
Setelah menjanjikan Roh Kudus kepada para murid, Yesus Kristus terangkat ke surga. Dia diangkat ke tempat yang mahatinggi, jauh melampaui segala kuasa yang ada di langit dan di bumi. Dia telah dijanjikan tempat di sebelah kanan Allah, jauh melampaui tempat siapa pun di seluruh ciptaan ini (Mzm. 110:1, Ibr. 1:3-4). Kristus naik dengan disaksikan oleh para murid. Merekalah yang pertama-tama harus membawa berita itu. Mereka terlebih dulu, setelah itu dilanjutkan oleh orang-orang lain yang mendengarkan kesaksian mereka, termasuk kita yang juga telah percaya kepada apa yang mereka beritakan. Baik kebangkitan Kristus maupun kenaikan-Nya harus disaksikan oleh para murid. Para muridlah yang melihat kebenaran yang tidak dilihat oleh orang lain. Mereka melihat bahwa Kristus menaklukkan maut. Dia telah menang atas kematian. Lalu mereka juga harus melihat bahwa Kristus ditinggikan oleh Allah, dengan diberikan tempat di sebelah kanan-Nya. Para murid belum diperbolehkan untuk melihat kemuliaan surgawi di dalam segala kepenuhannya, sehingga mereka tidak diizinkan melihat Kristus yang duduk di sebelah kanan Allah. Tetapi mereka harus tahu bahwa Kristus akan didudukkan di sebelah kanan Allah. Itulah sebabnya mereka harus menyaksikan Dia terangkat hingga terhalang awan. Seperti kemuliaan Tuhan yang tersamar oleh awan dan asap yang pekat di Gunung Sinai (Kel. 19:18), maupun kemuliaan Tuhan yang tersamar oleh asap yang pekat di Bait Suci (1Raj. 8:10-11, 2Taw. 7:1-2), demikian kemuliaan Kristus yang duduk di takhta kemuliaan, di sebelah kanan Allah, terhalang oleh awan pekat (Kis. 1:9). Ketika mereka menunggu-nunggu awan itu lenyap karena mereka ingin melihat Kristus, dua orang malaikat melarang mereka karena satu-satunya cara mereka akan melihat Kristus lagi hanyalah jika Dia kembali kedua kalinya nanti. Awan itu tidak akan hilang dan Kristus tidak akan terlihat lagi. Baik para murid pada waktu itu maupun kita semua pada waktu sekarang belum diperbolehkan untuk memandang Kristus di dalam kemuliaan-Nya di sebelah kanan Allah Bapa. Kita saat ini hanya diizinkan untuk menantikan dengan rindu saat-Nya Kristus datang kembali dan menyatakan diri-Nya pada kedatangan-Nya itu.

Untuk direnungkan:

  1. Kristus adalah Raja Mahakuasa. Kristus lebih mulia, berkuasa, dan tinggi dari siapa pun. Dia duduk di sebelah kanan Allah. Dia memiliki kuasa atas hidup dan mati. Dia juga memiliki segala kuasa di surga dan di bumi! Tetapi mengapa banyak orang Kristen tidak memberikan hormatnya kepada Kristus? Sudahkah kita menghormati Kristus sebagaimana seharusnya? Ataukah kita hanya menyebut nama-Nya dengan mulut kita, tetapi hati kita tidak pernah gentar dan sujud kepada-Nya? Mengapa kita memandang enteng Dia? Kiranya Tuhan mencelikkan mata rohani kita sehingga kita menyadari siapakah Dia yang kita ikuti. Dia bukanlah seorang lemah yang dapat dipermainkan! Dia membiarkan diri-Nya dipermainkan ketika Dia menanggung kehinaan-Nya untuk menebus dosa kita di kayu salib. Tetapi hanya saat itu saja Allah Bapa mengizinkan Anak Tunggal yang paling dikasihi-Nya dipermainkan seperti itu. Tidak ada lagi kemungkinan Allah Bapa akan membiarkan penghujat-penghujat celaka menghina nama Yesus yang mulia! Tetapi jika mulut kita tidak pernah menghina nama Kristus yang mulia, harap kita juga menjaga tindakan dan hati kita sehingga kita tidak menghina Dia dengan cara kita berpikir dan cara kita bertindak.
  2. Para murid hanyalah memulai pekerjaan besar yang Tuhan akan lakukan hingga saat kedatangan-Nya kembali nanti. Mereka melayani, berkhotbah, memberitakan Injil dengan kuasa dari Roh Kudus sebagai awal dari panggilan Tuhan bagi gereja-Nya. Pekerjaan ini harus diteruskan oleh orang-orang Kristen sepanjang masa. Baik mereka dahulu maupun kita sekarang harus mempunyai pekerjaan yang sama, kuasa yang sama, gairah yang sama, kerelaan yang sama, penyangkalan diri yang sama, kerendahan hati yang sama, kebergantungan yang sama kepada Tuhan yang sama, dan ketekunan yang sama dengan para murid. Mengapa hidup kita begitu santai? Mengapa kita lupa betapa besar Roh Kudus memakai para murid di dalam zaman Kisah Rasul ini? Mengapa kita tidak rindu menjadi sama giatnya, sama tekunnya, sama bergantungnya, dan sama kuasanya dengan mereka? Bukankah pekerjaan mereka harus diteruskan hingga saat ini juga? Mengapa kita terlalu tenang dan santai? Kiranya semakin kita merenungkan Kitab Kisah Rasul ini, semangat yang sama dengan para rasul boleh terwariskan kepada kita juga. (JP)