Renungan Harian 319 (Minggu, 14 Juli 2019)

Para Saksi Dari Yerusalem Sampai Ke Ujung Bumi

Devotion from Kisah Rasul 1:12-26

Sejak awal pelayanan-Nya, Yesus telah memanggil murid-murid untuk mengikuti Dia, supaya murid-murid ini jugalah yang akan menjadi saksi bagi kematian dan kebangkitan-Nya. Para murid ini dipilih-Nya untuk menyampaikan berita Injil ke seluruh dunia. Perhatikan betapa besar anugerah Allah yang rela memakai alat yang sangat remeh, yaitu para manusia terbatas yang lemah, untuk menyampaikan firman-Nya yang berkuasa. Tetapi inilah yang diinginkan oleh Tuhan kita. Dia memanggil sekelompok orang yang akan menyaksikan kebangkitan-Nya. Dia memanggil sekelompok kecil orang untuk menjadi saksi, hanya sekelompok kecil orang pada awalnya, tetapi menjadi gerakan mendunia pada akhirnya.

Di dalam ayat 13 dikatakan bahwa sekelompok kecil murid, yaitu para rasul, berkumpul untuk berdoa senantiasa. Doa menjadi hal yang sangat penting di dalam Kisah Rasul ini. Doa menunjukkan kebergantungan para rasul kepada Tuhan. Doa menunjukkan persekutuan erat antara Kristus dan murid-murid-Nya yang tetap terjalin walaupun Dia sudah naik ke surga. Gereja menyebar dengan demikian besar karena Roh Kudus memberi kuasa kepada para murid dan karena mereka selalu bergerak dimulai dengan berlutut untuk berdoa kepada Tuhan. Ayat 13 mengatakan bahwa mereka berjalan dari Bukit Zaitun ke Yerusalem dengan jarak seperjalanan Sabat (kira-kira 900 m – karena di hari Sabat, orang Yahudi tidak boleh berjalan lebih dari 900 m). Bukit Zaitun inilah tempat mereka berpisah dengan Tuhan Yesus. Yesus Kristus terangkat dari Bukit Zaitun. Bukit Zaitun telah dinubuatkan menjadi tempat yang sangat penting bagi kedatangan Sang Mesias (Za. 14:1-5), dan terangkatnya Yesus dari Bukit Zaitun menjadi tanda bahwa Dialah Sang Mesias yang dinubuatkan di dalam Kitab Zakharia. Ini tidak berkontradiksi dengan Lukas 24:50-51 yang mengatakan bahwa Yesus membawa murid-murid ke dekat Betania, karena dari Betania ke Bukit Zaitun berjarak hanya sekitar 1,1 km. Tuhan Yesus mengajak murid-murid ke luar Betania, yaitu di Bukit Zaitun, memberkati mereka, dan setelah itu terangkat ke surga.

Dengan melihat semua ini, jelas sekali kalau Lukas sedang menggambarkan pengutusan para murid sebagai sesuatu yang sangat dekat dengan nubuat Perjanjian Lama. Tuhan mau menyatakan panggilan-Nya bagi Israel, maka identitas Israel sangat banyak diidentikkan dengan para murid. Mereka adalah sekumpulan orang-orang yang mengharapkan kedatangan Sang Mesias, maka Bukit Zaitun menjadi tempat yang sangat penting. Mereka harus menantikan janji Sang Mesias di Yerusalem, kota utama Israel sejak zaman Raja Daud. Mereka harus berjumlah 12 orang, melambangkan ke-12 suku Israel, maka posisi Yudas harus digantikan. Yudas telah mati dan posisinya harus diambil oleh orang lain. Tetapi siapakah yang dapat menjadi seorang rasul? Bukankah hanya mereka yang dipilih oleh Yesus sendiri? Tetapi pada ayat 20 dan 21 Petrus mengatakan bahwa, untuk menggenapi panggilan Tuhan ini, harus diangkat satu orang pengganti Yudas. Pengganti memang harus diangkat, tetapi Tuhanlah yang akan mengangkatnya pada waktu-Nya. Para murid memutuskan untuk mengangkat Matias setelah Matias terkena undi, sebagaimana ketetapan Tuhan untuk memutuskan perkara di dalam Kitab Taurat (Kel. 28:30, 1Sam. 14:41). Tetapi Tuhan sebenarnya belum memilih pengganti Yudas. Tuhan tidak memakai Matias sebesar seorang lain yang akan Dia bangkitkan sebagai penggenap jumlah 12 bagi para rasul, yaitu Paulus. Pauluslah, bukan Matias, yang menggenapi jumlah 12. Melalui Paulus jugalah Tuhan menggenapi nubuat bahwa melalui Israel seluruh bangsa di bumi akan mendapatkan berkat (Za. 8:13). Paulus memang menjadi rasul yang melengkapi jumlah 12 ini, tetapi pemanggilannya memiliki kekhususan, yaitu untuk memberitakan Injil sampai kepada bangsa-bangsa lain yang jauh dari Yerusalem (Kis. 22:21). Tetapi sebelum rasul ke-12 dipanggil dengan tugas khusus memberitakan Injil menjauhi Yerusalem dan mendekat kepada bangsa-bangsa kafir, Tuhan masih mau memberikan keutamaan Injil kepada Israel. Tuhan masih membuka kesempatan bagi Israel untuk menerima Sang Juruselamat mereka, yang telah mati bagi mereka. Itulah sebabnya ke-11 rasul ini mempunyai tugas utama untuk memberitakan Injil di Yerusalem dan seluruh Israel terlebih dahulu, hingga saatnya Tuhan mengalihkan pemberitaan Injil itu kepada bangsa-bangsa lain (Gal. 2:8-9).

Hal lain yang dapat kita lihat dari panggilan Tuhan bagi para murid adalah bahwa saat ini para murid benar-benar telah tersaring. Yudas, sang pengkhianat itu, telah mati. Kemungkinan dia menggantung diri dan mati, lalu ketika akan diturunkan badannya terjatuh dan tertusuk sesuatu hingga isi perutnya tertumpah keluar. Atau mungkin dia membunuh dirinya dengan menjatuhkan dirinya hingga perutnya tertusuk ke suatu batang kayu yang tajam. Bagaimanapun cara matinya, baik Kisah Rasul maupun Matius 27:5 berbicara tentang peristiwa yang sama dengan detail kejadian yang berbeda sudut pandang tetapi saling melengkapi. Yudas telah mati dan banyak murid Yesus yang lari. Jika tadinya Yerusalem penuh dengan orang-orang yang berseru, “Hosana! Hosana bagi Anak Daud!” (Mat. 21:9), maka tidak perlu waktu lama untuk membuktikan kepalsuan iman orang-orang yang berseru tersebut, karena setelah itu mereka berteriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” (Yoh. 19:15). Banyak murid yang lari meninggalkan Yesus. Banyak yang akhirnya menolak Dia. Banyak yang menjadi kecewa lalu pergi meninggalkan Dia. Banyak yang tidak pernah kembali menjadi murid Yesus. Juga ada Yudas yang mengkhianati, bahkan sampai kematiannya dia tidak pernah sungguh-sungguh beriman kepada Yesus. Sekarang tinggal sejumlah kecil, sangat kecil, murid yang tetap Tuhan pelihara imannya. Tuhan Yesus hanya menampakkan diri kepada sekitar 500 orang saja setelah Dia bangkit (1Kor. 15:6), padahal sebelumnya ribuan orang senantiasa mengikuti Dia. Tuhan menyaring siapa yang akan menjadi pengabar Injil-Nya yang pertama. Sekelompok kecil oranglah yang akhirnya melakukan pengabaran Injil itu. Mereka tidak punya kekuatan politik, agama, ataupun massa. Tetapi mereka punya kekuatan terbesar yang melampaui semua itu, yaitu kekuatan Roh Kudus. Kekuatan Roh Kudus ini jugalah yang membuat setiap orang yang percaya kepada pemberitaan para rasul ini juga memiliki panggilan yang sama untuk menjadi saksi.

Maka para murid ini pun disiapkan oleh Tuhan. Mereka disiapkan dengan menantikan Roh yang Tuhan telah janjikan, karena dengan kekuatan sendiri mereka tidak mungkin sanggup. Mereka disiapkan dengan melatih kebergantungan mereka kepada Allah di dalam doa. Mereka disiapkan dengan keberanian yang besar karena tugas pemberitaan Injil pertama mereka tidak lain dan tidak bukan adalah di Kota Yerusalem. Tempat yang sama di mana Yesus Kristus dikhianati dan dihukum dengan salib. Tempat yang sama di mana Yesus Kristus harus memikul salib-Nya. Tempat yang begitu dekat dengan tempat Yesus Kristus dipaku dan mati. Tetapi juga tempat yang begitu dekat dengan tempat Yesus Kristus naik dan ditinggikan di sebelah kanan Allah. Tempat yang juga menjadi tempat di mana mereka menerima kuasa dari tempat yang maha tinggi. Tidak ada kegentaran jika mengingat bahwa yang menyertai mereka jauh lebih besar dan berkuasa dari musuh-musuh mereka (2Raj. 6:15-17). Inilah permulaan dari pengabaran Injil untuk memanggil gereja Tuhan di seluruh dunia. Dimulai dengan kota pilihan Tuhan, Yerusalem, dan dilanjutkan hingga ke ujung bumi.

Untuk direnungkan:
Kita semua melanjutkan panggilan para rasul ini untuk memberitakan Injil hingga ke ujung bumi. Di manakah ujung bumi? Sudahkah Injil sampai ke sana? Jika kekristenan telah ada di seluruh benua di bumi ini, bukankah itu berarti Injil telah diberitakan sampai ke ujung bumi? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu mengingat apa yang dikatakan Tuhan Yesus di dalam Matius 28:20. Yesus menyertai hingga akhir zaman. Pemberitaan Injil akan terus dilakukan hingga sampai akhir zaman. Pemberitaan ini bukan hanya melihat sisi geografis, tetapi juga sisi sejarah. Tempat yang sudah diinjili tetap perlu diinjili kembali, sebab bergantinya generasi manusia bisa membuat Injil kembali dibuang di tempat itu. Ayah mungkin gagal mewariskan iman itu kepada anaknya. Demikian generasi berlalu dan tempat yang sudah menerima berita Injil kembali berada dalam keadaan memberontak seperti saat sebelum mereka memberitakan Injil. Pemberitaan Injil bukan hanya perang merebut daerah, tetapi juga suatu perang mempertahankan daerah. Kita sedang melanjutkan perang ini. Kita sedang meneruskan pekerjaan para rasul di dalam mengabarkan Injil. Biarlah kita juga bergantung mutlak kepada kuasa Tuhan melalui Roh Kudus-Nya. Biarlah kita mengharapkan terus Dia berjalan di depan kita semua dan kita berjalan di dalam ketaatan untuk mengikuti pimpinan-Nya. Kita jugalah saksi-saksi itu dan kita perlu kuasa dari Roh Kudus-Nya untuk menjadi saksi yang tekun dan giat, tulus dan rela taat kepada Allah. (JP)