Renungan Harian 320 (Selasa, 16 Juli 2019)

Pentakosta

Devotion from Kisah Rasul 2:1-12

Para murid memulai pekerjaan mereka di bawah pimpinan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Ini adalah hari di mana mereka mempersembahkan korban sajian sebagai ucapan syukur dari hasil ladang mereka (Im. 23:15-22). Ayat 2 mengatakan pada waktu mereka sedang berkumpul di sebuah rumah terjadi bunyi seperti tiupan angin keras memenuhi rumah itu. Suara itu terdengar begitu keras sehingga banyak orang berkumpul untuk melihat apa yang terjadi. Kumpulan besar orang itu mencari tahu apa yang terjadi dan mendengar para murid berbicara di dalam bahasa yang mereka mengerti. Karena hari raya Pentakosta (50 hari sesudah Paskah), orang-orang Yahudi diaspora, yaitu orang-orang Yahudi yang tinggal di tempat bangsa-bangsa lain, semua berkumpul di Yerusalem. Mereka berbahasa Yunani, Aram, Mesopotamia, Mesir, Libia, dan lain-lain (ay. 9-11) sesuai dengan bahasa di tempat mereka tinggal. Tetapi semua orang mengerti apa yang dikatakan oleh para murid itu. Kemungkinan besar para murid sedang berdoa bersyukur kepada Tuhan tentang karya-karya besar yang Dia kerjakan melalui Yesus Kristus, tetapi ternyata doa mereka dipanjatkan dengan suara yang terdengar oleh orang banyak itu dengan bahasa yang mereka semua pahami. Para murid menyatakan kepada orang banyak pekerjaan yang sedang dilakukan oleh Roh Kudus, yaitu membawa berita Injil kepada banyak bangsa, dimulai dari Yerusalem hingga ke ujung bumi.

Tuhan memulai pekerjaan yang penuh anugerah, yaitu membuat bangsa-bangsa lain dapat memahami berita Injil di dalam bahasa mereka sendiri. Ini merupakan pembalikan dari kutuk Tuhan membuat orang-orang di bumi tidak dapat memahami satu dengan yang lain (Kej. 11:7). Kutuk itu membuat manusia tidak lagi bisa berelasi satu dengan lain dengan harmonis. Tetapi keragaman bahasa itu sendiri bukanlah suatu kutuk. Setiap bahasa mempunyai ekspresi dan keindahan yang unik. Tidak ada bahasa yang tidak mempunyai ciri khas dan keunikan yang sulit ditemukan padanannya di dalam bahasa yang lain. Setiap bahasa mempunyai keindahan unik yang khas. Ini merupakan cara Tuhan menyatakan kekayaan kebenaran yang Dia miliki tidak bisa dikomunikasikan hanya dengan satu bahasa saja. Tetapi Kejadian 11:7 mencatat bahwa hal yang indah ini, yaitu keragaman bahasa manusia, mengandung kutuk di dalamnya yang membuat manusia tidak bisa berelasi dan berkomunikasi dengan lancar. Ini terjadi karena manusia memberontak melawan Tuhan dan tidak mau menyebar untuk memenuhi bumi (Kej. 11:4, bandingkan Kej. 9:1). Penolakan itu membuat Tuhan mendatangkan hukuman terpecahnya manusia di bumi melalui kesulitan berkomunikasi satu sama lain. Tetapi keragaman bahasa itu sendiri bukanlah kutuk, melainkan keindahan. Jika keragaman bahasa merupakan kutuk, tentu saja Tuhan akan mengakhiri kutuk itu pada waktu Pentakosta dan membuat ada satu bahasa yang sama untuk seluruh umat-Nya. Tetapi Tuhan tidak melakukan ini. Dia mengakomodasi orang Persia, Media, Elam, Mesopotamia, Pontus, Kapadokia, Frigia, Mesir, dan lain-lain, dengan bahasa mereka sendiri. Roh Kudus Tuhan membawa berita Injil ke dalam bahasa-bahasa manusia! Tidak ada bahasa yang lebih superior dari yang lain, semua dipakai Tuhan untuk menyatakan Injil-Nya kepada umat-Nya yang mempunyai bahasa yang beragam. Kutuk dari Tuhan adalah tidak ada persekutuan dan relasi karena hambatan bahasa. Pembalikan kutuk itu adalah berita Injil yang disampaikan di dalam beragam bahasa. Orang Kristen berbahasa Jerman akan sulit memahami apa yang orang Kristen Indonesia katakan. Tetapi baik orang Jerman maupun orang Indonesia mempunyai berita Injil yang sama, yang disampaikan di dalam bahasa mereka masing-masing. Kutuk menara Babel adalah tidak adanya kesamaan berita dari Tuhan di antara mereka. Berkat Roh Kudus yang dimulai dari Pentakosta adalah adanya kesamaan Berita Injil di dalam bahasa yang beragam di seluruh dunia. Injil akan diberitakan di Yerusalem, Yudea, Samaria, hingga ke ujung dunia, dengan bahasa yang dipahami oleh orang-orang di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan bangsa-bangsa lain.

Untuk direnungkan:
Saat ini kita hidup di dunia yang sangat senang hal-hal yang bersifat pertunjukan (show). Semua yang bisa dipamerkan, itulah yang laku. Seorang bisa mempunyai keahlian yang menolong orang banyak, tetapi tidak akan ada yang perhatikan dia. Tetapi seorang bisa punya kemampuan menyanyi untuk dikagumi, bukan untuk membuat orang mendalami musik, hanya mengagumi penampilannya saja, dan dia laku luar biasa di acara-acara TV. Dunia lebih suka seorang penyepak bola yang mengecoh tiga atau empat pemain lawan ketimbang orang-orang yang berjuang memajukan pendidikan di daerah-daerah terbelakang. Hanya sedikit orang mau luangkan waktu untuk selidiki hidup orang-orang sedemikian, tetapi begitu banyak orang-orang bodoh di dunia ini yang buang uang dan waktu untuk mendalami kehidupan sangat dangkal dari para selebriti yang mereka tonton di TV. Sungguh bodoh dan kasihan masyarakat kita ini! Demikian juga orang-orang Kristen, sangat banyak yang masih bodoh. Terlalu banyak orang masih mengagumi tanda-tanda mukjizat dan cara yang dipilih Tuhan melampaui mengagumi apa yang sebenarnya Tuhan sedang kerjakan. Ketika membaca Kisah Rasul 2, mereka akan mengagumi mukjizat berbahasa yang mengagumkan itu, melampaui mengagumi karya Tuhan yang menyediakan Injil-Nya untuk dipahami melalui berbagai bahasa.

Siapakah penerus sejati dari karya Roh Kudus pada hari Pentakosta? Bukan orang-orang yang melakukan tanda-tanda ajaib. Bukan orang-orang yang mengaku mempunyai karunia bahasa roh. Bukan juga orang-orang yang secara mukjizat tiba-tiba bisa berbahasa asing. Penerus karya Roh Kudus pada hari Pentakosta adalah orang-orang yang dengan sabar mempelajari suatu bahasa asing demi memberitakan Injil kepada orang-orang pemilik bahasa tersebut. Penerus karya Roh Kudus pada hari Pentakosta adalah orang-orang yang dengan tekun menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa bangsa-bangsa lain, bergumul di dalam setiap kata, bergumul dengan kamus dan buku-buku grammar, bergumul di dalam doa dan kerja keras siang dan malam agar orang-orang di mana saja dapat membaca Alkitab di dalam bahasa mereka. Inilah orang-orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus karena mereka sedang memperjuangkan apa yang Roh Kudus kehendaki, yaitu agar di mana saja orang-orang dapat memperoleh berita Injil di dalam bahasa mereka sendiri. Biarlah kita menganggap sampah semua gaya showbiz dari kekristenan. Hanya pamer mukjizat, pamer kehebatan, pamer monumen, tetapi tidak perjuangkan apa yang Roh Kudus inginkan.

Siapa pun yang tidak mengerti apa yang Roh Kudus kerjakan, hanya tertarik dengan fenomena, mukjizat, dan tanda-tanda yang membuat heboh, pada akhirnya akan mengatakan seperti yang dikatakan beberapa orang Yahudi pada hari Pentakosta itu, yaitu, “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis” (ay. 13).

Doa:
Ya Tuhan, kami bersyukur untuk orang-orang seperti Robert Morrison yang menerjemahkan Alkitab ke dalam beberapa dialek bahasa di Tiongkok, juga untuk Ludwig Nommensen yang menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Batak, juga begitu banyak orang lain yang dipenuhi Roh Kudus yang tidak tercatat di dalam buku sejarah gereja, tetapi tercatat di dalam hati-Mu. Kami bersyukur karena orang-orang ini adalah anugerah Tuhan yang besar, yang menunjukkan bahwa Tuhan mencintai kami di dalam identitas kami, bahkan mencintai kami di dalam bahasa yang kami pakai, sehingga kami dapat mengenal Engkau yang menyatakan diri kepada kami di dalam bahasa kami sendiri. Terima kasih Tuhan, karena karya Roh Kudus di dalam Pentakosta membuat berita Injil itu dapat sampai ke tengah-tengah bangsa kami di dalam bahasa kami sendiri, membuat kami mengerti cinta kasih-Mu. (JP)