Renungan Harian 321 (Senin, 15 Juli 2019)

Khotbah Petrus #1

Devotion from Kisah Rasul 2:14-21

Setelah mendengar hinaan orang-orang yang tidak mengerti karya Roh Kudus, Petrus berdiri dan berkhotbah kepada orang banyak itu. Khotbah Petrus ini tentunya menarik perhatian lebih banyak lagi orang di Yerusalem. Petrus menyatakan kepada orang banyak bahwa yang mereka saksikan adalah penggenapan nubuat Nabi Yoël. Di dalam Yoël 2:28-32 dinubuatkan adanya pencurahan Roh Allah secara besar. Apakah maksud Tuhan di dalam nubuat ini? Secara gamblang Petrus mengatakan bahwa hari Pentakosta inilah penggenapan dari nubuat itu. Bagaimana bisa? Apakah maksud nubuat itu sebenarnya? Nubuat Yoël sebenarnya menyatakan bahwa pada hari terakhir itu Tuhan akan sangat bermurah hati. Tuhan akan mencurahkan kuasa Roh Kudus bukan pada pemimpin Israel seperti pada zaman Hakim-hakim. Tuhan juga mencurahkan kuasa Roh Kudus bukan pada raja, seperti pada zaman Raja Daud. Tuhan mencurahkan kuasa Roh Kudus bukan pada nabi-nabi, seperti pada zaman Elia, Elisa, dan para nabi yang lain. Tetapi kuasa Roh Kudus itu akan dicurahkan kepada orang-orang yang tidak berarti di dalam masyarakat Israel. Tuhan mencurahkan-Nya kepada anak-anak, orang-orang yang tidak berpengalaman, dan orang-orang tua (Yl. 2:28), bahkan kepada para budak (Yl. 2:29). Petrus dengan tegas meninggikan Tuhan dan merendahkan diri para rasul. Berdasarkan nubuat Yoël, para rasul itu bukanlah nabi-nabi atau raja-raja. Mereka hanyalah anak-anak, pemuda-pemuda tanggung, orang-orang lanjut usia, atau budak-budak. Mereka adalah orang-orang yang tidak berarti tetapi karena kuasa Roh Kudus sanggup mengerjakan hal-hal yang dikerjakan oleh para nabi besar. Mereka tidak lebih rendah daripada Raja Daud. Mereka tidak lebih rendah daripada Elia dan Elisa. Mereka bahkan tidak lebih rendah daripada Musa (2Kor. 3:12-13)! Tetapi mereka hanyalah orang-orang rendah. Mereka hanyalah hamba-hamba saja. Mengapa kuasa begitu besar dan ajaib ada pada mereka? Karena kuasa dari Roh Kudus Allah yang dicurahkan atas mereka.

Bagian selanjutnya dari nubuat Yoël menyatakan bahwa kuasa Roh Kudus atas anak-anak, orang-orang muda, dan hamba-hamba adalah tanda bahwa penghakiman akhir akan segera tiba. Ini bukan suatu tanda yang sembarangan. Ketika kuasa Roh Kudus dicurahkan kepada orang-orang pinggiran menurut pandangan orang Yahudi, ketika itu juga mereka harus insaf bahwa penghakiman akhir sudah dekat. Tuhan akan memakai hamba-hamba untuk menghakimi para tuan. Tuhan akan memakai anak-anak untuk menghakimi para nabi. Tuhan akan memakai para pemuda tanggung untuk menghakimi para raja. Tuhan akan memakai orang-orang tua untuk menghakimi para imam. Tuhan akan memakai bangsa-bangsa kafir untuk menghakimi ke-12 suku Israel, bahkan para malaikat sekalipun (Mat. 19:28; 1Kor. 6:3). Perhatikan kata-kata yang mengerikan: mukjizat di langit dan bumi, darah dan api serta asap, matahari menjadi gelap, bulan menjadi darah. Semua begitu mengerikan! Seperti apakah penghakiman ini? Menurut orang Yahudi, matahari menjadi gelap (identik dengan gerhana matahari) merupakan suatu simbol penghakiman Tuhan. Tuhan menyatakan murka atau penghakiman-Nya dengan tanda kekelaman. Entah itu matahari menjadi gelap atau awan pekat, semua ini identik dengan pernyataan penghakiman Tuhan. Sedangkan bulan menjadi darah merupakan fenomena alam yang ditafsirkan oleh orang Yahudi sebagai masa-masa sengsara yang akan berakhir dengan kemenangan. Kedua simbol ini merupakan simbol penghakiman. Di dalam Wahyu 21:13 dikatakan bahwa matahari yang menjadi gelap bukan hanya simbol penghakiman, tetapi juga suatu simbol yang akan digenapi dengan kehadiran Allah sendiri. Matahari akan berhenti bersinar karena cahaya kemuliaan Allah akan menggantikannya di bumi ini. Matahari menjadi gelap dan bulan menjadi darah harus dimengerti sebagai penghakiman Tuhan yang mengerikan bagi mereka yang melawan Dia, tetapi sebagai suatu pelepasan yang penuh sukacita bagi orang yang terus berharap pada kemuliaan Allah.

Untuk direnungkan:
Dari bagian awal khotbah Petrus ini kita memahami satu hal penting, yaitu bahwa orang-orang yang terpinggirkan akan mempunyai bagian yang sangat besar di dalam hari penghakiman nanti. Orang-orang ini akan mengambil posisi sebagai hakim, bukan terdakwa yang dihakimi. Orang-orang ini akan menjadi penting, walaupun saat ini tidak berarti sama sekali. Orang-orang yang dianggap mabuk, tidak terdidik, dan tidak punya wibawa rohani dan politik sama sekali ini adalah orang-orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Tidak ada yang dapat menandingi mereka karena Roh Kudus ada pada mereka. Mereka akan dipakai Tuhan untuk menghakimi dunia ini. Merekalah orang-orang yang akan menang dan mewarisi dunia ini (Mat. 5:5). Roh Kudus menunjukkan kuasa-Nya yang besar dengan memanggil orang-orang kecil yang tidak berarti untuk pekerjaan-pekerjaan yang paling besar. Adakah orang yang lebih berkuasa daripada orang-orang yang akan menghakimi dunia ini pada hari penghakiman nanti? Presiden dan pembesar-pembesar saat ini pun tidak akan dianggap oleh Tuhan di dalam hari penghakiman-Nya. Tetapi orang-orang kecil dan tidak berarti yang dipimpin oleh Roh Allah, sekecil apa pun mereka saat ini, akan duduk di takhta penghakiman bersama-sama dengan Kristus pada hari penghakiman-Nya nanti.

Maka, dengan pengertian yang lebih jelas tentang nubuat Nabi Yoël ini, biarlah kita menghargai pimpinan Roh Kudus dan orang-orang yang dipimpin oleh Roh Kudus dengan penghargaan yang sangat tinggi. Bukan kekuatan manusia dan jaminan keamanan hidup dari dunia yang kita boleh andalkan untuk hidup yang melayani Tuhan, tetapi kuasa dan penyertaan Roh Kudus sajalah satu-satunya kekuatan. Bukan dengan segala kemampuan diri kita menjalani hidup, tetapi dengan bersandar kepada kekuatan Roh Kudus sajalah. Bukan bergantung kepada manusia dan kekuatan dunia ini kita dapat melayani, tetapi hanya dengan kekuatan Roh Kudus sajalah. Itulah sebabnya para murid, meskipun kecil dan tidak berarti dalam pandangan orang-orang Israel, tetap bekerja segiat mungkin untuk memberitakan Injil, dan menyaksikan bahwa kuasa Roh Kuduslah yang memimpin dan bekerja memakai mereka.

Siapakah kita? Orang penting? Jika ya, biarlah kita menganggap sampah posisi itu dan memohon posisi yang jauh lebih tinggi, yaitu dipimpin dan dipenuhi Roh Kudus. Siapakah kita? Orang rendahan? Biarlah kita memohon supaya Tuhan pakai dengan besar dan kuasa Roh Kudus senantiasa memenuhi kita sehingga orang dapat melihat pekerjaan-pekerjaan besar bagi Tuhan yang tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang rendah seperti kita. Milikilah penilaian yang agung terhadap pimpinan dan kuasa Roh Kudus. Siapa yang menghina diri sedang mengecilkan kuasa Roh Kudus. Siapa yang membanggakan diri sedang menghina kuasa Roh Kudus. Mari layani Tuhan, menjadi saksi yang terus memberitakan Kristus, dan menghargai setinggi-tingginya kuasa Roh Kudus yang memimpin di depan.

Doa:
Ya Tuhan, biarlah kami mulai mengabaikan penghargaan yang berlebihan bagi posisi kami di masyarakat. Biarlah kami tidak tenggelam di dalam perasaan minder karena posisi kami yang rendah. Biarlah kami tidak tenggelam di dalam kebanggaan kosong karena posisi kami yang tinggi. Biarlah kami sibuk bergumul memohon supaya Roh Kudus memenuhi kami dan memberikan kuasa dalam hidup kami. Kuasa untuk menang atas dosa dan kuasa untuk meninggikan Kristus di dalam hidup yang suci dan di dalam mengabarkan Injil dengan berani. Tuhan, berikan kami kuasa dan pimpinan Roh-Mu yang kudus, karena tanpa Roh-Mu yang kudus kami tidak berarti apa-apa. (JP)