Renungan Harian 322 (Rabu, 17 Juli 2019)

Khotbah Petrus #2

Devotion from Kisah Rasul 2:22-29

Di dalam bagian ini Petrus menjelaskan inti dari pekerjaan Roh Kudus, yaitu meninggikan Kristus. Roh Kudus hanya mau meninggikan Kristus. Roh Kudus tidak datang untuk meninggikan orang-orang yang dipakai-Nya sehingga mereka menjadi selebriti-selebriti rohani. Roh Kudus datang untuk meninggikan Kristus. Hanya Kristus! Petrus tidak menghabiskan waktu dengan menceritakan tentang dia dan kawan-kawannya. Petrus tidak merasa perlu membeberkan apa saja yang mereka sudah alami. Petrus langsung membawa orang kepada Kristus. Tugasnya adalah mengkhotbahkan Kristus. Siapakah Kristus?

Yesus dari Nazaret
Petrus mengatakan bahwa yang dia ingin beritakan adalah Yesus dari Nazaret. Nazaret adalah tempat yang sangat buruk reputasinya sehingga seseorang bahkan berani mengatakan bahwa tidak mungkin ada hal baik muncul di Nazaret (Yoh. 1:46). Yesus dari Nazaret? Baiklah… mungkin memang benar Dia berasal dari Nazaret, tetapi perlukah itu ditekankan di dalam khotbah Petrus? Bukankah dia ingin meninggikan Yesus? Kalau begitu lewati saja perkataan “…dari Nazaret” karena itu akan membuat batu sandungan bagi banyak orang. Nabi besar dari tempat seperti Nazaret? Bagaimana mungkin itu terjadi? Tetapi Petrus tetap menekankan bahwa Yesus adalah orang Nazaret. Sehina apa pun tempat itu tidak akan menurunkan kemuliaan Kristus. Kemuliaan Kristus demikian agung dan besar sehingga tidak mungkin kemuliaan-Nya berkurang karena tempat asal-Nya. Bahkan kemuliaan-Nya tidak akan berkurang sekalipun Dia digantung di kayu salib. Kayu salib adalah tempat yang paling hina, tetapi karena Kristus yang mulia pernah dipaku di kayu salib, maka kayu salib tidak lagi menjadi tempat yang hina, melainkan menjadi lambang mulia yang menghiasi bangunan-bangunan gereja yang paling indah di dunia.

Banyak orang begitu malu dengan latar belakang asal usulnya. Banyak orang begitu malu dengan latar belakang pendidikannya. Sebegitu miskinnyakah kita sebagai orang Kristen sehingga tidak ada apa pun yang dapat dibanggakan di dalam diri kita selain latar belakang sosial kita? Sebegitu miskinnyakah kita sebagai orang Kristen sehingga identitas kita membuat kemuliaan yang kita peroleh dari Kristus menjadi berhenti bersinar? Barang siapa mau bermegah biarlah dia bermegah karena Allah (Yer. 9:24; 1Kor. 1:31). Jangan permalukan Allah dengan penilaian yang terlalu besar terhadap segala kemuliaan fana yang sia-sia, seolah-olah kemuliaan karena mengenal Allah dapat menjadi redup karena hal-hal fana tersebut. Kemuliaan Kristus tidak bisa direduksi oleh daerah asal. Kemuliaan Kristus bahkan tidak bisa direduksi oleh hukuman salib sekalipun!

Yesus yang penuh kuasa Allah
Selain mengkhotbahkan Yesus yang berasal dari Nazaret, Petrus juga menyatakan bahwa segala tanda yang diperlukan untuk menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias telah Dia kerjakan di tengah-tengah Israel. Dia melakukan begitu banyak mukjizat, tidak seperti yang pernah dikerjakan oleh orang-orang lain, siapa pun dia. Tidak ada nabi-nabi yang pernah melakukan mukjizat lebih daripada Yesus. Semua mukjizat itu Dia kerjakan untuk menjadi tanda sekaligus peringatan bagi orang Israel. Tanda bahwa Dialah Sang Mesias yang dijanjikan itu. Orang yang menyaksikan mukjizat-Nya mau tidak mau harus berkomentar, “jika Yesus bukan Mesias, mungkinkah ada orang lain lagi yang sanggup kerjakan mukjizat lebih banyak daripada Yesus? (Yoh. 7:31). Sedemikian banyaknya mukjizat Yesus sehingga ke-4 Injil pun harus memilih sebagian kecil saja dari mukjizat yang pernah Dia kerjakan (Yoh. 21:25). Selain tanda, mukjizat Tuhan Yesus juga akan menjadi peringatan bagi mereka yang tidak percaya. Siapa pun yang menolak Yesus Kristus tidak punya alasan yang kuat untuk menolak Dia. Mengapa Israel menolak Yesus? Karena Dia kurang berkuasakah? Tidak. Dia menyembuhkan orang sakit, mengusir setan-setan, dan membangkitkan orang mati. Bagian manakah dari kuasa-Nya yang Dia nyatakan secara kurang meyakinkan? Kalau begitu mengapa masih banyak orang yang menolak untuk percaya? Karena kedegilan hati maka mereka tetap menolak. Mengapa masih menolak untuk percaya Tuhan Yesus? Karena kurang bukti? Karena tidak ada saksi mata yang mencatat apa yang Yesus kerjakan? Tidak ada apa pun yang dapat dipakai sebagai alasan bagi seseorang untuk menolak percaya kepada Tuhan Yesus. Semua yang Yesus kerjakan disaksikan oleh para saksi. Setiap hal yang disaksikan oleh para saksi itu pun telah tercatat untuk menjadi kesaksian bagi kita yang hidup jauh setelah peristiwa-peristiwa itu terjadi. Jadi? Apakah yang masih menghalangi manusia untuk percaya? Kedegilan hati. Itulah satu-satunya alasan.

Yesus yang mati dan bangkit
Hal ketiga yang Petrus khotbahkan adalah mengenai kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Satu-satunya manusia yang mengalami kematian sesuai dengan nubuat yang telah tertulis lebih dari 1.500 tahun sebelum manusia itu lahir adalah Yesus Kristus. Siapakah lagi tokoh agama yang kematiannya telah tercatat 1.500 tahun sebelum dia lahir? Kematian Kristus tidak hanya dicatat satu kali 1.500 tahun sebelumnya, tetapi dicatat berulang-ulang dengan pengertian yang makin lengkap di dalam kitab-kitab sesudahnya, terus secara konsisten diberitakan hingga 400 tahun sebelum kelahiran-Nya. Tidak cukup sampai di situ, berita kematian-Nya juga diteruskan oleh Yohanes Pembaptis yang hidup sezaman dengan Dia dengan seruan, “inilah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29-30).

Bukan hanya kematian-Nya yang diberitakan, tetapi kebangkitan-Nya pun telah dinubuatkan. Dari sekian banyak nubuat tentang kebangkitan-Nya, Petrus mengutip salah satu, yaitu Mazmur 16:8-11. Apakah Mazmur 16:8-11 sedang berbicara tentang Yesus? Bukankah Mazmur itu sedang berbicara tentang Daud? Daud atau Yesus? Petrus mengatakan, “Yesus”, tetapi orang-orang Yahudi tentu akan mengatakan, “Daud!” Tetapi di dalam ayat 29 Petrus mengingatkan semua orang bahwa Daud sudah mati dan kuburannya masih ada hingga saat itu. Benarkah orang-orang kudus tidak melihat kebinasaan Daud? Daud mati dan tetap mati (1Raj. 2:10-11). Daud mati dan tidak ada catatan di mana pun di dalam Kitab Suci yang menyatakan bahwa dia bangkit. Orang-orang kudus melihat Daud mati dan tidak pernah melihat dia bangkit hingga saat ini. Tetapi tidak demikian dengan Tuhan Yesus. Orang-orang kudus-Nya memang melihat Dia mati, tetapi mereka juga menyaksikan Dia bangkit. Bahkan hingga saat ini tidak seorang pun bisa mengklaim dengan benar bahwa dia tahu di mana mayat Yesus berada. Mayat Yesus tidak berada di dalam kuburan. Mengapa tidak? Karena mayat Yesus tidak ada. Yesus sudah bangkit! Dia bukan mayat, Dia hidup! Semua nabi telah menjadi mayat. Semua pemimpin agama telah menjadi mayat. Semua raja-raja agung telah menjadi mayat, tidak peduli berapa banyak rempah-rempah dan bahan pengawet yang dipakai untuk mayat itu, mayat tetaplah mayat. Tetapi siapakah dapat menunjukkan di mana mayat Yesus? Tidak seorang pun akan sanggup melakukan itu karena Dia sudah bangkit. Kuasa kebangkitan Yesus bukanlah kuasa kebangkitan secara roh. Yang bangkit bukan roh Kristus, tetapi tubuh-Nya. Inilah kemenangan Allah yang sejati. Kematian rohani dan kematian tubuh ditaklukkan dan ditelan di dalam kematian Yesus. Itulah sebabnya Dia bangkit, untuk menyatakan kemenangan-Nya atas maut, baik kematian rohani, maupun kematian tubuh.

Yesus bangkit! Alasan apakah yang dipakai untuk menolak Dia? Mungkin ada orang akan berkata bahwa berita kebangkitan-Nya adalah bohong. Tetapi manakah dokumen atau catatan yang membuktikan kebohongan catatan Alkitab mengenai kebangkitan Yesus? Tidak satu pun. Jika tidak ada yang bisa membuktikan kebohongan ini, mengapa masih juga keras hati dan menolak Dia? Yesus bangkit! Mengapa mau jadi pengikut orang mati yang tetap menjadi mayat? Mari ikut Yesus, satu-satunya yang telah mengalahkan maut. Satu-satunya yang telah bangkit dari antara orang mati. (JP)