Renungan Harian 324 (Jumat, 19 Juli 2019)

Kehidupan Jemaat Kristus #1

Devotion from Kisah Rasul 2:41-47

Begitu besar Tuhan memberkati pelayanan awal dari para rasul. Tiga ribu orang ditambahkan oleh Tuhan kepada gereja-Nya. Mereka menjadi bagian dari Kristus karena mereka menerima berita Injil yang disampaikan kepada mereka. Tetapi menerima berita Injil dan diselamatkan adalah langkah awal menjadi orang Kristen yang sejati. Setelah menerima berita Injil, para murid yang baru itu harus hidup di dalam komunitas gereja, yaitu kumpulan orang-orang yang percaya kepada Kristus, dipanggil keluar dari dunia ini, dan menjadi anggota Kerajaan Allah yang dinyatakan di dalam dunia ini melalui kehadiran gereja-Nya. Bagaimanakah orang-orang ini hidup? Di dalam ayat 42 dikatakan bahwa mereka hidup dengan bertekun di dalam pengajaran para rasul. Bukan hanya sekadar mendengar pengajaran, tetapi bertekun di dalamnya. Mereka begitu haus untuk mengetahui firman Tuhan, sehingga mereka tidak mau hanya mendengar sambil lalu. Mereka menaati apa yang Tuhan perintahkan di dalam Ulangan 6:6-9, yaitu terus membahas firman Tuhan di dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran firman mendapatkan tempat yang begitu dalam di hati mereka sehingga ketika mereka duduk, ketika mereka berjalan, ketika mereka berbaring, ketika mereka bangun, mereka membahas apa yang terus memenuhi hati mereka, yaitu firman Tuhan.

Kehidupan gereja haruslah seperti ini. Kehidupan gereja membiasakan jemaat-Nya untuk senantiasa menikmati firman Tuhan dan menjadikan firman Tuhan begitu berlimpah sehingga menjadi sesuatu yang terus diajarkan, dibicarakan, dibagikan, direnungkan di dalam hidup sehari-hari. Tetapi kita hidup di dalam keadaan yang begitu jauh dari firman Tuhan. Kehidupan sehari-hari tidak diwarnai dengan membicarakannya, apalagi menjalankannya. Isi hati begitu dipenuhi dengan hiburan, kebiasaan, perkataan dari dunia ini, sehingga tidak ada tempat untuk firman Tuhan. Pikiran kita begitu diokupasi oleh studi, kuliah, atau pekerjaan sehingga menjadi lumpuh untuk memikirkan firman. Pembahasan firman Tuhan menjadi sesuatu yang tidak boleh rumit, tidak boleh menyita kemampuan berpikir, tidak boleh menjadi pembicaraan yang dominan, karena natur berdosa kita memang senang hidup jauh dari Tuhan. Betapa bebas kita merasa hidup tanpa Tuhan. Betapa menyenangkan jikalau firman Tuhan jauh dari hati, pikiran, dan gaya hidup kita. Betapa cemar sebenarnya hati, pikiran, dan gaya hidup kita itu! Tetapi siapa yang menjadi milik Tuhan mendengar suara Sang Gembala Agung itu. Mereka mendengar supaya bisa mengikut Sang Gembala dengan sepenuh hati mereka. Mereka mengikut karena mereka senantiasa mendengar suara Sang Gembala yang mengenal mereka (Yoh. 10:27). Inilah yang dilakukan oleh orang-orang percaya yang telah memberi diri mereka dibaptis di dalam Kisah Rasul 2:41. Inilah juga yang kita harus lakukan sekarang.

Hal kedua yang mereka lakukan adalah memecahkan roti bersama-sama. Tulisan di abad ke-2 yang bernama “Didache” mengatakan bahwa ini merupakan kebiasaan untuk melakukan Perjamuan Kudus dengan rutin, membawa ke rumah mereka masing-masing sukacita besar bisa mengikuti Perjamuan Kudus di dalam pertemuan yang khusus. Kebiasaan untuk makan bersama di dalam kebudayaan Yahudi sekarang ditambah dengan Perjamuan Kudus. Persekutuan di dalam makan bersama merupakan cara untuk menikmati berkat Tuhan bersama-sama, menyadari bahwa Tuhan telah memberkati kita secara komunal. Kita diberkati bukan untuk menikmati berkat itu sendiri. Kita hidup di tengah-tengah umat Tuhan dan kita menikmati pemeliharaan Tuhan bersama-sama. Berkat Tuhan dibagikan dan dinikmati oleh seluruh umat Tuhan sehingga tidak ada yang berkelimpahan sampai mabuk di tengah-tengah kekurangan orang lain (1Kor. 11:21). Tetapi, meskipun ini adalah hal yang sangat baik, orang-orang Kristen mula-mula menambahkan Perjamuan Kudus sebagai bagian dari persekutuan untuk makan bersama. Bersekutu dengan mengakui tubuh Tuhan Yesus yang terpecah di kayu salib dilakukan lebih dahulu, barulah persekutuan dengan mengakui anggota tubuh Tuhan Yesus, yaitu gereja-Nya, dilakukan dengan makan bersama. Ini dilakukan dengan kerinduan yang begitu besar oleh orang-orang Kristen pada waktu itu.

Mengenal Tuhan dengan benar melalui pengajaran para rasul dan mengingat pengorbanan Kristus dengan memecah-mecahkan roti bersama dilakukan sebagai suatu kegiatan yang sangat dekat dengan rutinitas mereka. Ibadah dan perjamuan adalah hal yang rohani dan kudus tetapi begitu dekat dengan keseharian mereka. Mereka tidak memisahkan antara kehidupan sehari-hari yang biasa dengan kehidupan spiritual mereka. Mereka berkumpul sebagai umat Tuhan dan hidup sehari-hari juga sebagai umat Tuhan. Tidak ada pemisahan antara kehidupan sehari-hari yang duniawi dengan kehidupan persekutuan yang sakral. Di mana mereka berada dan tindakan apa pun yang mereka lakukan, mereka senantiasa sadar bahwa mereka hidup karena Kristus dan bagi Kristus. Sesuatu yang banyak hilang pada zaman kita sekarang.

Hal ketiga yang dilakukan dengan giat adalah berdoa. Mereka senantiasa berdoa dengan dedikasi yang tinggi. Gereja Tuhan tidak boleh menjauh dari doa. Orang Kristen juga tidak bisa hidup jauh dari doa. Tidak ada seorang pun yang mengaku percaya kepada Kristus yang bisa hidup tanpa dedikasi doa yang giat. Doa menjadi bagian yang sangat penting di dalam pelayanan para rasul dan sekarang menjadi bagian yang sangat penting di dalam kehidupan sehari-hari orang-orang Kristen. Sujud kepada Tuhan dalam doa membawa pertumbuhan, baik di dalam kehidupan pribadi seorang Kristen maupun di dalam kehidupan gereja. Mari kita belajar untuk mempunyai kebiasaan berdoa yang dijalani dengan giat. Doa yang menyatakan puji dan sembah kita kepada Allah, doa yang menyatakan kebergantungan kita kepada Allah, doa yang menyatakan ucapan syukur kepada Allah, semua adalah bagian yang indah dari kehidupan orang Kristen. Kasihan sekali seorang Kristen yang tidak tahu bagaimana menikmati kebiasaan berdoa. Hidup begitu jauh dari komunikasi dengan Allah yang berdaulat atas segala sesuatu. Apakah kita mau terus hidup dikurung oleh kemiskinan rohani? Tidak mengenal ajaran yang benar, tidak berdoa, tidak mendalami makna perjamuan kudus, alangkah miskin dan kacaunya kehidupan Kristen yang seperti ini. Gereja pada zaman rasul tidak miskin. Mereka mungkin miskin secara harta, tetapi limpah secara rohani. Kehidupan doa yang terjalin dengan ajaran yang benar dan dengan Perjamuan Kudus di dalam menghidupi kematian dan kebangkitan Kristus melalui simbol roti dan anggur adalah sumber pertumbuhan rohani yang sejati. Siapa pun orang Kristen itu, di mana pun dia berada, dan kapan pun zaman dia hidup, dia tidak mungkin akan menjadi orang Kristen yang sejati tanpa ajaran yang benar, perjamuan, dan doa.

Untuk direnungkan:
Betapa limpah hidup Kristen yang menjalin hal-hal rohani di dalam keseharian. Hidup rohani yang dijalani sehari-hari inilah yang menjadi ciri khas kehidupan orang Kristen di dalam Kisah Rasul 2 ini. Mereka menolak untuk mengurung aspek rohani dalam hidup mereka hanya satu hari dalam seminggu. Mereka membuat kehidupan sehari-hari mereka didominasi oleh hal-hal rohani. Abad kita sekarang terlatih untuk mengisi hidup sehari-hari dengan kesibukan, kesenangan, dan kebiasaan-kebiasaan yang mengabaikan Tuhan. Inilah tantangan besar yang harus kita lewati. Akankah kita menjadi orang-orang yang mengabaikan tradisi hidup Kristen yang baik demi menjadi sama dengan dunia ini? Mengejar apa yang mereka kejar, menikmati apa yang mereka nikmati, memikirkan apa yang mereka pikirkan? Atau, seperti yang dicatat dalam Kisah Rasul 2 ini, kita menjadi orang-orang yang membawa seluruh kekristenan kita untuk dijalani di dalam dunia ini dan menolak untuk memisahkan Tuhan dari dunia ini, karena Tuhan adalah Sang Pencipta dan Sang Raja yang harus bertakhta di dunia ini. (JP)