Renungan Harian 325 (Sabtu, 20 Juli 2019)

Kehidupan Jemaat Kristus #2

Devotion from Kisah Rasul 2:41-47

Hari ini kita akan melihat kesatuan hidup di dalam jemaat Kristus. Mereka bukan saja berkumpul bersama-sama dan belajar bersama-sama. Gereja bukan tempat belajar secara pengetahuan, tetapi gereja adalah tempat adanya kesatuan di dalam hidup. Gereja satu di dalam Kristus. Kristus adalah kepalanya dan gereja adalah tubuh-Nya (Ef. 4:15; 1:22-23). Kesatuan di dalam Kristus menjadi dasar dari seluruh kesatuan yang lain di dalam kehidupan gereja. Kisah Rasul 2:43-47 menjelaskan kesatuan dari kehidupan gereja yang dibangun di atas Kristus sebagai fondasi (1Kor. 3:11).

Kesatuan di dalam takut akan Tuhan dan mengagumi karya-Nya
Gereja bukan hanya mempunyai pengenalan yang satu tentang siapakah Allah, tetapi juga mempunyai kesatuan akibat dari pengenalan itu. Pengenalan yang sejati membawa perasaan takut akan Allah. Ketika jemaat Tuhan melihat perbuatan yang menakjubkan dan tanda-tanda yang dilakukan oleh para rasul, mereka menjadi takut akan Allah dan kagum kepada apa yang Dia kerjakan. Ketika Allah menyatakan kemuliaan-Nya, manusia tidak mungkin tetap berdiri dengan kekuatan kakinya. Manusia akan sujud karena tidak tahan dengan kemuliaan yang dinyatakan oleh Allah. Demikian juga pengenalan kita akan Allah akan membuat kita makin menyadari kemuliaan-Nya, dan kemuliaan itu pasti akan membuat kita sujud kepada Allah dan takut akan Dia dengan perasaan kagum dan gentar. Orang Kristen harus mempunyai perasaan-perasaan ini. Orang yang seumur hidup tidak pernah mempunyai perasaan takut akan Tuhan pastilah bukan milik Tuhan. Orang yang seumur hidup tidak pernah mempunyai perasaan kagum kepada Allah pastilah bukan milik Allah. Alkitab menyatakan perbuatan-perbuatan besar dari Allah yang penuh kuasa dan mulia. Apakah reaksi kita ketika itu semua dinyatakan kepada kita? Adakah perasaan kagum? Adakah perasaan hormat? Adakah perasaan takut dan gentar? Jika kita dapat digentarkan oleh suara petir dan kedahsyatan sambarannya, bagaimana mungkin kita tidak gentar kepada Dia yang menciptakan badai dan halilintar? Jika kita dapat menjadi begitu kagum dengan pemandangan alam yang begitu indah, bagaimana mungkin kita tidak kagum dengan Allah yang menciptakan semua itu? Jika orang-orang percaya begitu kagum dengan tanda mukjizat yang dikerjakan melalui para rasul, bagaimana mungkin mereka tidak mengagumi Allah yang telah memanggil para rasul itu dan memberikan kuasa kepada mereka? Kebiasaan takut akan Allah dan kagum kepada karya-Nya merupakan satu-satunya kebiasaan yang dapat menjaga kekudusan hidup kita. Mengapa? Karena orang yang takut akan Allah akan merasa begitu gentar menyakiti hati-Nya dengan berdosa kepada-Nya. Orang yang mengagumi Allah tidak akan mengorbankan menikmati Allah yang mengagumkan itu dan menggantikannya dengan kenikmatan dosa yang cemar. Satu-satunya kemungkinan manusia mempunyai kekuatan untuk melawan dosa adalah takut akan Allah dan mengagumi Dia ketika Dia menyatakan diri-Nya, baik melalui tanda-tanda, maupun yang terutama, melalui firman-Nya. Dunia meremehkan Tuhan, menghina Dia, menikmati hal yang dibenci-Nya, dan mengabaikan Dia; tetapi gereja-Nya mengagungkan Dia, takut akan Dia, menikmati kemuliaan-Nya, dan sujud kepada-Nya.

Kesatuan di dalam hidup bersama
Hal berikut yang menjadi kesatuan gereja adalah kehidupan yang saling tolong menolong. Komunitas Kristen mula-mula ini mempunyai apa pun untuk dinikmati bersama-sama. Ini tidak berarti bahwa pengertian komunis yang anti terhadap kepemilikan pribadi telah diterapkan sebelumnya oleh gereja abad ke-1. Tidak! Komunis menganggap kepemilikan pribadi adalah sesuatu yang akan merusak, tetapi gereja Tuhan hidup di dalam penghargaan kepada pemilikan pribadi oleh Allah. Di dalam Taurat Allah menuntut manusia untuk menghargai kepemilikan pribadi orang lain (Kel. 20:17). Kepemilikan pribadi juga menjadi dasar untuk memberi dan tolong menolong (Im. 19:10; Kis. 5:4). Tanpa adanya kepemilikan pribadi dan hak untuk memiliki posesi, maka tidak mungkin ada konsep tolong menolong dan memberi. Bagaimana mungkin seseorang memberi sesuatu yang tidak pernah menjadi miliknya? Maka ayat 44 dan 45 menggambarkan kesediaan untuk saling tolong menolong. Tidak seorang pun merasa keberatan jika harus berbagi. Ini persekutuan yang sangat indah. Semua bersiap untuk berbagi. Semua, tanpa kecuali! Gereja dapat bertumbuh dan menjadi kokoh justru karena semua orang merasa harus berbagi. Sebaliknya, komunitas apa pun akan menjadi rapuh dan hancur jika orang-orang di dalamnya merasa harus ditolong. Bukankah Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa memberi itu lebih berbahagia daripada menerima (Kis. 20:35)? Bahkan orang-orang yang menuntut bagian bantuan pun menuntutnya demi orang lain, bukan diri mereka sendiri (Kis. 6:1). Jika kekristenan diisi oleh mental minta uang dan minta bantuan, maka kekristenan akan lumpuh, tidak mungkin kokoh. Tetapi jika kekristenan diisi oleh orang-orang yang rela berbagi dan rela menolong, maka kekuatannya untuk bertahan akan sangat besar. Tidak seorang pun hidup kekurangan karena semua bersedia berbagi dan memberi.

Kesehatian
Hal berikut yang menjadi ciri gereja Tuhan di dalam Kisah Rasul 2 ini adalah kesehatian dan sepikir. Mereka sama-sama menerima pengajaran para rasul dengan cara yang benar, yaitu mengakui bahwa Yesus Kristuslah Juruselamat bagi Israel dan bagi mereka. Dialah Sang Mesias yang akan memerintah atas Israel, bahkan seluruh dunia. Mereka mempunyai pengertian yang sama, kerinduan untuk mengenal Tuhan yang sama, dan pengharapan yang sama juga. Mereka senantiasa hidup di dalam penantian akan kedatangan Kristus yang kedua kali. Gereja harus memiliki kesehatian untuk hal-hal yang penting. Kesehatian tidak bisa direduksi dengan organisasi. Kesatuan gereja bukan kesatuan organisasi. Jika pengharapan tidak sama, iman dijelaskan dengan cara yang beda, dan pengenalan akan Tuhan pun memiliki perbedaan tajam, maka pasti kesehatian tidak ada. Gerakan oikumene hanya bisa terjadi dengan adanya kesamaan doktrin yang menjelaskan iman. Tanpa pengertian iman yang sama, di dalam satu organisasi pun tetap tidak bisa disebut sama. Tetapi dengan pengertian iman yang sama, pengharapan yang sama, tujuan berjuang yang sama, dan pengenalan akan Tuhan yang dinyatakan dengan cara yang sama, maka perbedaan organisasi tidak akan membatalkan kesehatian yang terjadi. Lebih baik memiliki bendera denominasi yang berbeda tetapi doktrin, pengakuan iman, cara pelayanan, dan cara hidup sama daripada memiliki organisasi yang sama tetapi diisi oleh doktrin, pengakuan iman, dan hidup dari perspektif yang berbeda. Kesatuan palsu adalah kesatuan yang hanya sampai pada kulitnya, tetapi kesatuan yang sejati tidak akan dibatalkan oleh kulit apa pun.

Untuk direnungkan:
Karena Kristuslah yang menyatukan gereja, maka gereja mempunyai kesatuan yang esensial, karena Kristus, oleh Kristus, dan untuk kemuliaan-Nya. Tidak ada alternatif lain. Karena Dialah gereja dipanggil menjadi umat tebusan yang kudus, sebab Allah memberikan kekudusan Kristus melalui penebusan-Nya di kayu salib bagi gereja agar disucikan (Ef. 5:25-27). Inilah yang menyatukan umat Tuhan. Bukan suku, ras, kedudukan sosial, kebiasaan, hobi, dan segala hal remeh lainnya. Itu jugalah mengapa kita harus belajar untuk mengalami kesatuan ini dengan saudara-saudara seiman kita. Jangan gampang pecah karena hal kecil. Jangan gampang bertengkar untuk masalah-masalah yang tidak esensial. Jangan ribut karena menolak untuk mematikan ego. Biarlah Kristus ditinggikan oleh umat tebusan-Nya yang satu di dalam Dia. (JP)