Renungan Harian 326 (Minggu, 21 Juli 2019)

Kehidupan Jemaat Kristus #3

Devotion from Kisah Rasul 2:41-47

Bagian terakhir dari kehidupan jemaat Kristus ada di dalam ayat 47. Di situ dikatakan bahwa jemaat Kristus senantiasa memuji Allah. Puji-pujian kepada Allah senantiasa dipanjatkan oleh umat-Nya karena hanya umat-Nyalah yang tahu betapa agung, mulia, penuh kebesaran, kekudusan, kasih setia, dan bijaksananya Allah. Allah, dengan sifat-Nya yang mulia dan sempurna, tidak mungkin dipuji dengan puji-pujian yang remeh dan tidak mencerminkan sifat-Nya itu. Pantaskah pujian kita berikan kepada Dia dengan sesuatu yang hanya mencerminkan kemuliaan duniawi yang redup? Kita perlu belajar bagaimana memuji Tuhan dari umat Tuhan, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Tuhan dipuji oleh umat-Nya karena umat-Nya mengenal Dia sebagai Allah sejati. Tidak ada orang bisa memuji Tuhan jika dia tidak digerakkan oleh pengenalan akan Allah yang membuat dia kagum dan takjub. Kekaguman kepada Allah menggerakkan orang memuji Dia.

Tetapi puji-pujian tidak hanya digerakkan oleh pengenalan akan Allah saja. Pengenalan akan Allah yang dinyatakan di dalam pergumulan hidup di dunialah yang membuat pujian itu menjadi sesuatu yang dinyatakan dengan sepenuh hati. Kemuliaan Allah bukan untuk dilihat secara terpisah dengan hidup. Kemuliaan Allah adalah kekuatan terbesar untuk seseorang menjalani hidupnya dengan benar di hadapan Allah. Musa yang lemah dan sudah patah semangat memohon untuk memandang kemuliaan Allah, karena itulah satu-satunya hal yang dapat membuat dia bangkit kembali dan memimpin Israel di padang gurun (Kel. 33:15-18). Elia yang sama hancurnya juga mendapatkan kekuatan dari bertemu dengan Allah yang menyatakan kemuliaan-Nya di dalam angin sepoi-sepoi (1Raj. 19:12-13). Ketika kita menyadari bahwa di dalam segenap kemuliaan-Nya Allah adalah Allah yang menuntun langkah kita, menyelamatkan kita, dan memberikan pimpinan dan kekuatan, maka tentu hati kita meluap dengan puji-pujian bagi Tuhan. Kemuliaan Allah bukanlah hal abstrak yang dinilai secara objektif, yaitu terlepas dari diri kita. Kemuliaan Allah adalah hal yang dinikmati, disadari, dan dikagumi di dalam kehidupan seseorang yang percaya. Itulah sebabnya tidak mungkin seseorang yang tidak mengenal Tuhan dapat memuji Tuhan. Mengenal saja tidak, bagaimana mungkin ucapan mulutnya dapat memanjatkan puji-pujian yang menyenangkan hati Tuhan.

Sayang sekali kalau di dalam zaman ini orang-orang memuji Tuhan karena kekaguman mereka kepada dunia. Semangat self-centered dari dunia ini juga yang dibawa waktu memuji Tuhan. Sense of wonder and awe, perasaan kagum dan takjub, tidak lagi diperhitungkan dan diabaikan, sedangkan kemuliaan duniawi yang redup itulah yang dikagum-kagumi. Juga tidak kalah sayangnya adalah jika kita tidak akrab dengan memuji Tuhan. Tuhan menjadi begitu jauh dan tidak berhubungan apa-apa dengan hidup kita. Di manakah perasaan kagum kepada Dia?

Hal kedua yang dibahas oleh ayat 47 ini adalah bahwa mereka semakin dikasihi oleh semua orang. Kesadaran akan kekudusan Tuhan akan memimpin orang untuk hidup suci. Kesadaran yang sama juga akan menuntun orang untuk mempunyai pengaruh di dalam lingkungan sosialnya. Kekudusan membuat umat Tuhan membenci dosa, tetapi juga mencintai orang-orang. Kecintaan inilah yang membuat baiknya relasi dengan siapa pun. Orang-orang Kristen bukanlah orang yang tidak punya musuh. Tetapi orang-orang Kristen tidak boleh dimusuhi karena tindakan dan perkataan mereka yang melanggar. Betapa besar dosa kita jika kita dimusuhi karena kesalahan kita sendiri. Tetapi jika kita dimusuhi karena Injil yang kita percaya, meskipun kita hidup dengan begitu baik, ramah, dan penuh keadilan serta kasih dengan orang-orang sekitar, maka itu adalah anugerah yang besar bagi kita (Yak. 1:2 dan Flp. 1:29). Dan jika kita terus bertekun di dalam perbuatan baik kepada sesama kita, tidak mungkin tidak ada orang yang akhirnya menyadari dan menyukai cara kita hidup. Siapa yang hidup kudus cepat atau lambat akan dikagumi dan diterima orang lain. Siapa yang penuh tipu daya cepat atau lambat akan dibenci dan ditinggalkan orang lain. Kitab Imamat di dalam pasal 19 juga mengaitkan dengan sangat erat antara kekudusan Allah dengan hidup dengan baik dengan sesama manusia. Di dalam Imamat 19 Tuhan berfirman memerintahkan kita untuk hidup kudus (ay. 2). Di dalam pasal ini juga Tuhan mengatur bagaimana berelasi dengan orang lain, baik itu budak, orang asing, orang tua, maupun musuh sekalipun. Di dalam pasal ini jugalah Tuhan memerintahkan untuk mengasihi sesama manusia (ay. 18). Lihat bagaimana kekudusan hidup berkait erat dengan berbuat baik kepada sesama. Kisah Rasul 2:47 ini menunjukkan akibatnya. Siapa pun yang hidup dengan tekun berbuat baik, pastilah akan semakin disukai oleh orang-orang sekitarnya. Semua orang mengasihi jemaat yang pertama ini karena kehidupan mereka yang sungguh menggugah orang-orang di sekitar mereka.

Untuk direnungkan:
Mari kita sama-sama melatih kepekaan kita di dalam dua hal. Yang pertama adalah di dalam mengagumi Tuhan. Sudahkah kita kenal Dia dengan benar? Orang yang mengetahui fakta tentang kekuatan seekor beruang marah tentu akan lari jika dia bertemu dengan salah satunya. Demikian juga orang yang mengetahui fakta tentang siapa Allah tidak mungkin tidak bereaksi apa-apa. Apakah reaksi kita ketika kita mengetahui sesuatu tentang Allah? Tidak ada reaksi apa-apa? Tanpa reaksi apa-apa berarti kita tidak sungguh-sungguh menganggap apa yang kita ketahui itu adalah kebenaran. Tetapi jika kita benar-benar tahu bahwa Dia adalah Allah yang mulia, penuh kasih setia, kudus, dan menggentarkan karena kedahsyatan murka-Nya, maka hati kita akan penuh dengan pujian yang tulus mengalir keluar di dalam perkataan, nyanyian, dan tindakan hidup yang benar.

Tetapi kita tidak akan mempunyai puji-pujian yang tulus diungkapkan jika hidup kita adalah hidup yang tanpa Tuhan. Hidup tanpa Tuhan membuat seseorang tidak mungkin memuji Dia. Jauhnya jarak antara keseharian kita dengan Allah membuat keseharian kita tidak pernah diwarnai oleh puji-pujian yang sejati. Mengapa hati kita begitu berat memuji Tuhan? Karena kita tidak merasa ada sesuatu yang perlu dipuji dari Allah yang tidak nyata di dalam hidup kita. Seberapa nyatakah Dia di dalam hidup kita? Kehadiran-Nya yang nyata tidak dirasakan dengan perasaan tanpa dasar. Kehadiran-Nya yang nyata dirasakan dengan iman kepada penjelasan firman-Nya di dalam Alkitab. Pemahaman akan siapa Allah melalui Alkitab itulah yang membuat kita dapat melihat Allah yang sama di dalam hidup. Dan hanya ketika kita melihat Allah dengan tepat di dalam Kitab Suci dan di dalam hidup kita sebagai Allah Tritunggal yang sama, barulah mulut kita memuji Dia karena hati kita meluap dengan sukacita karena Dia. Jika kita hanya mengenal Dia di dalam Kitab Suci saja, tetapi gagal melihat-Nya di dalam hidup kita sehari-hari, maka kita hanya mempunyai pengetahuan yang kosong. Tetapi jika kita melihat Dia hanya di dalam hidup kita saja, maka kita akan di-drive, diarahkan oleh pengalaman liar yang salah tentang Tuhan. Itulah sebabnya melihat Dia dengan benar di dalam Alkitab dan di dalam hidup akan membuat kita memuji nama Tuhan.

Hal kedua, marilah kita melatih kepekaan cara hidup sosial kita. Siapa yang menjadi milik Kristus harus mencerminkan sifat-sifat Kristus yang rela berkorban, taat kepada Bapa, kudus, penuh kasih, penuh hikmat ilahi, dan penuh dengan belas kasihan dan kepekaan untuk melihat derita orang lain. Jika orang masih begitu sulit menerima kita, jika kita dianggap sebagai orang keras yang dibenci semua orang, dan jika kehadiran kita membuat orang lain hidup sangat sulit, bagaimana mungkin kita dapat disamakan dengan orang-orang Kristen di dalam Kisah Rasul 2 ini? (JP)