Renungan Harian 327 (Senin, 22 Juli 2019)

Mukjizat Dalam Nama Yesus

Devotion from Kisah Rasul 3:1-10

Setelah membahas tentang kehidupan jemaat mula-mula, Lukas melanjutkan dengan kisah mukjizat Petrus yang menyembuhkan orang lumpuh. Dikatakan di dalam ayat 2 bahwa mereka bertemu orang ini di salah satu gerbang Bait Suci. Gerbang yang mana tidak begitu jelas, tetapi umumnya orang menafsirkan ini adalah gerbang “Nikanor”, tempat yang sangat megah di mana orang banyak lalu lalang. Orang lumpuh itu duduk di tempat yang sangat menonjol karena kemegahannya sehingga banyak orang mengenal siapa dia. Orang lumpuh inilah yang Tuhan pakai untuk menunjukkan tanda mukjizat-Nya sehingga orang tahu bahwa Dialah, melalui rasul-Nya, yang menyembuhkan.

Kerajaan Allah akan memulihkan segala sesuatu. Tetapi urutan yang paling utama harus didahulukan, yaitu penebusan dosa. Tidak mungkin Kerajaan Allah dinyatakan tanpa menghancurkan dosa. Tidak ada orang berdosa yang dapat bertahan jika Allah menyatakan Kerajaan-Nya. Itulah sebabnya seluruh dunia tidak punya pengharapan apa-apa jika Kristus tidak datang menebus dosa manusia. Inilah hal teragung dari rencana Allah menyatakan Kerajaan-Nya. Allah menyatakan Kerajaan-Nya bukan dengan menghancurkan dosa, tetapi menebusnya. Kristus Sang Raja tidak mengambil Kerajaan-Nya ini dengan menghancurkan seluruh musuh-musuh-Nya, tetapi dengan menebus sebagian darinya. Di dalam Kerajaan Allah tidak akan ada lagi orang berdosa. Orang-orang tebusan-Nyalah yang akan mewarisi bumi. Bagaimana orang-orang ini dapat ditebus? Dengan pengorbanan Kristus! Hanya dengan Sang Raja berkorban maka Kerajaan-Nya boleh dihuni oleh orang-orang tebusan-Nya. Inilah tujuan utama kedatangan Kristus. Segala sesuatu yang lain, meskipun sangat mulia dan penting, harus dilihat sebagai sesuatu yang lebih rendah dibandingkan dengan penebusan Kristus. Kematian-Nya di kayu salib, inilah karya paling agung di dalam mendirikan Kerajaan Allah di bumi.

Tetapi meskipun karya penebusan Kristus di kayu salib adalah yang teragung, semua pemulihan yang lain tetap memiliki kepentingan yang sangat besar. Allah tidak hanya menebus dan mendamaikan manusia pilihan-Nya dengan diri-Nya. Dia juga memulihkan segala sesuatu. Alam akan dipulihkan, penyakit akan dihilangkan, dan segala kelemahan akan dilenyapkan. Itulah sebabnya tanda-tanda yang dikerjakan oleh Kristus dan para rasul selalu berkait dengan pernyataan awal mengenai apa yang akan terjadi nanti. Mukjizat bukan hanya sekadar pameran tanpa makna. Mukjizat juga bukan segalanya. Jika mukjizat adalah simbol, maka setelah melihat mukjizat, umat Tuhan harus segera memalingkan pandangan mereka kepada Kerajaan Allah yang akan dinyatakan dengan sempurna nanti. Setiap tanda mukjizat mengarahkan umat Tuhan untuk melakukan suatu “eschatological gazing”, suatu pandangan ke depan, ke zaman akhir, yaitu ketika Kristus datang kedua kalinya nanti. Seperti tanda penunjuk jalan tidak dibuat untuk dipandang, tetapi untuk menjadi petunjuk ke arah mana kita harus berjalan. Demikian juga ketika Yesus Kristus dan para murid melakukan mukjizat. Mukjizat itu bukanlah pemulihan total dari Kerajaan Allah. Jika mukjizat itu merupakan pemulihan total, mengapa Yesus dan para rasul tidak menyembuhkan semua orang percaya? Mengapa tetap ada yang tidak disembuhkan? Mengapa tetap ada orang banyak yang tidak dapat kesempatan bahkan untuk bertemu dengan Yesus (Mrk. 1:36-38)? Penyakit belum dilenyapkan dari bumi ini. Kelumpuhan, buta, penyakit kulit, penyakit-penyakit mengerikan yang ada di bumi tetap ada. Tuhan mengenyahkan penyakit-penyakit ini melalui dua cara, yaitu melalui manusia dengan tugas penaklukkan yang Tuhan percayakan. Inilah sebabnya manusia terus melakukan penyelidikan untuk membawa kemenangan atas penyakit. Inilah mandat budaya, yaitu panggilan untuk manusia menaklukkan seluruh alam ini demi mengembangkan budaya. Cara yang kedua yaitu melalui mukjizat. Mukjizat dilakukan sebagai tanda bahwa pemulihan yang terjadi bukanlah sesuatu yang bersifat alamiah, tetapi tangan Allah yang berkuasalah yang melakukannya (Kel. 8:18-19). Mukjizat bukanlah suatu fenomena alamiah, tetapi sesuatu yang melampaui alam. Meskipun mukjizat melampaui alam, mukjizat itu sendiri bukanlah perbaikan total. Perbaikan segala kerusakan akan disempurnakan oleh Kristus melalui kedatangan-Nya yang kedua kali nanti. Itulah sebabnya Kristus dan para rasul mengerjakan tanda-tanda mukjizat, yaitu supaya umat Tuhan diingatkan kembali bahwa ada pengharapan yang pasti bahwa damai sejahtera Tuhan akan berkuasa di seluruh bumi.

Setelah Kristus naik ke surga, para rasul melanjutkan pekerjaan mukjizat itu. Petrus melihat sang pengemis lumpuh itu. Dia berharap bisa mendapat sedekah. Orang lumpuh itu sangat kasihan. Selain karena penderitaan yang harus dia alami karena fisik yang tidak mampu, dia juga harus tersingkir dari masyarakat dan menjadi seorang pengemis. Mungkin penyakit lumpuhnya yang dibawanya sejak lahir membuat orang menolak untuk memasukkannya ke dalam kelompok masyarakat umum. Orang yang lahir cacat selalu dianggap orang berdosa. Kalau bukan orang cacat itu yang berdosa, maka pasti orang tuanya yang berdosa (Yoh. 9:2). Jika tidak, bagaimana mungkin orang itu Tuhan berikan kecacatan? Tetapi Tuhan Yesus sendiri menjelaskan bahwa penyakit tidak selalu diakibatkan oleh dosa si penderita atau orang-orang di sekelilingnya (Yoh. 9:3). Ayub terkena sakit yang sangat menjijikkan, tetapi itu terjadi padanya bukan karena dia berdosa (Ayb. 9:21; 42:7).

Orang lumpuh itu melihat kepada Petrus dan Yohanes dan berharap mendapatkan sedekah. Petrus mengatakan bahwa dia akan memberikan sesuatu yang melampaui harta, yaitu mukjizat di dalam nama Tuhan Yesus! Maka Petrus memperkenalkan nama yang berada di atas semua nama, dan oleh Nama Yesus, orang lumpuh itu pun sembuh. Penderitaannya berakhir dan sejak disembuhkan dia menjadi pengikut Yesus yang mengikuti rombongan Petrus dan Yohanes. Petrus tidak mau pamerkan uang, dan dia tidak mau pamerkan kemampuan menolong. Dia menyerukan nama Yesus Kristus dan membiarkan Yesus Kristus mengerjakan kesembuhan itu demi nama Kristus diagungkan.

Untuk direnungkan:
Mukjizat pertama yang dilakukan para rasul membuktikan otoritas mereka. Para rasul melanjutkan pekerjaan Tuhan Yesus melakukan tanda-tanda ajaib. Apakah yang harus kita renungkan dari tanda ajaib ini? Petrus di dalam ayat 6 menekankan keutamaan nama Yesus Kristus. Segala kuasa adalah kuasa Kristus, bukan Petrus. Petrus memberikan seluruh hormat bagi nama Yesus. Inilah hal pertama yang harus menjadi perenungan kita. Petrus melakukan tanda-tanda penuh kuasa demi nama Yesus. Dia menyembuhkan orang lumpuh, juga demi nama Yesus. Segala sesuatu yang dia lakukan adalah dalam nama Yesus (Kol. 3:17). Pekerjaan utama para murid bukanlah menjadi pameran mukjizat, tetapi supaya nama Yesus yang dipermuliakan. Biarlah apa pun yang dikerjakan oleh kita di dalam hidup membuat orang mempermuliakan nama Yesus. Kebesaran karya Kristus melalui para rasul tidak membuat mereka lupa menyatakan bahwa nama Yesuslah sumber dari kuasa Kerajaan Allah yang akan dinyatakan secara sempurna nanti. Betapa penuh dosanya orang-orang yang berusaha melakukan segala sesuatu demi namanya sendiri. Pendeta-pendeta menjadi besar dengan pameran mukjizat demi namanya sendiri. Mengapa menghakimi mereka? Bukankah mereka tetap menyebut nama Yesus? Apakah bedanya para rasul dengan pengkhotbah KKR kesembuhan pada zaman ini? Bedanya adalah di dalam KKR kesembuhan modern mukjizat menutupi berita Injil dan nama pengkhotbah menutupi nama Yesus. Mengapa mukjizat menutupi berita Injil? Karena berita Injil telah direduksi menjadi berita kesembuhan, bukan berita pertobatan. Tuhan Yesus tidak berseru, “Kerajaan Allah sudah dekat! Mari datang dan alami kesembuhan secara mukjizat!” Yesus berseru, “Kerajaan Allah sudah dekat! Bertobatlah!” Lalu mengapa nama pengkhotbah menutupi nama Yesus? Karena dia meminjam nama Yesus untuk membuat orang-orang yang mengikut Yesus melihat dia sebagai orang besar dan penting. Segala fokus perhatian ada pada sang pengkhotbah. Mengapa kita begitu mudah ditipu? Siapa pun yang menjadi besar dan kaya karena berita Injil, dia pasti hamba Tuhan palsu. Tidak ada hamba Tuhan sejati yang hidup bermewah-mewah, meraup keuntungan miliaran untuk diri sendiri. Tidak ada hamba Tuhan sejati mempunyai uang yang cukup untuk mencarter pesawat jet pribadi, apalagi memiliki satu secara pribadi. Pemberita Injil bukan selebriti, dan siapa pun yang mengikuti gaya hidup mewah ala selebriti, dia milik setan, bukan Roh Kudus!

Hal berikut yang perlu kita renungkan adalah bahwa tanda mukjizat tidak boleh menjadi utama. Tanda itu hanya menolong kita beriman bahwa suatu saat nanti Tuhan akan memperbaiki semua, melenyapkan semua penyakit dan kelemahan. Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya (Yoh. 20:29). Atau, lebih sesuai konteks, berbahagialah orang yang tidak mengalami namun percaya. Saksi-saksi iman di dalam Ibrani 11 menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang berharap penuh dan percaya penuh pada perbaikan dan damai sejahtera yang akan Tuhan berikan melalui Kerajaan-Nya. Mereka percaya janji Tuhan meskipun tidak mengalami. Tetapi Tuhan begitu baik. Dia tidak mau iman kita menjadi goyah karena tidak ada bukti. Maka Tuhan mengizinkan sebagian kecil orang menjadi bukti kecil bahwa janji Tuhan dan kedatangan Kerajaan-Nya adalah nyata. Kita sekarang percaya bahwa Tuhan akan melenyapkan segala penyakit pada waktu kedatangan Kristus yang kedua. Dari mana kita tahu dengan pasti? Karena Tuhan memberikan janji firman-Nya dan tanda melalui kesembuhan yang secara mukjizat terjadi di dalam catatan Alkitab. (JP)