Renungan Harian 328 (Selasa, 23 Juli 2019)

Khotbah di Serambi Salomo #1

Devotion from Kisah Rasul 3:11-16

Setelah orang banyak berkumpul dengan penuh kekaguman karena orang lumpuh yang tiba-tiba sembuh, mulailah Petrus berkhotbah menyatakan Injil. Petrus berbeda dengan pendeta-pendeta palsu utusan neraka pada zaman ini. Mereka komat kamit berita yang mirip Injil sebentar, lalu mulai pameran mukjizat dengan sangat lama, jauh lebih lama dan jauh lebih megah daripada waktu mereka khotbah. Seluruh fokus ada pada mukjizat. Tetapi Petrus memberikan seluruh fokus kepada berita Injil. Setelah orang banyak menjadi heran segera Petrus meninggikan Kristus dengan berkhotbah dengan berani. Demikian isi khotbahnya di dalam bacaan hari ini.

Pandanglah kepada Kristus
Hal pertama yang Petrus sampaikan adalah Kristuslah yang mengerjakan semua ini. Kristuslah yang harus dilihat, bukan sang pengkhotbah. Petrus tidak mau menjadi pusat perhatian. Biar Kristus saja yang menjadi fokus perhatian. Itu sebabnya seruan pertama Petrus adalah seruan keheranan dan teguran bagi orang banyak karena mereka mengagumi Petrus dan Yohanes. Seolah Petrus ingin mengatakan bahwa orang banyak itu terlalu bodoh kalau tidak sadar siapa yang menyembuhkan orang lumpuh itu. Bukan karena kuasa Petrus, bahkan bukan karena kesalehan Petrus, tetapi hanya karena kuasa Kristus. Kristus yang bekerja, dan ketika orang-orang gagal untuk mengetahuinya, maka Petrus berseru dengan tegas untuk mereka berhenti memandang kepada dirinya dan mulai mengalihkannya kepada pemilik kuasa yang sejati, yaitu Kristus. Inilah tanda karya Roh Kudus. Roh Kudus memenuhi seseorang dan membuat dia meninggikan Kristus. Roh Kudus memuliakan Kristus. Roh Kudus meninggikan Kristus. Siapa penuh dengan Roh Kudus akan meninggikan Kristus dan sukacitanya akan penuh kalau nama Kristus ditinggikan.

Allah Bapa pun meninggikan Kristus
Hal berikut yang Petrus sampaikan adalah bahwa Allah Israel pun meninggikan Kristus. Ini khotbah kedua Petrus yang tercatat di dalam Kisah Rasul yang menegur dengan keras orang Israel. Bayangkan hal ini, Allah meninggikan Kristus, Israel memaku Dia di kayu salib! Allah nenek moyang mereka memuliakan Yesus Kristus, dan mereka menghina Dia dan menolak Dia. Betapa besar dosa mereka! Perhatikan bagaimana Petrus mengalihkan fokus perhatian mereka ke dosa mereka sendiri sekarang. Berita Injil harus dinyatakan dengan seruan menegur dosa. Siapa yang mau menerima Injil, dia harus berbalik dari dosa-dosanya. Bagaimana orang itu akan berbalik dari dosa-dosanya jika dia tidak merasa berdosa? Bagaimana dia bisa merasa berdosa jika dia tidak pernah ditegur dosanya? Orang Israel telah melakukan dosa yang paling ultimat, paling besar, yaitu membunuh Sang Mesias yang telah datang untuk menjadi Juruselamat mereka. Ini celaka yang paling besar. Israel telah menolak Tuhan dengan menyembah berhala, membunuh nabi-nabi Tuhan, dan sekarang membunuh Sang Anak Allah!

Israel menolak tanpa alasan
Berikutnya Petrus membongkar kebobrokan para pemimpin agama. Yesus Kristus tidak bersalah. Pilatus telah menyatakan bahwa Kristus tidak bersalah. Tetapi para pemimpin agama berkeras mau membunuh Yesus. Begitu besar keinginan mereka hingga rasio dan nurani mereka telah menjadi jahat seperti setan. Mereka lebih suka seorang pembunuh dibebaskan dan Sang Mesias dipaku di kayu salib! Siapakah yang melakukan ini? Orang Israel yang melakukan. Israel menolak Allah dan membunuh Anak-Nya yang datang menjadi raja mereka. Seruan Petrus bukanlah seruan untuk individu. Petrus berseru kepada orang banyak itu sebagai wakil dari Israel. Jika orang banyak mau mendengar, lalu para imam mau bertobat, maka Kristus akan memulihkan kerajaan-Nya.

Kesempatan pertobatan karena Allah masih bekerja di Israel
Maka Petrus menantang mereka untuk segera bertobat. Iman kepada Kristus akan menyembuhkan Israel seperti orang lumpuh itu disembuhkan. Petrus mengingatkan orang Israel bahwa ketika Kristus melakukan tanda-tanda mukjizat seperti yang sekarang mereka saksikan, orang Israel malah memaku Dia di kayu salib. Seharusnya Tuhan menutup bangsa itu, membuang mereka, dan membiarkan tanah itu menjadi padang gurun. Tetapi ternyata Tuhan Yesus masih bekerja. Dia hidup! Dia telah dipaku sampai mati, tetapi Petrus mengingatkan bahwa yang dipaku adalah Penguasa Hidup (ay. 15)! Dialah Pangeran Kehidupan sehingga Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Jika maut saja Dia taklukkan, maka penyakit tentu bukan hal yang sulit untuk Dia lenyapkan. Tetapi yang menjadi pertanyaan, setelah Dia bangkit menyatakan kemenangan-Nya atas maut, masihkah Dia mau mengerjakan tanda-tanda itu di tengah-tengah orang Israel? Ternyata jawabannya adalah ya! Yesus Kristus memberikan kesempatan kepada Israel untuk kembali mengalami kuasa karya Kristus. Itulah sebabnya Petrus memperingatkan mereka dengan sangat bahwa orang lumpuh yang disembuhkan ini adalah tanda bahwa Yesus Kristus masih menyatakan karya-Nya. Celakalah kalau Israel kembali menolak Dia. Sekarang Kristus mengutus para rasul mewakili diri-Nya dan perlakuan mereka terhadap berita yang dibawa para rasul itu akan menentukan keselamatan mereka. Mereka mengabaikan pekerjaan Tuhan lagi, maka mereka akan dihancurkan oleh Allah.

Untuk direnungkan:
Bagian pertama dari khotbah Petrus ini mengingatkan kita untuk menyadari ketika Allah sedang bekerja untuk meninggikan Anak-Nya. Jika pada zaman Kisah Rasul banyak orang bersalah kepada Allah karena mengabaikan karya Allah memuliakan Anak-Nya, maka saat ini banyak orang yang bersalah karena menganggap karya setan sebagai karya Allah. Setan tidak mungkin meninggikan Kristus dengan sungguh-sungguh, tetapi dia bisa memalsukan karyanya sehingga seolah-olah nama Yesus sedang ditinggikan. Nama Yesus diagungkan tetapi semua konsep pengajarannya bukan pengajaran yang konsisten dengan Alkitab. Jika Yesus ditinggikan tetapi si pengkhotbah membuat orang terjatuh telentang kehilangan kesadaran, ini adalah pekerjaan roh palsu. Roh Kudus tidak bekerja seperti ini. Hati-hati! Matius 24:24 telah mengajarkan kepada kita bahwa setan akan pakai mukjizat juga! Jadi jika kesalahan orang Israel pada zaman Tuhan Yesus adalah mereka menganggap pekerjaan Roh Kudus sebagai pekerjaan setan, maka kesalahan kita sekarang adalah menganggap pekerjaan setan sebagai pekerjaan Roh Kudus. Keduanya sama berdosanya!

Zaman ini banyak orang menolak pekerjaan Roh Kudus meninggikan Anak Allah. Sama seperti pada zaman Yesus Kristus banyak orang mau menikmati mukjizat, mau makan roti hasil mukjizat, tetapi tidak mau mendengar firman Tuhan (Yoh. 6:60-66), demikian juga sekarang orang-orang mengabaikan doktrin yang benar. Semua pengajaran sama! Apanya yang sama? Setan dan Roh Kudus tidak mungkin mengajarkan hal yang sama! Banyak orang tetap tidak peka menyadari bahwa Allah sedang bekerja meninggikan Anak-Nya. Ketika KKR besar dilakukan di Jakarta dengan tema “Yesus Kristus Juruselamat Dunia”, tidak sampai 30.000 orang yang hadir. Tetapi ketika KKR dengan tema fantastis dan menawarkan gemerlap dunia hiburan ternyata bisa menarik ratusan ribu orang. Mengapa begitu? Karena manusia mau gemerlap dunia selebriti, bukan kemuliaan Tuhan. Manusia mau bersenang-senang di dalam kedagingan, bukan menikmati damai sejahtera dari Tuhan. Kita tidak sadar dan tidak peka bahwa Roh Kudus pasti bekerja untuk menyatakan Kristus. Firman yang sejati, khotbah yang berkuasa karena meninggikan Tuhan Yesus, ajaran yang konsisten dengan Alkitab, doktrin yang bisa dipertanggungjawabkan, semua diabaikan oleh banyak orang pada zaman ini. Maka, ketika ajaran yang benar dan Injil yang menegur dosa, menawarkan pertobatan, dan meninggikan Kristus dinyatakan, pertanyaan Petrus kembali harus diberikan untuk zaman ini, “Hai Saudara sekalian, tidakkah engkau sadar bahwa Allah sedang bekerja?” (JP)