Renungan Harian 329 (Rabu, 24 Juli 2019)

Khotbah Di Serambi Salomo #2

Devotion from Kisah Rasul 3:17-26

Ayat 17 dan 18
Petrus melanjutkan khotbahnya dengan menawarkan kesempatan bertobat. Banyak orang tidak tahu kalau Yesus adalah Sang Mesias. Mereka tetap berdosa besar, tetapi Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat. Mereka tidak tahu, karena itu mereka memakukan Dia di kayu salib. Tetapi kejahatan mereka membunuh Kristus yang tidak bersalah, ternyata dipakai Allah untuk menggenapi rencana keselamatan-Nya. Yesus Kristus memang harus dibunuh untuk menjadi korban bagi banyak orang. Berarti mereka yang ikut membunuh Yesus tidak bersalah? Tetap bersalah! Kedaulatan Allah yang merancang segala sesuatu tidak membuat manusia tidak perlu bertanggung jawab. Tuhan berdaulat, karena itulah manusia harus bertanggung jawab. Tetapi Tuhan sanggup membuat apa yang baik dari apa yang jahat. Manusia mereka-rekakan yang jahat, Tuhan mereka-rekakannya untuk kebaikan, seperti dikatakan Yusuf (Kej. 50:20). Kejahatan yang paling besar adalah pembunuhan terhadap Anak Allah. Kebaikan paling besar adalah Yesus Kristus mati di kayu salib demi menebus dosa manusia. Kejahatan paling besar terjadi karena rancangan jahat manusia yang penuh kebusukan dan dengki, tetapi kebaikan paling besar terjadi karena tangan Allah yang penuh kuasa dan kebaikan. Memang orang Israel telah membunuh Kristus, tetapi Tuhan Allah memakai peristiwa ini untuk memperdamaikan orang berdosa dengan diri-Nya sehingga mereka menjadi umat-Nya.

Berita ini bukanlah berita yang baru saja dinyatakan. Ini bukanlah berita para rasul saja. Berita tentang Kristus yang harus mati demi menebus dosa manusia telah dinyatakan oleh para nabi dari Perjanjian Lama. Sang Penebus harus mengalami sengsara, bahkan kematian (Yes. 52:13-53:10; Mzm. 22). Apa yang terjadi adalah penggenapan dari rancangan Allah sejak zaman yang lampau.

Ayat 19 dan 20
Setelah melihat kematian Kristus sebagai penebusan, barulah orang-orang Israel itu dapat mengerti bahwa inilah jalan Allah yang telah ditetapkan-Nya sejak lampau, bahkan sejak dalam kekekalan (Ef. 1:3-7). Kristus bukanlah “victim” tetapi “sacrifice”. Victim berarti Dia adalah korban dari tindakan jahat orang-orang sekitarnya. Dia ditaklukkan oleh keadaan. Tetapi Kristus bukan korban dari tindakan jahat orang-orang sekitar. Dia bukan ditaklukkan oleh keadaan. Dia adalah “korban” sesuai dengan ketentuan Bapa di surga. Dia bukan ditaklukkan oleh keadaan, tetapi Dia menaklukkan diri kepada kehendak Bapa. Dia mati karena kehendak Bapa, bukan karena keadaan. Kematian-Nya bukan karena takluk oleh keadaan, sebaliknya keadaan dunia akhirnya takluk ke dalam kematian-Nya! Kematian akhirnya dimatikan oleh kematian-Nya! Maka sekarang Kristus dinyatakan di dalam khotbah Petrus sebagai yang berkuasa menyembuhkan orang lumpuh dan – lebih penting lagi – yang berkuasa memulihkan Israel karena – yang terpenting – Dia telah menang atas kematian. Maukah engkau bertobat sekarang? Dosamu yang begitu banyak akhirnya akan menenggelamkan hidupmu. Siapakah yang bisa menolongmu? Hanya Kristus! Bukankah Kristus korban permainan para pemimpin agama? Dia tidak bisa tolong diri-Nya sendiri, bagaimana mau tolong kami? Dia bukan korban permainan para pemimpin agama, tetapi Dia adalah penebusan di dalam rencana Allah. Bertobatlah karena Dia, yang telah menginjak maut sampai mati, akan menjadi Hakimmu! Bertobatlah karena Dia, yang telah mati menggantikanmu, telah menjadi Juruselamatmu. Di dalam ayat 20 dikatakan jika mereka, yaitu segenap Israel, mau menerima Kristus sebagai Raja yang telah menyelamatkan mereka, maka Tuhan akan memperbaiki bangsa ini dan memakai bangsa Israel untuk menyatakan Kristus, Raja mereka, hingga ke ujung dunia.

Ayat 21 dan 22
Jika mereka mau menerima, apakah ini tidak mengkhianati identitas Israel mereka? Bukankah mereka menjadi umat Tuhan karena mengikuti Taurat Musa? Apakah ada di dalam Taurat Musa segala sesuatu yang dikhotbahkan Petrus ini? Ya. Yang pertama Petrus mengingatkan bahwa Musa bukanlah orang yang masuk ke tanah perjanjian. Musa tidak masuk ke Kanaan. Yosualah yang memimpin Israel masuk. Taurat tidak diberikan untuk membuat orang Israel masuk ke tempat peristirahatan Tuhan, tetapi Taurat diberikan untuk menuntun orang Israel mendapatkan janji ke tempat peristirahatan itu. Yesus Kristus bukan saja telah diajarkan dalam ajaran Musa, lebih dari itu Yesus Kristus menggenapi ajaran Musa. Ajaran Musa menjadi sempurna jika Kristus menjadi titik akhir dari ajaran tersebut. Musa tidak masuk ke tempat perhentian, tetapi Kristus masuk! Dia sekarang ada di sebelah kanan Allah. Kristus tidak gagal masuk ke tempat perhentian itu, bahkan Dialah jalan yang membuat kita semua dapat masuk ke tempat perhentian itu. Israel mau menjadi pengikut Musa? Silakan berputar 40 tahun di padang gurun dan gagal masuk tanah Kanaan. Israel mau mengikut Yesus Kristus? Dialah yang telah ada di surga, duduk di sebelah kanan Allah. Berarti Kristus lebih besar dari Musa? Pasti! Bahkan Musa sendiri mengatakan demikian. Ayat 22 mengutip perkataan Musa yang menubuatkan kedatangan Nabi yang berikut. Nabi yang menjadi kunci Israel binasa atau selamat. Binasa jika menolak Dia, dan selamat jika menerima Dia (Ul. 18:18-19).

Ayat 23 dan 24
Kristus bukanlah nabi sama seperti nabi yang lain. Seluruh nabi di Perjanjian Lama, dari Kitab Kejadian hingga Yohanes Pembaptis, semua menubuatkan kedatangan Sang Nabi ini, yaitu Kristus. Kristus tidak sama dengan semua nabi lain karena otoritas yang dimiliki Kristus lebih tinggi daripada nabi mana pun. Mengapa demikian? Karena Kristuslah Nabi yang dibicarakan oleh nabi-nabi lain, berarti Kristuslah penggenap seluruh nubuat para nabi di dalam Perjanjian Lama. Betapa besarnya Kristus itu. Dialah inti dari pemberitaan Kitab Suci. Seluruh Kitab Suci, firman Allah yang berkuasa dan benar, memberitakan tentang Kristus. Kristus melampaui semua nabi yang pernah Tuhan bangkitkan.

Ayat 25 dan 26
Sekarang Kristus telah bertakhta di sebelah kanan Allah. Siapakah yang lebih tinggi daripada Dia? Dan Jika Israel mau bertobat dan mengikut Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka, maka Tuhan akan memberkati seluruh bangsa-bangsa seperti yang telah dinubuatkan di dalam Kitab Kejadian, yaitu melalui keturunan Abraham, seluruh bangsa di bumi akan mendapat berkat (Kej. 22:18). Kristuslah keturunan Abraham yang dimaksud (Gal. 3:16). Melalui Kristus dan melalui pemberitaan dari Israel, anak Abraham, berita Injil disebar dari Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi. Jika Israel menerima, maka untuk Israellah Sang Juruselamat itu, dan melalui Israel Dia akan menjadi Juruselamat bagi orang-orang percaya di seluruh penjuru bumi. Tetapi akankah Israel menerima? Israel telah begitu banyak mendapatkan hak istimewa tetapi mereka juga telah begitu berdosa dengan menginjak-injak semua hak istimewa yang Tuhan berikan kepada mereka. Sekarang mereka mendapatkan hak istimewa menjadi umat Tuhan di dalam Kristus yang pertama sebagai bangsa. Israel diberikan kesempatan untuk menjadikan Kristus Raja mereka sebelum melalui Israel juga bangsa-bangsa lain juga akan mendengar Injil. Tetapi apakah Israel menerima? Ayat-ayat selanjutnya dari Kisah Rasul menunjukkan bahwa mereka tetap menolak sebagai bangsa.

Kiranya Tuhan menjaga kita dan memberikan kita hati yang memahami betapa mulianya Yesus Kristus sehingga kita tidak keras hati seperti Bangsa Israel dan menolak Kristus yang mulia. (JP)