Mukjizat Para Rasul

Devotion from Kisah Rasul 5:12-16

Sekarang para murid melanjutkan dengan makin besar segala pekerjaan mukjizat yang Tuhan percayakan. Mukjizat kesembuhan yang begitu banyak dilakukan di dalam Bait Suci. Bait Suci menjadi tempat di mana pekerjaan Kristus dilanjutkan oleh murid-murid-Nya. Pekerjaan yang sangat besar ini memberi otoritas kepada para rasul sehingga segala mukjizat yang mereka kerjakan ini membuat orang-orang Yahudi mengerti siapa mereka. Para murid harus dikenal sebagai pembuat mukjizat. Mengapa demikian? Karena mereka menunjukkan bahwa karya mukjizat yang dikerjakan oleh Kristus tidak mati. Kristus bangkit dan sekarang duduk di sebelah kanan Allah. Karya keselamatan yang dikerjakan Kristus tidak berhenti karena kematian-Nya. Demikian juga kuasa perubahan yang dikerjakan, tanda-tanda mukjizat yang dilakukan, semua dilanjutkan oleh murid-murid-Nya. Kristus sendiri mengerjakan hal-hal ini melalui para murid. Mukjizat yang limpah membuat begitu banyak orang menjadi gentar dan takut kepada para murid (ay. 13). Begitu banyak orang sekarang membawa orang-orang sakit mereka dari tempat-tempat di luar kota Yerusalem (ay. 16). Begitu besar popularitas Petrus hingga banyak orang berharap bukan lagi untuk bertemu dia, tetapi untuk terkena bayangannya saja. Gereja bertambah dengan jumlah orang yang sangat banyak karena Tuhan terus bekerja memakai para rasul ini.

Pekerjaan yang disertai mukjizat merupakan cara yang Tuhan pakai untuk menunjukkan kuasa-Nya bekerja melalui para murid. Mukjizat juga merupakan cara yang Tuhan pakai untuk menyatakan pemulihan dari seluruh ciptaan ini akan terjadi ketika Kerajaan Allah ditegakkan di bumi ini. Bagaimana kita harus melihat mukjizat Allah? Apakah mukjizat menjadi hal yang mutlak harus ada di dalam pelayanan pengabaran Injil? Tidak. Jika tidak, bagaimanakah kita harus memahami mukjizat Tuhan?

  1. Yang pertama adalah mukjizat dilakukan untuk menyatakan tanda bahwa Tuhan sedang bekerja. Tuhan menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan-setan sehingga semua orang dapat melihat bahwa tangan Tuhan yang menyebabkan segala mukjizat ini. Tangan Tuhan yang penuh kuasa membuat gereja Tuhan menyaksikan tanda-tanda besar ini. Tetapi mukjizat merupakan tanda untuk membuat orang mengagumi Kristus dan menyadari bahwa para murid memiliki kuasa dari Kristus. Kuasa atas alam, kuasa atas roh jahat, kuasa yang melampaui hal-hal sehari-hari, semua ini merupakan tanda berita Injil diberitakan dengan penyertaan Tuhan. Tetapi perlu diingat bahwa mukjizat bisa dipalsukan oleh setan (Kel. 7:11). Mukjizat yang palsu tidak akan bisa menyaingi yang sejati (Kel. 7:12, 8:18), namun jika Tuhan memilih untuk menyatakan kuasa-Nya dengan cara yang lain selain mukjizat, maka yang palsu pun kelihatan begitu meyakinkan karena tidak ada pembanding dengan yang asli. Saat ini begitu banyak orang yang mengaku bisa mengerjakan mukjizat seperti Yesus dan para murid. Benarkah mukjizat itu dari Tuhan? Mungkin tidak. Jika buah mereka, yaitu perkataan yang mereka keluarkan, tidak mencerminkan buah yang sejati, maka mukjizat apa pun yang mereka kerjakan adalah dari si jahat (Luk. 6:44-45). Jika ajarannya begitu dangkal dan rusak, mempermainkan ajaran Alkitab, membuat ajaran Alkitab seperti cocok di telinga, tetapi merusakkan arti sebenarnya, pastilah semua yang dikerjakan orang itu adalah palsu.
  2. Yang kedua, mukjizat Tuhan adalah pernyataan otoritas dari Tuhan kepada orang atau sekelompok orang pilihan-Nya yang akan menegakkan firman-Nya bagi umat-Nya. Nabi-nabi mengerjakan tanda-tanda mukjizat: Musa, Elia, Elisa. Para rasul mengerjakan mukjizat: Petrus, Yohanes, Paulus. Mereka adalah orang-orang yang Tuhan bangkitkan pada periode di mana firman Tuhan dinyatakan sebelum menjadi bentuk tertulis yang lengkap. Otoritas mukjizat harus berada di bawah otoritas firman Tuhan. Mukjizat diberikan melalui para nabi dan rasul supaya orang-orang yang menyaksikannya menerima firman yang mereka ajarkan. Setelah ajaran tersebut tertulis menjadi kitab-kitab di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, maka peran mukjizat harus diganti dengan peran kitab-kitab yang tertulis itu. Otoritas mukjizat harus diganti dengan otoritas kitab-kitab yang tertulis itu. Maka setelah genap Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ditulis, otoritas mukjizat harus tunduk kepada otoritas Kitab Suci. Jika ada yang memberitakan kebenaran Kitab Suci, otoritas orang ini tidak berada di bawah orang-orang yang mengerjakan mukjizat. Jika ada yang mengerjakan mukjizat tetapi tidak memberitakan kebenaran Alkitab, maka mukjizatnya harus dianggap palsu karena tidak ditundukkan kepada otoritas Alkitab. Apakah ini berarti setelah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru selesai ditulis, mukjizat berhenti? Tuhan tetap bisa kerjakan karya-Nya secara melampaui alam. Karya supranatural Tuhan tidak berhenti. Tuhan kadang-kadang mengizinkan anak-anak-Nya mengalami penyertaan dan pertolongan-Nya dengan cara yang melampaui cara biasa. Tetapi ini tidak berarti orang yang mengalami cara luar biasa ini, atau diizinkan Tuhan melakukan hal yang melampaui hal-hal biasa, adalah orang yang mempunyai otoritas. Setelah Alkitab ditulis otoritas berpindah dari orang-orang ke Alkitab. Pekerjaan mukjizat tidak lagi berperan sebagai sesuatu yang otoritatif, karena sekarang Alkitab mengambil peran itu. Sebenarnya sejak zaman para nabi dan rasul, otoritas tetap ada pada firman yang mereka ucapkan, tetapi mukjizat memberi tanda bahwa otoritas tersebut sah. Saat ini otoritas dan tanda keabsahan berada pada Alkitab, bukan lagi pada orang yang melakukan mukjizat.
  3. Mukjizat adalah tanda belas kasihan Tuhan kepada umat-Nya. Berkali-kali Yesus Kristus mengerjakan mukjizat karena tergerak oleh belas kasihan (Mat. 14:14, 15:32, 20:34). Tuhan kadang-kadang memberikan kesembuhan secara mukjizat, bukan sebagai tanda otoritas dari orang yang mengerjakannya, bukan juga sebagai tanda Tuhan sedang bekerja, tetapi murni karena belas kasihan-Nya. Dia begitu mengasihi manusia sehingga keadaan manusia yang jatuh ke dalam dosa, yang berada dalam sengsara yang tidak habis-habis, menggerakkan hati-Nya untuk berbelas-kasihan. Dia melakukan karya-Nya, baik secara natural maupun melampaui natural untuk menolong. Tetapi ada dua hal yang perlu kita ingat dalam memahami ini. Yang pertama adalah bahwa Tuhan tidak selalu dan tidak wajib menolong dengan cara yang melampaui natural. Siapa yang tidak ditolong secara mukjizat tidak berhak menuntut Tuhan harus mengerjakan mukjizat. Tuhan tidak diikat oleh kewajiban untuk melakukan hal itu. Lalu siapa yang tidak ditolong secara mukjizat juga tidak berarti kurang beriman atau kurang dikasihi. Tuhan mengasihani orang, maka Dia melakukan hal-hal yang bersifat mukjizat. Tuhan mengasihani orang, maka Dia menahan mukjizat-Nya dari sebagian orang. Keduanya dilakukan oleh Tuhan karena belas kasihan-Nya. Lalu yang kedua adalah bahwa baik cara mukjizat maupun cara natural, keduanya sama pentingnya bagi Tuhan dan karena itu karya mukjizat Tuhan harus membuat kita tetap menghargai karya-Nya yang natural. Jika seseorang sembuh tanpa perawatan apa pun, maka dia harus belajar untuk tidak terbuai, tetapi memakai semua perawatan natural yang dia bisa lakukan. Orang-orang yang mengharapkan mukjizat lalu mengabaikan perawatan biasa yang sebenarnya mereka bisa dapatkan, adalah orang-orang yang sedang menghina pekerjaan Tuhan yang biasa. Tuhan memang mengerjakan mukjizat, tetapi jangan lupa bahwa Dia hanya sekali membelah Laut Merah, namun setiap hari menuntun kapal-kapal menyeberang dengan pengaturan-Nya atas angin dan arus laut. Dia hanya beberapa kali menjamah tangan seorang ibu untuk menyembuhkan demamnya, tetapi setiap hari memakai perawatan dokter dan obat untuk menyembuhkan begitu banyak orang.

Biarlah kita belajar untuk tidak meremehkan tanda-tanda ajaib yang dikerjakan Tuhan melalui para nabi dan rasul di dalam Alkitab, tetapi biarlah kita juga mempunyai pengertian yang seimbang terhadap mukjizat. (JP)