Israel Dan Bait Suci

Devotion from Kisah Rasul 7:42-53

Orang-orang Yahudi menuduh Stefanus menghujat Allah. Tetapi Stefanus membuktikan dari Kitab Suci bahwa yang menghujat Allah adalah mereka yang tidak mendengar suara Allah melalui para nabi, sehingga mereka menyembah berhala. Ayat 42 mengatakan bahwa Allah memalingkan wajah-Nya dari orang-orang yang menyembah berhala. Di padang gurun berkali-kali Israel membangkitkan murka Tuhan sehingga Tuhan menghukum mereka. Tetapi di Tanah Perjanjian pun Israel tetap gagal menaati Tuhan sehingga Tuhan membuang mereka ke Babel (ay. 43). Semua ini terjadi karena mereka tidak mau mendengarkan suara para nabi yang Tuhan utus untuk berfirman kepada mereka agar mereka bertobat.

Lalu tuduhan berikutnya yang disampaikan oleh orang-orang Yahudi tentang Stefanus adalah bahwa dia menghina Bait Suci. Tetapi Stefanus membalikkan kepada orang-orang Yahudi itu bahwa merekalah yang menghina Bait Suci jika mereka tidak mengerti apa yang Tuhan sedang nyatakan melalui keberadaan Bait Suci. Stefanus memberikan tiga hal mengenai Bait Suci. Yang pertama Stefanus mengingatkan semua musuh-musuhnya bahwa sebelum Bait Suci dibangun di Yerusalem, Allah menyatakan kehadiran-Nya melalui simbol yang bernama Kemah Kesaksian (ay. 44). Kemah ini harus dibangun berdasarkan contoh yang Tuhan perlihatkan ketika Musa berada di atas Gunung Sinai (Ibr. 8:5). Jika kemah itu adalah contoh saja, maka yang manakah Bait yang sejati? Kemah itu menjadi simbol Bait yang sejati yang tidak mungkin kita dapat nikmati hingga saatnya Kerajaan Allah ada di bumi ini dengan sempurna.

Hal kedua yang Stefanus ingatkan adalah bahwa Kemah Kesaksian ini ada bersama-sama dengan Israel di padang gurun dan baru menjadi bangunan kokoh di Yerusalem pada zaman Salomo. Sekali lagi Stefanus menekankan bahwa Bait Suci tidak selalu berbentuk sama di dalam zaman Musa dan di dalam zaman Salomo. Bait Suci bukanlah simbol kaku yang tidak dapat diubah. Bait Suci adalah simbol mengenai sesuatu yang lebih agung lagi, yaitu takhta Tuhan di Surga dan penyertaan Tuhan di bumi. Inilah makna Bait Suci yang sebenarnya. Tuhan menyatakan takhta kerajaan-Nya yang melampaui segala sesuatu sekaligus menyatakan kehadiran-Nya di tengah-tengah umat-Nya. Sebelum Israel menetap di tanah yang Tuhan janjikan, Kemah Suci juga belum dibangun di dalam bentuk yang permanen. Setelah Israel menetap di tanah yang Tuhan janjikan, maka bangunan untuk tempat suci itu pun didirikan. Tuhan menyertai umat-Nya dan rela berdiam bersama dengan mereka. Itulah yang mau dinyatakan melalui simbol suci bernama Bait Suci tersebut.

Hal ketiga ada di ayat 49 dan 50. Stefanus mengingatkan bahwa Allah tidak mungkin berdiam di dalam bangunan buatan tangan manusia. Tangan Allah membentangkan langit, meletakkan bintang-bintang, dan menjadikan segala sesuatu di langit, di bumi, dan di laut. Jika demikian bagaimana mungkin ada tempat yang dibangun oleh tangan manusia dapat disebut sebagai tempat Tuhan berdiam? Tuhan tidak tinggal di Bait Suci. Bait Suci menjadi simbol bahwa Tuhan rela tinggal bersama dengan umat-Nya. Tetapi kehadiran Tuhan yang disimbolkan oleh Bait Suci mengandung makna bahwa Tuhan belum sepenuhnya secara sempurna berdiam bersama-sama dengan umat-Nya. Itu belum terjadi saat ini. Berarti kehadiran Tuhan secara sempurna masih merupakan pengharapan yang belum digenapi. Maka sangat tidak masuk akal jika Stefanus dituduh menghujat Tuhan dengan menghina Bait Suci.

Jika Bait Suci adalah simbol kehadiran Tuhan, maka sebenarnya penghinaan terhadap kehadiran Tuhan itulah yang akan membuat seseorang menghina Tuhan. Penghinaan terhadap pernyataan kehadiran Allah ini ternyata dilakukan oleh orang-orang Israel karena mereka menghina dan menolak kehadiran Allah di dalam diri Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus. Dialah Bait yang sejati karena Dialah pernyataan kehadiran Allah yang sempurna. Allah hadir melalui kehadiran Anak-Nya. Siapakah yang menghujat Allah melalui menghina Bait Suci? Bukan Stefanus, tetapi orang-orang yang menolak Kristus dan menyalibkan Dia, itulah penghujat-penghujat yang sejati. Itulah penghina Bait Allah yang sebenarnya.

Argumen Stefanus dilanjutkan dengan menyamakan orang-orang yang menolak Musa dan orang-orang yang menolak para nabi dengan orang Israel yang sekarang sedang menghakimi dia. Merekalah penghujat Allah yang sesungguhnya karena mereka menolak Orang Benar yang diberitakan para nabi, yaitu Sang Mesias. Mereka juga menghujat Allah karena tidak pernah menghargai makna sesungguhnya mengenai kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya. Mereka sama seperti nenek moyang mereka, yaitu sekelompok orang yang tidak pernah mendengar suara Tuhan. Karena suara nabi tidak didengarkan oleh nenek moyang mereka, maka Tuhan membuang mereka ke Babel. Dan sekarang, karena mereka tidak mendengarkan Yesus Kristus yang telah diberitakan para nabi, maka mereka sama buruknya dengan nenek moyang mereka. Jika nenek moyang mereka adalah pembunuh para nabi, maka mereka adalah pembunuh Orang Benar yang dinubuatkan para nabi.

Baik orang Israel pada zaman Musa, maupun pada zaman raja-raja, semuanya memiliki hati dan telinga yang tidak pernah mendengar firman Tuhan. Demikian juga orang-orang Israel pada waktu Stefanus berkhotbah ini. Mereka menyatakan identitas sebagai umat Tuhan dengan bersunat dan dengan segala tradisi Yahudi. Tetapi tradisi utama, yaitu telinga yang mendengar firman Tuhan dan hati yang mau taat, ini tidak pernah menjadi bagian dari hidup mereka. Betapa menakutkan jika kita melihat orang yang dibuang Tuhan, menghina mereka, berbangga karena merasa kita jauh lebih baik daripada mereka, tetapi tanpa kita sadari kita sedang menjalani hidup dengan cara yang persis sama dengan orang yang dibuang Tuhan itu. Betapa mengerikannya hal ini! Inilah berita yang sangat menyinggung mereka. Stefanus dengan jelas membeberkan kegagalan nenek moyang mereka menaati Allah dan menyamakan mereka dengan nenek moyang mereka sebagai orang yang masih dalam pemberontakan yang sama. Siapakah penghujat Tuhan? Orang Israel, baik dulu maupun sekarang. Apakah buktinya? Mereka menolak para nabi, menolak makna Bait Allah, menolak nubuat tentang Sang Mesias, dan membunuh Sang Mesias ketika Dia telah datang ke tengah-tengah mereka.

Untuk direnungkan:
Inilah berita yang disampaikan Stefanus di Pengadilan Agama. Khotbah yang sangat berani karena menyoroti kegagalan Israel di zaman Musa hingga sekarang. Khotbah yang juga sangat penuh makna theologis karena memberitahukan penafsiran sejati tentang janji Allah kepada Israel yang sebenarnya mengalami kesempurnaannya dan kegenapannya di dalam Kristus. Tetapi ini juga khotbah yang akan membuat dia kehilangan nyawanya. Tetapi berita Injil harus disampaikan dengan cara seperti ini. Berita Injil harus membongkar segala kepalsuan manusia yang mau membangun kesalehan yang palsu. Berita Injil dengan jelas membongkar penolakan manusia kepada Allah. Hanya ketika dosa-dosa telah dinyatakan dan motivasi-motivasi di balik setiap tingkah laku manusia diterangi oleh firman Tuhan, barulah manusia memperoleh kemungkinan untuk bertobat.

Doa:
Ya Tuhan, betapa besar dosa umat-Mu pada zaman Kisah Rasul ini. Mereka keras kepala menolak firman Tuhan, nubuat para nabi, dan pengertian yang benar dari Taurat. Betapa jahatnya mereka dan betapa angkuhnya mereka karena mereka tidak sadar keadaan mereka ini. Ini semua membuat kami begitu gentar, ya Tuhan. Apakah kami juga berada di dalam keadaan yang sama? Mendengar tetapi tidak bertobat? Ampuni kami ya Tuhan, dan berikan telinga yang mau mendengarkan firman-Mu dan hati yang mau dibentuk oleh firman-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin. (JP)