Renungan Harian 354 (Minggu, 18 Agustus 2019)

Haram Dan Halal

Devotion from Kisah Rasul 10:9-29

Salah satu perintah Tuhan di dalam Kitab Imamat adalah pembagian antara binatang yang boleh dimakan dan yang haram untuk dimakan. Pembagian ini merupakan simbol dari kemurnian bangsa Israel sebagai bangsa pilihan. Mereka tidak boleh bercampur dengan bangsa-bangsa lain karena bangsa-bangsa lain memiliki berhala-berhala palsu yang sangat membangkitkan murka Tuhan. Kemurnian ras ini disimbolkan dengan beberapa hal, salah satunya adalah makanan. Di dalam Imamat 11 dibagi binatang mana yang boleh dimakan dan mana yang haram untuk dimakan. Binatang-binatang yang tidak dapat dikelompokkan dengan mudah, misalnya yang seperti ternak pada umumnya, yaitu hewan berkuku tetapi tidak memamah biak; hewan yang sulit digolongkan sebagai ikan karena tidak bersisik, tetapi sebenarnya seperti ikan; hewan-hewan yang sulit digolongkan sebagai hewan air atau darat, atau kelelawar yang terbang seperti burung, tetapi sulit disebut sebagai seekor burung, dan hewan-hewan lain yang tidak mudah digolongkan, dijadikan Tuhan simbol keadaan ras yang tidak murni. Israel dilarang memakan hewan-hewan tersebut sehingga mereka ingat keadaan mereka yang harus dimurnikan dari bangsa-bangsa lain. Mereka tidak boleh bercampur dengan bangsa-bangsa lain dalam pernikahan (Ul. 7:3). Setiap kali mereka memilih makanan mereka dan hanya memakan hewan-hewan yang tidak haram membuat mereka menyadari panggilan mereka sebagai bangsa pilihan yang tidak boleh bercampur dengan bangsa-bangsa lain yang menyembah berhala.

Tetapi setelah Kristus mati dan bangkit, Tuhan mau memanggil bangsa-bangsa lain juga tanpa perbedaan dengan bangsa Israel. Tidak ada lagi pembedaan bangsa Israel atau bangsa kafir. Yang ada hanyalah perbedaan murid Yesus atau bukan murid, orang yang menerima Kristus atau menolak Kristus. Israel atau bukan, tidak lagi relevan. Demikian juga makanan yang menjadi simbol keunikan Israel sebagai bangsa, tidak lagi relevan. Karena itu makanan yang dimakan tidak lagi menjadi simbol keutuhan rasial yang diinginkan Tuhan di dalam pemanggilan Israel. Sekarang setelah bangsa-bangsa lain juga Tuhan sertakan di dalam pemanggilan sebagai umat, tidak ada lagi pembedaan antara makanan yang haram dan halal secara simbolik seperti di dalam Imamat 11. Itulah sebabnya Tuhan memberikan penglihatan kepada Petrus sebagaimana dicatat di dalam ayat 12. Tuhan mempersiapkan Petrus untuk bertemu dengan orang bukan Israel, seorang dari bangsa lain yang haram, yaitu Kornelius; dan menyaksikan bagaimana Injil Tuhan akan membuat Kornelius memperoleh karunia yang sama dengan yang pernah diperoleh Petrus. Tuhan akan memanggil bangsa-bangsa lain untuk memiliki kedudukan yang sama dengan Israel di dalam Injil Kristus dan di dalam anugerah pengampunan dan hidup baru dari Tuhan. Tuhan mempersiapkan Petrus untuk menerima bangsa-bangsa lain dengan memberikan perintah untuk memakan binatang-binatang yang haram. Mengapa Tuhan memerintahkan Petrus memakan binatang-binatang haram itu? Karena Tuhan ingin menyatakan bahwa tidak ada lagi golongan yang boleh disebut haram. Dahulu bangsa-bangsa lain dinyatakan haram karena penyembahan berhala yang mereka lakukan. Sekarang Tuhan menyatakan pengampunan-Nya sehingga mereka tidak lagi disingkirkan dari kesempatan berbagian menjadi umat perjanjian Tuhan.

Untuk memerintahkan Petrus ke tempat Kornelius Tuhan memakai penglihatan. Ini adalah penglihatan yang diberikan ketika Petrus sedang berdoa dan sedang lapar (ay. 9-10). Ini merupakan kondisi yang mirip dengan pencobaan. Seolah-olah ada godaan untuk makan makanan haram di saat lapar tetapi harus berkonsentrasi berdoa. Tetapi Tuhan tidak membiarkan Petrus bingung mengenai asal-usul penglihatan itu. Tuhan menyatakan diri dengan sangat jelas sehingga Petrus tahu itu adalah Tuhan (ay. 14). Tetapi mengapa Tuhan seolah-olah mau membuat Petrus berdosa dengan makan di saat sedang berdoa? Apalagi makan binatang-binatang haram. Namun justru keadaan ini dipakai oleh Tuhan dengan sangat tepat. Petrus sedang berdoa dan Tuhan menyatakan kehendak-Nya sebagai jawaban dari doa Petrus. Tuhan menyatakannya dengan pengertian simbolik yang sudah Petrus kenali, yaitu pembedaan haram dan halal. Dengan penglihatan ini Tuhan mau meruntuhkan pembedaan haram dan halal di dalam pikiran Petrus. Bahkan Tuhan melakukannya hingga tiga kali. Pengulangan hingga tiga kali menunjukkan betapa pentingnya sesuatu yang diulang itu. Mengapa penghapusan pembedaan binatang yang haram dan halal untuk dimakan itu sangat penting? Karena apa yang disimbolkan oleh binatang tersebut, yaitu pembedaan bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain, sekarang dihapuskan juga. Tuhan tidak lagi membedakan orang Romawi bernama Kornelius dengan orang Yahudi bernama Petrus. Keduanya sama-sama milik Yesus Kristus meskipun berasal dari bangsa yang berbeda.

Tiga penglihatan yang dari Tuhan ini ternyata sangat membingungkan Petrus (ay. 17). Bagaimana tidak membingungkan. Tuhan seperti menggoda dia untuk berdosa. Bukankah Daniel juga mendapatkan godaan seperti ini di dalam Daniel 1:8-12? Tetapi pada zaman Daniel Tuhan menyatakan perbedaan yang sangat substansial antara orang Israel dengan orang bangsa-bangsa lain. Israel tidak boleh bercampur dengan Babel. Sang Kristus, yang harus lahir dari bangsa Israel, belum datang, sehingga Israel harus tetap dibedakan dari bangsa-bangsa lain. Tetapi kasus Petrus berbeda. Sekarang Tuhan akan memanggil seorang Romawi. Perbedaan itu sudah runtuh dan tidak lagi dianggap oleh Tuhan. Itu sebabnya makanan yang Tuhan nyatakan turun dari langit, penuh dengan binatang-binatang yang dianggap haram, tidak sama kasusnya dengan Daniel. Tuhan menyatakan binatang-binatang itu haram pada waktu Daniel di Babel. Tetapi sekarang Petrus justru harus memakan apa yang Tuhan berikan. Tuhan yang memberikan dan Tuhan yang sudah nyatakan halal, sehingga Petrus tidak boleh menolak, apalagi menganggapnya haram.

Tuhan mempersiapkan Petrus dengan penuh pengertian. Dia tidak langsung perintahkan Petrus untuk pergi ke rumah Kornelius. Dia memahami kondisi rohani Petrus dan tahu bahwa Petrus belum sanggup untuk menganggap orang Romawi setara dengan orang Yahudi. Maka dengan sabar Tuhan memberikan penglihatan hingga tiga kali. Demikian besar kesabaran Tuhan terhadap kebodohan dan kepicikan kita. Tuhan berdaulat penuh atas segala sesuatu, tetapi Dia tidak memberikan perintah dengan kekejaman yang sama dengan diktator dari dunia ini. Pemimpin-pemimpin dan diktator-diktator kejam di dunia ini jauh lebih keras daripada Tuhan! Tuhan dengan sabar memberi pengertian barulah Dia menuntun Petrus untuk menjalankan apa yang Dia inginkan. Setelah penglihatan itu Tuhan berikan, barulah utusan Kornelius tiba di tempat Petrus menumpang. Petrus menemui mereka dan ikut dengan mereka ke rumah Kornelius karena diperintahkan oleh Roh Kudus (ay. 19-20). Petrus bertemu dengan Kornelius dan masuk ke rumah Kornelius meskipun ada larangan bagi orang Yahudi untuk masuk ke rumah orang kafir. Petrus, yang telah diajar oleh Tuhan melalui penglihatan yang dia alami, mengetahui bahwa larangan itu tidak berlaku. Larangan itu tidak ada sehingga dia tidak berdosa atau melanggar perintah Tuhan dengan masuk rumah Kornelius. Kesimpulan Petrus atas apa yang Tuhan nyatakan dengan tepat dirangkum di dalam ayat 28. Tuhan telah membukakan jalan bagi Injil-Nya kepada bangsa-bangsa lain. Tuhan tidak lagi membedakan mana yang keturunan Yahudi dan mana yang bukan. Tuhan memberikan standar pengukuran yang jauh lebih penting, yaitu iman kepada Kristus. Biarlah kita belajar melihat orang lain berdasarkan iman yang dia miliki kepada Tuhan, bukan dari latar belakang suku, bangsa, dan hal-hal lain yang tidak penting. Jauh lebih penting untuk dijadikan ukuran adalah apakah orang itu mencari Tuhan dengan sepenuh hati? Apakah dia sungguh-sungguh beriman kepada Kristus? Apakah dia mengasihi Tuhan sebagaimana Tuhan mengasihi dia? (JP)