Renungan Harian 356 (Selasa, 20 Agustus 2019)

Pertobatan Bagi Bangsa Lain

Devotion from Kisah Rasul 11:1-18

Ternyata keputusan Petrus untuk menaati Tuhan dan memberitakan Injil kepada Kornelius menjadi masalah di Yerusalem. Beberapa golongan murid Yesus yang ketat di dalam tradisi Yahudi berdebat dengan Petrus. Mengapa mereka mempermasalahkan tindakan Petrus? Karena mereka percaya bahwa tindakan tidak setia dari satu orang, apalagi seorang pemimpin, dapat berpengaruh kepada kesejahteraan seluruh umat. Ingat saja apa yang dilakukan oleh Akhan (Yos. 7:1), atau 12 orang pengintai yang 10 di antaranya membawa berita yang melemahkan semangat orang Israel (Bil. 13:31-33). Apakah Petrus berdosa seperti 10 pengintai itu, atau seperti Akhan? Di mata orang-orang ini Petrus sedang bersekutu dengan orang kafir. Ini tentu akan mendatangkan penghukuman dari Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa Tuhan telah mengubah target pernyataan diri-Nya. Dia tidak lagi mengutamakan Israel atas bangsa-bangsa lain. Sekarang Dia telah menyatakan diri-Nya kepada semua bangsa tanpa perbedaan. Kelompok tradisionalis sempit hanya mengetahui peraturan Tuhan secara mati. Tetapi umat Tuhan yang sejati mengenal Tuhan secara dinamis dan peka terhadap pimpinan Tuhan yang tidak terikat tradisi apa pun.

Kesombongan umat Tuhan juga bisa terjadi karena mereka tidak sadar bahwa mereka juga adalah bangsa pemberontak sama seperti bangsa-bangsa lain. Israel adalah bangsa pemberontak, bahkan mereka memberontak dengan cara yang lebih jahat daripada bangsa-bangsa lain di sekitar mereka (Yeh. 5:5-7). Jika mereka yang jahat, bahkan lebih jahat daripada bangsa-bangsa lain dapat dipanggil oleh Tuhan menjadi umat-Nya, berarti hal yang membuat mereka menjadi umat Tuhan adalah kemurahan hati Allah, bukan kebaikan mereka. Jika mereka menjadi umat-Nya hanya karena kemurahan hati Tuhan, bukankah Tuhan juga berhak memanggil bangsa-bangsa lain dengan kemurahan hati yang sama? Murid-murid Yesus pun ternyata ada yang belum memahami hal ini. Mereka masih menganggap bangsa mereka lebih unggul daripada yang lain. Padahal Petrus dengan sangat jelas menyatakannya di dalam khotbah di Yerusalem, bahwa Israellah yang memaku Anak Allah di atas kayu salib (Kis. 2:23; 3:15). Tidak ada bangsa lain di dunia ini yang melakukan dosa sebesar Israel itu! Apa lagi yang bisa dibanggakan dari bangsa Israel? Pemilik Taurat yang melanggar Taurat. Umat Sang Mesias yang membunuh Sang Mesias. Umat Allah yang membunuh murid-murid Kristus. Tidak ada lagi yang dapat dibanggakan oleh Israel selain fakta bahwa Allah tetap sabar terhadap mereka!

Maka Petrus pun berusaha menjelaskan rencana Allah memanggil bangsa-bangsa lain sama seperti Dia telah memanggil Israel. Dia menceritakan penglihatannya dan penglihatan yang dilihat oleh Kornelius. Ada suatu hal yang sangat unik dari penglihatan kedua orang ini. Keunikannya adalah bahwa Petrus melihat binatang-binatang haram di dalam penglihatannya, sedangkan Kornelius melihat seorang malaikat Allah. Seorang rasul melihat binatang-binatang haram dan seorang kafir melihat malaikat! Penglihatan Petrus mengajarkan kepada Petrus bahwa dia tidak boleh menganggap haram apa yang Tuhan tidak anggap haram. Sedangkan penglihatan Kornelius mengajarkan kepada dia bahwa dia telah diperkenan oleh Tuhan dan tidak dianggap najis. Tuhan begitu bijaksana di dalam dua penglihatan ini. Pengalaman Petrus ini membuat dia belajar untuk tidak menganggap orang lain najis (Kis. 10:28). Ternyata penglihatan ini bukan hanya untuk mengajar Petrus saja, tetapi juga untuk mengajar orang-orang Yahudi lain yang telah menjadi murid Yesus. Mereka juga perlu tahu bahwa Tuhan tidak mau mereka menyebut orang lain najis. Jika Tuhan menganggap Kornelius layak melihat seorang malaikat dan mendengarkan pesan Allah kepada dia, maka tidak masuk akal kalau ada orang Yahudi yang menganggap Kornelius najis.

Hal kedua yang Petrus tekankan adalah bahwa Allah mengerjakan semuanya, dan dia hanya menaati Allah saja. Allahlah yang mempersiapkan Kornelius untuk mendengarkan berita Injil. Allah jugalah yang memerintahkan Petrus untuk datang ke rumah Kornelius dan memberitakan Injil di sana. Allah jugalah yang membuka telinga Kornelius dan seisi rumahnya sehingga mereka percaya kepada pemberitaan Petrus. Allah jugalah yang mencurahkan Roh Kudus ke Kornelius dan semua orang yang mendengar berita Injil dari Petrus. Petrus mengingatkan bahwa Dialah yang membaptis orang dengan Roh Kudus. Roh Kudus turun atas Kornelius karena Kristus memberikan Roh Kudus kepada Kornelius. Jika Kristus telah membaptis Kornelius dengan Roh Kudus, bagaimana mungkin Petrus melarang Kornelius dibaptis dengan air?

Hal ketiga yang Petrus tekankan adalah karunia yang sama yang telah diterima oleh para murid, sekarang diberikan dengan limpah juga kepada Kornelius. Murid-murid berdoa, menanti dengan sabar di dalam rumah, penuh ketakutan dan kegentaran hingga akhirnya mendapatkan karunia Roh Kudus (Kis. 1:14; 2:1-4). Kornelius juga adalah seorang yang tekun di dalam menantikan Tuhan dan berdoa kepada Tuhan (Kis. 10:2) hingga akhirnya menerima karunia Roh Kudus atasnya. Karunia ini adalah karunia jiwa yang menyala-nyala untuk mengabarkan Kristus dan memuliakan nama-Nya. Inilah karunia yang diperoleh para murid di Yerusalem dan yang juga diperoleh Kornelius di Kaisarea. Tuhan tidak lagi memberikan perbedaan. Jika dulu Israel memiliki kelebihan daripada bangsa-bangsa lain, maka sekarang Israel sama dengan bangsa-bangsa lain. Jika dulu orang-orang yang mau menyembah Tuhan harus datang ke Israel, mengikuti tradisi Israel dan beribadah dengan tata cara yang Tuhan tetapkan melalui Israel, maka sekarang baik orang Israel maupun bangsa-bangsa lain yang mau menyembah Tuhan sama-sama harus menyembah Dia di dalam Kristus. Inilah pengertian yang Petrus bagikan. Petrus tidak sedang mengatakan bahwa Kornelius menjadi orang percaya setelah dia disunat atau setelah dia menjadi petobat di dalam agama Yahudi. Petrus mengatakan bahwa Kornelius mendapatkan anugerah yang persis sama dengan para rasul.

Perkataan Petrus ternyata membuat orang-orang Yahudi yang mengikut Yesus itu bertobat. Mereka sekarang bersyukur kepada Allah dan tidak lagi mempermasalahkan kebangsaan dari Kornelius. Mereka sekarang memuliakan Allah setelah memahami keluasan hati Allah. Inilah perbedaan orang-orang sempit dan orang-orang yang luas hati. Orang-orang yang luas hati mau dikoreksi dan bahkan memuliakan Allah oleh karena pengertian baru yang mereka dapatkan. Mereka begitu bersyukur kepada Allah karena Allah mengasihi bangsa-bangsa lain juga.

Kiranya Tuhan memberikan kepada kita hati yang juga luas menerima kelompok-kelompok lain yang telah diperkenan Tuhan. Di dalam gereja Tuhan tidak ada lagi perbedaan ras. Yang membedakan adalah kesetiaan kepada Allah dan kerelaan untuk menaati Allah. Jika seseorang setia kepada Allah, berpaut kepada Kristus, merindukan Allah, rindu melayani, dan memuliakan nama-Nya, maka orang itu adalah saudara kita di dalam Kristus. Jika seseorang mengabaikan Allah, menghina nama-Nya, menghina Kristus, dan mengabaikan firman-Nya, maka orang itu adalah orang asing bagi kita sekalipun secara keturunan dia adalah saudara kita sendiri. “Barang siapa melakukan kehendak Bapa-Ku di Surga, dialah ibuku dan saudaraku,” demikian dikatakan Tuhan Yesus (Mat. 12:50). Barang siapa diperkenan Tuhan, dialah saudara kita. Jangan lagi hidup di dalam pandangan sempit mengenai ras. Tuhan tidak membedakan warna kulit manusia, celakalah manusia yang masih memberlakukan pembedaan berdasarkan warna kulit. Tuhan tidak lagi membiarkan ada tembok pemisah antara umat Tuhan dan bangsa kafir, mengapa kita mendirikan sendiri tembok seperti itu? Jangan lagi membeda-bedakan orang dengan cara yang Tuhan tidak perkenan. (JP)