Renungan Harian 357 (Rabu, 21 Agustus 2019)

Pelayanan Di Antiokhia

Devotion from Kisah Rasul 11:19-30

Berita Injil semakin tersebar, hingga akhirnya tiba di Antiokhia. Ini adalah sebuah kota di Siria yang didirikan oleh Seleucus I, seorang pemimpin perang dari Alexander Agung. Kini kota itu ada di daerah selatan dari Turki. Antiokhia adalah kota kebudayaan yang sangat maju sebagai pusat perdagangan sejak abad ke-3 SM dengan penduduk sekitar 500 ribu orang pada zaman para rasul. Antiokhia merupakan pusat dari kekristenan di dalam separuh bagian Kitab Kisah Rasul dan terus menjadi salah satu kota terpenting kekristenan di dalam abad-abad awal perkembangan gereja. Antiokhia menjadi tempat yang begitu penting karena dia menjadi tempat pertama orang-orang percaya disebut Kristen. Inilah tempat di mana kekristenan yang masih bayi mulai bertumbuh dan menyebar.

Siapakah pendiri jemaat di Antiokhia? Tidak ada nama yang tercatat. Banyak orang yang berbagian di dalam memberitakan Injil di kota ini tetapi tidak ada satu pun nama yang menonjol. Baik orang Yahudi maupun orang-orang dari bangsa-bangsa lain menjadi percaya atas pemberitaan Injil dari mereka. Siapakah mereka? Perhatikan yang dikatakan oleh ayat 19 dan 20! Orang-orang ini adalah murid-murid Yesus dari Yerusalem yang memberitakan Injil hanya kepada orang-orang Yahudi saja. Tetapi selain mereka, ada juga orang-orang Siprus dan Kirene yang justru memulai mengabarkan Injil kepada orang-orang Yunani juga. Melalui pemberitaan Injil mereka ini banyak orang menjadi percaya kepada Kristus. Komunitas Kristen bertumbuh dengan sangat pesat di sini.

Perkembangan yang begitu pesat membuat para murid di Yerusalem merasa perlu mengutus Barnabas ke Antiokhia. Barnabas ini diutus untuk melayani jemaat di sana yang ternyata telah berjumlah sangat banyak. Perlu ada seorang dari Yerusalem untuk memberitakan ajaran yang benar sehingga orang-orang percaya di sana tidak mengenal Yesus dengan pemahaman yang salah. Barnabas bukan hanya mengajar dan menggembalakan mereka, Barnabas juga menjadi pemberita Injil dan karena dia penuh dengan Roh Kudus, melalui kebaikannya lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya. Dia menjadi pemimpin jemaat di Antiokhia yang berkembang sangat pesat. Tetapi dia tidak dapat menangani jemaat sedemikian besar sendirian. Maka dia mengajak kembali Saulus yang sedang berada di Tarsus. Saulus dibawa ke Antiokhia supaya dia bisa melayani bersama-sama dengan Barnabas. Selama setahun mereka memberitakan Injil dan menggembalakan jemaat Tuhan. Selama setahun itu juga jumlah orang-orang percaya bertambah-tambah terus. Ayat 26 mengatakan bahwa di Antiokhia inilah kelompok orang percaya itu untuk pertama kalinya disebut “Kristen”. Ini adalah nama yang berarti “Kristus kecil” atau “pengikut Kristus”.

Dari ayat 27 kita mengetahui bahwa Antiokhia telah menjadi tempat pengungsian bagi orang-orang percaya di Yerusalem. Semakin banyak orang yang mengalami penganiayaan di Yerusalem akhirnya pindah ke Antiokhia. Bahkan setelah tiba di periode damai di mana orang-orang Kristen boleh mengalami sedikit kelonggaran dari penganiayaan (Kis. 9:31), Antiokhia terus berkembang menjadi pusat baru bagi murid-murid Tuhan Yesus. Meskipun Antiokhia menjadi pusat kekristenan di luar Yerusalem, dan kota ini menampung orang-orang percaya dari berbagai ras dan bangsa, tetapi Antiokhia terus mempertahankan kesatuan dengan Yerusalem. Gereja bagi banyak bangsa ini tetap mengingat saudara-saudara mereka di Yerusalem sehingga ketika terjadi kelaparan di Yerusalem dan Yudea, orang-orang Kristen di Antiokhia mengumpulkan bantuan bagi mereka.

Untuk direnungkan:
Ada beberapa hal yang dapat kita renungkan. Yang pertama adalah karya Tuhan yang membangkitkan gereja di Antiokhia dengan menggunakan orang-orang biasa, bukan seorang rasul besar seperti Petrus. Antiokhia terbentuk dari penginjilan orang-orang biasa, bukan dari seorang pelayan yang hebat dan ternama. Tidak ada Petrus di Antiokhia. Tidak ada Yohanes, atau Yakobus, atau bahkan Stefanus di Antiokhia. Tetapi jemaat di sana tetap bertumbuh dengan pesat dan berkembang hingga menjadi besar. Tuhan bekerja dengan membangkitkan banyak orang memberitakan Injil-Nya dan menjadi murid-murid Kristus. Merekalah yang bersama-sama menumbuhkan gereja di Antiokhia. Alangkah indahnya jika kita melihat hal ini terjadi di dalam gereja kita juga. Gereja bertumbuh tidak selalu karena ada orang yang seperti Petrus. Gereja bertumbuh karena gerakan seluruh jemaat memberitakan Injil dan saling melayani satu dengan lainnya. Gereja tidak bertumbuh karena mengandalkan keahlian seseorang, tetapi bertumbuh karena mengandalkan gerakan Roh Kudus secara komunal di dalam diri setiap jemaat. Perlu kerendahan hati, konsistensi, kerelaan berelasi, dan mengutamakan orang lain untuk membuat adanya persekutuan yang sehati di dalam gereja. Juga perlu adanya kerinduan yang sama besarnya untuk menyenangkan hati Tuhan dan mempermuliakan nama-Nya, menyatakan Kerajaan-Nya di seluruh bumi bersama-sama.

Hal kedua yang dapat kita renungkan adalah persekutuan orang percaya di Antiokhia membentuk gereja Kristen yang sejati. Mengapa? Karena persekutuan mereka terdiri dari orang-orang Yahudi dan juga orang-orang dari bangsa-bangsa lain. Baru kali ini terjadi adanya bangsa-bangsa lain bersekutu dengan bangsa Yahudi di dalam gereja Tuhan. Antiokhialah tempat kekristenan mula-mula yang plural – mencakup banyak bangsa – dimulai. Demikian juga gereja saat ini tidak boleh dikotak-kotakkan oleh hal-hal yang tidak penting. Dari suku mana seseorang berasal, dari ras apa, atau berkebangsaan apakah seseorang itu berasal, semua menjadi pembahasan yang tidak penting. Semakin beragam latar belakang orang-orang di dalam sebuah gereja akan membuat gereja itu menjadi berkat besar bagi banyak golongan orang. Tetapi persekutuan tetap harus ada, walaupun tidak boleh dibentuk berdasarkan hal-hal yang remeh. Persekutuan tidak mungkin erat kalau tidak ada iman yang sama di dalam anggota-anggotanya. Gereja Tuhan tidak mungkin dapat menjadi gereja yang erat diikat oleh berita Injil, jika gereja Tuhan masih memandang latar belakang suku dan juga kebangsaan seseorang. Kita harus belajar melihat iman Kristen sebagai sesuatu yang lebih penting daripada keadaan lahiriah seseorang. Kesungguhan untuk meninggalkan kehidupan yang lama, dan adanya semangat mau berjuang untuk hidup kudus adalah keharusan. Semua itu adalah sesuatu yang mutlak lebih penting daripada sekadar latar belakang kebangsaan atau ras seseorang.

Hal yang ketiga adalah gereja di Antiokhia tidak melupakan persekutuan dengan gereja-gereja di tempat lain. Jemaat Antiokhia tetap semangat untuk menolong saudara-saudara mereka di Yudea, walaupun mereka tidak berhutang apa pun kepada Yerusalem dan Yudea. Antiokhia tetap harus dilihat sebagai salah satu bagian di tengah-tengah pekerjaan Tuhan yang akan mencakup seluruh bumi. Antiokhia menjalin relasi dengan Yerusalem dan Yudea bukan karena Antiokhia memerlukan sesuatu dari jemaat-jemaat di Yerusalem dan Yudea. Sebaliknya, mereka berelasi dengan orang-orang Kristen di daerah Yudea karena orang-orang Kristen di Yudea dan Yerusalem yang memerlukan bantuan mereka. Yerusalem dan Yudea sedang berada dalam keadaan kelaparan, dan justru karena keadaan mereka yang seperti ini membuat Antiokhia bersekutu dengan Yudea dan Yerusalem. Biarlah kita juga belajar untuk memiliki hati yang luas, melihat pekerjaan Tuhan dengan cara yang luas dan melampaui waktu dan tempat. Tuhan tidak hanya bekerja memakai daerah kita saja. Tuhan bekerja juga di dalam daerah yang lain. Tuhan tidak hanya bekerja memakai gereja kita saja. Tuhan bekerja juga di gereja-gereja lain. Dan yang terakhir, Tuhan juga ingin kita merombak cara pikir yang oportunis. Kalau menguntungkan diri baru berelasi, itu sangat tidak pantas. (JP)