Renungan Harian 358 (Kamis, 22 Agustus 2019)

Doa Dan Penyertaan Tuhan

Devotion from Kisah Rasul 12:1-17

Orang-orang Kristen di Yudea mendapatkan penganiayaan kembali. Jika sebelumnya para pemimpin agama dan rakyat di Yerusalem menganiaya mereka, maka sekarang pemimpin politik, yaitu Herodes, menganiaya mereka. Mereka mengalami kesulitan besar setelah sempat mengalami masa damai selama beberapa waktu (Kis. 9:31). Mengapa Herodes juga ikut-ikut menganiaya mereka? Karena Herodes ingin menjilat para pemimpin agama Yahudi. Dia ingin sekali memenangkan hati orang Yahudi supaya kekuasaannya semakin kokoh. Maka dia menganiaya orang Kristen, bahkan membunuh Rasul Yakobus. Yakobus menjadi Rasul Kristus pertama yang mati martir. Dia dibunuh karena Herodes ingin menguatkan posisi politisnya. Betapa besar hukuman yang Tuhan sudah siapkan untuk pemimpin seperti Herodes. Dia dengan berani menghina Tuhan dan mempermain-mainkan umat Tuhan.

Setelah membunuh Yakobus, Herodes meneruskan tindakan gilanya dengan menangkap Petrus pada waktu sedang perayaan roti tidak beragi. Ini merupakan perayaan menjelang paskah. Momen penangkapan Petrus dekat dengan momen penangkapan Yesus Kristus. Herodes menangkap Petrus dan dia berencana untuk menghadapkan Petrus kepada orang banyak. Hal ini dia lakukan supaya massa menjadi beringas dan menyatakan kebencian mereka kepada Petrus. Setelah massa menolak dan membenci Petrus, maka membunuh Petrus menjadi hal yang tidak sulit bagi Herodes. Karena itu,  dia menangkap Petrus dan memasukkannya ke dalam penjara.

Ayat 5 mengatakan bahwa jemaat Tuhan dengan tekun mendoakan Petrus. Doa mempunyai kekuatan yang sangat besar, bukan karena melalui doa kita mampu mengatur rencana Tuhan. Tetapi melalui doa Tuhan menyatakan kerelaan-Nya untuk mendengar kita dan memerhatikan kebutuhan dan keluh kesah serta permohonan kita. Adakah yang lebih indah dari ini? Bahwa Tuhan rela berbicara kepada kita melalui firman-Nya dan rela untuk mendengar doa-doa yang kita panjatkan? Tuhan mau berelasi dengan kita, tetapi kita yang sangat memerlukan Dia, dengan sembarangan menolak Dia dan mengabaikan Dia. Betapa celakanya kita ini!

Gereja terus mendoakan Petrus dan Tuhan mendengar doa mereka. Tuhan mengirimkan malaikat-Nya untuk membebaskan Petrus dari penjara. Walaupun dijaga oleh empat regu, Petrus tetap tidak bisa ditahan di dalam penjara di luar kehendak Allah. Allah yang menyatakan kedaulatan-Nya, termasuk kedaulatan untuk mendengarkan doa-doa kita dan mengabulkannya berdasarkan belas kasihan-Nya.

Gereja tidak boleh mempunyai kebiasaan doa yang longgar. Demikian juga kita, kita tidak boleh membiasakan diri santai di dalam kebiasaan berdoa kita. Berdoalah senantiasa (1Tes. 5:17). Tuhan memanggil kita untuk berelasi dengan Dia dan bergantung dengan Dia. Doa menjadi pernyataan kebergantungan kita dan kerelaan kita untuk menantikan pernyataan Allah dalam menjawab doa-doa kita. Di dalam keadaan berat, aniaya, kesulitan, penderitaan, gereja hanya mungkin bertahan karena tekun di dalam berdoa. Lupa berdoa, dan gereja akan hancur. Tetaplah berdoa, dan gereja akan dipelihara oleh Tuhan.

Apakah yang didoakan oleh kita dan gereja kita? Kita harus mendoakan ucapan syukur kita, kekaguman kita, hormat kita, pujian kita, dan sembah sujud kita. Selain itu kita juga harus dengan jujur menyatakan apa yang kita perlukan kepada Tuhan. Doa tidak boleh dipanjatkan untuk memuaskah hawa nafsu cemar dan keserakahan kita. Tetapi doa harus dipanjatkan kepada Allah dengan sikap yang tidak egois, tidak berpusat ke diri sendiri, dan tidak memanfaatkannya untuk hal-hal yang rusak. Doa harus benar-benar dipanjatkan dengan hati yang paling dalam dan dengan kerinduan yang paling besar.

Orang Kristen harus bertekun di dalam doa. Berdoa terus, jangan lelah, jangan bosan. Doakan pekerjaan Tuhan, doakan pengabaran Injil, doakan kebaktian-kebaktian kebangunan rohani, doakan apa pun yang sedang Tuhan kerjakan untuk menyatakan Injil-Nya. Semua ini perlu didoakan dengan intens, dengan sering, dan berulang-ulang. Apakah semua yang kita doakan sudah pasti dikabulkan Tuhan? Tidak. Gereja mendoakan Petrus dan Tuhan menjawab dengan menyelamatkan dia. Tetapi jangan lupa di saat sebelumnya gereja mendoakan Yakobus, tetapi tetap saja dia harus mati di tangan raja Herodes. Tidak semua mendapatkan jawaban yang sama dari Tuhan. Dia berhak menentukan mana yang akan Dia selamatkan dan mana yang tidak. Tetapi pengertian akan hal ini justru akan membuat kita rendah hati di dalam doa-doa kita. Kita berdoa kepada Allah yang jauh lebih sempurna di dalam pengetahuan dan hikmat. Allah yang berdaulat untuk menjalankan keputusan-Nya dan ketetapan-Nya ini membuat kita berdoa dengan kesungguhan hati. Sungguh-sungguh ingin memohon sesuatu sekaligus belajar merelakan jika sesuatu yang kita inginkan tidak terjadi. Berdoa tanpa passion, tanpa gairah, dan tanpa keinginan apa pun membuat doa itu jadi kering dan percuma didoakan. Ini sering kali terjadi jika kita salah melihat Allah sebagai Allah yang kaku dan terprogram untuk menjalankan ketetapan-Nya tanpa emosi, kehendak, afeksi, gairah, dan perasaan apa pun. Ini bukan Allah yang sejati! Tetapi kita juga tidak boleh berdoa dengan penuh gairah, afeksi, dan begitu ingin dan ngotot tanpa mengingat bahwa Allah berhak melakukan apa pun yang Dia mau. Jangan melihat Allah sebagai teman berelasi yang dekat. Juga jangan lihat Allah sebagai kekuatan kaku, mekanik, dan terprogram dan tidak berperasaan. Doa dengan penuh gairah, penuh permohonan, penuh cita-cita, penuh keberanian, penuh kerinduan, tetapi ingat Allah adalah Allah yang berdaulat dan berhak menolak doa kita (2Kor. 12:9).

Setelah dengan tekun mendoakan Petrus, akhirnya jemaat melihat jawaban Tuhan atas doa-doa mereka. Tuhan pun mengirimkan malaikat-Nya untuk membebaskan Petrus. Tuhan memberikan penyertaan kepada gereja-Nya. Tidak ada yang terlalu sulit untuk dilakukan oleh Allah. Tidak ada yang dapat menghalangi Allah dan pekerjaan yang sedang Dia kerjakan. Bebasnya Petrus dari penjara menunjukkan bahwa Tuhan tidak main-main di dalam menjaga orang-orang yang Dia kasihi. Tetapi ada hal lain yang lebih penting, yaitu bebasnya Petrus dari penjara menunjukkan bahwa Tuhan tidak main-main di dalam menjaga pengabaran Injil untuk memperluas kerajaan Kristus.

Untuk direnungkan:
Setelah mengisahkan peristiwa pergerakan Injil di daerah yang makin ke selatan, sekarang di Yerusalem dan Yudea sendiri terjadi beberapa hal yang perlu ditangani. Injil kembali ditentang dengan keras. Keadaan yang sulit ini dilalui gereja dengan kekuatan dari berdoa dengan tekun. Kita harus belajar untuk berdoa kepada Tuhan dengan tekun. Berdoa kepada Tuhan di dalam keadaan sulit, berdoa di dalam keadaan bersyukur. Di dalam keadaan apa pun. Jika Tuhan mengizinkan kita mewarisi hak istimewa boleh berdoa kepada-Nya, mengapa tidak ambil kesempatan ini dan pergunakan dengan segiat mungkin? Kekuatan untuk hidup hanya ada karena ditopang oleh tangan Tuhan. Jika demikian, mengapa tidak berdoa dengan tekun minta kekuatan-Nya menopang tangan-Nya? Mengapa biarkan hidup kita seperti layang-layang yang putus, terbang tidak menentu? Hikmat hidup hanya ada pada Tuhan. Jika demikian, mengapa tidak berdoa dengan tekun untuk meminta hikmat surgawi? Mengapa membiarkan diri hidup di tengah-tengah kebenaran palsu, kebodohan, dan dusta? Kekuatan dan penghiburan hanya bersumber dari Allah. Jika demikian, mengapa tidak berdoa kepada-Nya? Mengapa mencari semuanya itu dari orang lain? Hanya Allah yang sanggup! (JP)