Renungan Harian 359 (Jumat, 23 Agustus 2019)

Herodes Mati

Devotion from Kisah Rasul 12:18-25

Keinginan Herodes untuk memperkokoh kerajaannya sekarang gagal total. Bukan saja karena dia tidak bisa menjaga tahanannya tetap berada di dalam penjara, tetapi karena Tuhan sendiri telah menjadi Lawannya. Tuhan berniat menghancurkan dia. Tuhan menggagalkan rencananya untuk mengambil hati orang Yahudi dengan membebaskan para rasul (ay. 3, 7) dan segera sesudah itu Tuhan berencana membunuh dia. Pemimpin-pemimpin seperti Herodes ini adalah pemimpin yang begitu kejam dan gila kekuasaan. Pemimpin seperti ini akan mengabaikan perasaan takut akan Tuhan karena kekuasaan telah menjadi berhala sembahannya.

Herodes yang dicatat di sini adalah Herodes Agripa Agung (ayah dari Herodes Agripa yang dicatat di dalam Kisah Rasul 25:13, yang juga disebut Agripa II). Dia adalah cucu dari Herodes Agung. Herodes Agung inilah yang memerintahkan bayi-bayi di Betlehem yang berusia dua tahun ke bawah dibunuh. Dialah raja kejam yang memerintah ketika Yesus Kristus lahir. Raja Herodes Agung mati tahun 4 SM, dan dua tahun kemudian, Kerajaan Romawi mendudukkan Herodes Antipas, anaknya, untuk menjadi raja menggantikan dia. Herodes Antipas inilah yang disebut “si serigala” oleh Tuhan Yesus (Luk. 13:32). Dialah yang memenggal kepala Yohanes Pembaptis (Mat. 14:9-14) dan yang ikut mengadili dan bertanya-tanya kepada Tuhan Yesus ketika Dia sedang diadili (Luk. 23:7-9). Sama dengan ayahnya, dia pun hidup dengan cara yang rusak. Herodes Antipas akhirnya dituduh berkomplot untuk melawan kaisar Romawi bernama Caligula. Herodes Agripa Agunglah yang menyebarkan fitnah bahwa Herodes Antipas telah mempersiapkan senjata bagi 70.000 tentara untuk memberontak melawan Caligula. Herodes Antipas pun ditangkap dan diasingkan ke daerah Lugdunum (Kota Lyon di Perancis saat ini) lalu mati di sana. Setelah kematian Herodes Antipas, Herodes Agripa Agung menjadi raja atas Yudea.

Herodes Agripa Agung adalah raja yang sangat mempertahankan tradisi Yahudi dan mau mendapatkan dukungan sepenuh-penuhnya dari golongan pemimpin agama Yahudi. Itulah sebabnya dia membunuh Yakobus (Kis. 12:2) dan berniat untuk membunuh Petrus juga. Tetapi ternyata Tuhan lebih dulu menghukum dia sebelum dia sempat menghukum Petrus.

Herodes Agripa Agung merupakan seorang politisi dan pemimpin yang handal. Dia berhasil membuat daerah Yudea menjadi kaya, bahkan melebihi kekayaan Tirus dan Sidon. Di dalam ayat 20 dikatakan bahwa dua kota yang sebenarnya makmur ini mendapatkan makanan dari hasil ekspor daerah Yudea. Itu sebabnya rakyat Yudea sangat mengagung-agungkan Herodes. Herodes Agripa Agung menjadi begitu populer dan sangat disenangi. Tetapi ternyata Tuhanlah yang menentukan hidup manusia, entah dia orang miskin atau raja besar sekalipun. Di dalam ayat 21 dikatakan di dalam hari yang telah ditentukan untuk Herodes Agripa Agung berpidato, hari yang sama telah Allah tetapkan untuk menghukum dia.

Menurut ahli sejarah Yahudi bernama Josephus, Herodes Agripa Agung sedang berpidato dan seluruh rakyat berseru-seru, mengatakan bahwa suara Herodes adalah suara Allah sendiri. Josephus mencatat bahwa di tengah-tengah sedang berpidato itulah Herodes Agripa Agung tiba-tiba merasakan sakit di dadanya yang amat sangat. Sakit itu menular hingga ke perutnya dan selama lima hari dia terus menerus menderita dengan amat sangat, baik di dada maupun di perutnya. Setelah lima hari kesakitan, Herodes Agripa Agung akhirnya mati. Baik penyebab kesakitannya maupun penyebab kematiannya terus menjadi misteri, demikian menurut Josephus. Josephus mencatat bahwa di tengah-tengah kesakitannya itu dia berteriak menyalahkan orang banyak karena memujanya seperti memuja Allah. Jikalau sebelum terkena sakit, dia begitu senang dipuji dan begitu giat mencari penghormatan dari manusia, maka di akhir hidupnya Herodes Agripa Agung sadar bahwa hanya Allah, dan bukan dia, yang layak dipuji setinggi-tingginya.

Kitab Kisah Rasul mencatat kematian Herodes Agripa Agung ini sebagai hukuman Allah. Bagaimanakah cara Herodes mati? Ayat 23 mengatakan bahwa dia dimakan cacing-cacing. Yesaya 66:24 menyatakan bahwa ini merupakan ungkapan untuk menunjukkan betapa fana dan hinanya akhir hidup dari manusia. Jika manusia melawan Allah, dari kemuliaan yang setinggi apa pun, toh akhirnya manusia hanya menjadi sarang cacing-cacing yang memakan habis tubuhnya. Orang-orang yang memberontak kepada Allah tidak akan mempunyai pengharapan kebangkitan tubuh yang mulia, seperti yang Allah janjikan bagi orang-orang percaya, dan karena itu nasib tubuh mereka dimakan cacing menjadi nasib yang kekal. Apakah Herodes mati karena benar-benar ada cacing-cacing yang memakan dia dari dalam tubuhnya? Ataukah ini adalah pembahasaan dari gambaran di Yesaya 66:24? Ataukah ini hanya ekspresi bahasa dari Lukas untuk menggambarkan penyakit mematikan yang sangat menyakitkan? Kita tidak tahu. Dan hal lain yang sangat unik adalah dari catatan Josephus adalah, dikatakan bahwa Herodes Agripa Agung begitu ketakutan setelah selesai berpidato dan sebelum terserang kesakitan yang amat sangat, sebab dia melihat sesuatu yang seperti seekor burung hantu bertengger di tali di atas kepalanya. Apakah malaikat yang akan menampar dia menunjukkan dirinya seperti seekor burung? Kita juga tidak tahu. Betapa mengerikan hukuman yang Allah sanggup lakukan kepada orang-orang yang menghina Dia, menginjak-injak hamba-hamba-Nya, dan melawan serta menentang penyebaran kerajaan-Nya! Siapakah yang mau mengambil posisi mulia yang hanya boleh dimiliki oleh Allah? Jangan ada seorang pun yang berani, karena hanya Allah yang layak menerima hormat dan puji dari manusia.

Catatan kematian Herodes ini menjadi pengantar untuk masuk ke periode berikut dari Kitab Kisah Rasul ini. Di dalam pasal 13 kita akan melihat bagaimana Injil disebarkan oleh para pengabar Injil dengan sangat giat dan penuh kuasa dari Roh Kudus. Kuasa politik akan berakhir, kuasa militer tidak akan kekal, kuasa senjata akan ditaklukkan, kuasa penindas akan dimatikan, tetapi kuasa Roh Kudus di dalam pemberitaan Injil tidak akan pernah berakhir. Siapa yang memberi hormat kepada Allah akan menuai kemuliaan yang kekal, tetapi siapa yang mencari hormat bagi manusia akan menuai kehinaan. Siapa yang sujud kepada Allah akan dipimpin dengan kuasa Roh Allah yang Mahatinggi, tetapi siapa yang menghina Allah akan ditaklukkan oleh Allah.

Untuk direnungkan:
Ketika penguasa dunia ini merasa dapat bermain-main dengan Allah, maka Allah akan menghukum mereka. Dengan pengertian inilah orang-orang benar memperoleh penghiburan. Jika kita bersama dengan Tuhan, mengikuti Dia, dipimpin oleh-Nya di dalam kebenaran, maka kita tidak perlu takut apa pun atau siapa pun. Herodes merasa dapat mempermainkan pengikut Kristus, tetapi pada akhirnya Herodes yang diturunkan oleh Kristus. Memang benar Herodes mempunyai kuasa untuk membunuh tubuh, tetapi Allah mampu membuang dia ke dalam sengsara abadi (Mat. 10:28). Itulah sebabnya kita terus hidup memperjuangkan supaya kehendak Allah jadi. Kita memberitakan Injil-Nya, mengajarkan kebenaran-Nya, hidup di dalam kekudusan-Nya, dan melangkah di dalam iman bahwa Dia yang Mahakuasa memimpin kita. Marilah belajar untuk percaya kepada penyertaan dan perlindungan-Nya. Tidak ada yang sanggup melawan Allah. Celakalah orang-orang yang berani mempermain-mainkan Allah atau pekerjaan-Nya, juga menyiksa dan menindas hamba-hamba-Nya! Biarlah orang-orang benar terus beriman kepada Tuhan yang berkuasa menjaga mereka. (JP)