Renungan Harian 369 (Senin, 2 September 2019)

Peraturan Pertama Gereja Kristen

Devotion from Kisah Rasul 15:22-34

Setelah pertemuan di Yerusalem selesai, para rasul dan pemimpin gereja mengutus dua orang, yaitu Barsabas dan Silas. Dua orang penting di Yerusalem ini diutus untuk membawa berita resmi mengenai keputusan para rasul dan para pemimpin di Yerusalem. Keputusan ini mengingatkan kepada orang-orang Kristen untuk mempunyai identitas yang berbeda dari sebelumnya. Mereka harus memisahkan diri dari bentuk penyembahan berhala dan menjauhkan diri mereka dari kebiasaan-kebiasaan mereka sebelumnya. Ini merupakan peraturan yang menekankan identitas orang Kristen. Dengan demikian, identitas Kristen bukan dari tanda sunat, melainkan dari pemisahan dari agama sebelumnya dan penyembahan berhala. Pemisahan seperti inilah yang menjadi tanda identitas Kristen. Ini tidak berarti bahwa seluruh peraturan moral yang lain tidak perlu dijalani. Para rasul tidak sedang membahas peraturan hidup, tetapi mereka sedang membahas perlu tidaknya sunat bagi orang-orang Kristen dari bangsa-bangsa bukan Yahudi. Inilah pesan yang akan dibawa, dan untuk mencegah kesalahpahaman, mereka mengutus dua orang pemimpin ini.

Kedua rasul ini juga diutus untuk menemani Paulus dan Barnabas sekaligus menyatakan bahwa para pemimpin gereja di Yerusalem setuju dan menganut pengajaran yang sama dengan pengajaran Paulus dan Barnabas. Mereka tidak bertindak dengan cara yang berbeda, tetapi sejalan dengan kebijakan dari Yerusalem. Para rasul di Yerusalem memihak kepada Paulus dan Barnabas karena apa yang diajarkan oleh Paulus dan Barnabas selaras dengan kebenaran Kitab Suci. Identitas Israel tidak harus menjadi identitas bangsa-bangsa lain. Kekudusan hidup, ketaatan kepada Allah, dan kasih kepada sesama, tentu itu merupakan sesuatu yang harus dilakukan oleh umat Allah. Tetapi umat Allah tidak lagi hanya orang Israel. Sekarang seluruh yang diselamatkan terdiri dari banyak bangsa dengan banyak identitas dan banyak cara hidup. Tuhan tidak pernah melarang cara hidup dan identitas suatu bangsa asalkan itu tidak melawan kehidupan moral yang baik, penyembahan hanya kepada Allah, dan ibadah yang didedikasikan hanya untuk Allah. Penyembahan kepada Allah dan ibadah yang didedikasikan kepada Allah inilah yang akan melatih setiap orang Kristen untuk melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah (1Kor. 10:28-32).

Di dalam ayat 23-29 dituliskan isi surat dari para rasul dan penatua di Yerusalem. Di dalam ayat 24 dan 26 dikatakan bahwa para rasul di Yerusalem tidak pernah mengutus orang-orang yang berdebat melawan Paulus dan meminta supaya bangsa-bangsa lain disunat seperti bangsa Yahudi (Kis. 15:1). Mereka tidak mewakili para rasul di Yerusalem. Sebaliknya, yang mewakili para rasul di Yerusalem adalah Paulus dan Barnabas. Bukan saja mereka mewakili ajaran para rasul di Yerusalem, mereka juga bertindak dengan sama beraninya dengan para rasul di Yerusalem. Ayat 26 mengingatkan bahwa Paulus dan Barnabas mempertaruhkan nyawa mereka demi berita Injil. Kedua rasul ini bukanlah pengajar yang munafik. Mereka menjalankan apa yang mereka ajarkan. Apakah orang-orang di Antiokhia lebih suka memilih orang-orang dengan pengajaran yang giat tetapi dengan kehidupan yang berpusat pada diri mereka sendiri? Atau memilih Paulus dan Barnabas yang, selain mengajar dengan giat, juga merelakan diri mereka menjadi korban demi bangsa-bangsa lain mendengar Injil. Saat itu banyak sekali pengajar-pengajar yang kreatif, berpengaruh, pintar bicara, pintar meyakinkan orang, dan memperoleh banyak pengikut, tetapi orang-orang seperti ini ternyata hanya pintar bicara. Hati dan jiwa mereka tidak ada pada pesan yang mereka ajarkan. Tidak demikian dengan Paulus dan Barnabas. Hati, jiwa, dan nyawa mereka diletakkan di atas berita Injil yang mereka ajarkan. Sangat tepat kalau para rasul di Yerusalem memberikan dorongan bagi orang-orang Antiokhia untuk memerhatikan hal ini sebagai hal yang sangat penting. Paulus dan Barnabas rela mengorbankan nyawa mereka demi Tuhan Yesus yang mereka beritakan.

Ayat 29 mengingatkan kepada para murid di Antiokhia bahwa meskipun mereka bebas dari peraturan Taurat yang sifatnya bayang-bayang kedatangan Kristus, tetapi mereka tidak bebas dari peraturan Taurat yang mengajarkan untuk menyembah Allah, mengasihi Allah, tidak menyembah ilah palsu, dan mengasihi serta menghargai sesama sesuai kehendak Tuhan. Orang-orang Kristen Antiokhia harus mengenal cara hidup kudus yang Allah mau, terpisah dan didedikasikan sepenuhnya untuk Tuhan, tanpa mempermasalahkan keadaan bersunat atau tidak. Para rasul di Yerusalem mengingatkan mereka apa yang penting dan apa yang tidak. Agama sering kali menjadi tempat sampah bagi segala tingkah laku tidak penting dan mengabaikan hal yang penting.

Apa sajakah hal-hal penting itu? Hal paling utama adala mengenal Tuhan Yesus. Mengenal Dia melalui berita Injil yang berdasarkan firman Tuhan yang dipahami dengan benar, inilah hal yang terutama. Hal berikutnya adalah adanya hidup di dalam kasih. Hidup mengasihi Allah dan sesama jauh lebih Allah perhatikan daripada tindakan seremonial apa pun. Tetapi Tuhan tidak mengabaikan kegiatan seremonial. Selama Kristus belum menggenapi kerajaan-Nya di bumi ini, kegiatan seremonial tetap harus ada. Itulah sebabnya gereja yang benar melakukan Perjamuan Kudus dan Baptisan Kudus. Perjamuan Kudus menunjukkan pengharapan akan kedatangan Kristus sekaligus kesadaran bahwa anugerah Allah yang membuat kita menerima keselamatan di dalam pengorbanan Tuhan Yesus selalu diberikan kepada kita oleh Bapa di Surga. Demikian juga baptisan membuat kita sadar bahwa kita hanyalah satu dari sekian banyak gereja Tuhan yang disatukan oleh darah Kristus dan firman yang benar. Doktrin, sakramen yang diperintahkan Tuhan, kesetiaan, kasih, hati yang takut akan Tuhan, ibadah yang menghormati Tuhan, ini hal-hal penting yang harus dipikirkan dengan sebaik mungkin. Gereja yang mengabaikan hal-hal ini adalah gereja yang tidak benar. Juga ketika benda-benda dianggap sakral berdasarkan tradisi dan bukan berdasarkan Alkitab, ketika upacara-upacara yang tidak Tuhan perintahkan menjadi lebih utama, dan ketika perasaan takut akan Tuhan digantikan oleh rutinitas yang mati, ini akan mencelakakan gereja. Jika firman Tuhan, Injil, doktrin yang benar, Perjamuan Kudus dan Baptisan Kudus, hati yang mengasihi Tuhan, hati yang takut akan Dia, serta ibadah yang menghormati Tuhan tidak lagi dipedulikan oleh suatu gereja, maka gereja itu akan semakin lama semakin ditinggalkan Tuhan.

Untuk direnungkan:
Kiranya Tuhan menolong kita untuk memiliki hidup yang seimbang sesuai dengan kehendak Tuhan. Biarlah kita tidak menyempitkan berkat Tuhan bagi kita dengan menjalankan identitas-identitas palsu tanpa pengertian yang benar. Segala upacara ibadah, walaupun Kristen, jika itu dilakukan tanpa memahami pengertiannya di dalam iman kepada Kristus, akan berkembang menjadi suatu tradisi yang mati dan legalistik. Kecenderungan kita adalah menjadi terlalu kaku, atau menjadi terlalu longgar. Gereja-gereja yang menjalankan segala tata cara ibadah dengan kekakuan yang mati akan kehilangan dinamika dan api penyembahan kepada Allah. Tetapi gereja-gereja yang menekankan ekspresi, kebebasan, gairah, dan dinamika palsu (karena tidak berdasar di dalam pengertian yang benar), akhirnya membuat kehidupan orang Kristen penuh dengan kepalsuan emosi dan kekosongan akibat tidak adanya pengenalan akan Tuhan yang utuh. Pengenalan yang terpecah-pecah serta kedangkalan di dalam ekspresi emosi yang itu-itu saja membuat orang Kristen menjadi orang-orang yang hanya mau melampiaskan emosi dan membebaskan perasaan saja, ketimbang menjadi orang-orang yang mau bertumbuh lebih kudus dan lebih benar di dalam mengenal Tuhan, serta lebih berapi-api di dalam melayani Dia. Tidak ada seorang pun yang dapat hidup tanpa memilik identitas, ibadah, dan cara hidup tertentu. Tetapi betapa mengerikan jika identitas kita, ibadah, dan cara hidup kita dilakukan bukan berdasarkan kehendak Allah. (JP)