Perselisihan Paulus dan Barnabas

Devotion from Kisah Rasul 15:35-16:3

Setelah kembali dari perjalanan misi yang pertama, Paulus dan Barnabas menggembalakan jemaat Antiokhia. Lalu setelah mengajar dan menggembalakan di Antiokhia selama beberapa waktu, Paulus ingin kembali mengunjungi jemaat-jemaat yang telah didirikannya bersama dengan Barnabas. Ini merupakan perasaan sejati seorang pengabar Injil dengan jiwa seorang gembala. Paulus ingin mengunjungi kembali jemaat-jemaat itu supaya bisa menguatkan mereka, mengajar mereka, dan mendorong mereka untuk hidup bagi Tuhan. Tidak seorang pun yang boleh mengerjakan hanya satu sisi dari panggilan mengabarkan Injil. Setelah Injil dikabarkan, siapakah yang akan terus memberikan firman bagi orang-orang yang baru percaya itu? Injil harus dikabarkan. Tetapi setelah itu kebenaran firman harus terus diajarkan, dan jemaat yang sudah percaya harus didorong, dinasihati, ditegur, dan dikuatkan untuk makin mengasihi Tuhan dan hidup di dalam kekudusan. Itulah sebabnya di dalam ayat 36 Paulus mengajak Barnabas untuk kembali mengunjungi jemaat-jemaat yang telah mereka Injili.

Tetapi di dalam ayat 38 dikatakan bahwa Paulus menolak mengajak Markus. Barnabas sangat ingin membawa Markus, sedangkan Paulus dengan keras menentang rencana itu. Apakah yang membuat Paulus sangat marah? Kemungkinan karena Markus saat itu belum benar-benar menerima bahwa orang-orang dari bangsa-bangsa lain diterima oleh Tuhan sama seperti Israel diterima. Pasal 13 yang mencatat tentang keputusan Markus meninggalkan Paulus dan Barnabas (Kis. 13:13) adalah pasal yang memuat permulaan pemanggilan bangsa-bangsa lain dengan cara yang sama dengan pemanggilan Israel. Inilah pasal yang menyatakan bahwa berita Injil adalah juga bagi bangsa-bangsa lain, sama seperti bagi Israel. Banyak orang Yahudi yang sulit menerima ini. Beberapa kelompok orang Yahudi bahkan memaksa supaya orang percaya dari bangsa lain juga disunat. Inilah yang dilawan oleh Paulus hingga ke pertemuan di Yerusalem. Mungkin Markus juga masih memiliki pengertian yang sama dengan mereka. Kita tidak bisa tahu dengan pasti saat ini. Tetapi, jika Markus pergi karena tidak ingin melihat bangsa-bangsa lain dimasukkan ke dalam janji Sang Mesias, kita bisa dimengerti kalau Paulus sangat marah. Di dalam pasal 13 Markus (atau juga dikenal dengan Yohanes) meninggalkan Paulus dan Barnabas setelah menyadari kalau perjalanan mereka semakin jauh meninggalkan Yerusalem. Semakin Injil diberitakan kepada bangsa-bangsa lain menjauhi Israel dan Yerusalem, semakin ini membuat Markus tidak bisa ikut mereka. Markus bahkan tidak kembali ke Antiokhia, yang adalah jemaat dengan komunitas berbahasa Yunani yang besar, tetapi langsung ke Yerusalem. Di dalam Kisah Rasul 15:38 pun sebenarnya Paulus telah memberikan petunjuk mengenai alasannya tidak mau membawa Markus. Paulus mengatakan bahwa Markus tidak mau “bekerja” bersama-sama mereka. Kata “bekerja” ini di dalam Kisah Rasul 13:2 dan 14:26-27 berbicara tentang pertobatan bangsa-bangsa lain. “Pekerjaan” yang Tuhan khususkan untuk Paulus dan Barnabas dalam Kisah Rasul 13:2 adalah untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Markus tidak ingin berbagian di dalam pengabaran Injil bagi bangsa-bangsa lain.

Tetapi meskipun Markus pernah melakukan kesalahan besar seperti itu, Barnabas tetap ingin memberikan kepadanya kesempatan kedua. Apalagi setelah mendengar kesaksian tentang pekerjaan Tuhan di tengah-tengah bangsa-bangsa lain, dan juga setelah mendengar keberpihakan para rasul dan penatua Yerusalem kepada Paulus dan Barnabas dalam menginjili bangsa-bangsa lain, seharusnya Markus telah berubah dan bertobat. Dan memang benar kalau dia bertobat, sebab setelah itu Tuhan ternyata mau memakai dia untuk menuliskan Kitab Markus. Bukan hanya itu, pertobatannya juga diakui oleh Paulus di dalam Kolose 4:10 dan 2 Timotius 4:11.

Perselisihan ini membuat Paulus dan Barnabas pergi ke arah yang berbeda. Barnabas tetap membawa Markus, sedangkan Paulus membawa Silas. Perjalanan perkunjungan Paulus dan Silas ini, yang nanti akan diubah oleh Tuhan menjadi perjalanan penginjilan kepada bangsa-bangsa lain yang kedua (Kis. 16:6-7), dimulai dengan mengunjungi Siria dan Kilikia. Perjalanan selanjutnya membawa mereka ke Listra. Di Listra inilah Paulus memanggil Timotius untuk menemani perjalanan Paulus dan Silas. Timotius akhirnya menemani mereka, tetapi sebelumnya Paulus ingin Timotius disunat. Setelah persetujuan bahwa bangsa-bangsa lain tidak perlu sunat, mengapakah Paulus menyuruh supaya Timotius disunat? Kisah Rasul 16:3 tidak menunjukkan adanya paksaan dari orang lain. Berarti Pauluslah yang memutuskan Timotius harus disunat. Mengapa? Dia harus disunat demi lebih besarnya kemungkinan memberitakan firman kepada orang Yahudi. Jika Timotius, yang ibunya adalah orang Yahudi, tidak disunat, ini akan memperparah penerimaan orang-orang Yahudi lain mengingat ayahnya adalah orang Yunani. Keadaannya yang tidak disunat itu membuat orang-orang Yahudi menganggap dia memilih menjadi orang Yunani. Keadaan ini akan merugikan pelayanan kepada orang Yahudi. Itulah sebabnya, tanpa ada paksaan dari siapa pun, Paulus menyuruh Timotius untuk disunat.

Untuk direnungkan:
Renungan hari ini mengajak kita untuk berpikir dengan cara yang berhikmat. Paulus menolak dengan keras orang yang tidak setuju pengabaran Injil kepada bangsa-bangsa lain dengan menempatkan bangsa-bangsa lain setara dengan bangsa Israel. Jika bangsa-bangsa lain diberi anugerah yang sama oleh Tuhan, mengapa orang Yahudi harus menolaknya? Itulah sebabnya Paulus menolak Markus, yang pada waktu perjalanan mereka yang pertama menolak pekerjaan penginjilan bagi bangsa-bangsa lain ini. Itulah sebabnya juga Paulus menentang dengan keras setiap usaha meleburkan bangsa-bangsa lain ke dalam identitas orang Yahudi dengan cara menyunatkan mereka. Bersunat atau tidak, bagi Paulus tidak penting. Yang penting adalah bagaimana seluruh aspek hidup dapat menjadi alat yang dipakai Roh Kudus untuk membawa orang kepada Kristus. Jika sunat membuat orang berpikir bahwa pengampunan dosa dan status sebagai umat Allah tidak lagi diperoleh melalui Kristus, tetapi melalui sunat, maka sunat itu menjadi batu sandungan untuk orang non Yahudi beriman kepada Kristus. Sebaliknya, jika karena orang Kristen Yahudi menolak menghormati tradisi sunat, dan itu membuat orang-orang Yahudi lainnya menolak orang Kristen Yahudi itu, dia, dengan keadaan tidak bersunatnya itu, menjadi batu sandungan untuk orang Yahudi beriman kepada Kristus.

Ini pengajaran yang sangat penting untuk kita. Membawa orang kepada Kristus adalah salah satu tujuan kita menjalani hidup yang benar. Hidup yang dijalani dengan sembrono tidak akan pernah menolong orang lain menemukan Kristus melalui kita. Seorang theolog Jerman bernama Dietrich Bonhoeffer mengatakan bahwa orang Kristen harus hidup sedemikian rupa sehingga orang-orang yang tidak percaya Kristus menjadi malu karena ketidakpercayaan mereka. Ini bukan hal yang bisa dilakukan seandainya kita masih menganggap keterikatan kepada tradisi, atau perlawanan kepada tradisi, menjadi hal yang paling penting. Ada yang mati-matian mempertahankan tradisi suku mereka sehingga tradisi itu menjadi berhala yang menggantikan Kristus dan menjadi hal yang lebih penting daripada orang lain. Ada juga yang mati-matian menolak tradisi tertentu hingga pemberontakan mereka menjadi berhala yang juga menggantikan Kristus dan menjadi lebih penting daripada orang lain. Ini semua harus berhenti. Jangan pertahankan sesuatu atau membuang sesuatu jika itu kita lakukan tanpa mempertimbangkan kemuliaan Kristus. Kristus yang dipermuliakan dan diterima oleh banyak orang, itulah yang harus menjadi motivasi utama kita melakukan atau menolak sesuatu. (JP)