Renungan Harian 372 (Kamis, 5 September 2019)

Penginjilan di Filipi

Devotion from Kisah Rasul 16:13-18

Paulus memulai pelayanannya di Filipi dengan mencari tempat ibadah Yahudi berupa rumah doa. Orang Yahudi di perantauan memiliki sinagoge yang berfungsi seperti gereja di zaman kita sekarang. Sinagoge pada zaman itu bisa menampung puluhan sampai empat ratus atau lima ratusan orang. Tetapi jika orang Yahudi di sebuah kota tidak banyak, maka mereka hanya akan membangun sebuah rumah doa. Rumah doa didirikan di pinggir sungai. Itulah sebabnya Paulus menelusuri sungai hingga menemukan sebuah rumah doa. Tempat ibadah orang Yahudi tetap menjadi strategi Paulus untuk memulai penginjilan di Filipi. Mulai dari memberitakan Mesias orang Yahudi kepada orang Yahudi, kemudian melanjutkan berita itu kepada orang Yunani dengan menekankan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat bagi bangsa-bangsa di dunia.

Setelah berjalan menelusuri sungai, akhirnya mereka menemukan sebuah rumah doa. Mereka berdiskusi dengan perempuan-perempuan yang ada di tempat itu dan memenangkan seorang bernama Lidia. Lidia mau percaya kepada Kristus dan mengundang Paulus dan kawan-kawan untuk datang ke rumahnya. Lidia adalah orang pertama yang bertobat di tanah Eropa yang pertobatannya dicatat di dalam Alkitab. Dia adalah seorang dari daerah Tiatira (daerah Turki, Asia Minor), tetapi dia telah mengenal agama Yahudi dan memeluk agama itu. Betapa hebatnya Tuhan telah mempersiapkan jalan sehingga orang-orang Yahudi di perantauan dengan giat membawa bangsa-bangsa lain untuk menjadi Yahudi. Setelah mereka mengenal agama Yahudi, mereka akan dengan mudah memahami penjelasan tentang Sang Mesias yang telah dinubuatkan di dalam ajaran Yahudi. Lidia dibaptiskan dan dia menjadi orang Kristen pertama di Filipi.

Ketika Paulus dengan rutin mengajar dan memberitakan Injil di rumah doa itu, setan mulai mengganggu pelayanan mereka dengan membuat keributan terus menerus. Sebuah keributan yang akan membuat orang bingung, apakah ini berasal dari Allah ataukah dari setan? Seorang perempuan yang kerasukan setan terus berteriak-teriak dan mengganggu Paulus ketika dia sedang mengajar. Bahkan perempuan ini mengganggu mereka ketika mereka pergi ke mana pun juga. Perhatikan kalimat yang dipakai orang kerasukan setan ini di ayat 17. “Orang-orang ini adalah hamba Allah yang Mahatinggi…” Apakah kalimat seperti ini dari setan? Bukankah kalimat ini meninggikan Tuhan? Inilah strategi paling hebat dari setan. Dia membuat dirinya tersamar ke dalam hal yang rohani. Tidak semua seruan yang meninggikan Tuhan adalah dari Roh Kudus. Setan bisa menyamar dan memalsukan pekerjaan Roh Kudus. Setiap pekerjaan yang penuh kuasa dan kekuatan dari Tuhan pasti akan dipalsukan Iblis. Itulah sebabnya kita harus berhati-hati di dalam melihat fenomena apa pun di dalam gereja. Setiap hal yang mengganggu keteraturan, kesopanan, ketenangan, dan kegentaran kepada Allah harus diwaspadai. Roh Kudus tidak akan mengacaukan apa yang teratur. Roh Kudus tidak akan menggerakkan orang untuk melakukan hal-hal yang cemar dan rusak. Roh Kudus tidak akan membuat apa pun yang menyebabkan orang tidak lagi gentar dan takut di dalam beribadah kepada Allah.

Jika ada fenomena orang-orang kehilangan kesadaran waktu menyembah Tuhan, itu pasti pekerjaan setan yang sedang menyamar masuk. Tidak peduli kalimat yang keluar meninggikan siapa pun, pekerjaan kacau itu tidak mungkin dari Roh Kudus. Begitu juga jika sebuah kebaktian penuh dengan kekacauan yang sulit dibedakan dari fenomena kerasukan atau kehilangan kesadaran, itu pasti bukan dari Roh Kudus. Roh Kudus mengembalikan kesadaran, kejernihan berpikir, dan keteraturan, serta kegentaran dan hormat kepada Allah. Semua yang tidak disertai dengan kesadaran, kejernihan berpikir, kontrol diri, dan gentar serta hormat kepada Allah, apa pun itu, tanpa semua hal ini, adalah mustahil dikerjakan oleh Roh Kudus. Gangguan dari perempuan kerasukan setan itu terus berlangsung, tetapi Paulus tetap tidak mau menggubris perempuan itu? Mengapa tidak? Karena tugas utamanya adalah memberitakan Injil dan mengajar, bukan mengusir setan. Paulus tetap berfokus untuk mengerjakan pekerjaan utamanya ini dengan segenap konsentrasi dan kekuatan. Tetapi ketika saatnya dia sudah tidak tahan lagi, dia pun berseru untuk mengusir setan itu dan perempuan itu pun bebas dari setan.

Perempuan ini telah dikuasai setan dengan begitu dahsyat. Dia mempunyai banyak pelanggan yang mencari petunjuk dan ramalan serta nasihat untuk apa pun, sehingga dia mendapat penghasilan besar dari kuasa setan yang menjeratnya. Manakah yang kita pilih? Menjadi sekutu setan dan mendapatkan kekayaan duniawi? Atau menjadi pengikut Kristus dan memikul salib? Setan akan membutakan mata orang sehingga dia tidak sadar betapa celakanya orang yang mengikut setan. Tidak ada harta, kenikmatan, kesejahteraan yang akan diberikan setan. Harta yang diperoleh dari setan akan menjerat, membuat tamak, membutakan mata kita, sehingga kita tidak mungkin dapat menikmati hidup di dalam kelimpahan palsunya. Kenikmatan dan segala hiburan palsu hanya membuat manusia semakin terjerat dan tidak bisa menikmati anugerah Tuhan lagi. Masuk dalam jerat setan adalah musibah terbesar yang mengancam manusia di dunia ini.

Ayat 18 menggambarkan kuasa Roh Kudus yang bekerja pada Paulus. Dia berseru di dalam nama Tuhan Yesus satu kali saja, dan roh jahat itu tunduk dan keluar dari perempuan itu. Tetapi mengapa setelah beberapa hari baru Paulus berseru dan mengusir setan itu? Salah satunya adalah karena Paulus tidak mau membuat kehebohan yang tidak perlu dengan tanda-tanda yang akhirnya disalah mengerti orang-orang Filipi yang kebanyakan adalah warga negara Roma. Di dalam peraturan Kerajaan Romawi, yang juga berlaku di beberapa daerah yang banyak ditinggali orang Romawi, penyihir dan segala perbuatan nujum itu dilarang oleh hukum Roma. Roma melarang perbuatan-perbuatan ini karena siapa yang mampu melakukan perbuatan-perbuatan demikian mempunyai kemungkinan mengumpulkan pengikut lalu membuat pemberontakan. Pemimpin yang mempunyai kuasa-kuasa ajaib adalah orang-orang yang akan segera ditangkap oleh tentara di Roma atau di beberapa daerah kekuasaan Romawi. Mengapa perempuan ahli nujum ini tidak ditangkap? Kemungkinan karena dia menyogok para pemimpin di Filipi (ay. 19). Demikian juga Paulus menjaga supaya tidak dianggap sebagai orang dengan kuasa aneh, supaya dia tidak ditangkap dan gagal memberitakan Injil.

Untuk direnungkan:
Hari ini kita akan merenungkan tiga hal. Yang pertama adalah pimpinan Tuhan bagi Paulus membuat pekerjaan penginjilan Paulus berhasil dengan sangat baik. Dia memenangkan beberapa orang berpengaruh di kota Filipi karena penginjilan yang dia lakukan. Tuhan yang membuka jalan, maka Tuhan jugalah yang akan membuat penginjilan berhasil. Kita sering kali takut memberitakan Injil karena kita salah berpikir. Kita berpikir kalau semua usaha penginjilan itu bergantung pada kemampuan kita saja. Ketika kita tidak sadar bahwa Allahlah yang mengerjakan semua itu melalui kita, maka kita akan begitu gentar dan takut. Penyertaan Tuhan membuat kita menjadi orang yang bertanggung jawab dengan berita Injil yang kita beritakan, tetapi juga membuat kita berani dan tidak ragu-ragu untuk memberitakan Injil Tuhan. Tidak seorang pun yang dipimpin oleh Roh Kudus akan menyerah dan kehilangan keberanian untuk maju dan memberitakan Kristus kepada orang lain. Kiranya Roh Kudus membukakan jalan bagi kita untuk mempertobatkan banyak orang kembali kepada Kristus.

Hal kedua yang perlu kita renungkan adalah karya Roh Kudus harus dibedakan dari pekerjaan palsu si Iblis. Iblis bisa meniru apa yang Roh Kudus kerjakan. Iblis bisa menggerakkan orang untuk berkata “terpujilan Allah…” tetapi melakukannya dengan cara yang tidak hormat, kacau, dan kehilangan kendali diri. Tanda-tanda seperti ini tidak mungkin berasal dari Roh Kudus. Alkitab telah banyak kali memperingatkan kita agar berhati-hati. Tetapi apakah kita sudah berhati-hati? Kita terlalu gampang percaya dan tidak lagi punya sense untuk membedakan manakah yang merupakan pekerjaan Roh Kudus dan manakah pekerjaan palsu dari si setan. Mintalah bijaksana dari Tuhan dan belajarlah dengan giat supaya kita tidak jatuh ke dalam tipuan setan.

Hal ketiga yang dapat kita pelajari adalah ketika Paulus memutuskan untuk mengusir setan itu, dia melakukannya setelah tetap diam selama beberapa hari. Paulus berfokus pada keberhasilan Injil diberitakan. Dia tidak ingin melakukan apa pun yang dapat mengurangi kesempatan dia memberitakan Injil. Dia mempertimbangkan segala keputusannya berdasarkan hal ini. Kerinduannya untuk orang-orang mendengar Kristus dan percaya, dan keinginannya yang sangat besar untuk Kristus dipermuliakan, itulah yang mendasari dia memutuskan apa pun juga. Mari kita merenungkan ini. Hal apakah yang utama di dalam hidup kita, di mana semua keputusan kita dibuat berdasarkan pertimbangan hal utama itu? Apakah hal utama itu? Apakah berkait dengan kemuliaan Allah? Jika tidak, pantaskah kita sebagai orang Kristen mendasarkan segala keputusan kita pada hal yang tidak berkait dengan Allah? (JP)