Renungan Harian 373 (Jumat, 6 September 2019)

Kepala Penjara Bertobat

Devotion from Kisah Rasul 16:19-34

Ayat 19 mengatakan bahwa orang-orang serakah yang mempekerjakan perempuan ini untuk mencari keuntungan dari nujumnya begitu marah. Mereka marah karena sumber pendapatan mereka diganggu. Manusia berdosa sudah begitu rusak, sehingga tidak lagi membedakan mana benar dan mana salah. Semua hanya dilihat dari kerangka mana yang menguntungkan dan mana yang tidak. Mereka menangkap Paulus dan Silas bukan karena mereka melakukan kesalahan, tetapi karena mereka kehilangan keuntungan. Paulus dan Silas tidak merugikan siapa pun dengan menyembuhkan perempuan itu. Semua keuntungan yang diperoleh para pemimpin itu tidak bisa dikategorikan keuntungan yang pantas. Mereka tidak melakukan apa yang layak dan memberi faedah bagi banyak orang melalui keuntungan yang mereka dapatkan itu. Keserakahan mereka telah mengelabui pikiran mereka dan menumpulkan perasaan keadilan mereka. Maka, oleh karena pengaduan mereka, Paulus dan Silas pun dipukul di depan umum berkali-kali dan dipenjara tanpa diadili. Tuan-tuan perempuan itu ternyata mempunyai pengaruh yang luar biasa besar, sehingga mampu memengaruhi para pemimpin kota itu.

Begitu besarnya hukuman yang ditimpakan kepada mereka, walaupun tanpa diadili, sehingga untuk mereka diberikan pengawalan khusus. Kepala penjara diancam dengan nyawa jika Paulus dan Silas lari dari tahanan itu. Dampak fitnahan (ay. 20-21) yang dikatakan oleh tuan-tuan perempuan yang disembuhkan dari kerasukan itu sangat berpengaruh sehingga membuat para pemimpin kota sangat mewaspadai Paulus dan Silas. Penjagaan yang diberikan kepada mereka sama seperti penjagaan yang diberikan kepada tahanan berbahaya yang mempunyai kekuatan memberontak. Tetapi Tuhan telah memakai ini semua untuk mempertobatkan sebuah keluarga, yaitu keluarga dari kepala penjara.

Pada waktu tengah malam, Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah di dalam penjara, dan Tuhan memberikan gempa dan membuka belenggu mereka. Sama dengan Tuhan menyertai Petrus (Kis. 5:19), demikian juga Tuhan menyertai Paulus. Tidak ada belenggu apa pun yang dapat menghentikan berita Injil. Tetapi di dalam ayat 28 dikatakan bahwa Paulus dan Silas tidak keluar dari penjara itu. Mengapa begitu? Mengapa mereka tidak segera pergi dan lari keluar selagi ada kesempatan? Jawabannya adalah karena mereka tidak boleh membiarkan seluruh orang Filipi menganggap mereka sebagai tahanan. Ini berbeda dengan kasus Petrus di dalam Kisah Rasul 5. Petrus ditahan oleh orang-orang yang kelicikannya telah diketahui oleh jemaat Tuhan. Seluruh Yerusalem juga tahu bahwa permasalahan Petrus dengan para pemimpin agama terjadi karena sebagian dari para pemimpin itu iri hati kepada mereka dan sebagian lagi membenci Yesus Kristus. Petrus dilemparkan ke penjara dengan tidak adil dan seluruh Yerusalem telah mengetahui hal itu, sehingga mereka tetap mau mendengarkan ajaran Petrus (Kis. 5:25). Tidak demikian dengan Paulus dan Silas. Mereka berada dalam keadaan difitnah sebagai penjahat keji dengan penjagaan penjara maksimal. Ini tentu akan membuat seluruh Filipi mencurigai mereka sebagai pelaku kejahatan yang besar. Dan hal ini akan membuat mereka menolak kekristenan. Berita Injil akan dihina dan nama Kristus yang akhirnya terkena dampaknya. Itulah sebabnya Paulus dan Silas tidak mau pergi meninggalkan penjara itu. Mereka ingin mendapatkan pengadilan yang adil dan membuktikan bahwa mereka tidak bersalah. Tetapi, jika mereka memang tidak boleh meninggalkan penjara itu demi Injil dapat diberitakan tanpa disalah mengerti, mengapakah Tuhan mengirimkan gempa, membongkar pintu penjara, dan melepaskan belenggu Paulus dan Silas? Tuhan melakukan itu supaya kepala penjara beserta keluarganya mendengarkan berita Injil.

Tuhan berencana mempertobatkan banyak orang di Makedonia, dan ternyata kepala penjara beserta keluarganya adalah salah satunya. Betapa besarnya perhatian Tuhan kepada kepala penjara yang nyawanya hanya sepenting kemampuannya mempertahankan tahanan ini. Tuhan tidak melakukan tindakan besar ini untuk memanggil pemimpin-pemimpin kota, atau orang-orang penting dari kerajaan Romawi. Yang Tuhan panggil hanyalah seorang kepala penjara yang hidup matinya tidak sepenting tahanan yang harus dia jaga.

Ayat 29 dan 30 menjelaskan kepada kita bagaimana kepala penjara itu menjadi sangat gentar. Dia hampir saja mengalami kematian dan sekarang nyawanya selamat. Tetapi walaupun saat ini nyawanya selamat, dia tetap gentar dan ingin mendapatkan jalan untuk keluar dari ketakutan ini. Maka dia bertanya kepada Paulus dan Silas sambil tersungkur, bertanya cara untuk jiwanya bisa diselamatkan. Entah besok, atau bulan depan, atau beberapa tahun lagi, entah kapan, dia tetap harus berhadapan dengan maut kembali. Ketika saat itu tiba, dan tidak ada pertolongan seperti saat ini, bagaimana saya bisa memiliki kepastian bahwa kematian saya tidak akan membawa kebinasaan kekal? Inilah yang dipikirkan oleh kepala penjara tersebut. Paulus langsung memberikan jawaban yang pasti kepada orang ini. Percayalah kepada Yesus Kristus. Dialah satu-satunya yang memberikan keselamatan bagi jiwamu. Bukan saja untuk kepala penjara itu, Paulus pun berbicara tentang Injil di rumah orang itu di depan seluruh keluarganya. Pada hari itu juga satu keluarga diselamatkan dan menjadi percaya. Betapa agungnya cara Tuhan bekerja. Dia bekerja dengan cara yang sangat tidak terduga. Segala kejadian besar itu untuk memanggil sebuah keluarga menjadi orang percaya.

Setelah kepala penjara dan seluruh keluarga itu bertobat dan menerima Tuhan Yesus, dikatakan bahwa dia begitu bergembira karena sekarang telah percaya kepada Allah. Inilah orang-orang yang bersukacita karena telah menerima berita Injil. Tuhan memberikan kesempatan ini kepada orang-orang Yahudi, tetapi banyak dari mereka yang menolak Tuhan, dan karena itu gagal mengalami sukacita besar seperti kepala penjara ini. Ada juga orang-orang yang mengabaikan berita ini karena telah nyaman dengan keadaan hidupnya yang lama. Orang-orang seperti ini akan sangat marah kalau keuntungannya diambil atau dikurangi. Mereka hanya memikirkan diri sendiri dan kesenangan sendiri. Uang dan kenikmatan adalah dewa mereka. Karena seperti inilah cara hidup yang dipilih oleh orang-orang seperti ini, berita Injil pun tidak menjadi bagian yang boleh mereka nikmati.

Untuk direnungkan:
Kita mungkin tidak kenal orang-orang yang ada di sekitar kita. Petugas polisi, satpam, orang-orang di pasar, atau di mana pun. Orang-orang yang tidak kita kenal tidak akan membuat kita terlalu memerhatikan mereka, pergumulan apa yang sedang dihadapi mereka, dan hidup mereka. Tetapi pikirkan jika salah satu dari orang-orang itu ternyata akan Tuhan pertobatkan – orang-orang yang Tuhan pilih, perhatikan, dan panggil. Dia mengasihi orang itu dan akan mengatur hingga Injil sampai kepada orang itu. Pandangan-Nya dan rancangan-Nya diarahkan ke orang itu. Ketika tiba waktunya Tuhan akan mempertobatkan orang-orang itu dengan memakai kita sebagai pengabar Injil, apakah kita siap? Paulus tidak mengenal dan tidak memberikan fokus apa pun dalam pelayanannya kepada kepala penjara ini. Tetapi Tuhan segera membuat keadaan yang menuntut Paulus berespons dengan cepat untuk memberitakan Injil kepada orang ini. Inilah yang disebut oleh Paulus sebagai kesiapan memberitakan Firman di dalam waktu apa pun (2Tim. 4:2). Tuhanlah yang mengetahui siapa milik-Nya yang akan Dia pertobatkan, bukan kita. Tetapi walaupun kita tidak mengetahui, kita dituntut untuk memikirkan hal ini dan mempersiapkan diri kita. Bukankah sangat mungkin kalau orang-orang yang kita temui sehari-hari, yang keadaan hidupnya, ataupun pergumulannya tidak kita ketahui sama sekali, ternyata adalah orang-orang yang Tuhan akan panggil? Ketika tiba kesempatan untuk memperkenalkan Kristus, biarlah kita peka dan tidak mengabaikannya. Kiranya Tuhan memakai kita semua mengabarkan Kristus. (JP)