Renungan Harian 374 (Sabtu, 7 September 2019)

Pembersihan Nama Baik

Devotion from Kisah Rasul 16:35-40

Setelah tidak menemukan apa pun yang pantas untuk dihukum, para pemimpin kota memutuskan untuk melepaskan Paulus dan Silas. Mereka membawa kabar itu dengan mengutus perwakilan mereka. Tetapi Paulus menolak untuk dibebaskan tanpa ada permintaan maaf dari pemimpin-pemimpin kota. Ketika Paulus mendengar berita tentang pembebasannya, dia menolak untuk menerimanya. Dia bukan penjahat yang harus mendapatkan pengampunan. Dia menolak karena dia menuntut permintaan maaf secara publik, bukan belas kasihan dan pengampunan. Paulus menuntut para pembesar kota untuk datang sendiri dan melepaskan mereka dengan permintaan maaf. Tidak ada gunanya jika Paulus dibebaskan sebagai status penjahat yang mendapatkan kemurahan para pembesar kota. Status seperti itu pasti akan membuat orang-orang tidak mau menerima Paulus dan berita Injil yang dia beritakan. Dia harus mendapatkan permintaan maaf dari pembesar kota itu demi berita Injil. Itulah sebabnya Paulus menolak pengampunan dan pembebasan yang ditawarkan para pemimpin kota.

Paulus menyatakan kewargaan Roma yang dimiliki baik oleh dia maupun Silas (Kis. 16:37). Sebagai warga negara Roma mereka adalah warga kelas satu di seluruh daerah jajahan Roma. Mereka tidak boleh dicambuk atau dipermalukan dengan hukuman di depan umum, apalagi tanpa diadili terlebih dahulu. Hal ini membuat para pemimpin kota Filipi menjadi ketakutan. Jika sebelumnya mereka memerintahkan penangkapan Paulus, maka sekarang mereka datang sendiri tanpa diwakilkan oleh siapa pun. Mereka datang untuk melepaskan kedua rasul itu sekaligus meminta maaf kepada mereka. Mereka juga berharap Paulus dan Silas segera meninggalkan kota Filipi karena kehadiran mereka membuat konflik yang besar dengan tuan-tuan perempuan ahli sihir yang Paulus sembuhkan dari kerasukannya.

Berita Injil terus disampaikan dan terus memanggil banyak orang kepada Kristus. Dan setelah menerima Kristus, terbentuklah sekelompok orang dengan kehidupan yang menyatakan kekudusan, saling menolong, menyatakan kasih, dan segala hal yang menyatakan penyembahan kepada Sang Juruselamat dan juga memancarkan sifat-sifat Sang Juruselamat mereka (Kis. 2:44-47). Jika jemaat seperti ini adalah jemaat yang diharapkan akan muncul setelah orang-orang percaya kepada Kristus, bagaimana mungkin pemberita Injil yang membawakan pengenalan akan Kristus mempunyai hidup yang rusak? Bahkan Paulus menyatakan juga bahwa kehidupan orang-orang yang membawa Injil yang palsu itu begitu rusak. Penuh dengan keserakahan dan cinta uang (1Tim. 6:3-10). Betapa besarnya tentangan untuk menerima berita Injil dari orang-orang yang hidupnya dikuasai oleh uang, hawa nafsu, dan berbagai kejahatan. Banyak orang yang begitu mudah ditipu oleh pemimpin-pemimpin gereja yang palsu. Mereka adalah hamba-hamba uang yang mengeruk keuntungan sebesar mungkin untuk memperkaya diri. Mereka hidup dengan kemewahan seperti raja karena terlalu banyak orang Kristen yang bodoh mau ditipu oleh mereka dan menjadi murid mereka. Tidak adakah kemampuan untuk membedakan? Tidak adakah kesadaran bahwa Tuhan tidak menyukai gaya hidup mewah dari pemimpin-pemimpin besar gereja? Mereka adalah pemimpin palsu yang tidak boleh mengatasnamakan Tuhan dalam pelayanan palsu mereka. Paulus berharap bahwa orang-orang menolak berita Injil palsu dari para pemberita palsu. Dalam 1 Korintus 10:23 dan 24 Paulus mengatakan bahwa setiap orang harus memikirkan apa yang dapat membangun orang lain. Jangan hanya pikirkan diri sendiri. Ini berarti setiap tindakan yang kita lakukan tidak lagi sekadar ditentukan oleh “boleh atau tidak?” tetapi ditentukan oleh “bergunakah bagi orang lain atau tidak?”. Inilah yang Paulus mau ajarkan kepada kita semua di dalam 1 Korintus 10:23-24. Lihat juga di dalam 1 Korintus 10:31-33, dia mengingatkan kita semua bahwa makan dan minum pun harus kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan Yesus dan membangun orang lain. Betapa besar kerinduan Paulus untuk bisa memenangkan orang-orang lain bagi Kristus sehingga dia memelihara seluruh aspek hidupnya untuk tidak membuat orang lain tersandung dan menolak untuk datang kepada Kristus. Begitu ketatnya dia hidup sehingga dia berani berkata kepada orang-orang Kristen untuk meneladani cara hidup dia (1Kor. 11:1). Itulah sebabnya dia berusaha memelihara dirinya dari hal-hal yang jahat. Bukan supaya mendapatkan hidup kekal, sebab tidak seorang pun sanggup memperoleh itu dari usaha sendiri (Ef. 2:8). Dia berusaha menjaga hidupnya seketat mungkin supaya bisa diterima oleh siapa pun dengan maksud berita Injil dapat disampaikan dengan leluasa. Jika ada orang yang menolak, maka itu bukan karena kesalahan Paulus, sebab dia sudah mengusahakan segala hal yang menjadi tanggung jawabnya (Kis. 20:26-27).

Untuk direnungkan:
Sekarang kita mengetahui mengapa Paulus berkeras agar namanya dibersihkan. Dia tidak melakukan itu karena ego, kebanggaan, atau semangat mau balas dendam setelah dihina dan dipermalukan. Dia melakukan itu sepenuhnya agar berita Injil tidak ditolak oleh orang-orang Filipi. Apa pun yang dia lakukan, dilakukannya sebagai orang yang telah mati bagi dosa dan hidup untuk Kristus (Rm. 6:11). Baginya hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Flp. 1:21). Marilah kita belajar untuk melakukan hal ini. Kekristenan yang sejati mengajarkan kepada kita untuk tidak hidup dengan motivasi untuk diri sendiri. Jika kita mau belajar untuk menjalani hidup dengan ketat seperti ini, yaitu dengan motivasi untuk kemuliaan Kristus dan untuk orang lain mendapat berkat, terutama berkat mengenal Kristus, sehingga Kristus menjadi Juruselamat mereka, barulah kita akan mengerti sukacita hidup yang sejati. Seorang ibu baru menyadari besarnya sukacita ketika dia mengorbankan banyak hal untuk anak yang dia kasihi. Ini merupakan sesuatu yang tidak dipahami oleh gadis muda yang belum tahu pengertian berkorban. Seorang ibu rohani juga menyadari besarnya sukacita ketika dia menjalani hidupnya demi memberkati sesamanya, membawa mereka mengenal Tuhan dengan benar dan limpah. Ini sesuatu yang tidak pernah dirasakan oleh orang-orang yang hanya memikirkan untung rugi diri sendiri saja. Maukah melatih diri untuk meneladani Paulus yang seumur hidupnya meneladani Kristus? Dari teks bacaan hari ini, ada dua hal yang harus kita jalankan, bahkan paksakan diri kita untuk jalankan.

Hal pertama adalah kesediaan untuk mengalami kerugian demi orang lain mengenal Tuhan. Ini syarat yang mutlak harus ada. Selama kita belum berani total untuk orang lain mendapatkan berkat sejati hidup di dalam Tuhan, kita sulit menjalani hidup yang penuh dengan kuasa dan kemenangan seperti yang telah dialami Paulus. Dia berani bahkan untuk merisikokan keamanan dan nama baiknya sendiri. Dia berani kehilangan untuk orang lain memperoleh berkat. Inilah syarat yang kebanyakan orang tolak untuk lakukan. Siapakah orang yang dengan pikiran sehat mau melakukan hal ini? Tetapi hal ini telah dilakukan oleh begitu banyak orang yang menjadi saksi iman kita di dalam sejarah gereja. Bukankah kehidupan mereka telah tercatat dan dapat kita lihat? Para pemberita Injil sejati sejak zaman Kisah Rasul hingga abad ke-21 selalu hidup dengan mentalitas seperti ini, dan mereka mengalami hidup yang penuh kelimpahan berkat rohani, kedamaian, ketenangan, kemenangan, dan perkenanan Tuhan. Bandingkan dengan hidup banyak orang yang berjuang dan bergiat untuk motivasi yang berpusat ke diri sendiri. Bukankah banyak kesulitan, tekanan, dan beban berat yang dirasakan seolah mengambil seluruh sukacita hidup? Orang-orang seperti Paulus tidak lepas dari kesulitan, tekanan, dan beban berat. Tetapi mengapa kehidupan penuh sukacita tetap sanggup mereka jalankan? Karena rela menjalani hidup yang rugi.

Hal kedua yang harus kita jalani adalah menyadari bahwa berkat bagi orang lain hanya datang melalui berita dan kehidupan kita. Jangan membiarkan cara hidup yang kita jalani membuat orang terhalang untuk datang ke Kristus. Mengapa lebih suka menikmati kesenangan sambil menumpuk batu sandungan bagi orang lain? Apakah hidup sehari-hari yang kita jalani telah siap kita buka kepada orang banyak? Apakah orang banyak akan memuji Tuhan melihat hal-hal yang kita lakukan setiap hari dan setiap saat? Mari pelihara hidup dengan ketat bukan demi kebanggaan diri, tetapi demi kehidupan yang dapat menjadi teladan. Mari belajar meneladani Kristus, dan mari berjuang untuk menjadi teladan bagi orang lain. Kiranya Tuhan menguatkan kita untuk melakukan kedua hal ini dengan tekun dan dengan kekuatan dari Tuhan. (JP)