Renungan Harian 375 (Minggu, 8 September 2019)

Keributan di Tesalonika

Devotion from Kisah Rasul 17:1-9

Paulus melanjutkan perjalanannya dan tiba di Tesalonika, dan, seperti kebiasaannya, memulai penginjilan di sinagoge orang Yahudi. Tiga minggu lamanya dia tinggal di sana dan terus mengabarkan Injil Tuhan. Setiap hari Sabat dia memberitakan kepada orang Yahudi tulisan-tulisan di Kitab Suci mereka tentang Mesias. Perjanjian Lama memberitakan semua yang orang Yahudi perlu ketahui tentang Sang Mesias. Perjanjian Lama bukan hanya memberitakan Yesus Kristus yang akan menjadi raja, meneruskan takhta Daud, dan yang kerajaan-Nya mencakup seluruh bangsa-bangsa. Perjanjian Lama juga memberitakan tentang Mesias yang harus menderita. Ini merupakan sesuatu yang tidak disadari oleh banyak orang Yahudi. Banyak orang Israel begitu merindukan Mesias yang akan mengalahkan raja-raja dunia dan mendirikan kerajaan terkuat milik takhta Daud. Mereka menantikan tangan Allah menghancurkan musuh-musuh mereka. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka pun termasuk musuh Allah. Mereka pun adalah orang-orang yang sudah memberontak dan melawan Tuhan. Karena tidak sadar bahwa mereka pun bangsa berdosa sama seperti bangsa-bangsa lainnya di dunia ini, maka mereka tidak sadar bahwa mereka perlu Mesias yang juga adalah Juru Selamat mereka. Siapa pun yang tidak sadar bahwa mereka berada di dalam bahaya akan menolak mengakui bahwa mereka perlu penyelamat. Israel memang menyadari bahwa mereka menjadi bangsa taklukkan, tetapi mereka tidak menyadari bahwa mereka perlu diselamatkan dari murka Allah. Karena mereka hanya menyadari diri sebagai bangsa yang sedang ditaklukkan, maka mereka perlu Mesias yang bisa menolong mereka mengalahkan bangsa-bangsa yang menjajah mereka. Mereka tidak perlu Mesias yang menebus dosa mereka di hadapan Tuhan, karena mereka tidak merasa sedang berada di dalam bahaya dimurkai oleh Tuhan.

Ketidaksadaran bahwa mereka sedang dimurkai oleh Tuhan membuat orang-orang Yahudi gagal melihat nubuat tentang Mesias yang menderita. Mereka tidak sadar bahwa Kitab Suci telah menekankan dengan jelas bahwa dosa Israel perlu ditanggung dan bahwa Sang Mesias inilah yang menanggungnya (Yes. 53:4-6). Berita yang sangat mengharukan dan penuh kemuliaan ini telah lama luput dari telinga orang Israel. Inilah berita sukacita sesungguhnya. Kabar baik yang diperlukan Israel bukanlah kedatangan sang penakluk, tetapi bahwa Allah telah mengampuni mereka karena dosa mereka telah ditanggung oleh Raja mereka, yaitu Mesias, Sang Anak Daud. Berita yang sudah lama diluputkan dari pembacaan Alkitab dan dari khotbah-khotbah di sinagoge inilah yang diberitakan oleh Paulus. Bukan hanya satu kali atau dua kali, melainkan tiga kali berturut-turut mereka menjelaskan kepada orang-orang Yahudi ataupun orang-orang Yunani yang telah masuk agama Yahudi. Berita yang dikhotbahkan Paulus berturut-turut ini menghasilkan orang-orang percaya. Banyak orang Yahudi ataupun Yunani yang menghadiri sinagoge akhirnya percaya kepada Tuhan Yesus. Mereka dapat diyakinkan karena Paulus berbicara berdasarkan Kitab Suci mereka. Paulus tidak menyampaikan suatu berita lain. Walaupun Paulus melihat Tuhan Yesus langsung dengan cahaya sinar yang lebih terang daripada matahari, tetapi dia tidak tertarik untuk mengkhotbahkan Kristus dari pengalamannya itu. Akan jauh lebih kuat dan lebih meyakinkan jika dia mampu membuat orang-orang Yahudi melihat apa yang sebenarnya telah tercatat di dalam Kitab Suci mereka. Biarlah kita belajar dari hal ini. Bukan mimpi, penglihatan, dan segala kisah pengalaman yang kita bagikan yang akan membuat orang bertobat. Penjelasan dari firman Tuhanlah yang akan membuat orang bertobat. Jika kesaksian kita hanya menonjolkan diri, hanya menyatakan hal-hal untuk membuat orang lain kagum, hanya memamerkan dan meninggikan diri, maka tentulah kesaksian itu menjadi sesuatu yang membangkitkan murka Tuhan. Tetapi penjelasan yang berdasarkan firman Tuhan, yang secara akal sehat dapat dipahami, inilah yang akan mempertobatkan orang. Yang dimaksud dengan akal sehat bukanlah akal “scientific”, tetapi pikiran yang teratur dan tertata dengan benar dan baik. Paulus menjelaskan hal-hal yang dia beritakan dari Kitab Suci yang mampu dipahami dan ditangkap oleh orang-orang yang mendengarnya. Orang-orang yang mendengarnya akan merasa bahwa inilah tafsiran yang tepat dan konsisten dari Kitab Suci, dan ternyata tafsiran yang tepat dan konsisten ini menunjuk kepada Yesus Kristus sebagai Mesias yang harus menderita, mati, dan bangkit mengalahkan maut. Itulah sebabnya banyak orang-orang yang mengerti Kitab Suci dan yang terkemuka akhirnya menerima berita yang disampaikan Paulus itu. Mereka menyadari bahwa inilah ajaran yang benar. Inilah berita yang memang telah dinubuatkan oleh para nabi Israel selama ratusan tahun.

Tetapi sebagian orang Yahudi, yaitu para pemimpin agama, justru menjadi orang-orang picik yang hanya melihat hal-hal kecil dan berkait dengan untung rugi sendiri. Mereka begitu marah karena banyak orang mengikuti Paulus. Mereka marah bukan karena ajaran Paulus yang salah, karena mereka tidak dapat membantah apa yang Paulus ajarkan, tetapi mereka marah karena kepentingan mereka terganggu oleh Paulus. Kepentingan memiliki jemaat yang banyak di bawah mereka menjadi terganggu, maka mereka marah. Perhatikan apa yang dikatakan oleh ayat 5. Mereka marah dan mereka menyuruh orang-orang jahat dan para pemimpin gerombolan-gerombolan di kota Tesalonika untuk menakut-nakuti Paulus dan orang-orang yang telah menjadi Kristen di sana. Mereka mengumpulkan massa untuk membuat kekacauan dengan maksud menyeret Paulus dan Silas. Mereka ingin kedua orang ini diamuk orang banyak. Mereka datang ke rumah Yason, seorang Kristen Yahudi yang menampung Paulus dan Silas di rumahnya. Dengan marah mereka ingin menangkap Paulus dan Silas dengan tuduhan bahwa kedua orang ini mengacaukan seluruh dunia dan sekarang telah tiba di Tesalonika. Mereka bahkan memakai kalimat yang akan membuat para petinggi kota gentar, yaitu bahwa Paulus dan Silas memberitakan seorang raja lain selain Kaisar Romawi. Mereka takut karena berita-berita seperti ini akan membuat kaisar bertindak keras dan kota Tesalonika dapat berada dalam keadaan bahaya. Dengan berita ini para pemimpin kota menjadi sangat waspada dan berencana untuk menangkap Paulus dan Silas sebelum orang banyak yang mengikuti Paulus dan Silas membuat Roma merasa terancam dan menyerang mereka. Tetapi Tuhan beranugerah dengan memakai Yason untuk berbicara kepada para pemimpin kota agar para pemimpin kota tidak termakan tuduhan dari orang banyak itu. Memang benar bahwa Yesus adalah Raja di atas segala raja. Tetapi Paulus dan Silas tidak ingin berita tentang Kristus ditolak hanya karena berbau pemberontakan kepada pemerintah Roma. Itulah sebabnya Yason berani memberikan jaminan kepada para pemimpin kota bahwa berita yang diajarkan Paulus dan Silas tidak pernah bersifat menghasut orang untuk berontak.

Untuk direnungkan:
Begitu banyak orang-orang yang dipakai iblis untuk merusakkan pekerjaan Tuhan. Mulai dari para pengajar palsu, dan ajaran-ajaran bidat, terkadang juga muncul tantangan dari orang-orang yang menolak Allah, pemimpin-pemimpin dan penguasa politik, hingga pemimpin-pemimpin agama lain. Tetapi terkadang pekerjaan Tuhan justru dihambat oleh pemimpin-pemimpin umat Tuhan sendiri. Banyak orang-orang yang mengaku umat Kristus justru menentang pekerjaan Kristus. Iblis memakai ego dan keserakahan mereka untuk membuat pekerjaan Tuhan terhambat. Begitu banyak orang menghambat dan menentang pengabaran firman yang terjadi dengan alasan takut domba-dombanya diambil oleh orang lain. Orang-orang seperti ini lupa bahwa mereka tidak pernah memiliki domba-domba. Tuhanlah pemilik domba-domba-Nya dan Kristuslah Gembala mereka yang sejati. Hanya Kristus yang mati untuk membeli lunas domba-domba-Nya. Tetapi ego orang-orang seperti ini begitu besar sehingga mereka ketakutan kalau jemaat mereka berkurang. Mereka menghambat pekerjaan Tuhan karena terus berfokus kepada keuntungan sendiri. Kiranya Tuhan jauhkan kita semua dari pemikiran sempit dan berpusat ke diri seperti ini. (JP)