Renungan Harian 376 (Senin, 9 September 2019)

Paulus di Berea

Devotion from Kisah Rasul 17:10-15

Setelah harus meninggalkan Tesalonika, Paulus dan Silas pergi ke Berea. Mereka pun mulai berkhotbah di sinagoge dan membuat banyak orang bertobat kepada Kristus. Dikatakan bahwa baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, dan juga perempuan-perempuan terkemuka di kota itu percaya kepada berita Injil. Mereka menerima semua yang diajarkan oleh Paulus itu setelah sebelumnya mereka menyelidiki Kitab Suci. Inilah sikap yang sangat baik di dalam mendengarkan firman Tuhan. Orang-orang Berea menerima dengan penuh sukacita apa yang dikatakan Paulus. Mereka menghargai khotbah yang diberikan. Tetapi tidak sampai di situ. Mereka tidak mau asal terima apa yang dikhotbahkan oleh Paulus. Di rumah mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mencari tahu apakah benar yang telah dikhotbahkan oleh Paulus tersebut. Mereka mempunyai hati yang baik dan mau menerima firman dengan penuh kerendahan hati dan sikap kritis. Ini merupakan dua kombinasi yang harus ada di dalam jemaat Tuhan tetapi sangat jarang ditemui akhir-akhir ini. Ada orang yang begitu rendah hati dan mempunyai jiwa mau belajar, menjadi murid yang baik, dan mendengarkan serta menerima pengajaran-pengajaran yang ada dengan hati yang lembut. Tetapi sayangnya, orang-orang seperti ini sering jadi korban dari suara setan yang menyamar sebagai sang anak domba yang palsu (Why. 13:11). Iblis menyamar sebagai malaikat terang dan orang-orang seperti ini adalah sasaran empuknya. Tuhan Yesus telah memberikan peringatan mengenai bagaimana menjadi murid-Nya di tengah-tengah dunia yang keras, yaitu harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat. 10:16). Memang menjadi murid Kristus harus tulus dan penuh dengan kelembutan. Memang menjadi murid Kristus harus penuh dengan kesabaran dan kerendahan hati, serta kerelaan untuk berkorban dan mengalah. Tetapi menjadi murid Kristus juga harus cerdik seperti ular. Siapakah orang yang akan menjalani hidup yang bertanggung jawab? Mereka yang mengetahui bagaimana menjalani hidup dengan kecerdikan tinggi tetapi dengan ketulusan yang sebesar-besarnya. Siapakah pendengar-pendengar yang baik? Pendengar-pendengar yang baik adalah yang mempunyai kerelaan, kerendahan hati, dan kelembutan untuk mendengar firman dan diajar, tetapi mempunyai kecerdikan untuk mengetahui kerangka pemikiran yang kokoh, mengetahui doktrin yang benar, dan menyadari bahwa otoritas ultimat adalah firman Tuhan. Orang-orang Berea berbeda dengan orang-orang Yahudi di Tesalonika. Orang-orang Yahudi di Tesalonika melawan dan menghasut orang banyak untuk menyerang Paulus. Orang-orang Berea tidaklah demikian. Mereka dengan rendah hati dan penuh sukacita menerima ajaran Paulus sambil terus menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui apakah yang diajarkan Paulus itu benar atau tidak.

Karena khotbah yang dilakukannya di sinagoge ini, Paulus menggerakkan banyak orang di Berea untuk percaya kepada Kristus. Dicatat bahwa banyak orang Yahudi, Yunani, dan perempuan-perempuan penting menjadi percaya. Ini adalah kombinasi yang sering dicatat oleh Lukas di dalam Kisah Rasul. Orang-orang Yahudi, juga orang Yunani, dan perempuan-perempuan asing yang memiliki kedudukan penting menggambarkan keseluruhan kelompok orang yang telah dimenangkan bagi Injil Kristus. Orang Yahudi menggambarkan bahwa Tuhan tetap memanggil keturunan Yakub untuk menjadi milik Kristus, sesuai dengan janji Tuhan kepada mereka bahwa tetap akan ada anak-anak Yakub yang kembali, walaupun hanya sebagian kecil (Yes. 10:21). Orang Yunani menjadi wakil dari bangsa-bangsa lain di seluruh bumi ini, yang walaupun tidak pernah termasuk ke dalam bangsa perjanjian, tetapi akan Tuhan panggil menjadi milik-Nya, dimulai dengan pemanggilan orang-orang Yunani. Perempuan-perempuan terkemuka mewakili kelompok yang rendah dalam pandangan Israel. Mengapa rendah? Karena perempuan asing yang memiliki kedudukan penting secara politik adalah lambang kedurhakaan dan kekejaman. Ingat Izebel (1Raj. 21:25, 2Raj. 9:7)? Juga tradisi Yahudi yang melambangkan perempuan asing yang berkuasa sebagai lambang kejahatan yang besar (Why. 17:4) membuat pertobatan perempuan-perempuan berkedudukan ini menjadi pernyataan dari kitab ini bahwa Tuhan bisa memanggil orang yang paling dianggap hina dan orang yang paling dianggap jahat sekalipun. Tuhan bisa mengubah hidup mereka semua dan menjadikan hidup mereka hidup yang memancarkan kasih dan kesucian Kristus di dalam dunia ini.

Tetapi di ayat 13 dikatakan bahwa pengacau-pengacau dari Tesalonika pun tiba dan menghasut banyak orang untuk mengusir Paulus dan Silas. Mereka begitu giat menghalangi orang datang kepada Tuhan, dan melalui kegigihan mereka banyak orang digoyahkan imannya dan dijauhkan dari Kristus. Di tengah-tengah kekacauan inilah Paulus harus pergi terlebih dahulu meninggalkan Berea. Lihat bagaimana pekerjaan Tuhan yang begitu baik dirusak oleh iri, dengki, tradisi kosong yang tidak berarti, kebanggaan diri, dan keserakahan. Bukankah banyak pemimpin Yahudi yang membenci Paulus berusaha menghancurkan pelayanannya karena iri? Bukankah banyak pemimpin Yahudi mau membunuh Paulus demi tradisi mereka yang sifatnya tidak kekal dan mutlak? Bukankah banyak pemimpin Yahudi berusaha menghancurkan gereja Tuhan karena kebanggaan diri sebagai bangsa pilihan Allah? Tetapi berita Injil menghancurkan ini semua. Berita Injil membuat kita sadar bahwa Tuhan Yesuslah yang utama, dan kita hanyalah hamba-hamba-Nya. Tidak ada iri hati di dalam perasaan seorang hamba yang rendah. Injil juga merombak tradisi. Dari tradisi mana pun engkau berasal, berita Injil akan menghancurkan, merombak, dan memurnikan tradisi apa pun yang dikembangkan oleh manusia. Siapa yang tidak siap tradisinya dirombak habis-habisan oleh berita Injil akan menolak berita ini hingga dia binasa di luar Injil. Demikian juga berita Injil menyatakan kasih dan pengampunan Allah kepada barang siapa mau datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan hati yang hancur. Injil akan menyelamatkan siapa pun yang mengakui dosa dan sujud kepada Kristus sebagai Juru Selamatnya. Injil tidak melihat dari tradisi mana kita berasal. Injil juga tidak melihat berapa agung dan besarnya tradisi dari mana kita berasal. Injil menyatakan bahwa Kristus adalah satu-satunya Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu di dalam hidup manusia.

Untuk direnungkan:
Tuhan memanggil kita untuk memiliki hati yang mau dirombak oleh berita Injil berdasarkan firman Tuhan. Tuhan juga menguji bagaimanakah reaksi kita terhadap berita Injil. Jika kita menerimanya dengan penuh sukacita sambil terus menyelidiki Kitab Suci untuk semakin memiliki pengertian yang lengkap tentang siapakah Kristus, maka kita akan bertumbuh dengan semakin kokoh dan limpah. Tetapi ada juga orang-orang yang bukan saja menolak berita Injil, tetapi juga ingin mengacaukan segala hal yang Tuhan sudah kerjakan melalui berita Injil. Gereja Tuhan tidak akan pernah terhindar dari kedua jenis orang ini. Hanya ketika Kristus datang kedua kalinya nanti, barulah kita melihat kemenangan total dari gereja Tuhan. Untuk itu, sambil menantikan kedatangan kedua Kristus, biarlah kita berawas-awas dengan mengingat hal ini. Biarlah kita mengawasi diri sendiri. Ada di manakah kita? Apakah kita masih menjadi orang Kristen yang mengutamakan diri? Mudah merasa iri hati jika Tuhan memakai orang lain lebih besar daripada kita? Apakah kita masih ingin diutamakan dan dianggap istimewa? Tidak ada apa pun dari pengetahuan, kebaikan, dan kekayaan kita yang layak untuk dibanggakan. Kristuslah yang memiliki segala hormat, kekayaan, kuasa, kemuliaan (Why. 5:12), tetapi Dia yang layak menerima semuanya itu justru menjadi teladan di dalam memperoleh semuanya itu dengan merendahkan diri, tidak mencari semua itu, dan taat kepada Bapa menjadi korban demi keselamatan orang lain. Di manakah tempat iri hati dan kemegahan diri? Tidak ada. Biarlah kita pakukan semua perasaan iri hati, dengki, keserakahan, kesombongan, dan semua itu di atas kayu salib, dan hidup dengan hati yang penuh kesukaan mendengar firman Tuhan dan hati yang terus diisi oleh keagungan firman-Nya tiap-tiap hari. Semoga hati kita terus dipenuhi dengan segala kesenangan di dalam mengenal Kristus. (JP)