Renungan Harian 377 (Selasa, 10 September 2019)

Paulus di Atena

Devotion from Kisah Rasul 17:16-21

Setelah harus meninggalkan Berea dikarenakan huru-hara para pengacau dari Tesalonika, maka Paulus tiba di Atena lebih dulu daripada yang lain (ay. 14). Sangat mungkin ini terjadi karena Pauluslah yang paling ingin dikejar dan dibunuh oleh orang-orang Tesalonika yang mengacau di Berea itu. Maka Paulus lebih dulu pergi meninggalkan Berea dan menantikan yang lain di Atena. Di Atena inilah Paulus melihat dengan hati yang sedih bagaimana kota yang pernah menjadi pusat kebudayaan tertinggi itu penuh dengan berhala. Tuhan yang menciptakan manusia dan memampukan manusia untuk mengembangkan peradaban dengan demikian hebat, tetapi Tuhan terus diabaikan. Manusia memilih untuk menyembah ilah-ilah palsu dan membelakangi Allah yang telah memberikan dengan limpah kemampuan kepada manusia untuk berkembang sedemikian hebat. Inilah yang menyebabkan hati Paulus demikian sedih.

Kepekaan hati Paulus begitu besar. Dia merasakan apa yang Tuhannya rasakan. Dia tidak rela dan tidak bisa menerima fakta bahwa Allah yang memberikan semua anugerah dikhianati oleh manusia yang berpaling kepada berhala-berhala palsu. Itulah yang mendorong Paulus untuk tidak henti-hentinya berbicara, berdiskusi, bahkan berdebat dengan orang-orang yang ditemuinya di agora (diterjemahkan “pasar” oleh LAI, ay. 17). Agora adalah tempat pertemuan warga sebuah kota di dunia Yunani dan Romawi pada waktu itu. Agora menjadi pusat studi, tempat berdiskusi, bertemu, berbicara, dan di sekeliling tempat tersebut biasanya juga ada gedung pengadilan dan tempat orang berjualan. Agora menjadi tempat yang Paulus datangi sebagai ganti sinagoge. Di agora orang bisa bertemu dengan orang-orang lain yang belum dia kenal, lalu mulai bertukar pikiran dan berdiskusi di sana. Inilah yang Paulus lakukan. Di tempat pertemuan kota inilah dia dengan bebas bisa mendiskusikan Injil dengan orang-orang yang ada di sana.

Di tempat itu juga Paulus bertemu dengan pemikir-pemikir Yunani dari kelompok yang paling populer pada zaman itu, yaitu golongan Epikuros dan Stoa. Kelompok Epikuros (pengikut seorang pemikir Yunani bernama Epikuros) percaya bahwa hikmat hidup yang paling bernilai adalah kemampuan untuk hidup penuh dengan kenikmatan. Tetapi, menurut Epikuros, mampu hidup nikmat itu hanya bisa dialami jika kita terbiasa menahan diri dan hidup dengan sederhana. Semakin sederhana kita terbiasa hidup, kenikmatan yang paling kecil pun akan mampu kita rasakan. Tetapi sebaliknya, semakin mewah dan penuh kenikmatan kita hidup, makin sulit kita dapat merasakan kenikmatan karena apa yang sebenarnya merupakan kenikmatan telah biasa kita peroleh dan menjadi sesuatu yang tidak lagi nikmat. Sedangkan kelompok Stoa (Stoisisme) adalah aliran yang sangat besar dan didirikan oleh pengaruh dari dua orang dari zaman yang berbeda, yaitu Zeno dan Seneca. Tokoh-tokoh Stoik lain akan muncul, tetapi pada waktu peristiwa Paulus di Atena, mereka belum ada. Stoisisme biasa menyebarkan ajaran mereka di agora dengan cara berdiskusi, mirip dengan apa yang Paulus lakukan saat itu. Stoisisme mengajarkan penguasaan diri, mengalahkan emosi, dan tunduk pada akal sehat, dan kebajikan-kebajikan yang bersifat kepahlawanan. Dua aliran ini menjadi sangat populer untuk mendorong orang hidup dengan lebih baik. Tetapi berita Paulus tidak seperti mereka. Jika mereka mengajar berdasarkan ajaran manusia, Paulus mengajar mengatasnamakan Allah. Itulah sebabnya mereka mengatakan bahwa Paulus adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing (ay. 18). Paulus juga tidak membicarakan bagaimana memiliki hidup yang lebih baik berdasarkan standar sendiri, tetapi berdasarkan standar hukum Allah yang akan menghakimi dunia ini. Juga tidak seperti pengajar lain di Atena, Paulus memberitakan Injil Kristus yang diperlukan oleh semua orang berdosa, termasuk orang-orang Atena. Kristus yang mati dan bangkit menjadi inti pengajaran Paulus. Dia tidak tertarik untuk menunjukkan bagaimana dia pun dapat membahas filsafat hidup dengan dalam seperti aliran Epikuros dan Stoisisme. Dia tidak mau dikagumi dan dianggap orang bijak. Dia hanya ingin Kristus dikenal oleh orang-orang Atena sehingga mereka memperoleh keselamatan.

Tetapi justru cara Paulus ini membuat orang-orang Atena ingin mendengarkan dia. Mereka meminta Paulus berpidato di Mars Hill, atau Areopagus (bukit Ares, dewa perang Atena yang di dalam versi Romawi bernama Mars). Tempat ini, menurut mitos orang Yunani, adalah tempat Ares diadili karena membunuh dewa yang lain. Tetapi pada waktu Paulus datang ke Atena, tempat ini sudah lumrah menjadi tempat orang-orang yang dianggap penting berpidato. Orang-orang Atena akan meminta orang-orang dengan ajaran yang ingin mereka dengar dan mereka rasa sangat berharga untuk berpidato di Areopagus ini. Paulus diminta berpidato di Areopagus bukan karena Paulus berusaha mengajar apa yang populer pada waktu itu, yaitu ajaran yang mirip dengan ajaran Epikuros dan Stoisisme. Justru Paulus diminta berbicara di Areopagus karena ajarannya sangat berbeda dengan Epikureanisme dan Stoisisme. Banyak theolog Kristen menjadi minder jika dia tidak membahas tema-tema filsafat yang mutakhir pada zamannya. Mereka menjadi bodoh justru karena mereka ingin dianggap berhikmat. Tetapi Paulus tidak mau dianggap berhikmat. Dia lebih senang dianggap bodoh asalkan Injil Kristus disampaikan dengan tuntas, sebagai bentuk tanggung jawabnya kepada Allah dan kasihnya kepada manusia. Tetapi ayat 19 dan 20 memberi tahu kita bahwa Paulus diminta berbicara di Areopagus justru karena ajarannya benar-benar beda dan belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Untuk direnungkan:
Inilah dorongan hati Paulus untuk bangsa-bangsa lain. Sesuatu yang banyak orang Yahudi tidak pernah sadari, pahami, dan miliki. Orang-orang Yahudi sempit hanya tahu budaya mereka sendiri dan dengan picik merasa bahwa Tuhan hanya akan berkenan kepada bangsa mereka saja. Tuhan pasti akan membuang bangsa-bangsa lain, dan bangsa-bangsa lain adalah kafir yang pantas dilaknat saja. Kesempitan hati seperti ini dapat ditemukan di dalam banyak orang pada saat ini juga. Orang-orang yang menganggap orang-orang agama lain sebagai kafir yang harus disiksa, ditindas, tidak boleh hidup, dan lebih berguna kalau dimatikan, mempunyai mental picik dan menjijikkan. Jiwa seperti ini adalah jiwa angkuh yang akan Tuhan binasakan. Sebaliknya ada juga orang-orang yang dengan polos dan bodoh menganggap semua agama sama saja. Ini adalah orang-orang yang pengertiannya sama kosongnya dengan mulut mereka. Tanpa mau belajar mereka mengambil kesimpulan semua agama sama. Tanpa mau melihat dari sudut pandang masing-masing agama, mereka menyerukan kesamaan sebagai kesimpulan tanpa argumen, bukti, dan pergumulan berpikir. Paulus tidak demikian. Dia telah mengetahui bangsa-bangsa lain itu adalah bangsa kafir. Mereka hidup dengan cara yang najis dan menjijikkan. Mereka menjalani hidup dengan senantiasa membangkitkan murka Allah. Tetapi Paulus tidak membunuh dan menyingkirkan mereka. Saulus sebelum bertobat melakukan itu, tetapi Saulus/Paulus setelah menjadi rasul Kristus tidak lagi melakukan itu. Dia melihat orang Atena dan hatinya sedih. Kesedihan yang muncul dari kasih yang sejati, dan kepekaan rohani yang benar. Kasih yang sejati mendorongnya untuk mengasihi orang-orang Atena, dan kepekaan rohani yang benar membuat dia mengetahui betapa rusak dan berdosanya orang-orang Atena itu telah hidup.

Inilah yang seharusnya kita miliki. Kita harus tahu kebobrokan dan kerusakan besar yang dilakukan manusia dengan mengabaikan Allah dan menyembah ilah-ilah palsu. Tetapi kita harus tahu bahwa kebobrokan mereka itu membuat Allah berbelaskasihan kepada mereka. Allah ingin kita menjadi alat yang dipakai-Nya untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa yang masih bobrok itu. Berita Injil yang disampaikan dengan hikmat, teguran keras, dan belas kasihan yang sejati. Kiranya kita semua terus belajar memiliki hati seperti ini. (JP)