Renungan Harian 378 (Rabu, 11 September 2019)

Khotbah di Areopagus #1

Devotion from Kisah Rasul 17:22-25

Setelah mendengar diskusi dan pembicaraan Paulus di agora, orang-orang Atena sangat ingin mendengar dengan lengkap apa yang Paulus mau ajarkan. Mereka sangat senang kalau mempunyai hal baru yang bisa didiskusikan (ay. 21). Orang-orang Atena sangat senang berdiskusi sehingga kekuatan politik mereka dihancurkan oleh Makedonia dan pengaruh budaya mereka direbut dan disebarkan oleh Romawi. Di sini kita dapat melihat bahwa orang-orang yang senang berdiskusi, belajar, mendalami banyak hal akan mudah merasa bosan kalau harus membahas hal yang sama lagi. Mengapa mereka bosan? Karena yang mereka ketahui hanya berdiskusi dan mendalami tema-tema pemikiran, tanpa mempunyai kekuatan untuk menjadikan tema-tema itu bagian dari budaya hidup banyak orang. Mereka hanya mengetahui pemikiran, tetapi tidak tahu bagaimana menghidupi pemikiran itu, apalagi menyebarkan kepada banyak orang. Tetapi apakah ini berarti diskusi seperti ini tidak penting? Sangat penting. Sebab, walaupun secara politik dan pengaruh Yunani dikalahkan oleh Makedonia dan Romawi, tetapi kerangka kebudayaan mereka yang sangat kokoh justru mengubah Makedonia dan Romawi, dan melalui kedua kerajaan besar inilah budaya Yunani menjadi kokoh dan lestari. Tetapi hanya berdiskusi tanpa dorongan yang giat untuk memengaruhi dan menjangkau akan membuat pengaruh suatu ajaran hanya berhenti di level diskusi saja. Paulus bukan tukang diskusi. Tetapi dia juga tidak mengabaikan diskusi. Dan setelah orang-orang Yunani mendengar ajarannya yang baru bagi mereka, mereka meminta Paulus berbicara di Areopagus, atau Mars hill.

Maka sekarang kita tiba pada salah satu khotbah yang lestari sepanjang zaman. Selain khotbah Petrus, Kisah Rasul mencatat khotbah yang begitu genius di dalam apologetika dan penginjilan, yaitu khotbah Paulus di Areopagus. Khotbah ini begitu padat di dalam kandungan theologi sehingga kita akan membahasnya di dalam tiga hari berturut-turut. Biarlah kita membacanya dengan teliti, merenungkan, dan menyadari fakta bahwa salah satu alasan utama Allah ingin Injil-Nya disebarkan ke seluruh bangsa adalah karena memang Dialah satu-satunya yang berhak memiliki seluruh bangsa dan berhak disembah dan ditinggikan oleh seluruh bangsa. Khotbah Paulus ini menjelaskan hal tersebut dengan sangat limpah. Hal pertama yang dijelaskan Paulus adalah bahwa orang Atena memiliki keunggulan dengan adanya begitu banyak patung dewa-dewa. Tetapi ada satu mezbah yang bertuliskan kepada Allah yang tidak dikenal (ay. 23). Di dalam tulisan Pausanias, seorang penulis Yunani abad ke-2, dan juga di dalam tulisan Philostratus, seorang sofis dan penulis Yunani awal abad ke-3, ditemukan tulisan bahwa praktik seperti ini adalah praktik yang umum dari dunia Yunani. Mereka membuat altar kepada dewa yang tidak dikenal supaya jika dewa itu melihat kota mereka, dewa tersebut tahu bahwa dia dihargai oleh orang-orang di kota tersebut dan dia bersedia memberikan berkatnya pada kota tersebut. Inilah yang Paulus pakai dengan pengertian yang secara radikal berbeda. Paulus mengatakan bahwa Allah yang dia beritakan secara tidak sadar telah diketahui oleh orang-orang Atena. Tetapi, meskipun secara tidak sadar mereka mengakui ada Allah yang tidak mereka kenal, mereka telah salah di dalam cara menyembah Dia. Inilah yang Paulus nyatakan dengan sangat luar biasa. Paulus di dalam khotbahnya ini mengatakan bahwa orang Atena mengenal sekaligus tidak mengenal Allah. Mengenal karena, di tengah-tengah kepercayaan kepada begitu banyak ilah-ilah mereka, orang-orang Atena tetap merasa kurang dan tetap menganggap bahwa ada Allah yang tidak sama dengan ilah-ilah mereka. Allah yang mereka belum dengar dan belum ketahui. Bagaimana mungkin Allah ini bisa dikenal sekaligus tidak dikenal? Karena orang berdosa telah menolak Dia dan mengabaikan Dia, tetapi tidak bisa menghindari fakta bahwa mereka hidup di bawah anugerah-Nya dan topangan tangan-Nya. Kemana pun kita memandang, di situ kita melihat ciptaan Allah. Apa pun yang kita peroleh untuk makanan, minuman, dan segala hal yang menunjang hidup kita, semua kita peroleh dari Allah yang menciptakan segala sesuatu. Jadi sekeras apa pun orang-orang Atena mau menolak mengenal Allah, mereka tetap tidak bisa menghindarkan diri dari fakta bahwa Allah ada di sekeliling mereka dan menopang, mengatur, serta melestarikan hidup mereka.

Inilah yang menjadi tekanan Paulus di awal khotbahnya. Dia menjelaskan bahwa alasan mengapa orang Atena perlu satu mezbah kepada ilah yang tidak mereka kenal adalah karena di tengah-tengah seluruh ilah-ilah yang mereka sembah, orang-orang Atena tetap merasa ada yang kurang. Mereka tahu bahwa seluruh hidup mereka dikuasai bukan oleh berhala-berhala mereka, tetapi oleh yang lain, yang tidak mereka kenal. Sebab seandainya dewa-dewa itulah penopang dan penguasa seluruh alam dan hidup mereka, jiwa mereka tidak akan mendorong mereka untuk mencari yang lain lagi. Dan karena semua berhala lain dirasa tidak cukup, maka Paulus mengajarkan bahwa Allah yang tidak mereka ketahui ini berbeda total dengan berhala-berhala mereka. Paulus mengajarkan bahwa Allah ini tidak dibentuk oleh tangan manusia, seperti dewa-dewa dan patung-patung sembahan mereka. Paulus juga mengajarkan bahwa Allah ini adalah pencipta segala sesuatu, bukan secara pasif tinggal di tempat yang telah ada terlebih dahulu seperti dewa-dewa mereka. Dewa-dewa Yunani ada di dalam “keberadaan”, sedangkan Allah yang diberitakan Paulus adalah pencipta “keberadaan” dan di luar Dia tidak ada apa pun yang ada kecuali Dia menciptakannya (Kej. 1:1, Yoh. 1:3). Dengan demikian Allah tidak mungkin memerlukan pelayanan dari manusia seperti Dia kekurangan sesuatu. Tuhanlah yang mencukupkan hidup manusia, bukan manusia yang mencukupkan hidup Tuhan. Allah memelihara manusia, bukan manusia yang memelihara Allah. Tetapi praktik memberikan makanan kepada dewa-dewa merupakan praktik umum di setiap bangsa di muka bumi ini. Alangkah bodohnya praktik-praktik seperti ini. Paulus mengajarkan bahwa Allah yang dia sembah adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan dengan demikian Allah menguasai segala sesuatu dengan mutlak. Dia tidak harus berbagi dengan yang lain. Dia tidak memiliki batasan di dalam kuasa-Nya. Tidak ada tempat di mana pun di bumi ini yang tidak dimiliki dan dikuasai oleh-Nya. Ini berbeda dengan mitos dari dewa-dewa Yunani. Masing-masing dewa memiliki daerah kekuasaannya sendiri yang diambil atau direbutnya dari dewa lain atau dari para titan (penguasa bumi ini sebelum para dewa). Bahkan Areopagus pun adalah tempat dewa Ares diadili. Dewa diadili? Ini lumrah dalam konsep kafir. Tetapi Paulus memberitakan tentang Allah yang adalah Hakim seluruh alam semesta ini. Dia tidak mungkin diadili karena Dialah yang mutlak menyatakan aturan hukum dan mengadili segala sesuatu.

Untuk direnungkan:
Orang-orang lain yang tidak mengenal Tuhan telah begitu lama hidup mengabaikan Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa nafas hidup dan pemeliharaan bagi mereka, semuanya datang dari Allah. Tetapi terkadang orang-orang yang telah menjadi Kristen juga lupa akan hal ini. Kita sering kali lupa bahwa Allah adalah yang menciptakan langit dan bumi. Dialah yang menyebabkan segala sesuatu ada. Dia jugalah yang menopang sehingga segala sesuatu terpelihara dengan teratur dan baik. Dia jugalah yang menopang hidup kita dan memberikan nafas kepada kita sehingga kita hidup. Jika demikian, mengapa kita sering kali menggantikan kesetiaan kepada Dia dengan hal-hal yang lain? Mengapakah kita begitu sering melupakan ini? Seolah kita semua telah terlatih untuk hidup dengan mengabaikan Allah. Kalaupun agama dan menyembah Allah adalah sesuatu yang tidak bisa dihilangkan dari jiwa kita, kita tetap lebih suka menyembah ilah palsu daripada datang kepada Allah yang sejati. Ilah palsu kita mungkin bukan Ares, Zeus, dan pantheon/dewa-dewa Yunani. Tetapi kita sering melupakan bahwa nafas hidup, pemeliharaan, dan segala sesuatu yang kita terima adalah dari Allah. Biarlah kita mengingat hal ini sehingga kita tidak sujud kepada ilah palsu. Bukan yang terdapat di dunia ini yang menopang kita, tetapi Allah, Dialah yang menopang hidup kita. (JP)