Renungan Harian 379 (Kamis, 12 September 2019)

Khotbah di Areopagus #2

Devotion from Kisah Rasul 17:26-29

Pada bacaan hari ini, Paulus menekankan bahwa bukan saja Allah memelihara hidup manusia, tetapi Allah juga ingin manusia menemukan dan mengenal Dia. Manusia memang memerlukan makanan, nafas, dan topangan Allah untuk dapat bertahan hidup. Tetapi hal yang lebih penting lagi adalah manusia perlu mengenal Allah supaya memiliki hidup yang bermakna. Setelah membahas tentang Allah yang berkuasa atas segala ciptaan, Paulus mengajarkan bahwa Allah menciptakan manusia dari satu orang saja. Allah tidak menciptakan manusia dari banyak orang yang sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Allah menciptakan manusia itu dari satu orang saja. Dari satu orang inilah manusia tersebar ke seluruh dunia, memiliki batas-batas bangsa mereka sendiri, dan menikmati musim-musim yang teratur sesuai dengan daerah yang Tuhan berikan kepada mereka. Karena telah tersebar inilah, dan karena setiap bangsa-bangsa memiliki budaya mereka sendiri, setiap bangsa-bangsa malah melarikan diri dari Allah, memalingkan wajah dari Allah dan mendirikan berhala mereka masing-masing. Paulus di sini sedang memberikan penjelasan bahwa bangsa-bangsa memang memiliki daerahnya sendiri. Bangsa-bangsa juga memiliki musim mereka sendiri. Tetapi bangsa-bangsa TIDAK BOLEH memiliki dewa-dewanya masing-masing! Sebab yang menciptakan manusia dari satu orang saja adalah Allah, yang membuat mereka tersebar adalah Allah, yang menentukan batas-batas masing-masing bangsa adalah Allah, dan yang memberikan musim-musim bagi bangsa-bangsa yang ada juga adalah Allah.

Itu sebabnya sebenarnya Allah terus memanggil bangsa-bangsa untuk kembali kepada Dia. Allah berhak memanggil mereka semua karena Allah adalah pemilik sejati seluruh bangsa. Tidak ada bangsa yang dimiliki oleh berhala mereka. Konsep kafir mengatakan setiap bangsa memiliki berhala mereka masing-masing, tetapi Paulus mengatakan setiap bangsa dimiliki Allah. Berhala adalah milik dari bangsa-bangsa, tetapi bangsa-bangsa adalah milik dari Allah. Tetapi bukan hanya itu, ayat 28 mengatakan bahwa kita ada di dalam Dia. Dia yang lebih besar daripada kita, sehingga kitalah yang perlu untuk datang kepada Dia. Allah memanggil semua bangsa untuk kembali, termasuk bangsa Yunani. Allah memanggil semua bangsa yang telah tersesat untuk kembali kepada Dia karena segala bangsa di dunia memerlukan Dia. Allah tidak memanggil bangsa-bangsa lain karena Dia berkekurangan. Paulus telah menjelaskan di dalam ayat 25 bahwa Allah tidak memerlukan manusia, bahkan Allahlah yang terus menjadi sumber pemeliharaan manusia yang menopang hidup manusia. Jadi, jika Allah tidak memerlukan manusia, mengapa Dia memanggil kembali seluruh bangsa-bangsa untuk kembali kepada Dia? Karena Dia berhak. Ini hal yang pertama dan bisa kita lihat di dalam ayat 26. Dialah yang menjadikan manusia dan milik Dialah seluruh bangsa-bangsa di bumi. Tetapi hal yang kedua adalah karena kita memerlukan Dia. Tuhan memanggil kita karena kita perlu Dia. Tanpa Dia, kita tidak akan bertahan hidup, dan tanpa mengenal Dia, kita akan tersesat di dalam segala anugerah yang Dia limpahkan kepada kita. Inilah yang dibahas di dalam ayat 28.

Ayat 28 menggambarkan ajaran yang sengaja Paulus paralelkan dengan ajaran pemikir Yunani kuno bernama Epimenides, yang menuliskan puisi yang ditujukan sebagai penghormatan bagi Zeus, yaitu bahwa Zeus hidup di sekeliling kita dan kita tidak bisa mengabaikan bahwa cara kita hidup dan bahkan seluruh keberadaan kita adalah karena berkat dari Zeus. Setelah itu bahkan Paulus mengutip seorang pemikir Yunani abad ke-3 SM bernama Aratus. Kutipan yang sangat menarik karena Aratus mempelajari astronomi dan mengaitkan segala sesuatu di dalam alam semesta kepada Zeus. Dia juga mengatakan bahwa manusia adalah anak-anak Zeus. Perkataan yang sangat unik inilah yang dipakai Paulus. Aratus merupakan filsuf yang sangat populer di kalangan orang-orang awam, sedangkan Epimenides adalah sastrawan yang populer di kalangan pemikir dan rohaniwan Yunani. Cara Paulus menghadirkan paralel ajarannya ini adalah cara yang sangat bijaksana. Dia mengaitkan kemiripan dari ajarannya dengan ajaran orang-orang Yunani sambil memberikan klaim bahwa yang dia ajarkan merupakan berita kebenaran yang mencakup semua pemikir yang telah dikutipnya. Paulus hendak menyatakan bahwa orang-orang Yunani hanya memperoleh pemikiran yang parsial dari pengajar-pengajar mereka. Tetapi, walaupun parsial, pengajar-pengajar Yunani itu telah membukakan cakrawala pemikiran orang-orang Yunani bahwa Allah tidak sama dengan patung yang harus dilayani. Allah adalah yang menopang hidup manusia. Dan walaupun ajaran para pemikir Yunani yang diambil Paulus itu berbicara tentang Zeus, Paulus menegaskan bahwa yang dia beritakan bukan Zeus, tetapi Allah yang tidak dikenal oleh orang Atena. Paulus dengan berani mengoreksi perkataan para pemikir tersebut dengan mengabarkan Allah Israel, bukan Zeus Yunani, dan dengan demikian Paulus juga mengatakan bahwa apa yang para penulis kuno itu tafsirkan sebagai Zeus, sekarang dikoreksi oleh Paulus dengan mengatakan bahwa di dalam Allahlah kita semua hidup, bergerak, dan ada.

Khotbah Paulus pada bagian ini merupakan khotbah yang begitu kuat dan sangat besar pengaruhnya bagi orang-orang yang mendengarnya. Seluruh cara berpikir orang Atena diruntuhkan oleh Paulus. Begitu banyak pemahaman yang secara radikal berbeda sedang ditawarkan di dalam khotbah singkat ini. Hanya orang bodoh dan degil hatinya yang gagal menangkap ajaran mengagumkan dan revolusioner di dalam pikiran Paulus ini. Orang Atena sedang didesak untuk mempertimbangkan berita yang sangat mengguncangkan ini. Penyembahan berhala mereka dikoreksi oleh Paulus. Konsep ilah mereka yang melihat kepada Zeus pun dikoreksi oleh Paulus. Baik pengertian bahwa kita berada di dalam Allah (yang dipahami oleh orang Yunani sebagai berada di dalam berkat-berkat Zeus, sebagaimana ajaran Epimenides), maupun bahwa kita adalah keturunan Allah (yang dipahami oleh orang Yunani sebagai keturunan Zeus, sebagaimana ajaran Aratus), sebenarnya akan meruntuhkan tradisi penyembahan orang Yunani. Sebab mereka masih membangun kuil berhala, termasuk untuk Zeus, dan terikat kepada kewajiban harus menyediakan makanan bagi Zeus. Mereka memiliki kisah yang sangat terkenal mengenai Prometheus yang menolong manusia untuk tidak perlu lagi memberi makanan yang mewah dan mahal bagi Zeus. Cukup yang murah dan bahkan mengandung tulang-tulang sapi yang tidak dapat dimakan. Ini membuat Zeus sangat marah dan menghukum manusia, hingga akhirnya Prometheus pun dihukum oleh Zeus. Jadi jika orang Yunani mau menerima ajaran tentang Zeus, yang manakah yang harus dipercaya? Zeus yang memberi berkat kepada manusia? Atau Zeus yang menghukum manusia karena gagal memberi makan dia? Zeus yang adalah bapa semua umat manusia? Atau Zeus yang kuil dan patungnya dibuat oleh tangan manusia? Zeus yang manakah yang benar? Paulus sedang mengarahkan orang-orang Atena untuk mulai berpikir bahwa mungkin kedua versi Zeus itu salah! Jangan-jangan pemberi berkat yang di dalamnya kita hidup itu bukan Zeus, jangan-jangan kita ini keturunan dari yang lain, dan bukan Zeus! Inilah yang sedang Paulus arahkan. Kita menerima berkat bukan dari Zeus, tetapi dari Allah. Kita adalah keturunan Allah yang sedang Paulus beritakan. Itulah sebabnya Paulus menekankan di awal bahwa yang dia beritakan bukan Zeus, tetapi Allah yang tidak dikenal oleh orang Yunani. Allah yang tidak dikenal ini terus menjangkau dan memanggil manusia, termasuk orang-orang Atena, untuk kembali kepada Dia. Dia yang selama ini memberi berkat yang limpah, dan yang selama ini memberikan dignitas hidup kepada manusia sebagai anak-anak-Nya.

Untuk direnungkan:
Allah bukan saja memberikan topangan bagi hidup manusia. Allah juga terus menerus memberikan berbagai berkat dan kesenangan supaya manusia mencari yang lebih besar lagi, yaitu sumber berkat dan kesenangan itu sendiri. Sadarkah kita akan hal ini? Allah memberi topangan kepada hidup kita supaya kita mencari hal yang lebih besar. Apakah yang lebih besar itu? Diri Allah sendiri. Betapa menakjubkannya berita ini. Allah terus menerus memberikan kebaikan supaya kita mencari dan menemukan kebaikan yang jauh lebih besar lagi, yaitu diri Allah. Carilah Allah! Kita telah diberkati dengan hidup, makanan yang cukup, dan segala hal yang bisa dinikmati, semua itu adalah cara Allah memanggil kita. Mengapa berpuas dengan berkat-berkat itu padahal Allah menawarkan diri-Nya untuk menjadi berkat terbesar bagi hidup kita. Biarlah segala hal yang kita peroleh dari Allah memberikan kita dorongan dan kekuatan untuk mencari Dia dan menemukan Dia. Tidak ada kesenangan yang lebih besar daripada mengenal Dia, Sang Sumber kesenangan tersebut. Dan tidak ada kemalangan yang lebih besar daripada menerima segala kesenangan hidup tetapi menolak Sang Sumber pemberi kesenangan tersebut. Yang manakah kita? (JP)