Renungan Harian 380 (Jumat, 13 September 2019)

Khotbah di Areopagus #3

Devotion from Kisah Rasul 17:30-34

Paulus melanjutkan khotbahnya dengan menyatakan dengan berani bahwa orang-orang Atena sedang hidup di dalam kebodohan. Ini merupakan perkataan yang sangat berani mengingat Atena adalah pusat intelektual yang begitu berpengaruh sejak abad ke-6 SM. Tetapi apa yang dikatakan Paulus sangat tepat. Sepandai apa pun manusia dan semaju apa pun budayanya, penolakan kepada Allah akan membawa kepada kebodohan penyembahan berhala. Bagaimana mungkin seseorang takluk kepada apa yang dia sendiri ciptakan? Inilah kebodohan terbesar dari orang-orang Atena. Di tengah-tengah kemajuan berpikir mereka, mereka tetaplah hanya sekumpulan orang-orang yang bertindak bodoh dengan menyembah berhala. Demikian hingga sekarang, sepintar apa pun manusia, dia tetaplah orang bodoh yang mengabaikan Sang Pencipta. Orang-orang yang menerima pemeliharaan-Nya dan mengasumsikan keteraturan-Nya di dalam pikiran mereka tanpa sadar, tetapi menolak Allah yang menjadi sumber itu semua, orang-orang inilah yang disebut hidup di dalam kebodohan oleh Paulus.

Awalnya Allah membiarkan seluruh bangsa-bangsa mengambil jalan mereka masing-masing. Allah membiarkan mereka mempunyai berhala-berhala mereka masing-masing. Allah bahkan membiarkan bangsa-bangsa menerima berkat-Nya, pemeliharaan-Nya, dan segala kemurahan-Nya tanpa sekali pun mengucapkan syukur kepada Dia. Tetapi Allah sekarang tidak lagi membiarkan bangsa-bangsa mengambil jalan mereka masing-masing. Allah memanggil mereka kembali melalui para hamba-Nya yang mengabarkan Injil Kristus kepada mereka. Hamba-hamba-Nya seperti Paulus inilah bukti dari Allah yang tidak lagi membiarkan, tetapi yang sekarang memanggil bangsa-bangsa kembali kepada-Nya. Jika dahulu Allah hanya memanggil Israel, satu dari sekian banyak bangsa di dunia, dan mengabaikan semua bangsa-bangsa lain, maka sekarang masa anugerah Allah bagi bangsa-bangsa lain seperti Allah beranugerah bagi Israel telah tiba. Sekarang Allah mengirimkan panggilan itu melalui para hamba-Nya yang mengabarkan berita Injil dan menyerukan kepada seluruh bangsa di dunia agar bertobat dan kembali kepada Dia. Yang mengambil jalan masing-masing harus kembali ke jalan Allah. Yang menyembah berhala harus meninggalkan semua berhala dan kembali hanya menyembah Allah melalui Kristus yang melayakkan mereka. Yang tidak tahu bersyukur sekarang sujud menyembah Allah dengan penuh ucapan syukur untuk kemurahan-Nya dan pemeliharaan-Nya bahkan selama bangsa-bangsa itu memberontak kepada Dia.

Tetapi panggilan yang penuh dengan kemurahan ini tidak boleh dipahami sebagai panggilan murahan. Allah sekarang memberikan anugerah panggilan-Nya kepada bangsa-bangsa lain di dalam bentuk seruan pertobatan. Allah menyerukan pertobatan karena jika bangsa-bangsa tetap tidak mau bertobat dan kembali kepada Dia, maka Dia akan menghakimi mereka semua. Allah murah hati, tetapi tidak akan membiarkan manusia mempermainkan kemurahan-Nya. Allah tidak akan membiarkan manusia bertindak sesuka hati dan mencemooh Dia terus menerus. Akan ada seruan pertobatan yang penuh belas kasihan, tetapi jika itu dihina, maka akan ada penghakiman yang tidak berbelaskasihan tiba. Itulah sebabnya setelah memberitakan kabar baik mengenai kemurahan Allah, Paulus sekarang melanjutkan beritanya dengan peringatan bahwa Allah juga akan menghakimi bangsa-bangsa. Tanda penghakiman itu sudah dekat adalah dengan diangkatnya Kristus oleh Allah untuk menjadi hakim. Tanda bahwa Dialah Sang Hakim yang akan mengadili bangsa-bangsa dunia adalah kebangkitan-Nya atas maut.

Paulus di sini mendeklarasikan hal yang sangat penting, yaitu kebangkitan Yesus sebagai tanda keabsahan Dia menjadi hakim seluruh bumi. Allahlah yang menyatakan Kristus kepada dunia ini, bahwa Kristuslah yang akan memerintah, mengadili, dan membalaskan setiap pemberontakan manusia kepada Allah. Allah jugalah yang memberikan tanda bahwa Dialah Sang Hakim dengan membangkitkan Dia dari kematian. Kebangkitan Kristus bukan hanya menyatakan pembenaran kita, tetapi juga menyatakan posisi Kristus sebagai Sang Hakim yang ditunjuk Allah. Kebangkitan Kristus menjadi bukti yang sangat kuat yang tidak mungkin dilakukan oleh siapa pun. Tetapi ajaran tentang orang mati bangkit ternyata menjadi sumber ejekan orang-orang Atena. Mereka tertawa dan menghina ajaran Paulus. Mereka tidak bisa menerima bahwa orang mati bangkit. Ajaran Yunani umumnya terbagi ke dalam dua golongan di dalam hal kematian. Golongan yang pertama percaya bahwa setelah mati manusia habis. Tidak ada lagi kehidupan di luar tubuh kita di bumi ini. Maka golongan ini pasti tidak akan menerima ajaran tentang kebangkitan orang mati. Orang mati tetap mati. Lalu kelompok kedua adalah golongan yang percaya bahwa setelah tubuh mati, roh tetap hidup dan pergi ke dunia roh. Tetapi ajaran yang memercayai hal ini seperti ajaran Stoisisme, tidak bisa menerima bahwa orang mati hidup kembali di dunia ini, apalagi dengan tubuh yang dibangkitkan! Mereka menolak hal ini dan karena itu, mereka tidak bisa menerima ajaran Paulus. Bahkan ajaran Stoisisme juga percaya bahwa meskipun roh masih hidup setelah tubuh mati, roh itu sendiri pada akhirnya akan mati juga. Tidak berdekatan dengan kematian tubuh, tetapi akan menyusul kematian tubuh. Roh juga akan mati. Mereka pun mengejek Paulus dan meninggalkan dia.

Tetapi di ayat 32 dikatakan tetap ada kelompok yang dengan sopan mengatakan siap untuk mendengar Paulus berbicara lagi, walaupun tidak sekarang. Kelompok ini membubarkan pertemuan di Areopagus itu dengan harapan bisa mendengarkan kelanjutan dari ajaran Paulus itu. Sebagian mencemooh Paulus, tetapi sebagian lagi mengharapkan mendengar ajarannya suatu saat nanti. Mereka meminta Paulus dengan sopan untuk melanjutkan ajarannya suatu saat. Dengan respons kelompok orang yang kedua ini, Lukas ingin menekankan bahwa Paulus telah berhasil membawa berita Injil untuk dihormati oleh orang-orang Atena. Walaupun mereka belum percaya kepada Kristus dan walaupun Paulus tidak sempat berbicara meneruskan ajarannya tentang Kristus, tetapi apa yang Paulus ajarkan di Areopagus telah setidaknya menarik perhatian sebagian orang Atena. Bahkan bukan hanya itu, dikatakan salah satu petinggi dari Areopagus bahkan menjadi percaya dan mau bergabung Paulus. Dan, seperti kebiasaan Lukas, dicatat juga pertobatan dari seorang perempuan yang mendengarkan Paulus di Areopagus itu.

Untuk direnungkan:
Tuhan mengutus Paulus bukan hanya untuk mengabarkan Injil dengan buta dan tanpa pengertian. Tuhan mengutus Paulus juga untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang dia temui dengan latar belakang apa pun. Baik orang-orang Yahudi maupun kelompok pemikir dari Atena. Siapa pun perlu berita Injil. Tetapi Paulus bukan saja mengetahui bahwa mereka perlu Injil, Paulus juga mengetahui dalam hal apa mereka memerlukan Injil. Paulus tidak mengabaikan kebutuhan sejati orang-orang Atena dan bangsa-bangsa non Yahudi lainnya. Orang-orang Atena perlu disadarkan dari dosa mengabaikan kebaikan Tuhan, dan mereka juga perlu diberitahukan bahwa waktunya sudah tiba di mana Allah kembali memanggil mereka. Penginjilan yang diberitakan Paulus tidak pernah mengabaikan krusialnya waktu. Kepada orang-orang Yahudi dia menyampaikan bahwa waktunya sudah tiba di mana Tuhan akan memulihkan Israel dan mengampuni dosa-dosa mereka serta memberikan Sang Anak Daud untuk menggenapi janji-Nya bagi Israel. Kepada bangsa-bangsa lain dia memberitakan bahwa waktunya sudah tiba di mana Allah tidak lagi mengabaikan mereka, melainkan memanggil mereka kembali melalui Kristus Juruselamat dunia. Tuhan telah memulai suatu masa anugerah bagi seluruh dunia melalui Kristus. (JP)