Renungan Harian 381 (Sabtu, 14 September 2019)

Penginjilan di Korintus

Devotion from Kisah Rasul 18:1-8

Setelah meninggalkan Atena, Paulus segera menuju Korintus. Korintus adalah kota terbesar di Yunani dan kota perdagangan yang sangat padat pada waktu itu. Bahkan tidak banyak kota yang bisa menyaingi besarnya kota ini di luar Yunani sekalipun. Dari seluruh kota-kota yang pernah dikunjungi Paulus di Kitab Kisah Rasul, hanya Kota Roma saja yang lebih besar daripada Korintus. Kemegahan dan kepadatan kota ini membuat Paulus rindu segera mengabarkan Injil. Betapa besar pengaruh Injil akan tersebar ke banyak tempat jika di kota sebesar Korintus berdiri jemaat Kristen yang mengenal dan mengabarkan Kristus! Kota Korintus bukan hanya besar dan padat, tetapi juga sangat penuh persaingan. Sangat sulit bisa bertahan dan sukses di kota yang keras ini tanpa keahlian yang cukup.

Di Korintus ini Paulus bertemu dengan Priskila dan Akwila dari Roma. Priskila dan Akwila terpaksa mengungsi keluar dari Roma karena orang-orang Yahudi diusir oleh Kaisar Klaudius. Ini terjadi pada tahun 49. Menurut catatan sejarawan Romawi abad ke-2 awal, Suetonius, alasan Klaudius mengusir orang-orang Yahudi dari Roma adalah karena kerusuhan yang diakibatkan oleh seseorang bernama “Chrestus”. Chrestus sendiri merupakan variasi penulisan nama Kristus yang umum di dalam bahasa Latin. Ada kemungkinan orang-orang Yahudi ini dikeluarkan karena mereka melakukan kerusuhan antara mereka sendiri, yaitu antara orang Yahudi beragama Yahudi dengan orang-orang Kristen Yahudi. Klaudius sendiri dikenal sebagai Kaisar yang sangat anti praktik-praktik penyebaran agama. Setiap orang dengan agama masing-masing tanpa adanya saling memengaruhi dianggapnya sebagai syarat kedamaian di dalam masyarakat. Tetapi ketika masing-masing agama mencoba memengaruhi agama lain, maka kerusuhan akan segera terjadi. Itulah yang kemungkinan terjadi di tahun 49 di antara orang-orang Yahudi. Mereka menjadi rusuh karena perbedaan pendapat tentang siapakah Kristus itu. Diperkirakan pada waktu Klaudius memerintah ada sekitar 50.000 orang Yahudi di Roma. Keributan di dalam kelompok masyarakat dengan jumlah sebanyak itu tentulah memberikan gangguan besar di seluruh kota. Itulah sebabnya pada tahun 49 ini dia mengusir seluruh orang Yahudi (termasuk orang-orang Kristen Yahudi) keluar dari kota Roma.

Ayat 3 mengatakan Paulus bersama dengan Akwila sama-sama bekerja membuat tenda. Ini adalah pekerjaan kasar yang dianggap rendah oleh kebanyakan orang-orang dengan budaya Romawi. Pekerjaan ini, meskipun dapat menghasilkan uang yang cukup banyak, terutama jika dilakukan dengan rajin di kota dengan perdagangan yang hidup. Paulus melakukan pekerjaan ini karena dia tidak mungkin memperoleh dukungan untuk hidup dari orang Korintus yang belum Kristen. Inilah alasan mengapa dia harus bekerja keras dengan tangannya. Posisi Paulus ini berbeda dengan hamba-hamba Tuhan serakah yang sambil mau menjadi pendeta, sambil ingin tetap mempertahankan bisnisnya yang besar. Paulus tidak punya bisnis yang besar. Dia bekerja dengan tangan melakukan pekerjaan kasar untuk menunjang hidup dirinya sendiri sambil terus mengabarkan Injil dan berusaha mendirikan jemaat di Korintus. Dengan pekerjaan membuat tenda ini, Paulus mendapat kesempatan untuk bertemu dengan berbagai golongan manusia di dalam masyarakat Korintus. Maka, selain sehari-hari bekerja keras untuk hidup di kota besar dan yang keras seperti Korintus, Paulus juga terus berbicara dengan orang-orang dari berbagai golongan di pasar, dan pada hari Sabat dia akan mengajar tentang Kristus di dalam sinagoge.

Dapat dibayangkan kesulitan yang harus dihadapi Paulus di dalam mengabarkan Injil di Korintus ini. Dengan waktu yang disita oleh pekerjaannya untuk kehidupan sehari-hari, dia juga berusaha memenangkan orang-orang Korintus dengan mengabarkan Injil kepada mereka. Pekerjaan ini tentu amat berat. Tetapi dengan belas kasihan Tuhan akhirnya Paulus bisa berkonsentrasi mengabarkan Injil setelah Timotius dan Silas datang ke Korintus dengan membawa tunjangan untuk hidup bagi Paulus di Korintus. Dengan konsentrasi yang sepenuhnya diberikan kepada pengabaran Injil ini, Paulus memberikan kesaksian tentang berita Injil kepada banyak orang Yahudi. Komunitas orang Yahudi yang cukup banyak membuat Paulus terus berusaha menjangkau mereka dengan mengabarkan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Mesias orang Yahudi. Tetapi, sama seperti reaksi banyak orang-orang Yahudi di tempat lain, orang-orang Yahudi di Korintus pun memusuhi dan menghujat Paulus karena berita tentang Mesias yang tersalib ini. Ini merupakan awal dari kesulitan yang cukup banyak yang harus dihadapi Paulus di Korintus ini. Penolakan dari orang Yahudi membuat Paulus tahu bahwa Tuhan menginginkan banyak orang dari bangsa-bangsa lain dimenangkan bagi Dia dari antara orang-orang Korintus. Paulus dengan tegas menyatakan bahwa dia akan pergi ke bangsa-bangsa lain karena umat Tuhan sendiri telah menolak Sang Mesias mereka. Paulus dengan tegas mengebaskan debu dan dia pun berkata dengan tepat bahwa kebinasaan orang-orang Yahudi di Korintus, yang menolak Injil yang dia beritakan, adalah karena kekerasan hati mereka sendiri. Kebinasaan mereka bukan karena kelalaian Paulus.

Maka, meskipun mengalami penolakan dari orang Yahudi di Korintus, Paulus tetap tinggal di kota itu selama satu setengah tahun. Dia mengabarkan Injil kepada orang-orang dari bangsa-bangsa non Yahudi di Korintus. Penginjilan Paulus tidaklah sia-sia, bahkan orang-orang Yahudi yang percaya pun muncul, dan dua di antaranya adalah orang-orang yang saleh dan penting (ay. 7-8). Tuhan tetap menyertai pengabaran Injil yang dilakukan, bahkan dengan khusus menyatakan firman-Nya kepada Paulus untuk bertahan dan mengabarkan Injil di kota Korintus (ay. 9-10). Tuhan sendiri menyatakan bahwa banyak orang pilihan-Nya di kota Korintus ini (ay. 10). Kesulitan yang besar, tetapi disertai dengan ketekunan dan ketaatan Paulus kepada Allah membuat pekerjaan Tuhan di Korintus tetap menghasilkan buah yang limpah. Di tengah-tengah kesulitan yang menghancurkan pengharapan akan kekuatan diri sendiri justru akan muncul iman sejati yang bergantung kepada Allah dan yang bertekun demi nama Kristus.

Untuk direnungkan:
Usaha Paulus di kota Korintus begitu besar. Mulai dari bekerja keras untuk mencukupkan diri sendiri, hingga ketekunan untuk menyampaikan Injil, semua dilakukan Paulus di kota ini. Dorongan ini terjadi karena Tuhan berkenan mendirikan jemaat-Nya di kota besar ini. Tetapi semakin besar jangkauan Injil dikerjakan, semakin berat juga kesulitan-kesulitan yang menghalangi. Mulai dari kehidupan keras seorang pembuat kemah yang harus dijalani Paulus, hingga kehidupan penuh kesulitan dari pemberita Injil yang sering kali ditolak tanpa alasan yang jelas, semua hal ini dijalani dengan penuh ketekunan oleh Paulus. Tidak ada tugas dan panggilan dari Allah yang dapat dikerjakan dengan sembarangan dan tanpa goncangan atau kesulitan apa pun. Semakin besar jangkauan, semakin besar juga halangan dan kesulitan. Korintus adalah kota besar dengan jemaat Kristen yang sangat sulit didirikan dan juga yang sangat sulit untuk digembalakan (2Kor. 2:3-4). Mengapa Paulus tidak melanjutkan perjalanan dan coba tempat lain lagi? Ada dua alasan mengapa Paulus tidak lakukan itu. Yang pertama adalah karena Korintus kota yang begitu besar. Dia tidak ingin melihat kota dan kebudayaan agung manusia dapat berkembang begitu pesat tanpa memberikan kesetiaan dan iman yang sejati kepada Allah. Kebudayaan paling maju yang dibangun oleh manusia harus menjadi milik Allah. Tuhanlah yang harus ditinggikan di dalam pencapaian budaya manusia. Lalu alasan yang kedua adalah karena Tuhan sendiri menguatkan Paulus untuk tetap di Korintus. Tuhan melakukan ini karena ada banyak orang-orang di kota itu yang akan Tuhan panggil kembali di dalam pertobatan sejati. Tuhan sendiri yang memerintahkan Paulus untuk tetap bertahan di kota besar ini. Dengan cara bertekun dan taat inilah banyak orang Korintus yang akan dapat mengenal Kristus melalui berita Injil. (JP)