Renungan Harian 383 (Senin, 16 September 2019)

Di Antiokhia dan Efesus

Devotion from Kisah Rasul 18:18-23

Setelah Korintus, kota berikutnya yang ada dalam rencana Paulus adalah Efesus. Beragam data sejarah ditulis tentang Efesus. Ada yang mengatakan bahwa Efesus mempunyai luas wilayah yang hanya kalah dari Alexandria (Mesir) dan Roma (Italia). Ada juga yang mencatat Efesus sebagai kota terbesar kelima. Yang mana pun yang kita terima tetap tidak membatalkan bahwa Efesus adalah kota terpenting di Asia Minor pada waktu itu. Efesus berada di daerah yang sekarang termasuk wilayah Turki. Setelah Korintus, Efesus adalah kota terbesar yang pernah dikunjungi Paulus dalam perjalanan misinya sebagai orang bebas. Jika kita menghitung perjalanannya sebagai orang tahanan, maka Efesus adalah yang ketiga setelah Roma dan Korintus. Jika kota ini begitu penting, pastilah kota ini termasuk di dalam rencana perjalanan penginjilan Paulus. Tetapi di dalam bacaan kita hari ini, dia hanya mengunjungi Efesus dalam waktu yang singkat. Mengapakah Paulus mengunjungi kota penting seperti Efesus dengan terburu-buru? Karena dia harus pergi dahulu meninggalkan Efesus. Dia akan kembali, seperti yang dicatat di dalam pasal 19, dan melayani di Efesus hingga lebih dari dua tahun lamanya. Tetapi mengapa ada perjalanan singkat meninggalkan Efesus? Apakah yang penting sekali sehingga Paulus harus pergi meninggalkan Efesus untuk waktu yang singkat? Jawaban bagi hal ini ada di dalam ayat 18. Paulus telah membuat nazar dan sekarang dia ingin menggenapi nazar itu. Di dalam Bilangan 6:1-12 diberitahukan syarat-syarat untuk seorang nazir, yaitu orang yang mengucapkan nazar. Salah satu yang paling penting adalah bahwa seorang nazir harus mencukur rambutnya pada waktu berakhir nazarnya itu dan membawanya sebagai persembahan untuk dibakar di Kemah Pertemuan, yaitu di Bait Suci. Paulus harus membawa rambut nazirnya itu ke Yerusalem untuk dilemparkan ke dalam api pembakaran korban keselamatan.

Apakah yang membuat Paulus mengikrarkan nazar? Kemungkinan besar adalah pelayanannya di Korintus. Pelayanan di sana demikian berat sehingga dia mengucapkan nazar. Kemungkinan besar nazarnya diucapkan untuk memohon supaya Tuhan menyertai dan menolong dia dari segala bahaya di dalam pelayanan di Korintus. Setelah pelayanan di Korintus selesai dan tugasnya berakhir di sana untuk dilanjutkan di tempat lain, Paulus harus mencukur rambutnya dan melemparkannya ke dalam api korban keselamatan di Bait Suci. Ayat 18 mengatakan Paulus mencukur rambutnya di Kengkrea. Tetapi, walaupun dia mencukur rambutnya di Kengkrea, dia tetap harus membawa rambutnya itu untuk dilemparkan ke dalam api korban keselamatan sambil mempersembahkan korban keselamatan itu di Bait Suci. Dia harus tetap ke Yerusalem dan menyelesaikan janji nazarnya. Paulus tidak menghindarkan dirinya dari kebiasaan Yahudi. Dia memenuhi nazarnya sebagai ucapan syukur kepada Tuhan dengan pergi ke Yerusalem, mempersembahkan korban keselamatan, dan melemparkan rambut nazirnya.

Meskipun hanya waktu yang singkat, Paulus melakukan dua hal. Yang pertama adalah meninggalkan Priskila dan Akwila di sana (ay. 19), dan yang kedua adalah memulai fondasi pengabaran Injil dengan menginjili orang-orang Yahudi di sinagoge (ay. 19). Paulus membawa serta Priskila dan Akwila dari Akhaya (Korintus) karena mereka berdua adalah pelayan Tuhan yang sangat giat dan sangat mengerti Injil. Merekalah yang akan mempersiapkan jemaat di kota Efesus melalui pelayanan mereka selama ditinggalkan Paulus. Dua orang ini menunjukkan bagaimana Tuhan memakai jemaat-Nya untuk memperbesar gereja-Nya dengan peran yang sama sekali tidak sedikit. Peran jemaat dalam memperkembangkan gereja sangat penting. Itu sebabnya kita tidak boleh mengandalkan satu dua orang saja untuk pekerjaan Tuhan di gereja-Nya. Sebesar apa pun bakat seorang hamba Tuhan, gereja Tuhan tidak boleh santai dan mengandalkan bakat hamba Tuhan tersebut. Sebesar apa pun pengaruh seorang hamba Tuhan, gereja Tuhan tidak boleh santai dan mengandalkan pengaruh tersebut. Seluruh jemaat harus bergerak dan harus bisa diandalkan untuk saling menguatkan, melayani, berdoa, mengabarkan Injil, dan bersama-sama memelihara domba-domba yang Kristus percayakan. Meskipun Paulus tidak ada, Priskila dan Akwila akan dipakai Tuhan untuk memulai gereja-Nya di Efesus.

Di dalam ayat 20 dicatat reaksi orang-orang Yahudi di sinagoge yang mendengarkan khotbah Paulus. Mereka begitu senang dan meminta Paulus tinggal lebih lama lagi. Paulus menolak dan mengatakan bahwa dia akan kembali jikalau Tuhan menginginkan, tetapi dia tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Injil telah diberitakan melalui Paulus yang telah meletakkan dasar dengan berkhotbah di sinagoge, dan juga Injil akan terus diberitakan melalui keberadaan Priskila dan Akwila di Efesus. Dengan dua hal inilah Paulus meninggalkan Efesus untuk sementara waktu dan pergi ke Yerusalem melanjutkan nazarnya. Di dalam ayat 22 dan 23 dikatakan secara singkat perjalanan Paulus ke Yerusalem. Tetapi bagaimana kita mengetahui bahwa Paulus pergi ke Yerusalem? Di dalam ayat 22 dikatakan Paulus tiba di Kaisarea dan turun ke Antiokhia. Dalam bahasa Indonesia ini tidak terlihat, tetapi di dalam bahasa Yunani digunakan kata naik dari Kaisarea untuk bertemu dengan jemaat Tuhan Yesus, dan setelah itu turun ke Antiokhia. Naik dari Kaisarea hanya mungkin jika Paulus melanjutkan perjalanannya dari Kaisarea ke bukit Sion, bukit di mana Yerusalem ada. Juga dia hanya akan mungkin turun ke Antiokhia jika sebelumnya dia berada di bukit Sion. Bukit dan pegunungan lain di Israel tidak mungkin karena tidak pernah dicatat ada jemaat di bukit atau pegunungan lain di Israel selain di Sion, yaitu di Yerusalem, sehingga tidak mungkin Lukas sedang berbicara tentang bukit yang lain lagi. Lalu mengapa Lukas tidak menulis bahwa Paulus mengunjungi Yerusalem? Mungkin karena fakta bahwa Paulus bernazar membuat orang seharusnya bisa mengambil kesimpulan bahwa Paulus pergi ke Yerusalem. Tetapi walaupun tidak, Lukas tidak merasa kepergian Paulus ke Yerusalem ini mempunyai arti penting yang harus diberikan penjelasan lagi dengan lebih panjang. Itu sebabnya Lukas tidak menyebutkan sama sekali tentang apa yang dikerjakan Paulus di dalam perjalanan dari Kaisarea, Yerusalem, hingga Antiokhia. Orang yang mengenal tradisi Yahudi dari Kitab Bilangan tentang peraturan bagi kaum nazir akan mengerti tanpa diberitahu, sedangkan orang yang tidak mengenal tradisi Yahudi juga tidak kehilangan info apa pun yang penting jika dia tidak memahami hal ini.

Di dalam ayat 23 dikatakan bahwa Paulus segera berjalan kembali menuju Efesus. Dia melewati Galatia dan Frigia untuk mengunjungi, mengajar, dan menguatkan kembali para murid Kristus di daerah-daerah tersebut. Dia mengelilingi daerah-daerah itu dan terus berjalan hingga sampai daerah-daerah pedalaman dan akhirnya mencapai Efesus (19:1).

Untuk direnungkan:
Pelayanan awal di Efesus memberikan kepada kita dua pelajaran penting. Hal pertama adalah nazar Paulus. Paulus mengucapkan nazar, yaitu memohon pertolongan Tuhan dengan berjanji akan memberikan sesuatu jika Tuhan bersedia menolong, dan itu berarti Paulus terus bergantung kepada Tuhan di tengah kesulitan mengabarkan Injil yang sangat banyak. Demikian kita yang melayani Tuhan tidak mungkin boleh melayani Tuhan tanpa adanya perasaan bergantung mutlak kepada Tuhan. Siapa pun yang melayani Tuhan dengan kekuatan sendiri, pastilah dia akan gagal. Tetapi siapa pun yang melayani Tuhan dengan sekuat tenaga dan juga bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, tentulah dia akan merasakan berkat besar dari penyertaan Tuhan di dalam pelayanannya. Ucapan syukur karena penyertaan Tuhan yang ajaib selama pelayanan di Korintus membuat Paulus membayar nazarnya ke Yerusalem setelah pelayanan itu selesai.

Hal kedua yang bisa kita pelajari juga adalah jemaat-jemaat yang Tuhan bangkitkan untuk melayani. Tuhan menyediakan Priskila dan Akwila sehingga walaupun tidak ada Paulus, pekerjaan Tuhan tetap dapat dikerjakan dengan baik di Efesus. Efesus, kota terpenting di Asia kecil, akhirnya mempunyai gereja yang besar karena pelayanan dari Priskila dan Akwila. Bukan hanya hamba Tuhan, tetapi jemaat Tuhan pun Tuhan gerakkan untuk mengabarkan Injil. Pengabaran Injil bukanlah hal yang gampang. Tetapi pengabaran Injil juga bukanlah tugas yang mustahil dan tidak mungkin dijalankan. Setiap orang yang mau melewati batasan-batasan yang diciptakan sendiri akan melihat bahwa Tuhanlah yang memimpin. Doakan supaya seluruh jemaat yang telah lama percaya Kristus tetap setia dan dengan tekun berbicara mengabarkan Injil, menyadarkan dunia akan kebutuhan mereka untuk dipenuhi Allah, dan memperkenalkan Allah yang mengutus Kristus untuk memanggil bangsa-bangsa kembali kepada Dia. (JP)