Renungan Harian 384 (Selasa, 17 September 2019)

Apolos dari Aleksandria

Devotion from Kisah Rasul 18:24-28

Di dalam ayat 24 dikatakan bahwa ada seorang pemberita Injil Kristus dari Aleksandria. Aleksandria adalah kota besar di Mesir dan merupakan kota terbesar kedua di dunia setelah Roma pada waktu itu. Lukas secara tidak langsung sedang mengatakan bahwa di Aleksandria telah ada jemaat Tuhan. Baik di Aleksandria maupun di Roma, dua kota terbesar pada waktu itu, telah berkembang gereja Tuhan tanpa ada yang tahu siapa yang memulainya. Tuhan bekerja secara ajaib sehingga di dua kota ini bisa ada jemaat-Nya yang bertumbuh dan terpelihara. Dua kota terbesar tidak dijangkau oleh para rasul. Dua kota terbesar mendapatkan pengaruh Kristen dengan cara yang bahkan tidak dicatat di dalam Kitab Kisah Rasul ini. Seolah-olah Roh Kudus bekerja dengan diam-diam dan tiba-tiba karya-Nya telah menjadi nyata hasilnya tanpa diketahui siapa pun. Baik kekristenan di Aleksandria maupun kekristenan di Roma adalah bukti bahwa yang menyebarkan gereja Tuhan bukanlah orang-orang penting di Yerusalem atau bahkan di Antiokhia. Yang menyebarkan gereja Tuhan adalah Roh Kudus. Roh Kudus dapat memakai orang-orang besar, tetapi Dia tidak bergantung kepada mereka. Mengapa dua kota terbesar tidak dijangkau oleh Paulus? Mengapa bukan Petrus? Karena bukan merekalah tokoh utama penyebaran Injil. Roh Kuduslah tokoh utama pengabaran Injil ke seluruh dunia. Di Aleksandria telah ada gereja Tuhan, dan bahkan telah memiliki seorang pengabar Injil yang luar biasa, yaitu Apolos. Dikatakan bahwa Apolos adalah seorang yang sangat fasih berbicara dan sangat menguasai Kitab Suci. Dengan keahlian yang dimilikinya, dia menjadi pengabar Injil yang sangat efektif dan memberitakan tentang Yesus Kristus dengan teliti.

Apolos bukan hanya mengabarkan Injil kepada orang-orang Yahudi di Aleksandria, tetapi dia berkeliling ke kota-kota di tempat-tempat dan bangsa-bangsa lain juga untuk menjangkau orang-orang Yahudi di sana melalui khotbah di sinagoge-sinagoge yang tersebar di kota-kota tersebut sehingga orang-orang Yahudi di sana dapat mengetahui bahwa Mesias mereka telah datang. Ketika Apolos berkhotbah juga di sinagoge di Efesus, di situ ada Priskila dan Akwila. Mereka mendengarkan dengan saksama apa yang dikhotbahkan Apolos dan mereka menyadari bahwa ada hal penting yang Apolos belum ketahui mengenai berita Injil. Apolos belum memahami “jalan Allah” sebagaimana dikatakan di dalam ayat 26. Apolos hanya mengetahui baptisan Yohanes (ay. 25). Apakah maksudnya hal ini? Baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan (Kis. 19:4), yaitu baptisan sebagai tanda meninggalkan dosa dan menantikan Sang Mesias bagi Israel. Ini adalah berita Injil yang dipahami dengan istilah baptisan Yohanes [Pembaptis]. Orang-orang yang memahami ajaran baptisan Yohanes Pembaptis bisa jadi adalah orang-orang yang menantikan Sang Mesias yang akan datang untuk memulihkan Israel, tetapi belum tahu bahwa Yesus Kristus dari Nazaretlah Mesias yang telah datang, mati di kayu salib, dan bangkit serta naik ke surga untuk duduk di sebelah kanan Allah (Kis. 19:3-5). Tetapi bisa juga orang yang memahami baptisan Yohanes Pembaptis adalah orang-orang seperti Apolos, yang memahami juga bahwa Yesuslah Mesias yang dimaksudkan Yohanes Pembaptis. Di dalam Kisah Rasul 18:25 dikatakan bahwa dia berbicara tentang Yesus dengan penuh kuasa Roh Kudus (“semangat” di dalam terjemahan bahasa Indonesia sebenarnya memakai kata “zeon to pneumati” dalam bahasa asli yang artinya adalah “berapi-api di dalam Roh Kudus”), berarti dia telah mengetahui dan percaya Yesus yang mati, bangkit, dan naik ke surga sebagai Mesias yang dimaksudkan oleh Yohanes Pembaptis.

Kalau begitu apakah yang dimaksud dengan “jalan Allah” yang diajarkan lagi oleh Priskila dan Akwila di dalam ayat 26? Kemungkinan besar yang dimaksudkan dengan “jalan Allah” adalah pengertian bahwa Yesus Kristus bukan hanya Mesias bagi Israel, tetapi bagi bangsa-bangsa lain. Bahkan lebih penting lagi, Tuhan sudah akan melupakan Israel dan mulai memanggil bangsa-bangsa lain. Inilah “jalan Allah” yang Apolos belum ketahui. Dia selama ini memberikan fokus pengabaran Injil kepada orang-orang Yahudi tanpa menyadari bahwa Tuhan sedang memanggil bangsa-bangsa lain juga tanpa perbedaan dengan orang Yahudi, dan bahwa banyak orang-orang Yahudi berespons dengan hati yang keras dan menolak Injil sementara bangsa-bangsa lain menerima dengan penuh sukacita berita Injil yang diberitakan melalui pelayanan Paulus dan kawan-kawan pengabar Injil yang lain. Inilah jalan Allah yang dimaksud. Apolos harus menjangkau juga bangsa-bangsa lain. Apolos harus mulai mengalihkan fokus pelayanannya kepada orang-orang non Yahudi, meskipun tentu saja dia tidak dilarang untuk memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi melalui sinagoge-sinagoge mereka. Apolos harus bersiap-siap menerima fakta bahwa orang-orang Yahudi akan terus menolak dan akhirnya disingkirkan oleh Tuhan karena kekerasan hati mereka, sedangkan bangsa-bangsa lain akan menjadi pengikut Kristus, bahkan merekalah yang akan menggantikan orang-orang Israel yang keras hati untuk menjadi umat Tuhan yang sujud kepada Kristus, Sang Raja mereka. Inilah “jalan Allah” yang dimaksudkan.

Setelah memahami “jalan Allah”, Apolos melanjutkan pengabaran Injilnya ke Korintus. Kemungkinan besar dia tertarik untuk pergi ke Korintus mendengar berita dari Priskila dan Akwila tentang perkembangan kekristenan di sana. Apolos pergi untuk menjadi orang yang akhirnya menguatkan dan memperkembangkan gereja Tuhan di Korintus. Walaupun sekarang dia telah mengetahui bahwa Injil Tuhan diberikan kepada bangsa-bangsa lain dengan anugerah yang sama besarnya dengan Israel, namun pengabaran Injil yang dia lakukan terus berkait dengan orang-orang Yahudi. Namun, sebagaimana telah diberitakan tentang “jalan Allah” dari Priskila dan Akwila, orang-orang Yahudi hanya membantah, menolak, menghujat, dan menentang ajaran Apolos (18:27-28). Tetapi kemampuan berdebat, fasih lidah, dan penguasaan Kitab Suci yang dimiliki Apolos membuat dia menjadi pelayan Kristus yang sangat berguna di Korintus.

Untuk direnungkan:
Pada bagian ini kita melihat dua hal untuk kita renungkan. (1) Yang pertama adalah anugerah Tuhan yang besar membuat gereja-Nya bertumbuh di tempat-tempat utama tanpa diketahui sebelumnya. Pekerjaan besar dari Roh Kuduslah yang memelihara gereja-Nya. Gereja Tuhan sangat diberkati dengan orang-orang besar yang Tuhan bangkitkan, tetapi gereja Tuhan tidak pernah bergantung kepada orang-orang besar itu. Gereja di Antiokhia bertumbuh dan menjadi besar, bahkan menjadi gereja pertama yang terdiri dari banyak bangsa tanpa ada tokoh besar utama yang menjadi pendirinya. Demikian juga Roma dan Aleksandria, Roh Allahlah yang terus bekerja menyatakan kebenaran-Nya dan Injil Kristus untuk memanggil orang-orang kembali kepada Dia. Aleksandria menjadi kekuatan baru yang tidak disadari sebelumnya. (2) Lalu hal kedua yang juga dapat kita pelajari adalah bahwa orang seperti Apolos yang begitu fasih bicara dan begitu kuat menguasai Kitab Suci ternyata tetap belum sempurna dalam pengertian. Bahkan dia masih perlu belajar dari dua orang “awam” seperti Priskila dan Akwila untuk memahami “jalan Allah”. Tidak ada manusia yang tidak perlu orang lain. Tidak ada pelayan Tuhan yang sedemikian sempurna bakatnya sehingga tidak perlu diajar oleh saudara seiman yang lain. Demikian juga Apolos. Alangkah baiknya pelajaran rendah hati yang kita dapat pelajari dari Apolos. Dia menerima pengajaran dari Priskila dan Akwila yang secara kemampuan pengetahuan Kitab Suci dan kefasihan berbicara sebenarnya berada jauh di bawah kemampuan Apolos. Namun, walaupun pengetahuan mereka tidak sebesar Apolos, tetap saja ada hal yang mereka ketahui dari Kitab Suci yang Apolos tidak ketahui. Tuhan menginginkan kita saling belajar satu sama lain, sehingga pertumbuhan kita terjadi karena adanya saling membagi pengajaran dan saling memerlukan pengajaran antara satu orang Kristen dengan orang Kristen lainnya. (JP)