Renungan Harian 387 (Jumat, 20 September 2019)

Kekacauan di Efesus

Devotion from Kisah Rasul 19:21-31

Setelah lebih dari dua tahun mengajar dan mengabarkan Injil, Paulus berencana untuk melanjutkan perjalanannya. Dia ingin kembali ke Yerusalem melalui jalur Makedonia dan Korintus untuk mengunjungi jemaat yang telah terbentuk di sana. Roma 15:23-25 memberikan penjelasan mengenai perjalanan Paulus ke Yerusalem ini. Di Yerusalem gereja Tuhan sedang mengalami kesulitan. Banyak dari mereka menjadi tersingkir, teraniaya, miskin, dan tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Mereka disingkirkan oleh karena semakin besarnya pertentangan dari orang-orang Yahudi. Di tengah-tengah keadaan sulit seperti ini Paulus mendorong jemaat di Makedonia (Filipi) dan Akhaya (Korintus) untuk memberikan bantuan kepada jemaat Yerusalem. Perjalanan Paulus ke Yerusalem adalah untuk membawa bantuan tersebut dari Makedonia dan Akhaya. Asia kecil dan Eropa, dua tempat di luar Israel menolong Israel yang sedang kesulitan. Ini menunjukkan bahwa berkat rohani dan fisik harus disebarkan dari satu jemaat ke jemaat lain. Di dalam Roma 15:27 Paulus mengingatkan bahwa harta rohani Yerusalem telah dibagikan ke tempat-tempat lain, dan sekarang tempat-tempat lain membagikan harta duniawi kepada Yerusalem. Kesatuan yang indah inilah yang sedang Paulus usahakan terjadi. Tidak ada lagi pemisahan antara Yahudi dan non Yahudi, antara Israel dan bangsa-bangsa lain.

Tetapi target utama Paulus tetaplah bukan Yerusalem. Dia ingin membawa langsung, bersama-sama dengan rekan-rekan seperjalanannya, persembahan bagi Yerusalem ini, tetapi dia ingin segera melanjutkan perjalanannya ke Roma. Dia ingin juga membagikan firman ke Roma (Rm. 1:15). Setelah Korintus dan Efesus, sangat bisa dimaklumi kalau target berikutnya dari Paulus adalah Roma. Meskipun di Roma telah ada jemaat yang, seperti Aleksandria, tidak diketahui siapa yang mulai, tetapi tetap sangat banyak orang yang masih perlu mendengar Injil. Roma, yang kemungkinan besar berpenduduk satu juta orang pada waktu itu, adalah kota terbesar dan termegah. Kekristenan harus memenangkan kota itu untuk kemuliaan Kristus. Ini merupakan tugas yang mustahil, tetapi yang akan terjadi dengan sangat sukses karena yang mengerjakan adalah Roh Kudus sendiri. Maka, dengan mempersiapkan perjalanan ke Filipi, Korintus, dan Yerusalem, Paulus mulai memandang rencana pengabaran Injilnya yang berikut, yakni kota Roma yang megah.

Tetapi sebelum dia berangkat ternyata setan telah memulai pekerjaannya mengacaukan perkembangan gereja Tuhan di sana. Keserakahan dan kebutaan telah membuat pengusaha-pengusaha patung berhala mulai marah kepada gereja Tuhan. Kemarahan yang akhirnya berujung pada huru-hara besar. Yang menggerakkan kemarahan ini menjadi huru-hara adalah Demetrius, seorang pengusaha kuil dewi Artemis, dewi berburu dan penolong bagi para perempuan di dalam melahirkan, menurut mitologi Yunani kuno. Dia tidak benar-benar percaya pada dewa itu. Dia hanya cari keuntungan dari pembuatan patung para dewa Yunani. Kita dapat melihat kekacauan theologis yang dimiliki oleh Demetrius berdasarkan ayat 25-27. Demetrius mengatakan bahwa dewi Artemis terancam kehilangan kebesarannya jika perusahaan dia tidak laku (ay. 27). Dia membakar motivasi orang-orang yang mendengarnya dengan menyatakan betapa bahayanya jika orang-orang Yunani tidak lagi menghargai kebesaran dewi Artemis melalui membeli patungnya. Pikirkan betapa kacaunya theologi seperti ini. Akankah Allah yang sejati kehilangan kebesarannya karena orang berhenti membeli patung? Akankah Allah yang benar bergantung kepada untung-ruginya sebuah perusahaan untuk membangun kebesarannya? Theologi yang rusak pasti dimiliki oleh semua orang yang tidak mengenal Allah yang sejati. Patung buatan tangan manusia menjadi representasi kebesaran dewa-dewi kafir, tetapi Allah yang sejati tidak akan bergantung kepada manusia di dalam hal apa pun.

Kekacauan theologi yang berikut terjadi karena mengaitkan penyembahan kepada Allah dengan keuntungan finansial (ay. 24). Inilah sebenarnya motivasi kemarahan Demetrius dan tukang-tukangnya. Dewa sembahan setiap orang yang menolak Tuhan sebenarnya adalah dewa bernama “uang”. Uang bukanlah benda setan, tetapi dipuja sehingga menjadi berhala dan dipakai setan untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Uang menjadi dewa yang mengikat hidup manusia. Keserakahan menjadi motivasi pendorong, kebencian dan kemarahan muncul ketika dewa yang satu ini diambil dari diri manusia. Penipuan, kekerasan, kekejaman, bahkan pembunuhan menjadi hal-hal yang dikerjakan untuk memiliki dewa yang satu ini. Artemiskah yang dibela Demetrius? Bukan! Uangnyalah yang sedang dibela Demetrius. Kita mungkin bukan penyembah dewi Artemis. Tetapi ketahuilah satu hal, Demetrius juga bukan! Demetrius adalah penyembah uang, dan jangan-jangan kita pun sama seperti dia, menyembah dewa yang bernama “uang”.

Maka Demetrius membakar kemarahan para tukangnya dengan apa yang dia katakan di dalam ayat 25, yaitu kemakmuran mereka semua berada di dalam bahaya. Mereka akan kehilangan banyak uang jika kekristenan dibiarkan berkembang. Inilah motivasi pembakar kemarahan para tukang Demetrius. Mereka membuat provokasi massa yang sangat besar dan mengumpulkan orang-orang Efesus untuk berdemo ke theater Efesus yang terkenal itu. Provokasi para pegawai Demetrius berhasil dengan sangat baik karena Efesus memuja dewi Artemis dan menjadi kota simbol kebesaran Artemis. Pada waktu itu tidak ada kota yang memuja satu dewa/dewi dengan setia dan fanatik seperti Efesus memuja Artemis. Itulah sebabnya mereka dengan mudah membakar kemarahan warga Efesus dan membanjiri theater Efesus yang berada di sisi gunung, dan bisa memuat 25 ribu orang. Di dalam kemarahan, mereka menyeret dua orang teman Paulus dari Makedonia. Mereka begitu kacau dan tidak terorganisasi sehingga mereka bahkan tidak sempat menemukan Paulus. Mereka menyeret siapa pun yang mereka bisa temukan dengan segera tanpa menyelidiki baik-baik terlebih dahulu.

Untuk direnungkan:
Sifat apakah yang membuat pekerjaan Tuhan dirusakkan? Gila uang adalah salah satu yang paling besar. Uang membuat manusia menjadi serakah jika dipandang sebagai tujuan hidup. Sebaliknya, uang menjadi manfaat yang sangat besar bagi orang-orang yang memiliki tujuan hidup memberkati orang lain. Paulus mengumpulkan uang bagi Yerusalem dari Korintus dan Filipi. Bagi orang Filipi dan Korintus uang sangat berguna karena dapat mereka gunakan untuk menunjukkan kasih mereka kepada saudara-saudara seiman di Yerusalem. Tetapi bagi Demetrius dan pegawai-pegawainya uang adalah “dewa” yang telah membutakan mata mereka. Paulus tidak pernah mengajarkan hal-hal yang rusak di Efesus. Sebaliknya, berita Injil yang Paulus sampaikan memberikan perubahan hidup yang sangat besar bagi orang-orang yang percaya. Berita Injil itu membuat adanya komunitas orang-orang kudus yang hidup tanpa cacat di tengah-tengah Efesus. Apakah kerugian Efesus dalam hal ini? Tidak ada. Tetapi pengusaha yang selama ini memanipulasi kesesatan orang-orang Efesus demi mendapatkan uang merasa sangat dirugikan secara finansial. Betapa egoisnya manusia. Betapa sempitnya cara pikir manusia yang hanya berfokus ke diri sendiri. Betapa besarnya kekacauan yang akan terjadi di tengah-tengah masyarakat jika orang-orang di dalamnya adalah orang-orang serakah yang tidak memedulikan orang lain. Kekristenan hadir untuk melawan sifat-sifat seperti ini. Kekristenan berperang melawan keserakahan dengan menanamkan ajaran memberi dan memberikan contoh hidup yang memberi. Yang manakah kita? Orang Kristen yang menjalankan tugas menjadi contoh sebuah kehidupan yang penuh kemurahan? Ataukah kita menjadi orang-orang Kristen palsu yang serakah dan gila uang? (JP)