Renungan Harian 388 (Sabtu, 21 September 2019)

Demonstrasi di Teater Efesus

Devotion from Kisah Rasul 19:30-40

Rakyat Efesus yang terprovokasi berkumpul di teater Efesus dengan keadaan kacau balau. Semua berteriak-teriak tanpa keteraturan karena kebanyakan bahkan tidak tahu mengapa mereka ada di sana (ay. 32). Mendengar adanya huru-hara menentang pengabaran Injil yang dia lakukan, Paulus berencana untuk segera pergi menemui orang banyak itu dan menyatakan pembelaannya kepada mereka semua. Tetapi ayat 30 dan 31 mengatakan bahwa murid-murid dan pembesar-pembesar kota itu melarang dia. Pembesar-pembesar yang dimaksudkan di sini (Pembesar-pembesar dari Asia) adalah petinggi-petinggi kota yang diangkat oleh Romawi dari orang-orang atau keluarga-keluarga terkaya di kota-kota Asia Minor. Tujuan Romawi mengangkat mereka adalah untuk mempromosikan kebudayaan, kebiasaan, dan gaya hidup Roma di kota tersebut dan memastikan kesetiaan kota itu kepada kerajaan Romawi. Para petinggi ini juga diwajibkan untuk menjalin relasi dekat dengan warga Roma di kota mereka, dan untuk di Efesus ini Paulus adalah salah satu warga Roma tersebut. Kedekatan dengan Pauluslah yang mendorong mereka untuk menasihati Paulus agar jangan datang ke teater menemui orang banyak itu. Keamanan warga Roma seperti Paulus harus menjadi salah satu prioritas pembesar itu.

Di dalam ayat 33 dikatakan bahwa orang-orang Yahudi mendorong ke depan seorang bernama Aleksander, seorang Yahudi. Kemungkinan Aleksander ini adalah orang yang sama dengan Aleksander di dalam 2 Timotius 4:14. Aleksander didorong oleh orang-orang Yahudi karena dia seorang yang fasih berbicara. Di dalam ayat 33 dikatakan Aleksander segera memberikan isyarat dengan tangan untuk berpidato. Penjelasan ini diberikan agar pembaca tahu bahwa Aleksander adalah seorang orator yang telah terbiasa bicara secara resmi di depan umum dengan segala tata cara umum yang berlaku. Aleksander akan berpidato kepada orang banyak itu untuk meyakinkan mereka bahwa Paulus dan kekristenan tidak sama dengan Yahudi. Aleksander sangat menentang kekristenan dan dia khawatir kalau orang-orang Efesus itu tidak tahu membedakan antara Yahudi dan Yahudi Kristen seperti Paulus. Tetapi di dalam ayat 33 dikatakan dia segera diseret turun sebelum sempat berbicara. Ayat 33, di dalam bahasa Yunani jika diterjemahkan secara literal, seharusnya berbunyi seperti ini: “Lalu mereka [orang banyak itu] menarik dia ke bawah setelah orang-orang Yahudi mendorong dia maju.” Orang-orang Efesus itu melihat orang Yahudi dan pengikut ajaran Paulus sebagai satu bangsa, yaitu bangsa yang sama-sama menolak Artemis, dewi orang Efesus. Aleksander baru saja memberi tanda akan bicara, tetapi orang banyak telah menyeret dia turun (ay. 33).

Selanjutnya Kitab Kisah Rasul menceritakan bagaimana kumpulan kacau-balau ini sekarang menjadi begitu teratur dan dengan satu suara menyerukan pujian kepada berhala mereka. Dengan penuh kesatuan dan seruan yang segenap hati mereka memuji dewa-dewa palsu yang tidak ada. Dengan suara yang dianugerahkan oleh Allah, Pencipta langit dan bumi, mereka memuji dewa-dewa kafir yang tidak pernah memberi apa pun kepada mereka. Dengan jiwa, semangat, dan dedikasi tinggi orang-orang Efesus menyembah dewi Artemis yang tidak bisa melakukan apa-apa karena dia hanyalah ciptaan imajinasi dan kesenian manusia saja. Bukankah ini dosa besar yang sangat membangkitkan murka Allah? Tetapi hanya orang-orang berjiwa penginjilan seperti Paulus dan para pemberita Injil saja yang menyadari hal ini dan digerakkan oleh hal ini untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang seperti ini. Kesesatan demi kesesatan menyeret para penyembah berhala ke dalam tipu daya setan yang semakin dalam dan bodoh. Mereka berseru kepada apa yang mereka ciptakan sendiri. Mereka memuji barang-barang kesenian mereka sendiri.

Kerusakan konsep mereka semakin jelas ketika panitera kota (yang juga biasanya adalah pencatat setiap kegiatan di teater itu) berpidato untuk membubarkan mereka. Panitera kota itu berkata di dalam ayat 35 bahwa dewi Artemis turun dari langit. Ini untuk menjawab tuduhan bahwa patung dewi Artemis adalah buatan tangan manusia. Orang-orang Yunani percaya bahwa ketika ada benda langit jatuh, itu adalah tandanya dewa-dewa sedang mengunjungi manusia. Di pegunungan Taurus pernah terdapat batu (meteor) yang dipuja sebagai dewi Artemis (Ben Witherington, The Acts of the Apostles, hlm. 598), dan kemungkinan besar ini jugalah yang dimaksudkan oleh panitera kota itu ketika mengatakan bahwa patung dewi Artemis turun dari langit. Ini juga menyatakan kebodohan yang lebih besar lagi dari para penyembah berhala. Mereka sujud kepada batu yang turun dari langit dan langsung membuat kisah tentang kehidupan, interaksi sosial, dan juga kebiasaan-kebiasaan dari dewa-dewi langit hanya berdasarkan melihat sebongkah batu. Bagaimana mungkin seseorang dapat mengetahui kebiasaan dewi Artemis, keahliannya dalam berburu, dan kebaikannya dalam menolong ibu-ibu melahirkan anaknya hanya dari sebuah meteorit? Ini berbeda sangat jauh dengan apa yang kita percaya dari Kitab Suci kita. Seluruh Kitab Suci adalah pernyataan dari Allah tentang siapakah Dia kepada manusia. Kita tidak bisa menerima tuduhan yang mengatakan bahwa Alkitab juga karangan manusia seperti mitologi dewa-dewa kuno dari Yunani. Tidak ada manusia dapat menulis karakter moral agung seperti yang dimiliki Allah dan yang dengan limpah dan konsisten diberitakan di dalam Kitab Suci kita. Kitab Suci kita ditulis oleh banyak orang dan di dalam waktu lebih dari 1.500 tahun. Bagaimana mungkin konsistensi yang limpah ini bisa terjadi? Injil mempermalukan setiap kebodohan manusia yang menyembah dewa-dewa karangan sastra manusia dan ciptaan kesenian manusia.

Panitera itu berpidato mengambil hati orang banyak sekaligus memberikan apologetika tentang dewi Efesus kepada orang-orang Yahudi. Tetapi, selain berpidato memberikan apologetika singkat, panitera kota itu sebenarnya ingin membubarkan kumpulan kacau balau itu. Dia mengingatkan berdasarkan data yang dia simpan bahwa kumpulan seperti ini melanggar hukum karena hukum kota Efesus melarang kumpulan yang tidak jelas seperti ini. Keberatan-keberatan karena ada tindakan merugikan yang diderita oleh seseorang harus diselesaikan dengan jalur hukum, bukan dengan perkumpulan liar seperti ini. Peraturan kota-kota jajahan Romawi umumnya memiliki pengertian yang sama tentang hal ini. Perkumpulan besar orang berpotensi membuat Roma menjadi sensitif dan meningkatkan kegiatan militer mereka di kota itu. Semakin sering sebuah kota melakukan kumpul-kumpul massa dengan jumlah besar seperti ini akan membuat sanksi, bahkan dapat membangkitkan serangan dari militer Romawi untuk mencegah kumpulan massa ini menyulut pemberontakan terhadap kerajaan Romawi. Dengan kalimat itu panitera kota membubarkan seluruh orang banyak yang berkumpul di teater itu.

Untuk direnungkan:
Mengapakah kebudayaan dengan sistem politik, peraturan hukum, dan juga organisasi yang sangat baik seperti Romawi dan Yunani tetap dengan buta mengikuti ilah-ilah palsu? Bukan hanya palsu, tetapi juga memiliki karakter moral yang sangat meragukan. Dewa-dewi mereka masuk ke dalam intrik-intrik penuh perang, kelicikan, kecurangan, dan lain-lain, yang merupakan sifat tercela bagi pandangan manusia. Bagaimanakah mungkin manusia menyembah apa yang sama tercela dan bobroknya dengan mereka? Tidak ada seorang pun yang tidak buta menurut pandangan Alkitab. Semua manusia begitu buta untuk menyembah berhala palsu dan juga terlalu buta untuk menyadari Allah yang sejati. Baik penyembah berhala maupun para atheis buta yang menyamakan semua agama dan kepercayaan dengan kekristenan. Mengapa manusia bisa sedemikian buta? Dosalah yang membawa manusia hidup di dalam kegelapan seperti ini. Puji Tuhan jika anugerah Injil telah sampai kepada kita sekalian sehingga kita tidak lagi hidup di dalam kebutaan seperti ini. Kiranya kita senantiasa bersyukur dengan sangat kepada Tuhan karena anugerah ini. (JP)