Renungan Harian 389 (Minggu, 22 September 2019)

Paulus di Troas

Devotion from Kisah Rasul 20:1-12

Setelah kerusuhan reda di tengah-tengah kota Efesus, Paulus mengumpulkan para penatua untuk menguatkan hati mereka. Setelah itu Paulus harus melanjutkan perjalanannya menuju Yerusalem untuk mengumpulkan bantuan dan, sebagaimana keinginannya yang sangat besar, melanjutkan pengabaran Injilnya ke kota Roma. Perjalanan ke Yerusalem untuk membawa bantuan ini dapat kita lihat di dalam Roma 15:23-25. Paulus harus pergi ke Makedonia (Filipi) dan Akhaya (Korintus) terlebih dahulu lalu membawa persembahan mereka bagi Yerusalem. Itulah sebabnya di dalam ayat 1 dikatakan bahwa Paulus berpamitan untuk berangkat ke Makedonia. Dari Makedonia, kemudian Akhaya, lalu ke Yerusalem. Inilah perjalanan yang akan Paulus lakukan. Di dalam ayat 2 dikatakan bahwa Paulus melalui daerah-daerah yang pernah diinjili dan menguatkan hati orang-orang Kristen di sana dengan pengajaran dan kehadirannya. Setelah tiba di tanah Yunani Paulus tinggal selama 3 bulan. Tanah Yunani yang dimaksud tentunya adalah Korintus. Selama tinggal di Korintus ini jugalah Paulus menulis surat kepada jemaat di Roma. Tiga bulan lamanya Paulus berada di tengah-tengah jemaat yang awalnya begitu menerima dia, tetapi kemudian menolak dia karena dikacaukan oleh pengajar-pengajar yang bertentangan dengan Injil yang benar (2Kor. 11:13). Selain surat-suratnya kepada Korintus, kehadirannya selama tiga bulan ini juga adalah untuk membenahi ajaran-ajaran kacau yang berkembang di Korintus. Sempat terjadinya penolakan atas Paulus membuat dia perlu datang kembali ke Korintus untuk menyatakan ajaran Injil dengan tegas, sehingga jemaat di sana tidak terombang-ambing di tengah-tengah kekacauan ajaran palsu (2Kor. 11:1-29).

Ayat tiga mengatakan bahwa Paulus berencana untuk berlayar ke Siria, tetapi dia mengetahui sebuah rencana untuk membunuh dia. Rencana yang sulit dilakukan di Korintus, mengingat Paulus memiliki koneksi dengan orang-orang penting di sana sebagai warga Romawi, tetapi kapal laut akan menjadi tempat yang paling cocok untuk membunuh Paulus. Rencana pembunuhan ini diketahui oleh Paulus, dan karena itu dia membatalkan perjalanan melalui laut dan memutuskan untuk berjalan melalui Makedonia dan melalui jalan darat untuk mencari kemungkinan berlayar dari Filipi menuju Yerusalem (ay. 6). Perhatikan bagaimana Paulus diarahkan kembali ke utara untuk mengunjungi, menguatkan, dan membimbing gereja-gereja di tempat-tempat yang pernah menerima kabar Injil dari Paulus. Ini tidak akan terjadi jika dia telah berlayar menuju Siria dari Korintus. Tetapi Tuhan memiliki rencana lain, walaupun untuk menyatakan rencana-Nya, terkadang Allah memakai jalan yang sangat menakutkan.

Ayat 4 mengatakan bahwa rekan-rekan Paulus yang nama-namanya disebut di sini pergi terlebih dahulu ke Troas untuk menantikan Paulus (dan Lukas – perhatikan kata “kami” di ayat 5). Nama-nama di ayat 4 ini kemungkinan adalah utusan dari gereja-gereja yang pernah didirikan oleh Paulus untuk membawa persembahan bagi Yerusalem. Bagaimana dengan utusan dari Filipi dan Korintus? Utusan dari Filipi kemungkinan besar adalah Lukas, penulis Kitab Kisah Rasul ini. Perhatikan di ayat 5 muncul kata “kami” yang menandakan bahwa Lukas, sang penulis, ikut bersama-sama di dalam narasi yang dia tulis. Kata “kami” ini muncul ketika Paulus sedang ada di Makedonia (Filipi), sehingga kemungkinan besar Lukaslah perwakilan dari Filipi untuk membawa persembahan ini. Bagaimana dengan Korintus? Kemungkinan besar Paulus sendirilah yang membawakan persembahan mereka bagi Yerusalem. Ini menandakan terjadinya perdamaian dan orang-orang Korintus kembali menerima Paulus beserta ajaran Injilnya dan menolak pengajar-pengajar palsu. Para utusan lain berangkat lebih dahulu ke Troas untuk menantikan Paulus dan Lukas.

Di Troas mereka semua menikmati persekutuan dengan jemaat Kristen di sana. Mereka bersekutu dan berbakti di hari Minggu (ay. 7). Di dalam kebaktian ini jugalah Paulus berbicara dengan lama karena ini adalah hari terakhir mereka bisa bersama-sama. Besok seluruh rombongan yang akan berangkat ke Yerusalem akan melanjutkan perjalanan mereka. Seorang muda bernama Eutikhus menjadi mengantuk karena lamanya Paulus berbicara. Celakanya dia menjadi mengantuk di tempat yang salah, yaitu di jendela tingkat tiga tempat mereka berkumpul. Karena mengantuk Eutikhus terjatuh dari jendela tingkat 3. Ayat 9 mengatakan ketika orang-orang mencoba menolong dia, mereka mendapati dia telah mati. Ayat 10 menunjukkan mukjizat yang luar biasa besar. Paulus membangkitkan orang itu seperti Elisa membangkitkan anak yang telah mati (2Raj. 4:34-35). Tetapi, seperti juga mukjizat yang dikerjakan oleh Elisa, tidak banyak kehebohan terjadi di kota itu karena hanya jemaat Kristen di Troas saja yang mengetahui hal ini. Mukjizat Paulus ini sebenarnya sangat besar, sama besarnya dengan yang dikerjakan Petrus dalam Kisah Rasul 9:40-42, tetapi berbeda di dalam dampak. Paulus mengerjakan mukjizat untuk memberikan penghiburan kepada orang-orang yang mengasihi Eutikhus (Kis. 20:12), sedangkan Petrus mengerjakan mukjizat itu untuk menyebarkan pengaruh Injil di seluruh Yope (Kis. 9:42). Tuhan masih menyatakan mukjizat sebagai tanda otoritas para saksi Kristus, tetapi tidak lagi memakainya dengan dampak yang sama besarnya. Semakin masuk ke bagian akhir Kitab Kisah Rasul, semakin kecil porsi perhatian yang diberikan bagi mukjizat. Mukjizat tetap terjadi secara konstan, tetapi reaksi orang-orang dan kehebohan yang ditimbulkannya semakin berkurang. Mukjizat pada bagian ini diizinkan terjadi oleh Tuhan demi memberikan ketenangan hati bagi orang-orang Kristen di Troas.

Untuk direnungkan:
Tuhan memakai peristiwa huru-hara di Efesus untuk membuat Paulus terpaksa harus berpindah ke daerah lain agar orang-orang yang membencinya tidak mengatur kekacauan yang lebih besar lagi. Tetapi Tuhan memakai peristiwa ini supaya Paulus dapat menggembalakan gereja-Nya di Filipi dan Korintus. Setelah itu Tuhan juga memakai rencana pembunuhan yang ditujukan kepada Paulus untuk “memaksa” Paulus kembali ke utara dan mengunjungi orang-orang Kristen di daerah-daerah yang akan mereka lewati. Perkunjungan yang sangat penting karena memberikan penghiburan dengan limpahnya, dan juga memberikan tanda dan kuasa untuk menguatkan orang-orang percaya. Rancangan Tuhan selalu mengagumkan dan tidak mungkin salah. Setiap kali kita merenungkan hal-hal seperti ini di dalam Kisah Rasul, kita semakin disadarkan bahwa Roh Kuduslah yang terus bekerja menyatakan Injil Kristus dan menguatkan orang-orang percaya. Roh Kudus jugalah yang mempersiapkan, menyatakan, memimpin, mengatur, dan menggenapi segala rancangan pengabaran Injil ini sampai seluruh dunia mendengar Injil Kristus.

Dengan memahami pekerjaan Tuhan yang merancangkan segala sesuatu demi kebaikan umat-Nya, kita semakin dikuatkan untuk melangkah di dalam Dia. Tidak ada apa pun yang terjadi pada hidup Paulus yang Tuhan tidak pakai untuk kepentingan umat-Nya. Paulus dapat berkata sama seperti Yusuf, “engkau telah mereka-rekakan yang jahat bagiku, tetapi Tuhan telah mereka-rekakannya untuk kebaikan umat-Nya” (Kej. 50:20). Tetapi bukan hanya Paulus dan Yusuf, kita pun dapat mengatakan hal yang sama. Kalau Tuhan memakai huru-hara di Efesus untuk membuat Paulus dapat kembali menguatkan orang-orang Filipi dan menggembalakan Korintus selama tiga bulan, dan memakai rencana pembunuhan Paulus untuk mengutus hamba-Nya ini ke utara dan menggembalakan dan menguatkan gereja-gereja-Nya di sana, tentu Tuhan juga memakai segala hal yang harus kita hadapi untuk kebaikan umat-Nya. Biarlah hati kita siap untuk memahami perhatian dan kasih Tuhan kepada umat-Nya, dan memercayai Dia untuk mengatur segala sesuatu yang kita alami demi kebaikan gereja-Nya. Apakah kita memiliki hati luas untuk relakan hidup kita dipakai demi kebaikan umat-Nya? (JP)