Renungan Harian 390 (Senin, 23 September 2019)

Pelayanan yang Diberkati Tuhan #1

Devotion from Kisah Rasul 20:13-21

Paulus meneruskan perjalanan melalui darat sementara yang lain berlayar ke Asos untuk menjemput Paulus di sana. Mengapa Paulus memilih berjalan lewat darat? Alkitab tidak memberitahukan alasannya. Mereka terus berlayar hingga tiba di Miletus, sebuah kota besar kuno di sebelah selatan Efesus yang berjarak kurang lebih 40 km dari Efesus. Mengingat jarak yang dekat ini, apakah Paulus berencana untuk mengunjungi Efesus lagi? Ternyata tidak. Paulus ingin segera pergi ke Yerusalem tanpa menghabiskan lebih banyak waktu lagi di perjalanan. Dia berencana tiba di Yerusalem untuk hari raya Pentakosta (ay. 16). Tetapi Paulus juga ingin mengucapkan perpisahannya dengan orang-orang Efesus dan memberikan nasihat-nasihat bagi mereka. Paulus tidak tahu apakah akan ada kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang Kristen di Efesus lagi atau tidak, tetapi dia tahu bahwa kemungkinan bisa bertemu itu sangat kecil (Kis. 20:38). Itulah sebabnya para penatua gereja di Efesuslah yang dipanggil untuk bertemu dengan Paulus di Miletus. Setelah bertemu mereka, Paulus memberikan khotbahnya sebagai perpisahan dengan penatua Efesus yang mewakili seluruh jemaat Efesus. Di dalam kalimat-kalimat perpisahan ini kita dapat melihat beberapa hal yang menjadi tanda pelayanan yang dikerjakan dengan tepat.

1.  Pelayanan dan Kehidupan yang Tidak Bercacat
Di dalam khotbahnya kepada para penatua Efesus, Paulus menekankan tentang ketulusan hatinya di dalam melayani Tuhan. Ini bukan untuk menyatakan betapa hebatnya pelayan Tuhan bernama Paulus itu, tetapi untuk menyatakan betapa besar cinta kasih Tuhan kepada orang-orang di Efesus sehingga tidak ada lagi kemungkinan orang-orang di Efesus – yang tetap menolak berita Injil – akan luput dari penghukuman yang besar. Perjuangan dan ketekunan Paulus menandakan kesetiaan Tuhan baik bagi Paulus maupun bagi jemaat Efesus. Hal pertama yang menjadi kesulitan di dalam berjuang bagi Injil adalah orang-orang yang menentang berita Injil. Di dalam ayat 18 Paulus mengatakan bahwa ini telah dia alami sejak permulaan pelayanannya di Efesus. Paulus mengatakan bahwa cara hidupnya yang tidak bercacat telah menjadi nyata bagi semua orang sejak hari pertama pelayanannya. Hidup dengan tertib, dengan baik, dan tidak bercacat tetap tidak membuat orang-orang yang anti terhadap berita Injil berhenti membenci Paulus. Adakah alasan mereka membenci Paulus? Paulus mengatakan “tidak” dan itu dikonfirmasi oleh orang-orang Efesus yang hadir pada waktu Paulus mengucapkan hal ini. Apakah mungkin Paulus mengatakan hal yang bohong di depan orang-orang yang mengetahui kalau dia sedang berbohong? Fakta bahwa mereka begitu mengasihi Paulus dan menghormati dia menunjukkan bahwa memang benar hidup Paulus tidak bercacat sejak hari pertama dia melayani di Efesus.

2.  Kerendahan Hati di dalam Bergantung Kepada Tuhan
Ayat 19 mengatakan bahwa Paulus melayani Tuhan dengan penuh kerendahan hati. Di dalam bahasa asli kerendahan hati bisa juga diterjemahkan dengan pikiran yang sederhana. Yang dimaksudkan dengan pikiran yang sederhana adalah pikiran yang tidak mau menganggap diri sanggup, layak, ataupun penting. Tidak mau menjadi ahli di dalam hal-hal yang agung dan megah, tetapi hanya mau mengabarkan berita Injil yang sering kali tidak disadari keagungan dan kemegahannya. Inilah yang membuat Paulus kuat di dalam menghadapi ancaman, bahaya, kesulitan, dan tantangan di dalam mengabarkan Injil di Efesus. Dia kuat karena dia sadar betapa sederhananya caranya berpikir dan berbicara. Dia kuat karena dia sadar bahwa dia lemah (2Kor. 12:10). Di tengah-tengah kelemahan dan ketidakberdayaan itulah Paulus melihat kuasa Tuhan yang secara nyata menopang dan menguatkan dia. Bergantung kepada Tuhan di dalam kerendahan hati berarti menyadari bahwa setiap tantangan, kesulitan, dan penderitaan dalam melayani Tuhan adalah hal yang tetap akan terasa sangat berat. Begitu banyak hal yang membuat Paulus menjadi hampir putus asa, tetapi semakin berat keadaan di dalam mengabarkan Injil, semakin besar anugerah Tuhan menopang dan menolong Paulus. Kuasa Tuhan menjadi sangat jelas justru setelah keadaan sangat sulit dapat terlewati dengan penuh kemenangan. Tetapi kemenangan hanya mungkin diperoleh di dalam kerelaan untuk menaati Tuhan. Kerelaan untuk dengan sederhana memandang seluruh hidupnya sebagai serangkaian cita-cita, pikiran, keinginan, dan keberadaan yang hanya ada untuk melayani Tuhan.

3.  Dengan Setia Menyatakan Firman Tuhan
Tugas utama para nabi di dalam Perjanjian Lama, dan juga para rasul di Perjanjian Baru adalah untuk menyatakan firman Tuhan. Tuhan dengan keras menentang nabi-nabi-Nya yang menolak menyatakan apa yang Tuhan mau (Yes. 29:13, Yer. 6:14). Hamba Tuhan harus dengan setia menyatakan apa yang Tuhan mau nyatakan bagi umat-Nya. Ini jugalah yang menjadi tugas utama Paulus. Paulus dengan taat mengikuti Tuhan, tetapi dalam hal apakah dia menaati Tuhan? Di dalam kesetiaan menyampaikan firman Tuhan. Berita Injil yang Tuhan inginkan diketahui manusia tidak ditahan, diselewengkan, atau dipalsukan oleh Paulus. Sebaliknya dia mengusahakan dengan segenap kekuatannya supaya dia tetap setia menyatakan firman dengan berani dan dengan ketekunan yang besar (1Kor. 9:27). Paulus tidak mengajarkan hikmat atau teori-teori yang sedang populer pada waktu itu meskipun dia memiliki kemampuan untuk menjadi pengajar hal-hal itu. Paulus berjuang dengan sebaik mungkin agar dia setia menyatakan apa yang Tuhan mau berdasarkan firman-Nya dan berita Injil yang dipercayakan kepada Dia. Paulus mengukur dirinya dan panggilannya berdasarkan dua hal ini, yang pertama adalah kesetiaannya menyatakan firman Tuhan dengan akurat dan yang kedua adalah kesetiaannya menyatakan firman Tuhan kepada siapa yang harus mendengarnya di dalam rencana Tuhan. Kesetiaan menyampaikan firman dan kesetiaan menyampaikannya kepada orang-orang yang Tuhan mau panggil, dua hal inilah yang menjadi ukuran kesetiaan Paulus. Kita telah membahas hal pertama, yaitu kesetiaan menyampaikan firman Tuhan, dan setelah ini kita akan membahas hal yang kedua, yaitu kesetiaan menyampaikan firman Tuhan kepada orang-orang yang telah Tuhan siapkan.

4.  Dengan Setia Menyatakan Firman Kepada Orang-orang yang Tuhan Siapkan
Tuhan memberikan tugas kepada Paulus untuk memberitakan Injil-Nya kepada orang-orang Yahudi dan juga kepada bangsa-bangsa lain. Tetapi Tuhan juga memberikan kekuatan kepada Paulus dengan janji-Nya bahwa Dialah yang telah lebih dahulu mempersiapkan orang-orang itu (Kis. 18:10). Tuhanlah yang telah mempersiapkan orang-orang yang tadinya begitu memberontak dan penuh dengan kecemaran untuk siap mendengar Injil-Nya dan bertobat kembali kepada Dia. Tuhan mempersiapkan dan Paulus taat. Paulus taat menyampaikan firman Tuhan kepada siapa pun. Tanpa membedakan mana Yahudi dan mana Yunani dan bangsa-bangsa lain, Paulus terus mengabarkan Injil Tuhan karena Tuhanlah yang telah mengutus dia untuk menjangkau orang-orang yang akan Dia panggil. Inilah sebabnya Paulus mengatur perjalanannya dan mempertimbangkan kota-kota yang akan dikunjunginya dengan sungguh-sungguh (2Kor. 1:13-17). Dia ingin dengan tepat melakukan apa yang Tuhan mau. Kecintaannya kepada orang-orang yang ingin dia kabarkan Injil merupakan cerminan dari cinta Tuhan kepada orang-orang itu. Kerelaannya untuk berjuang dan berkorban demi orang-orang yang mau dia Injili juga merupakan cerminan kerelaan Kristus berjuang dan berkorban untuk memanggil umat-Nya yang sangat Dia kasihi. Inilah kesetiaan yang terus menerus ditunjukkan oleh Paulus. Kesetiaan bukan karena dia seorang yang hebat dan luar biasa, tetapi karena Tuhan yang memanggil Dia adalah Tuhan yang setia dan mulia. Kesetiaan dan kemuliaan Tuhan inilah yang Tuhan izinkan dicerminkan oleh hamba-Nya yang taat sepenuh hati menjalankan apa yang Tuhannya inginkan. (JP)