Pergi ke Bait Allah

Devotion from Kisah Rasul 21:15-26

Setelah mereka melanjutkan perjalanan sejauh 96 km, tibalah mereka di Yerusalem. Di Yerusalem mereka menginap di tempat seorang Siprus bernama Manason. Mengapa mereka harus tinggal di tempat seorang asing? Karena teman-teman seperjalanan Paulus bukanlah orang Yahudi. Mereka datang membawa persembahan dari tempat mereka masing-masing, tetapi mereka bukanlah orang Yahudi. Paulus dan kawan-kawannya tidak ingin memberikan masalah kepada orang-orang Kristen Yahudi jika mereka menumpang di rumah salah satu dari orang Kristen Yahudi di Yerusalem. Pertentangan, diskriminasi, bahkan kadang-kadang kerusuhan dan aniaya dinyatakan kepada orang-orang Kristen. Kekristenan dianggap sebagai sebuah sekte yang akan menghancurkan Yerusalem. Betapa besar bahaya yang harus ditanggung oleh orang Kristen Yahudi jika mereka menampung orang-orang non Yahudi di rumahnya. Bahkan tuduhan membawa orang-orang non Yahudi ke dalam Bait Allah dapat membuat seluruh kota marah dan melakukan aniaya kepada Paulus (Kis. 21:27-28). Itulah sebabnya mereka memilih menumpang di rumah seorang Siprus. Setelah itu, keesokan harinya, mereka pergi menghadiri pertemuan dengan Yakobus dan semua penatua. Mereka memberikan kesaksian tentang apa yang Tuhan sudah kerjakan di antara bangsa-bangsa lain. Tuhan begitu memberkati mereka sehingga jumlah mereka terus bertambah. Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah orang percaya dengan jumlah yang besar. Bukan hanya itu, Tuhan juga telah melatih mereka untuk hidup kudus, cinta Tuhan, dan cinta umat Tuhan. Kekristenan di luar Israel telah berkembang dengan cara yang begitu penuh anugerah Tuhan sehingga mereka juga bisa mengingat orang-orang Kristen di Yerusalem yang mengalami kekurangan.

Apa yang Paulus ceritakan begitu menggugah semua yang hadir sehingga mereka memuji Tuhan dengan sangat. Tetapi setelah itu mereka membahas satu permasalahan besar di Yerusalem, yaitu bahwa orang-orang Kristen Yahudi di Yerusalem telah mendengar berita yang tidak benar, yaitu bahwa Paulus melarang orang-orang Kristen Yahudi untuk menyunatkan anaknya dan mengikuti tradisi yang diwariskan oleh Musa. Paulus tidak pernalh mengajarkan ini. Paulus mengajarkan bahwa orang-orang bukan Yahudi tidak perlu disuruh mengikuti kebudayaan Yahudi. Paulus mengajarkan bahwa identitas bangsa Yahudi tidak menyelamatkan mereka, dan karena itu tidak perlu diikuti oleh orang-orang non Yahudi. Tetapi orang-orang Yahudi telah menjadikan kebiasaan-kebiasaan yang menjadi adat nenek moyang mereka dan sunat sebagai identitas kebangsaan mereka. Apakah orang-orang Yahudi harus berhenti melakukan hal-hal yang menjadi identitas kebangsaan mereka? Tentu saja tidak. Tetapi apakah orang-orang non Yahudi harus mulai melakukan hal-hal yang menjadi identitas bangsa Yahudi? Tentu saja tidak. Sama seperti orang Yahudi tidak boleh dipaksa untuk berhenti menjadi Yahudi, demikian juga orang non Yahudi tidak boleh dipaksa untuk menjadi orang Yahudi. Kira-kira demikianlah posisi Paulus. Tetapi gosip yang beredar adalah bahwa Paulus mengajar orang-orang Yahudi untuk berhenti menyunatkan anak dan mengikuti tradisi nenek moyang Israel. Ini sesuatu yang belum siap dilakukan oleh Israel. Budaya bangsa mereka begitu kuat mengakar sehingga memerintahkan orang Israel untuk berhenti melakukannya adalah pelanggaran yang sangat berat di mata mereka. Paulus tidak melihat tradisi nenek moyang Israel sebagai sesuatu yang penting. Dia juga melihat sunat sebagai sesuatu yang tidak ada artinya (1Kor. 7:19), tetapi tidak menyangkal bahwa sunat telah menjadi identitas Yahudi (1Kor. 7:18). Pertentangan tentang pengajaran Paulus ini telah membuat terjadi perpecahan di antara orang Kristen Yahudi karena sebagian dari mereka menjadi sangat kecewa ketika mereka mengira bahwa Paulus mengajarkan orang Yahudi untuk mengabaikan tradisi Yahudi. Untuk menghentikan kesalahmengertian dari sebagian orang-orang Kristen Yahudi inilah Yakobus dan para penatua meminta Paulus untuk menjadi pemberi persembahan bagi 4 orang yang bernazar dan akan membayarkan nazarnya. Perlu diketahui bahwa yang menjadi tujuan Yakobus dan para penatua adalah untuk meredakan ketidakpercayaan dari orang-orang Kristen Yahudi, dan orang-orang Kristen Yahudi ini bukanlah orang-orang yang kemudian menangkap Paulus (ay. 27-28). Orang-orang Kristen Yahudi ini tidak berusaha menganiaya atau menangkap, apalagi membunuh Paulus. Mereka hanyalah lawan debat dan berbeda pendapat dengan Paulus tentang tata cara Kristen di mana pertemuan di Kisah Rasul 15:1-22 menyelesaikan perbedaan itu. Tetapi berita bohong tentang Paulus terus menyebar di antara mereka sehingga Yakobus dan para penatua ingin mengakhiri berita bohong ini dengan melibatkan Paulus sebagai penunjang empat orang yang ingin membayar nazar mereka.

Ketika seseorang bernazar untuk meminta sesuatu, mereka akan menjauhkan diri dari anggur dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dinajiskan. Mereka juga tidak akan memotong rambut mereka sampai periode waktu tertentu. Setelah periode nazar mereka selesai, maka mereka akan memotong rambut mereka, membawa potongan rambut itu ke Bait Suci, dan melemparkannya ke api pembakaran korban. Mereka juga harus mempersembahkan korban untuk melengkapi nazar mereka. Biasanya akan ada orang yang ikut memberikan dukungan berupa uang bagi orang-orang yang akan menyelesaikan nazar mereka dengan mengikuti mereka memberikan korban dan melemparkan potongan rambut mereka. Paulus disarankan untuk menjadi pemberi dukungan kepada empat orang ini. Ini dilakukan supaya orang-orang yang telah salah mengerti Paulus berubah pikiran tentang Paulus, yaitu bahwa ternyata Paulus pun masih mempertahankan tradisi nenek moyang orang Yahudi. Jika Paulus saja masih menjalankan tradisinya sebagai orang Yahudi, tentulah berita yang mengatakan dia mengajarkan orang-orang Yahudi di perantauan untuk melepaskan tradisi Yahudi adalah bohong belaka.

Untuk direnungkan:
Bagian ini mengingatkan kepada kita untuk memiliki keketatan di dalam hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, doktrin yang benar, dan etika Kristen yang benar. Tetapi keketatan ini tidak perlu ada di dalam kebiasaan dan tradisi. Paulus menolak kebiasaan sunat dan Taurat dilakukan oleh orang-orang non Yahudi karena jika mereka melakukannya, ini akan menjadi doktrin Kristen bagi mereka, bukan kebiasaan tradisi. Mereka tidak pernah memiliki kebiasaan dan tradisi Yahudi sebelumnya, sehingga memaksakan mereka untuk melakukan tradisi ini berarti memaksa mereka untuk menerimanya sebagai doktrin Kristen. Itu sebabnya Paulus mati-matian melawan ajaran yang mengatakan bahwa orang-orang non Yahudi harus dijadikan Yahudi dulu. Dia tidak mengatakan, “yang penting orang-orang non Yahudi sudah percaya Yesus. Tidak penting apakah mereka disunat atau tidak, jadi boleh saja sunat, boleh tidak.” Paulus tahu di dalam konteks pada waktu itu orang-orang non Yahudi akan berpikir bahwa keselamatan mereka ditentukan dari sunat dan menjalankan tradisi Yahudi, padahal hal itu tidak pernah ada di dalam berita Injil yang Paulus beritakan. Dia dengan tegas menentang (Kis. 15:2). Tetapi Paulus tidak keras kepada orang-orang Yahudi. Dia tidak mengatakan bahwa orang-orang Yahudi tidak lagi perlu mengikuti tradisi mereka, namun dia juga tidak pernah mendorong orang-orang Yahudi untuk melakukan tradisi mereka untuk diselamatkan. Dia tidak keberatan menjalankan tradisi itu sebagai tradisi. Tetapi dia sangat keberatan menjalankan tradisi itu sebagai jalan keselamatan.

Bijaksana untuk tahu apa yang penting dan perlu diperjuangkan dengan gigih dan tahu apa yang kurang penting dan tidak perlu diperjuangkan dengan gigih harus dimiliki oleh orang-orang Kristen. Jika orang-orang Kristen terus mementingkan hal-hal yang tidak penting, sedangkan hal-hal yang penting terus diabaikan, maka orang-orang Kristen seperti ini akan merusak gereja Tuhan. Gereja Tuhan akan bertarung tidak habis-habis untuk hal yang kurang penting, tetapi berdamai dengan penuh pengertian jika itu berkait dengan hal penting. (JP)