Renungan Harian 396 (Minggu, 29 September 2019)

Panggilan Paulus

Devotion from Kisah Rasul 22:7-22

Pengertian sejarah dan latar belakang dunia Perjanjian Baru
Pidato Paulus menunjukkan bahwa dia sangat memahami retorika yang diajarkan di dalam tradisi Yunani klasik. Dia memulai dengan menyapa orang-orang muda dengan sapaan “saudara-saudara”, dan menyapa orang-orang yang dituakan dengan sapaan “bapa-bapa”. Kelanjutan dari pidato ini bukan saja bersifat apologia (pembelaan untuk sesuatu yang dipercaya atau dilakukan), tetapi juga pengabaran Injil dengan harapan orang-orang Yerusalem mau menerima berita Injil ini. Berikut beberapa hal yang perlu kita ketahui:

  1. Di dalam ayat 7-8 Paulus menjelaskan tentang pengalaman yang luar biasa itu. Kristus menyatakan diri dengan terang yang melampaui terang matahari. Dia memanggil Paulus dan memperkenalkan diri-Nya sebagai orang yang teraniaya di dalam ayat 7. Ayat 8 menyatakan respons Paulus yang sangat ketakutan. “Siapakah Engkau, Tuhan?” menjadi kalimat yang sangat unik. Paulus, seorang Yahudi yang anti menyebut Kaisar sebagai “Tuhan” harus menyerah dan mengaku bahwa Orang yang menyatakan diri dengan terang seperti ini memang layak mendapatkan sebutan “Tuhan”. Tetapi jawaban Yesus Kristus, baik waktu menyapa Paulus maupun waktu memperkenalkan diri-Nya, selalu dengan cara yang merendahkan diri-Nya. Yesus Kristus menyapa Paulus dengan pertanyaan yang menempatkan Dia sebagai yang teraniaya. Dia tidak menyatakan diri-Nya sebagai hakim yang akan membalaskan penderitaan murid-murid-Nya kepada sang penganiaya. Dialah yang teraniaya itu. Ketika Paulus bertanya, Yesus pun menjawab dengan kalimat yang, lagi-lagi, merendahkan diri. “Akulah Yesus, orang Nazaret…” Orang Nazaret adalah sebutan sindiran atau hinaan yang diberikan oleh orang-orang Yahudi yang menolak Yesus. Tidak mungkin seorang nabi datang dari Nazaret (Yoh. 1:46, 7:41, 7:52 – Galilea adalah daerah tempat Kota Nazaret berada).
  2. Ayat 9 sepertinya bertentangan dengan Kisah Rasul 9:7. Di dalam 9:7 dikatakan bahwa teman-teman seperjalanan Paulus mendengar suara tetapi tidak melihat seorang pun. Sedangkan di dalam 22:9 mengatakan bahwa mereka melihat cahaya tetapi tidak mendengar suara Dia yang berkata kepada Paulus. Tetapi kedua ayat ini saling melengkapi. Dari 9:7 kita tahu bahwa teman-teman seperjalanan Paulus mendengar suara, dan dari 22:9 kita tahu bahwa mereka tidak mengerti artinya. Dari 9:7 kita tahu bahwa mereka tidak melihat Kristus yang berbicara kepada Paulus, dan dari 22:9 kita tahu bahwa ternyata mereka melihat cahaya terang, namun tidak melihat sumber cahaya itu, yaitu Kristus. Rekan seperjalanan Paulus tidak bertemu dan mendengar Kristus berfirman. Hanya Paulus sajalah yang bertemu dan mendengar Kristus. Yang lain hanya melihat fenomena cahaya dan fenomena suara.
  3. Dalam ayat 14 Paulus menekankan kalimat Ananias, yaitu bahwa Allah nenek moyang Israellah yang memanggil Paulus. Dia tidak sedang mengajarkan ajaran yang menentang tradisi Israel, sebab tradisi Israel didirikan oleh Allah nenek moyang Israel. Kristus yang diberitakan Paulus adalah penggenapan dari tradisi nenek moyang Israel. Paulus bisa berubah dari seorang Yahudi fanatik yang keras menjadi seorang Kristen yang dengan teguh menyatakan Kristus karena ini merupakan bagian dari rencana Allah Israel, Allah nenek moyang orang Yahudi.
  4. Di dalam ayat 17-21, Paulus merangkum pemanggilannya itu dengan singkat dan memberikan tekanan pada panggilannya untuk bangsa-bangsa lain. Penglihatan Paulus ketika sedang berdoa di Bait Allah merupakan sesuatu yang mengingatkan orang akan Yesaya (Yes. 6:1-3) dan pesan dari Allah yang menubuatkan kehancuran Israel sebelum Sang Anak Daud datang (Yes. 6:10-13). Paulus sedang menyatakan posisinya sebagai seorang nabi, sama seperti Yesaya, sekaligus menyatakan peringatan Tuhan di dalam Kitab Yesaya, yaitu kehancuran Israel yang hanya bisa dipulihkan oleh Sang Mesias.

Renungan untuk hari ini:
Di dalam pidatonya ini kita diingatkan kembali tentang rencana Tuhan yang memakai orang-orang pilihan-Nya. Pemanggilan Paulus menjadi satu bukti bahwa Allah dengan inisiatif dan ketetapan-Nya memilih Paulus. Paulus tidak sedang mencari Kristus, bahkan tidak sedang merasa gelisah karena dosa. Dia adalah seorang dengan keyakinan akan kebenaran yang sangat kuat. Dia tidak sedang bimbang, atau bahkan merasa tidak layak. Dia tahu bahwa dia adalah seorang yang sangat saleh dan pasti diperkenan oleh Tuhan. Di dalam keadaan seperti ini Kristus menyatakan diri kepadanya. Sama sekali tidak ada bagian Paulus dalam pertobatannya ini. Dia bagaikan seorang bayi yang mati sebelum dilahirkan ibunya (1Kor. 15:8). Marilah kita mengambil waktu sejenak untuk merenungkan panggilan Tuhan atas kita juga. Tanpa anugerah-Nya kita tidak mungkin mengenal Kristus. Biarlah kita dengan perasaan tidak layak dan rendah hati senantiasa bersyukur untuk semua anugerah yang Tuhan sudah berikan di dalam pemanggilan kita.

Hal yang kedua adalah Tuhan memanggil Paulus dengan begitu lembut dan penuh dengan kesabaran. Bagaimana mungkin hakim seluruh dunia, yang telah ditetapkan Bapa sebagai Raja atas segala bangsa, yang akan menginjak-injak dan menghancurkan kekuasaan dunia ini dengan gada besi (Mzm. 2:9), memperkenalkan diri sebagai yang teraniaya? Tetapi inilah yang Yesus lakukan. Dialah Orang yang teraniaya itu! Dia teraniaya untuk membebaskan kita! Dia teraniaya untuk menjadikan kita milik-Nya selamanya! Dia teraniaya untuk menguatkan semua orang teraniaya lainnya bahwa kemenangan adalah milik mereka sama seperti kemenangan telah menjadi milik-Nya. Betapa besar kekuatan yang diperoleh Paulus ketika mengingat kembali perjumpaannya dengan Kristus. Dia yang teraniaya bagi Paulus sekarang telah menang. Dan Paulus yang sekarang teraniaya juga sudah menang di dalam Kristus! Adakah penghibur yang dapat menghibur orang teraniaya sebesar Kristus menghibur mereka? Dialah Yesus, yang telah dianiaya, dan yang mengidentikkan diri-Nya dengan orang-orang yang teraniaya.

Hal ketiga adalah pertobatan Paulus mengingatkan kita kembali bahwa Kristus menganggap penganiayaan yang diterima oleh orang-orang Kristen adalah penganiayaan yang dikenakan kepada Dia. Bukan saja karena Dia mengasihi kita, tetapi karena Dia juga telah benar-benar menderita untuk kita. Penderitaan yang dialami gereja-Nya adalah penderitaan tubuh-Nya. Siapa menganiaya gereja sedang menganiaya Kristus. Yang dianiaya oleh Paulus adalah tubuh Sang Mesias Israel! Dan sekarang yang menjadi kekuatan besar bagi Paulus adalah penganiayaan yang dia terima pada tubuhnya juga adalah penganiayaan kepada Kristus. Itulah sebabnya dia melihat para penyiksanya dengan penuh belas kasihan, bukan dengan ketakutan atau kemarahan. Ini membuat kita menyadari siapa kita dengan tepat. Kita bukanlah orang yang penting atau kudus, atau memiliki kelebihan apa pun. Tetapi kita adalah orang yang demikian dikasihi Kristus sehingga apa pun yang dialami oleh orang-orang hina seperti kita dianggap sebagai sesuatu yang dialami oleh Kristus sendiri. Biarlah ini membuat kita menilai diri dan sesama orang Kristen dengan benar.

Hal keempat adalah Tuhan memanggil Paulus untuk melanjutkan rencana-Nya menyatakan Kerajaan-Nya di bumi ini. Sang Raja memanggil Paulus bukan untuk suatu panggilan yang sia-sia dan tanpa tanggung jawab. Setiap orang yang dipanggil oleh Sang Mesias adalah orang-orang yang dipanggil untuk menjadi pelayan di dalam Kerajaan Allah. Paulus dipanggil untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain karena Israel telah menolak Raja mereka. Penolakan Israel adalah alasan mengapa Tuhan memalingkan wajah-Nya kepada bangsa-bangsa lain. Pauluslah rasul yang Tuhan panggil untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Ini merupakan sesuatu yang harus kita ingat baik-baik, Tuhan memanggil kita untuk memiliki tanggung jawab di dalam Kerajaan-Nya. Kita harus berjuang mengerjakan dengan segenap kekuatan apa pun yang Tuhan percayakan di dalam hidup kita demi nama Tuhan dipermuliakan di bumi. Berhentilah serakah! Berhentilah berdosa! Berhentilah mengejar cita-cita yang sia-sia! Carilah apa yang Raja kita inginkan dan perjuangkan dengan segenap hidup kita, sebab kita ini adalah alat-Nya yang telah dipilih, ditebus, dan dipanggil-Nya dengan kasih dan pengorbanan yang besar. (JP)