Renungan Harian 397 (Senin, 30 September 2019)

Pembelaan Paulus #1

Devotion from Kisah Rasul 22:22-23:1

Pengertian sejarah dan latar belakang dunia Perjanjian Baru
Bacaan hari ini dapat kita bagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama adalah percakapan Paulus dengan kepala pasukan yang menangkap dia, dan bagian kedua adalah apologia Paulus di depan Mahkamah Agama Yahudi. Beberapa hal perlu kita ketahui:

  1. Ayat 22 mengatakan bahwa orang banyak itu, seluruhnya berteriak agar Paulus dibunuh saja. Ini adalah reaksi setelah Paulus mengatakan bahwa Tuhan memerintahkan dia untuk pergi kepada bangsa-bangsa lain karena orang Yahudi telah menolak kesaksian tentang Kristus. Ini adalah sesuatu yang sangat menimbulkan marah orang Yahudi. Mereka begitu anti kepada bangsa-bangsa lain, terutama setelah selama 500 tahun mereka berada di bawah kuasa bangsa-bangsa lain. Fanatisme yang sangat tinggi ini salah satunya disebabkan oleh fakta yang menyedihkan bahwa Israel bukan lagi kekuatan yang dianggap penting. Mereka hanyalah daerah jajahan Romawi. Betapa dekatnya sifat fanatik dengan perasaan ketidakberhargaan diri.
  2. Ayat 23 mengatakan bahwa mereka berteriak-teriak sambil melemparkan debu dan jubah mereka ke udara. Ini merupakan tindakan simbolis yang mengatakan bahwa mereka ingin mengusir orang-orang yang memberontak kepada Allah, bahwa orang-orang seperti Paulus tidak layak untuk menerima bagian dari janji Allah kepada umat-Nya. Ini adalah simbol yang sama dengan simbol mengebaskan debu. Melihat kerusuhan akan terjadi lagi, kepala pasukan segera membawa Paulus ke dalam markas untuk diinterogasi. Metode interogasi Romawi pada waktu itu sangat mengerikan. Seseorang akan dipaksa mengaku kesalahannya dengan dicambuk menggunakan cambuk yang memiliki bagian-bagian tulang binatang dan besi. Cambuk itu dapat merobek kulit dan daging, dan jika digunakan berlebihan akan mengakibatkan kematian orang yang dicambuk. Dengan melihat cambuk seperti ini saja sudah cukup untuk membuat orang segera mengaku kesalahannya sebelum cambuk itu merobek-robek kulitnya. Metode interogasi dengan cambuk seperti ini sangat mengerikan, sehingga warga negara Romawi tidak boleh dikenakan perlakuan seperti ini. Itu sebabnya Paulus mengatakan bahwa dia adalah warga negara Romawi (Rum, ay. 25), agar kepala pasukan tidak sembarangan menghukum dia dengan cara yang tidak diizinkan oleh hukum Romawi.
  3. Dalam ayat 27 dan 28, kepala pasukan berusaha memastikan apakah Paulus benar-benar warga negara Romawi, sebab kepala pasukan itu sendiri mengatakan bahwa dia membayar harga yang sangat mahal untuk menjadi warga negara Romawi. Pada zaman Kaisar Klaudius, banyak orang yang memperoleh kewargaan Romawi dengan menyuap petugas administrasi dengan harga yang sangat mahal. Kewargaan ini dikejar oleh banyak orang karena memberikan status khusus di seluruh daerah Romawi dan jajahannya. Salah satunya adalah keharusan para pembesar kota-kota jajahan Romawi untuk menyambut seorang warga Romawi di kotanya dan menyediakan perlindungan keamanan, kebebasan dari hukuman cambuk dan juga dari hukuman salib. Hak-hak lain seperti perlindungan hukum, hak untuk diadili hingga sampai pengadilan Kaisar, hak suara, hak kepemilikan, hak bebas pajak, hak menikah dengan warga Romawi, dan hak mewariskan kewargaan kepada keturunannya menjadi sesuatu yang diincar oleh banyak orang dengan harga yang mahal. Paulus ternyata mendapatkan kewargaan itu sebagai warisan dari ayahnya (karena dia mendapatkannya sejak lahir, ay. 28). Mengetahui dia warga Romawi, seluruh tentara yang akan mencambuk dia mundur. Seorang warga Romawi bukan saja tidak boleh dicambuk, dia juga tidak boleh dipermalukan di muka umum dengan dibelenggu. Tetapi bagaimanakah ayah Paulus yang adalah orang Yahudi (sangat dibenci orang Romawi di kota Roma, terutama pada zaman Kaisar Klaudius) dapat memperoleh hak kewargaan di Kerajaan Romawi? Salah satunya adalah karena dedikasi di dalam memajukan Kerajaan Romawi. Mungkin saja ayah Paulus adalah pembuat kemah (sama seperti Paulus, Kis. 18:3) yang sangat berjasa untuk kampanye militer Romawi yang memerlukan banyak kemah. Tetapi kita tidak tahu dengan persis kepahlawanan apakah yang telah dilakukan ayah Paulus sehingga berhak menerima kewargaan Kerajaan Romawi.
  4. Kepala pasukan tetap ingin tahu apa kesalahan Paulus. Seorang warga kota Roma pun akan dicopot dari kewargaan Romawi jika dia melakukan tindakan yang digolongkan pemberontakan kepada Kaisar atau Kerajaan Romawi. Satu-satunya cara adalah dengan mengadili Paulus di depan pengadilan agama Yahudi. Pengadilan agama Yahudi (Sanhedrin) adalah sekelompok orang (23-71 orang) yang dipilih untuk menjadi kumpulan pemimpin agama yang memutuskan perkara hukum di tiap-tiap kota Israel. Kepala pasukan ini ingin mengetahui apakah pelanggaran Paulus merupakan pelanggaran terhadap hukum Romawi ataukah hanya sekadar pelanggaran tradisi Yahudi. Jika Paulus melakukan pelanggaran yang melawan hukum Romawi, maka kepala pasukan bertugas untuk menghadapkan dia ke pengadilan Romawi. Tetapi jika ini hanya masalah agama Yahudi, maka dia bertugas untuk menjaga keamanan Paulus karena Paulus seorang warga Romawi. Itulah sebabnya dia mengumpulkan anggota Sanhedrin dan menghadapkan Paulus kepada mereka.

Renungan untuk hari ini:
Bacaan kita hari ini mengingatkan kita tentang satu fakta yang sangat penting. Paulus hidup dengan tidak bercacat baik berdasarkan hukum Romawi maupun berdasarkan hukum Yahudi. Itu sebabnya bacaan hari ini berhenti di Kisah Rasul 23:1. Paulus dengan berani mengatakan bahwa dia hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah. Hati nurani yang murni ini menjadi penekanan orang-orang Kristen mula-mula di dalam melihat hukum Taurat. Taurat memerintahkan manusia untuk takut akan Tuhan dan tidak hidup cemar. Siapa yang menaatinya memelihara hati nurani yang baik di hadapan Tuhan (1Kor. 10:29, 1Tim. 1:5, 2Tim. 1:3). Di hadapan hukum Allah Paulus tidak bercacat. Dia tidak melanggar apa pun. Bahkan, tanpa disadarinya, pelanggaran yang dia lakukan untuk melawan Allah terjadi sebelum dia menjadi Kristen. Ketika dia dengan kejam menganiaya orang-orang Yahudi yang menjadi Kristen, bukankah dia sedang melanggar hukum Taurat? Setelah dia menerima Kristus, dia terus hidup di dalam cara hidup yang bertanggung jawab kepada Allah.

Selain itu, Paulus juga tidak melanggar hukum Romawi. Dia adalah warga Romawi dan dia tidak mengerjakan apa pun yang membuat dia pantas dibelenggu dengan rantai. Paulus menjalankan kewajibannya sebagai warga Romawi dengan tidak bercacat. Inilah yang membuat dia tidak takut menghadapi penghakiman Allah melalui menghadap para Sanhedrin. Dia tidak melakukan apa yang pantas untuk dihukum, baik dari sisi agama Yahudi, maupun dari sisi pemerintahan Romawi.

Hati nurani murni, baik di hadapan Allah maupun di dalam pandangan pemerintah, inilah yang seharusnya menjadi ujian hidup Kristen kita. Paulus menjalani kehidupan di kedua dunia ini dengan sangat baik. Dia menaati Tuhannya, dan dia menghormati pemerintahnya. Dia menjalankan peraturan Taurat, dan dia tunduk kepada hukum Romawi. Pengadilan apakah yang akan memeriksa dia? Dia dengan berani menghadapkan dirinya, baik ke hadapan wakil-wakil Allah, maupun di depan wakil pemerintahan Romawi. Apakah kita telah menjalankan hidup Kristen kita dengan cara yang sepantasnya? Pengabaran Injil terus disebarkan oleh orang-orang yang setia menjalankan hukum Tuhan, baik hukum Tuhan di dalam Kitab Suci, maupun hukum keadilan dan kebenaran Tuhan melalui wakil-Nya, yaitu pemerintah. Orang Kristen mula-mula dan pemimpin-pemimpin mereka tidak tertarik untuk menggulingkan pemerintahan Romawi. Mereka lebih dulu melatih diri untuk tidak melawan kebenaran dan keadilan Allah dan menjalankan apa yang perlu untuk memelihara ketertiban dan keteraturan melalui peraturan pemerintahan Roma. Pembelaan Paulus terhadap kebenaran Injil yang dia jalani tidak dimulai dari kalimat-kalimat apologia dari mulutnya, tetapi dimulai dari kehidupan yang utuh di hadapan Tuhan dan manusia. Tanggung jawab dan hidup benar menjadi kekuatan apologia yang lebih berkuasa daripada sejuta kata-kata hikmat. Tanggung jawab dan hidup benar menjadi bahan bakar kalimat hikmat yang berapi-api, berkuasa, dan menaklukkan benteng-benteng perlawanan manusia. (JP)