Renungan Harian 398 (Selasa, 1 Oktober 2019)

Pembelaan Paulus #2

Devotion from Kisah Rasul 23:1-11

Pengertian sejarah dan latar belakang dunia Perjanjian Baru

  1. Ayat 2 memperkenalkan pemimpin sidang itu adalah seorang Imam Besar bernama Ananias (menjadi Imam Besar dari tahun 46-52). Ini adalah seorang yang terkenal gila kekuasaan. Kedekatannya dengan orang-orang Roma membuat dia dibunuh ketika terjadi pemberontakan orang Yahudi melawan Romawi di tahun 66. Orang ini menyuruh seseorang menampar mulut Paulus setelah Paulus mengucapkan kalimatnya di ayat 1. Paulus membalas dengan mengatakan bahwa Tuhan akan menampar balik Ananias (terjadi di tahun 66 ketika dia dibunuh oleh kelompok massa dari orang Yahudi sendiri pada sebuah huru-hara). Ucapan Paulus ini, walaupun dia tidak menyadarinya, menjadi seperti nubuatan mengenai apa yang akan terjadi pada Ananias. Salah satu permasalahan yang terus menerus menimpa Israel adalah Imam Besar yang korup. Entah itu korup dalam keuangan, maupun dalam hal kuasa politik. Itulah sebabnya Paulus menyebutnya “tembok yang dikapur putih-putih”, sebagai seruan kepada sebagian besar (kalau tidak mau mengatakan “seluruh”) pemimpin Yahudi itu bahwa mereka semua adalah tembok (kuburan, Mat. 23:27) yang dicat putih, tetapi dalamnya penuh dengan bangkai.
  2. Paulus mengatakan bahwa Tuhan akan menghakimi Ananias karena Ananias melanggar hukum Taurat. Paulus mengatakan pembelaan dan dia tidak mengatakan apa pun yang salah. Hukum Taurat mengatakan bahwa seorang terdakwa patut didengar sebelum dihakimi (Ul. 19:15-21), dan para Sanhedrin seharusnya tahu hal ini (Yoh. 7:51). Menolak untuk memberikan kesempatan seorang terdakwa membela diri adalah melanggar Taurat. Bagaimana mungkin ada hukum yang adil jika seorang terdakwa yang baru saja membuka mulut untuk membela perkaranya telah ditampar pada waktu dia baru mengucapkan satu kalimat saja? Bandingkan perlakuan yang Paulus terima dari bangsa kafir – Romawi – sebelumnya. Mereka melakukan semua prosedur. Menangkap terdakwa, mengamankan, menginterogasi sesuai hak kewargaannya, menghadapkannya ke pengadilan, dan memperlakukannya dengan pantas. Paulus tidak ditampar oleh orang-orang Romawi. Paulus tidak dihukum secara brutal oleh orang-orang Romawi. Tetapi orang Yahudi memukuli dia dan berniat membunuh dia sebelum ada pengadilan apa pun! Orang Yahudi menampar dia sebelum dia sempat menjelaskan pembelaannya sama sekali! Inikah keadilan Allah? Mengapa orang kafir lebih adil daripada umat Tuhan? Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa Tuhan akan menampar anggota Sanhedrin yang mengabaikan keadilan Allah di dalam Hukum Taurat.
  3. Dalam ayat 4 orang-orang yang hadir mengingatkan Paulus bahwa dia sedang menghina seorang Imam Besar. Dalam ayat 5 Paulus tidak melawan lagi, tetapi mengutip Keluaran 22:28. Janganlah mengutuki Allah dan pembesar bangsamu, demikian kira-kira yang dikatakan dalam ayat tersebut. Paulus mengakui kesalahannya dan meminta maaf dengan berkata bahwa dia tidak tahu bahwa orang yang memerintahkan agar dia ditampar adalah Imam Besar. Paulus begitu konsisten. Dia menuntut dewan Sanhedrin itu menaati Taurat, dan dia juga menuntut dirinya menaati Taurat. Maka dia menarik kembali kata-kata kemarahannya kepada Imam Besar dan dia menyatakan pembelaannya bahwa dia tidak tahu kalau Ananias adalah Imam Besar. Paulus tidak tahu kalau Ananias seorang Imam Besar menunjukkan bahwa pengadilan ini belum masuk ke pengadilan resmi. Ini adalah tahap ketika para Sanhedrin mendengar dari terdakwa pembelaannya sebelum diteruskan ke pengadilan resmi. Itulah sebabnya Imam Besar tidak memakai pakaian keimamannya dan Paulus tidak mengetahui bahwa Ananias adalah Imam Besar. Tetapi jika benar ini adalah pra-pengadilan di mana Paulus seharusnya didengar, maka sangat aneh jika Paulus telah ditampar sebelum mengucapkan pembelaannya. Dengan memberikan penghormatan kepada Imam Besar (walaupun korup), Paulus menyatakan diri sebagai orang Yahudi yang taat kepada Taurat. Kemungkinan inilah yang membuat sebagian anggota Sanhedrin mulai menghormati Paulus. Imam Besar Ananias adalah dari golongan Saduki, dan kerelaan Paulus untuk taat meskipun dia tidak salah telah membuat kelompok saingan Saduki, yaitu Farisi, mulai menghormati Paulus.
  4. Potensi perpecahan inilah yang dimanfaatkan Paulus. Ketika kelompok Farisi mulai merasa Paulus diperlakukan secara tidak pantas oleh Imam Besar (yang berasal dari kelompok saingan Farisi, yaitu Saduki), dan Paulus tetap menghormati Taurat di atas emosi dan hak pribadinya untuk membela diri, orang-orang Farisi semakin merasa tidak seharusnya Paulus dihukum. Potensi perpecahan ini akhirnya disulut oleh Paulus dengan kalimat genius yang singkat, tetapi cukup untuk membuat dewan Sanhedrin berubah menjadi kelompok jagoan di pasar. Paulus mengatakan bahwa dia adalah orang Farisi dan dia dihukum karena dia mengharapkan kebangkitan orang mati. Apakah Paulus berbohong? Tidak. Dia memang berharap karena ada kebangkitan Kristus. Karena Kristus yang mati bangkit, maka Paulus berharap pada kebangkitan orang mati. Tetapi siapakah yang akan menghukum seseorang karena berharap kebangkitan orang mati? Orang Farisi pun percaya dan mengharapkan kebangkitan orang mati. Kalau begitu siapakah yang menangkap Paulus? Tentulah orang Saduki! Sebab orang Saduki tidak percaya kehidupan setelah kematian, mereka tidak percaya orang mati akan bangkit, dan mereka juga tidak percaya adanya roh dan malaikat. Perkataan Paulus ini membuat orang Farisi panas. Mereka berteriak agar Paulus dibebaskan. Maka ketika perkelahian antar golongan itu semakin panas, segera kepala pasukan menyelamatkan Paulus sebelum kelompok Sanhedrin itu melukai Paulus.

Renungan untuk hari ini:
Hari ini biarlah kita memikirkan kalimat Tuhan yang menguatkan Paulus di ayat 11. Tuhan mengatakan kepada Paulus untuk tetap menguatkan hati karena Tuhan akan membawa dia ke Roma untuk bersaksi. Yerusalem sangat keras, dan sangat anti kekristenan. Tetapi Roma lebih mengerikan lagi. Mereka anti Yahudi dan tidak ada apa pun dari pengetahuan Paulus maupun statusnya sebagai orang Farisi akan membuat orang Roma menghargai dia. Dari ayat 11 ini kita ketahui bahwa baik pidatonya kepada orang banyak yang berusaha memukul dia sampai mati, pertemuannya dengan kepala pasukan, serta kesempatan berbicara di dalam sidang Sanhedrin, semua ini dipakai Tuhan untuk membuat Paulus bisa mengabarkan Injil kepada mereka. Paulus mengabarkan Injil di dalam pembelaannya di depan orang banyak. Paulus juga tentunya berbincang-bincang dengan kepala pasukan tentang imannya. Paulus juga berbicara di depan dewan Sanhedrin. Ini menunjukkan bahwa kesempatan bagi Yerusalem sudah diberikan untuk terakhir kalinya. Paulus sudah berbicara kepada orang banyak, tetapi ditolak. Tetapi, penolakan orang banyak tidak membuat Tuhan meninggalkan Yerusalem. Pemimpin agamalah yang menjadi kunci apakah Tuhan akan menyatakan Injil-Nya kepada Yerusalem atau sudah akan mengakhiri anugerah bagi Yerusalem. Itulah sebabnya Tuhan memimpin hingga sidang Sanhedrin terbentuk dan Paulus mengabarkan pengharapan Injilnya kepada mereka. Tetapi ketika mereka menolak, kesempatan bagi mereka pun berakhir. Mereka tidak lagi dapat kesempatan mendengar firman Tuhan dari pengabaran Injil Paulus. Setelah ini Paulus akan dipindahkan ke Roma dan Roma akan mendengar Injil melalui Paulus. Sementara itu Israel dan Yerusalem makin ditinggalkan oleh Tuhan. Israel makin tidak menentu dan akhirnya pada tahun 70 Yerusalem dihancurkan dan Bait Allah diratakan dengan tanah.

Keadaan Paulus yang harus dihakimi massa, ditangkap dan diperlakukan seperti penjahat oleh orang Romawi, dan diadili dengan tidak adil, bahkan dipermalukan dengan ditampar oleh pengadilan agama Yahudi, semua ini tentu bukan hal yang diinginkan oleh Paulus ataupun oleh siapa pun. Siapa yang senang diperlakukan seperti ini? Tetapi Tuhan memakai keadaan menakutkan dan menyengsarakan ini sebagai cara untuk Injil-Nya dikabarkan. Bahkan sebagai tahanan Paulus akan dipenjarakan di Roma supaya dia dapat mengabarkan Injil juga di Roma. Tuhan bekerja untuk mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28). Apakah yang disebut kebaikan? Kemajuan seluruh umat Tuhan. Ketika umat Tuhan bertumbuh di dalam iman, ketika gereja Tuhan bertambah banyak dan menyebar terus, ketika semakin banyak orang hidup di dalam Tuhan, ketika semakin banyak orang yang bertobat dan kembali kepada Allah, ketika semakin banyak orang yang hidup dengan cara yang baik dan benar, itulah yang disebut dengan kemajuan seluruh umat Tuhan. Bersediakah kita dilatih sama seperti Paulus telah dilatih? Jika Tuhan memberikan segala kesulitan dan sengsara kepada kita, bisakah kita melihat bahwa Tuhan sedang mendatangkan kebaikan bagi orang lain melalui kita? Bisakah kita mengabaikan bahagia kita demi bahagia Tuhan dan sejahtera umat-Nya? Kiranya Tuhan memampukan mata kita melihat dan hati kita dikuatkan oleh pengertian ini. (JP)