Renungan Harian 400 (Kamis, 3 Oktober 2019)

Surat Klaudius Lisias

Devotion from Kisah Rasul 23:25-35

Pengertian sejarah dan latar belakang dunia Perjanjian Baru
Dalam narasi/bacaan hari ini kita mengetahui bahwa nama kepala pasukan yang menangkap dan melindungi Paulus adalah Klaudius Lisias (ay. 26). Dia menyertakan surat agar Feliks mengetahui mengapa Paulus ditangkap dan dikirimkan kepada dia. Beberapa hal harus kita ketahui sebelum merenungkan bagian ini:

  1. Di dalam surat ini, Klaudius Lisias mengatakan bahwa alasan dia tetap menjaga Paulus, meskipun orang-orang Yahudi menangkap dia, adalah karena Paulus merupakan warga Romawi. Ini alasan pertama yang ditulis Lisias dengan harapan Feliks menjaga Paulus dengan serius. Lisias juga memberikan informasi bahwa dia tidak bisa melepaskan Paulus hingga jelas apa kesalahannya, jika ada, dan apa hukuman yang pantas baginya. Lisias tidak bisa melepaskan Paulus jika belum diadili, dan Lisias juga enggan melepaskan Paulus di Yerusalem dan menjadikan dia sasaran empuk orang-orang Yahudi yang ingin membunuhnya.
  2. Hal kedua yang ditulis Lisias adalah bahwa orang-orang Yahudi itu ternyata menangkap Paulus karena persoalan agama Yahudi, bukan karena Paulus melanggar hukum Romawi. Lisias memastikan Feliks mengetahui hal ini sehingga dia tidak memperlakukan Paulus seperti seorang penjahat. Paulus tidak bersalah, tetapi dia harus diadili dan diputuskan tidak bersalah lebih dahulu barulah dia boleh dilepaskan. Menurut Lisias, Paulus dan para penuduhnya hanya memperdebatkan mengenai hukum Taurat. Pelanggaran terhadap hukum Taurat tidak bisa didakwa dengan dakwaan bagi pelanggar hukum Romawi. Itulah sebabnya kasus Paulus ini tidak bisa diperlakukan secara biasa. Di satu sisi dia harus dilepaskan karena tidak berkait dengan pelanggaran hukum apa pun dalam pandangan Romawi. Di sisi lain, daerah Israel mempunyai hak khusus dari Romawi untuk memberlakukan hukum Tauratnya, bahkan mengenakan hukuman mati pun masih diizinkan oleh Romawi, asalkan dilakukan dengan persetujuan Gubernur Romawi. Tetapi, untuk menambah kebingungan kasus ini, Paulus juga adalah warga negara Romawi yang tidak boleh diperlakukan dengan sembarangan kecuali dia melakukan tindakan pemberontakan terhadap kerajaan Romawi. Ini adalah tugas yang akan membuat Feliks menahan Paulus tanpa kejelasan sampai tiba saatnya Raja Yudea, Agripa II, datang untuk berbicara dengan Paulus dan diinjili oleh Paulus.
  3. Hal yang menjadi pertimbangan bagi kita yang membaca Kisah Rasul adalah kemampuan Lukas memiliki akses ke surat seorang kepala pasukan ke seorang Gubernur Romawi! Ini menunjukkan bahwa relasi Lukas sangat luas, bahkan mencakup orang-orang penting yang memiliki akses ke surat-surat ini. Lukas benar-benar menyusun narasinya dengan ketelitian yang besar dan berdasarkan penyelidikan yang sungguh-sungguh. Dia sangat menyertakan imannya dan keinginannya agar orang mengenal pekerjaan Roh Kudus mengabarkan Kristus, tetapi dia tidak menjadi sembarangan di dalam menyusunnya. Dia mengetahui prosedur pemindahan tawanan Romawi seperti apa, mengetahui perpolitikan Roma, mengetahui keadaan-keadaan yang orang biasa tidak mungkin ketahui. Lukas benar-benar bertanggung jawab di dalam hal iman maupun kesungguhan menulis.
  4. Feliks, setelah menerima surat dari Lisias, memutuskan untuk menghadapkan para Sanhedrin sekali lagi, tetapi bertempat di Kaisarea, di gedung pengadilannya sendiri. Tuhan masih memberikan kesempatan bagi orang-orang ini, yaitu Gubernur Romawi, dan juga dewan Sanhedrin untuk mendengar kesaksian Injil dari Paulus. Paulus akan menyatakan Injil sekali lagi bagi para pemimpin, baik pemimpin politik Romawi, maupun pemimpin agama Israel, sebagai tanda kesabarannya kepada mereka.

Renungan untuk hari ini:
Setelah melewati pasal 21 dan 22, kita akan menyadari satu hal penting di dalam narasi Kisah Rasul. Narasi yang tadinya begitu lincah secara geografis sekarang menjadi statis. Tempat pelayanan Paulus yang tadinya melewati begitu banyak tempat dan memakan waktu berhari-hari, sekarang hanya satu tempat dan narasi yang ditulis begitu lambat bergerak. Jika sebelumnya Lukas menulis hari-hari yang dilewati Paulus hanya dalam beberapa ayat saja, maka sekarang Paulus melewati peristiwa penahanan dan pengadilannya dengan waktu yang bergerak lambat. Ini semua terjadi untuk menggenapi apa yang Tuhan katakan di dalam Kisah Rasul 20:23. Paulus akan mengalami penjara dan sengsara. Betapa sulit bagi Paulus untuk melewati hal ini. Dia terkurung dan hanya menunggu di balik penjara. Paulus yang begitu bebas sebelumnya, yang diutus Tuhan ke kota demi kota, negara demi negara, sekarang harus mendekam sebagai tahanan. Namun Paulus menjalankan apa yang dia katakan di dalam Kisah Rasul 20:24. Dia rela mengalami semuanya dan tetap berjuang untuk menyelesaikan tugas mengabarkan Injil.

Sangat sulit menjadi orang yang berfokus untuk menunaikan pekerjaan yang Tuhan percayakan. Paulus mempunyai fokus yang luar biasa kuat pada tugasnya untuk mengabarkan Injil. Mengapa sulit bagi kita untuk memiliki fokus yang sama? Karena terkadang kita gagal melakukan hal-hal yang kita lakukan untuk Tuhan. Kita bekerja, studi, hidup, berkeluarga, dan segala hal yang lain untuk diri sendiri. Kita tidak peduli Kristus! Kita tidak melakukan hal-hal itu untuk Kristus! Orang Kristen harus mengubah hidupnya! Hidup diubah bukan dengan melakukan hal yang baru, melainkan dengan melakukan yang kita lakukan dengan satu motivasi, yaitu untuk menyenangkan Tuhan. Bekerja, untuk menyenangkan Tuhan. Belajar, untuk menyenangkan Tuhan. Semua adalah untuk menyenangkan Tuhan. Jika saja kita sanggup melakukan hal itu, maka kita akan menjadi terlatih untuk menghadapi segala situasi dengan kekuatan dari Tuhan. Paulus dengan kekuatan dari Tuhan sanggup menghadapi kesulitan hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Dengan kekuatan yang sama dia juga sekarang menghadapi kesulitan tidak bisa pergi ke mana pun sebagai orang tahanan. Dia menjadi tahanan karena Tuhan ingin Klaudius Lisias, Dewan Sanhedrin, Feliks, Festus, dan Raja Agripa, dan Bernike, semua mendengar berita Injil melalui Paulus di dalam penjara.

Apakah yang menjadi kesulitan di dalam hidup kita? Adakah itu membuat kita semakin kuat dan semakin rindu menyelesaikan tugas untuk menyenangkan hati Tuhan? Jika tidak, maka kita tidak akan mungkin mempunyai iman yang cukup untuk memiliki kekuatan melalui semuanya dengan damai sejahtera dan sukacita dari Tuhan.

Doa:
Ya Tuhan, pada hari ini kami ingin memohon kepada-Mu untuk memberikan kepada kami tiga hal. Kami memohon kepada-Mu untuk memberikan kemampuan kepada kami untuk mengerjakan semua yang kami kerjakan demi menyenangkan hati-Mu. Singkirkan hati yang egois dan berikan hati yang rindu menyenangkan-Mu ya Tuhan. Kami juga memohon Tuhan memberikan kepada kami untuk mengerjakannya di dalam segala situasi. Mohon agar situasi apa pun tidak mematikan kerinduan kami. Kiranya Roh Kudus-Mu mempertahankan dan menjaga gairah di dalam hati kami. Kami juga memohon Tuhan rela menganugerahkan kepada kami kemenangan, sukacita, dan damai sejahtera di dalam hati kami. Dengarlah doa kami, ya Tuhan. Amin. (JP)