Renungan Harian 401 (Jumat, 4 Oktober 2019)

Tuduhan Kepada Paulus

Devotion from Kisah Rasul 24:1-9

Latar Belakang Dunia Perjanjian Baru
Ketika pengadilan Paulus akan dimulai, rombongan Imam Besar dan penatua datang dengan diwakili oleh seorang pengacara bernama Tertulus. Kemungkinan besar orang itu adalah seorang Yahudi tetapi telah hidup di dunia Yunani dan memahami hukum, serta seni retorika dan seni berbicara di depan orang banyak. Seni retorika dikuasai oleh Tertulus, dan ini terbukti dari pembicaraannya dalam menuduh Paulus. Yang pertama dia memulai exordium (pendahuluan) dengan menyanjung-nyanjung Feliks (ay. 2). Memuji-muji sang pemimpin adalah suatu kebiasaan di dalam retorika. Yang kedua dia menyampaikan di awal bahwa pidatonya untuk membela orang-orang Yahudi dan untuk menuntut Paulus dihukum, adalah pidato yang akan berlangsung singkat (ay. 4). Kerendahan hati untuk meminta waktu sang pemimpin, sekaligus janji bahwa dia tidak akan membuang-buang waktu sang pemimpin adalah kebiasaan di dalam ilmu retorika. Tetapi, anehnya, walaupun Tertulus sangat memahami bagaimana berbicara di dalam pengadilan, dia tidak bisa memaparkan kesalahan Paulus dengan cara yang meyakinkan. Ini terjadi karena Paulus memang tidak bersalah. Tertulus tidak bisa menuduh bahwa Paulus memberontak kepada otoritas Romawi. Tertulus juga tidak bisa menuduh Paulus melakukan suatu tindakan kejahatan apa pun yang berdasarkan hukum Romawi membuat Paulus harus dihukum. Dia hanya menyebut Paulus “penyakit sampar yang membuat kekacauan”. Kekacauan seperti apa yang dimaksud? Tertulus tidak mengatakannya. Tidak ada tuduhan apa pun yang tajam dan cukup untuk menyeret Paulus dihukum berdasarkan hukum Romawi. Setiap kali terjadi pertikaian akibat tradisi agama Yahudi, para pemimpin Romawi biasanya enggan ikut campur (Kis. 23:29, 18:14-15). Tetapi Tertulus tidak bisa mempresentasikan kesalahan Paulus yang akan membuat dia dijatuhi hukuman oleh orang Romawi. Paulus tidak bersalah, dan tidak ada permainan retorika oleh orang seahli apa pun yang dapat mempersalahkan dia.

Hal kedua yang ditekankan Tertulus adalah permohonan untuk menghakimi Paulus berdasarkan aturan hukum Taurat Yahudi. Di dalam ayat 6 Tertulus mengatakan bahwa sebenarnya Paulus sudah akan dihakimi menurut cara orang Yahudi, tetapi kepala pasukan, yaitu Lisias, merebut Paulus dengan kekerasan (ay. 6-7). Ini adalah penyimpangan dari kebenaran. Paulus tidak sedang dihakimi. Menurut hukum Taurat, dia harus diadili di depan para imam dan diizinkan mengucapkan pembelaan, sebelum keputusan dijatuhkan dan hukuman dijalankan (Ul. 19:15-21), tetapi yang terjadi di dalam Kisah Rasul 21:30-32 adalah pemukulan kejam oleh massa. Ini bukan pengadilan sama sekali! Tetapi Tertulus mendistorsi kebenaran demi mendapatkan kesempatan untuk mengadili Paulus berdasarkan cara Yahudi.

Menggabungkan kedua hal di atas, menjadi jelas bahwa Tertulus berstrategi untuk membuat Feliks, sang Gubernur Romawi, tidak melanjutkan pengadilan Paulus dengan cara Romawi, tetapi menyerahkan Paulus kepada para pemimpin Yahudi untuk dihakimi berdasarkan cara Yahudi. Inilah strategi yang dilakukan oleh Tertulus. Kemudian Tertulus menutup retorikanya dengan mengatakan bahwa apa yang dia katakan bahkan bisa dikonfirmasi oleh Paulus sendiri. Jika saja Feliks menanyakan kepada Paulus, maka kebenaran akan terungkap, yaitu bahwa Paulus memang seharusnya diadili oleh pengadilan Yahudi di bawah hukum Taurat. Ini penutupan yang lebih berupa gertakan daripada fakta. Inilah Tertulus, sang ahli retorika, yang dengan kelicikannya memutarbalikkan fakta, yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi benar.

Untuk direnungkan:
Satu hal yang dapat kita pikirkan di dalam bacaan hari ini adalah kejahatan para Sanhedrin dan Imam Besar yang mengabaikan keadilan demi fanatisme agama. Mereka menuduh Paulus, tetapi tuduhan palsu yang dikemukakan orang-orang Yahudi itu sangat tidak beralasan. Mereka menangkap dan memukuli Paulus pada waktu dia sedang menjalankan ibadah yang sangat penting sesuai dengan ajaran Taurat. Mereka melakukannya tanpa menaati cara Taurat. Merekalah yang melanggar hukum Taurat dengan menangkap dan memukuli orang tanpa terlebih dahulu diadili. Tetapi mereka menuduh Pauluslah yang melanggar hukum Taurat. Semua permainan fasik mereka makin terbukti dari tidak adanya bukti atas tuduhan-tuduhan yang mereka lemparkan kepada Paulus. Mereka menganggap Paulus melanggar hukum Taurat karena dia melanggar kesucian Bait Allah (ay. 6), tetapi mereka tidak bisa menyebutkan secara spesifik apakah kesalahan yang membuat kesucian Bait Allah itu dilanggar? Mereka menuduh Paulus membawa orang-orang non Yahudi ke dalam Bait Allah, tetapi tuduhan itu tidak ada bukti sama sekali (Kis. 21:29). Mengapa mereka dapat menjadi selicik ini? Mereka mengabaikan nalar, rasio, dan keadilan, demi fanatisme agama. Agama yang dianut secara buta dan fanatik pastilah agama yang salah. Agama yang dibela sampai mengabaikan kebenaran pastilah agama dari setan. Apakah agama Yahudi dari setan? Tentu tidak. Tuhan sendirilah yang mewahyukan Kitab Suci Perjanjian Lama yang menjadi Kitab Suci orang Yahudi. Tetapi penafsiran yang salah atas Kitab Suci itu, serta fanatisme membabi-buta yang mereka miliki menjadikan agama Yahudi agama yang buta dan tuli terhadap kebenaran Allah. Dan agama apa pun yang buta dan tuli terhadap kebenaran Allah adalah agama milik setan. Mengapa orang bisa demikian tidak sensitif kepada Allah dan keadilan-Nya, tetapi begitu sensitif kalau menyangkut agamanya? Fanatisme agama telah menjadi penyakit dari zaman Kitab Kisah Rasul ini hingga zaman kita sekarang. Orang-orang buta yang tidak lagi bisa berpikir sehat (karena merasa berpikir sehat itu bukan dari Allah) adalah orang-orang yang menghina Allah karena cara berpikir yang sehat dan keadilan yang sepantasnya tidak lagi dipedulikan. Seolah-olah Allah yang mereka sembah adalah Allah yang buta, tuli, dan tidak bisa berpikir sehat. Orang-orang ini tidak mempermuliakan Allah. Mereka mempermalukan Allah dengan menganggap bahwa Dia tidak berkuasa untuk menghakimi segala kelicikan dan kebutaan mereka.

Kelicikan mereka membuktikan kejahatan mereka, sekaligus membuktikan kebenaran Paulus. Tidak ada orang benar yang perlu bertindak licik. Tidak ada orang jahat yang dapat bertindak jujur. Orang jahat harus licik, karena jika tidak demikian, tujuan hatinya yang jahat tidak akan bisa dipenuhi. Keserakahan, kebencian, kesombongan, dan semua kejahatan hati lainnya harus dicapai dengan kelicikan. Siapa yang ingin mencapai tujuan-tujuan yang berdosa harus menjadi orang yang licik juga. Sebaliknya, orang yang benar tidak perlu bertindak licik. Semua yang dia mau capai di dalam kebenarannya adalah hal-hal yang akan Allah sendiri perjuangkan bagi mereka. Orang benar ingin menjadikan dirinya berkat bagi orang lain. Allah akan menggenapi hal ini. Orang benar ingin keadilan dinyatakan. Allah akan menggenapi hal ini. Orang benar ingin memperbaiki diri dan memelihara kekudusan hidup. Allah akan menggenapi hal ini. Semua yang ingin dikerjakan oleh orang benar hanyalah hal-hal yang diperkenan Allah dan menyenangkan hati Allah. Itulah sebabnya tidak ada pekerjaan orang benar yang tidak dibuat berhasil oleh Allah (Mzm. 1:3). Paulus dengan sabar menanti di dalam penjara dan di dalam ruang pengadilan. Tanpa perlu mengemukakan pembelaan apa pun orang dapat segera mengetahui mana yang benar dan mana yang licik dan jahat. Langsung menjadi jelas bahwa keinginan orang-orang Yahudi adalah supaya Paulus dibunuh. Mereka tidak ingin keadilan. Mereka pun tidak bisa memberikan tuduhan yang terbukti dengan jelas.

Doa:
Tuhan, peliharalah hidup kami, sehingga kebenaran-Mu dapat terus terpancar di dalam hidup kami. Jangan biarkan kami memahami Tuhan dengan cara yang buta dan fanatik, tetapi biarlah kami memahami siapa Tuhan dan mengadopsi sifat-sifat mulia yang Tuhan miliki. Amin. (JP)