Renungan Harian 403 (Minggu, 6 Oktober 2019)

Pengadilan Kedua

Devotion from Kisah Rasul 25:1-12

Kisah Rasul 24:27 mengatakan bahwa Paulus berada di dalam penjara selama dua tahun pada masa pemerintahan Feliks. Feliks mengenakan tahanan ringan bagi Paulus sehingga Paulus tetap bisa bertemu dengan sahabat-sahabatnya (Kis. 24:23). Tuhan mengizinkan Paulus mendapatkan istirahat dari perjalanan-perjalanan penginjilannya dengan cara yang unik, yaitu di dalam penjara. Di dalam penjara, Paulus masih tetap dapat berbicara untuk mengajar dan menguatkan orang-orang yang datang kepadanya, bahkan di dalam penjara Paulus masih tetap bisa mengabarkan Injil melalui menulis surat dan melalui berbicara kepada orang-orang yang mengunjungi dia, termasuk Feliks sendiri (Kis. 24:24-25). Inilah cara Tuhan agar Paulus mengabarkan Injil kepada sang gubernur. Walau begitu berat bagi Paulus, tetapi dia telah bersedia untuk berada di dalam situasi apa pun jikalau itu berarti Injil Tuhan dapat diberitakan (Kis. 20:24). Tetapi ternyata perjalanan penginjilan Paulus belum akan berakhir. Tuhan akan memimpin dia pergi ke Roma dengan cara yang tidak disangka sebelumnya.

Kisah Rasul 24:27 mengatakan bahwa Feliks digantikan oleh seorang gubernur baru bernama Perkius Festus. Sebagai orang baru, Festus ingin memastikan kedudukannya secara politik stabil. Dia ingin menjaga relasi dengan orang-orang di daerah pemerintahannya, terutama orang-orang Yahudi. Salah satu tindakan yang dia ambil dalam hal ini adalah membiarkan Paulus berada di dalam penjara. Pembelaan Paulus yang telah dinyatakan (dan tidak terbantahkan) di dalam Kisah Rasul 24:10-21 sebenarnya harus membuat Paulus bebas. Feliks tidak memiliki alasan yang cukup berdasarkan hukum Romawi untuk tetap menahan Paulus. Tetapi bukan saja Feliks tetap menahan Paulus dan berharap memperoleh uang suap (24:26), Feliks membiarkan dia tetap dipenjara hingga akhir masa jabatannya. Dia tidak membereskan perkara Paulus dan membiarkannya menggantung selama dua tahun hingga akhirnya dia tidak lagi menjabat. Ini merupakan tindakan tidak bertanggung jawab dan sembarangan. Membiarkan orang yang tidak terbukti bersalah tetap di dalam penjara, menunda-nunda menyelidiki hingga tuntas, menolak mengambil keputusan yang benar, dan mencari-cari celah untuk uang suap, ini semualah yang dilakukan oleh Feliks. Benar-benar mirip banyak pejabat korup pada zaman ini! Pejabat korup memang tidak pernah berubah dari zaman ke zaman. Tetapi setelah itu, pada zaman Festus, Paulus tetap dipenjara. Festus tetap menahan Paulus untuk menenangkan hati orang-orang Yahudi yang memusuhi Paulus sekaligus mempelajari kasus yang terjadi ini. Di dalam catatan selanjutnya terlihat bahwa Festus lebih baik daripada Feliks. Festus berusaha berbuat adil, meminta petunjuk orang lain, dan memberikan hak yang seimbang baik bagi Paulus sebagai orang tahanan maupun kepada orang-orang yang menuntut Paulus.

Kisah Rasul 25:3 menyatakan bahwa orang-orang Yahudi masih juga berusaha membunuh Paulus. Dua tahun berlalu dan kebencian mereka belum juga surut! Mereka tetap ingin membunuh Paulus. Tetapi sebagaimana Allah senantiasa menjaga Paulus sebelum waktunya dia pulang ke surga, demikian juga Allah melindungi Paulus dari tangan orang-orang Yahudi. Tuhan membangkitkan Festus yang memiliki perasaan tanggung jawab dan keadilan yang lebih baik daripada Feliks. Festus inilah yang dipakai Tuhan untuk menjaga Paulus dari rencana jahat orang Yahudi. Sama seperti Tuhan memakai raja-raja Persia untuk melindungi umat-Nya yang kembali dari pembuangan, demikian sekarang Dia memakai seorang gubernur Romawi. Tuhan berkuasa atas raja-raja dan penguasa-penguasa. Dia berhak memakai mereka sesuka-Nya demi kepentingan pekerjaan-Nya.

Di dalam ayat ke-8 terlihat bahwa Paulus tetap dengan pembelaan yang sama. Pembelaan yang di dalam pengadilan terakhir telah terbukti tidak dapat dibantah. Paulus bukan sedang memamerkan kemampuan berkata-kata yang dia miliki, tetapi dia sedang menyatakan kebenaran. Sebagaimana dua tahun lalu, demikian juga sekarang kebenaran tetap sama. Dia tidak bersalah kepada otoritas manapun yang Tuhan bangkitkan untuk menyatakan keadilan-Nya. Dia tidak bersalah di dalam melanggar Taurat, dan dia juga tidak bersalah di dalam melanggar hukum. Tidak ada hal yang dapat membuat mereka mempersalahkan Paulus. Inilah buah dari hidup yang penuh dengan ketaatan. Tidak ada hal cemar apa pun yang dapat dibongkar dari kehidupan Paulus karena dia memang hidup dengan bersih. Itulah sebabnya Paulus berani menasihati Titus untuk menjadi teladan di dalam berbuat baik (Tit. 2:8). Paulus sendiri telah terlebih dahulu memelihara hidupnya dengan sebaik mungkin sehingga dia tidak dapat dipersalahkan. Inilah hal yang ditekankan Paulus di dalam Titus 2:8. Jikalau kita dengan sungguh-sungguh memelihara hidup kita, maka lawan-lawan kita akan malu karena fitnahan yang telah mereka lemparkan kepada kita. Demikian juga selama lebih dari dua tahun para pemimpin agama Yahudi hanya melemparkan fitnahan yang tidak terbukti.

Tetapi hukum yang dibalut “politik kepentingan” membuat Festus tidak bisa sepenuhnya adil. Dia tetap tidak bisa lepas dari usaha untuk mengambil hati orang-orang Yahudi. Atas usulan orang-orang Yahudi dia menawarkan Paulus untuk melanjutkan pengadilan di Yerusalem (ay. 9). Ini adalah permintaan yang absurd. Para pemimpin agama tidak berhak mengadili perkara ini, sehingga seharusnya di tempat pengadilan sang gubernur di Kaisarea inilah perkara Paulus harus diputuskan. Tetapi orang-orang Yahudi telah menyiapkan rencana untuk membunuh Paulus di dalam perjalanan menuju Yerusalem. Paulus yang melihat ketidakberesan dari tawaran Festus ini protes dengan keras. Kaisarea, tempat pengadilan gubernur diadakan ini haruslah mengadili hal-hal yang sifatnya pelanggaran hukum, apalagi jika kasus yang terjadi melibatkan seorang warga negara Romawi seperti Paulus. Paulus dengan tegas menolak pergi ke Yerusalem. Dia bahkan menjalankan haknya sebagai warga Roma untuk naik banding dan diadili oleh Kaisar sendiri. Ini adalah keputusan yang berat karena untuk seorang diadili oleh Kaisar, tentu akan memakan waktu sangat lama. Keputusan ini membuat Paulus harus terus mendekam di penjara hingga tiba saatnya diadili oleh Kaisar. Tetapi keputusan ini dibuat berdasarkan gerakan dari Roh Kudus yang memang akan membawa Paulus ke Roma untuk bersaksi bagi Kristus di sana.

Untuk direnungkan:
Bacaan hari ini memberikan kita pandangan yang sangat akurat tentang dunia nyata yang kita hadapi saat ini. Pemerintahan yang harus jeli menentukan posisi, keputusan yang tidak segampang menentukan hitam dan putih, desakan dari kaum agamawan yang korup, dan orang benar yang diperlakukan tidak adil. Ini adalah hal-hal yang terjadi sejak zaman dulu hingga sekarang. Pemerintah yang berusaha bertindak benar pun tidak lepas dari desakan-desakan politis yang melelahkan. Menjadi benar secara politik sudah menjadi tujuan utama para pemimpin, bukan lagi menjadi benar karena kebenaran itu sendiri. Bertindak sesuai dengan persetujuan massa menjadi lagu lama yang terus diulang-ulang hingga saat ini. Apakah penghiburan bagi orang-orang yang mau ikut Tuhan di dalam dunia yang terus memainkan tema yang sama ini? Bacaan kita hari ini menjawabnya. Penghiburan kita adalah Tuhan kita berkuasa untuk memakai kekacauan yang terjadi untuk menyatakan keagungan Injil-Nya. Dia terus bekerja. Di tengah-tengah kesulitan bertindak benar karena desakan pihak-pihak yang korup, Dia tetap bekerja. Di tengah-tengah kehidupan pemimpin agama yang bobrok dan busuk, Tuhan tetap bekerja. Apakah yang Dia kerjakan? Dia mengerjakan karya-Nya menyatakan Sang Anak Allah, Sang Mesias, Yesus Kristus. Dialah pemimpin sejati yang tidak akan digoyahkan oleh kepentingan politik siapa pun! Dialah pemimpin sejati yang akan menghukum dengan sangat ngeri para pemimpin agama yang busuk! Dialah yang akan membela dan melindungi orang-orang benar yang tertindas. Dialah yang akan menyatakan bahwa harapan itu ada oleh karena Dia. Ya, hanya karena Dialah pengharapan itu tetap ada. Hanya karena janji-Nya akan datang kembali, maka kita berpegang pada Dia di tengah-tengah dunia yang rusak ini. Hanya karena Dia, yang berkuasa atas segala sesuatu, maka kita dengan berani melangkah di dalam keadaan apa pun yang terjadi di dunia ini. (JP)