Renungan Harian 404 (Senin, 7 Oktober 2019)

Raja Agripa

Devotion from Kisah Rasul 25:13-27

Di dalam bacaan hari ini Festus menerima kunjungan dari Raja Herodes Agripa II (dalam bacaan hari ini ditulis hanya sebagai “Agripa”). Ini adalah anak dari Raja Herodes Agripa I. Agripa I adalah raja yang mati karena kesombongannya (Kis. 12:20-23). Meskipun Herodes Agripa I merupakan raja yang sombong dan kejam, tetapi sejarah mencatat bahwa pendahulunya, yaitu Antipas dan Herodes Agung jauh lebih jahat. Raja Herodes Agripa II tidak sama seperti raja-raja pendahulunya dari dinasti Herodes. Ini adalah raja dari dinasti Herodes yang paling baik. Dia juga adalah raja terakhir dari dinasti Herodes.

Ayat 13 mengatakan bahwa Agripa II dan adik perempuannya, Bernike, datang untuk mengunjungi Festus. Ini adalah kunjungan yang wajar dari seorang pemimpin kepada pemimpin lain yang baru saja diangkat untuk memerintah. Kedatangan mereka disambut oleh Festus dengan kabar tentang Paulus. Festus ingin agar Raja Agripa II yang terkenal sangat mengerti agama Yahudi dan merupakan raja yang menjalankan perintah agama Yahudi dengan baik, memberikan pendapatnya mengenai perkara Paulus agar ketika Paulus dikirim ke Roma untuk diadili oleh Kaisar, Festus dapat menyampaikan surat keterangan yang akurat mengenai perkara Paulus kepada Roma.

Di dalam ayat-ayat selanjutnya, Festus memaparkan pandangan yang sebenarnya cukup akurat tentang perkara Paulus. Dia menggambarkan perkara itu sebagai permasalahan yang lebih cocok digolongkan kepada perdebatan agama, bukan perkara kriminal, apalagi pemberontakan kepada pemerintah. Tetapi jika perkara Paulus tidak berkait dengan perkara kriminal ataupun pemberontakan, mengapa tuntutan yang diberikan oleh para imam kepala adalah tuntutan mati? Pantaskah Paulus dihukum mati? Menurut Festus tentu saja tidak (ay. 25). Tetapi dia ingin kepastian dari Agripa, bukan mengenai apakah Paulus pantas dihukum mati atau tidak, tetapi lebih kepada berita apa yang harus dia sampaikan ke Roma tentang kejadian ini. Festus bukanlah orang yang bodoh. Dia mengetahui bahwa iri hati dan fanatisme buta yang ekstrem dari orang-orang Yahudilah yang membuat mereka ingin membunuh Paulus. Agripa menerima permintaan Festus dan ingin mendengar sendiri dari Paulus tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Tuhan memanggil Paulus untuk mengabarkan Injil kepada bangsa-bangsa lain, kepada orang Israel, dan kepada raja-raja (Kis. 9:15). Paulus telah mengabarkan Injil kepada bangsa-bangsa lain, dan di dalam bagian ini Kisah Rasul mencatat peristiwa pengabaran Injil oleh Paulus kepada pemimpin-pemimpin agama di Yerusalem melalui cara yang unik, yaitu pengadilan. Juga di dalam pasal 25 ini dikisahkan pengabaran Injil oleh Paulus kepada Raja Agripa. Apa yang Tuhan inginkan Paulus kerjakan di dalam panggilannya, semua dikerjakan olehnya dengan setia. Paulus menggenapi segala hal yang Tuhan inginkan dia lakukan. Tetapi kita juga dapat melihat bahwa Paulus berhasil melakukan semua ini juga karena Tuhan yang mau memakai dia. Termasuk di dalam bacaan kita hari ini, Paulus dapat mengabarkan Injil kepada Raja Agripa karena Festus ingin pendapat Agripa mengenai laporan yang harus dia tuliskan ke Roma untuk mengantar Paulus yang telah naik banding dan akan diadili di Roma. Tuhanlah yang merancang supaya Raja Agripa bisa mendengar Injil.

Untuk direnungkan:
Raja Agripa II adalah raja yang sangat giat di dalam berusaha menaati ajaran agama Yahudi. Dia, tidak seperti dinasti Herodes lainnya, memiliki hati yang bergiat bagi Tuhan lebih daripada menjalankan hidup dengan liar dan serakah. Berbeda dengan ayahnya, Raja Agripa I, yang hidup dengan begitu kacau dan dengan berani menghina Tuhan, Raja Agripa II menghormati Tuhan dan sangat banyak memberikan dana untuk membangun rumah ibadah Yahudi dan memperbaiki Bait Allah. Tetapi apakah itu semua cukup? Belum. Raja Agripa harus juga mendengar berita Injil. Begitu banyak orang yang merasa bahwa segala perbuatan yang menjadi keuntungan bagi orang lain akan membawa manusia lebih gampang ke surga. Apalagi jika yang berbuat baik adalah seorang pemimpin yang berasal dari dinasti yang terkenal jahat, licik, dan penuh kotoran. Dibandingkan dengan ayahnya, bukankah Raja Agripa II ini jauh lebih baik? Tetapi itu semua tidak cukup. Dia perlu menyadari betapa besar dosanya dan dia harus melihat dengan iman kepada Kristus yang menebus dosanya dengan sempurna. Dia perlu berita Injil. Dia perlu Paulus untuk mengabarkan Injil kepada dia. Tetapi apakah dia menyadari hal ini? Tidak. Orang berdosa tidak pernah sadar akan kebutuhan rohani. Kita sadar bahwa kita memiliki kebutuhan rohani? Kita begitu mudah sadar kalau kurang makanan, kurang pendapatan, kurang harta, kurang tabungan, tetapi kita terlalu kebal terhadap kecemaran dan penyakit di dalam jiwa kita.

Raja Agripa II yang memerlukan Injil, dan Tuhan mengirimkan Paulus untuk berbicara tentang Kristus kepada dia. Tetapi cara Injil ini diberitakan sangatlah unik. Paulus memberitakan berita Injil dari keadaan sebagai seorang tahanan. Agripa mendengarkan dia sebagai raja wilayah orang Yahudi. Paulus memberitakan sebagai orang yang membela perkaranya untuk dinilai oleh Agripa dan Agripa mendengarkan dia sebagai orang yang berhak menghakimi dan menilai perkara Paulus. Tetapi yang sebenarnya terjadi berlawanan dengan yang terlihat. Pauluslah yang memiliki berita yang membebaskan manusia. Pauluslah yang memiliki berita tentang Sang Raja sejati yang membebaskan Israel. Pauluslah yang sedang menghakimi ketidakpercayaan Raja Agripa II jika dia menolak berita yang Paulus kabarkan. Sang tahanan ini adalah sebenarnya orang yang telah dibebaskan oleh Kristus dari dosa dan maut, sedangkan sang raja adalah orang yang masih berada dalam belenggu dosa dan maut. Sang rajalah yang memerlukan sang tahanan, tetapi keadaan di dalam pandangan dunia terlihat begitu berbeda.

Keadaan ini menunjukkan fakta bahwa penghakiman dari Kerajaan Allah belum dinyatakan secara sempurna. Bacaan kita hari ini menunjukkan keadaan di mana seorang hamba Tuhan masih harus memberikan pertanggungan jawab kepada pemerintah yang sewenang-wenang. Keadaan di mana orang agung yang berguna bagi kemanusiaan seperti Paulus harus berada di balik jeruji penjara sedangkan para pemimpin munafik yang pandai menjilat menduduki kursi pendakwa. Tidak semua yang dilihat memakai kacamata dunia ini adalah akurat. Gambaran Paulus sang terdakwa yang nasibnya bergantung kepada pemimpin dunia ini adalah salah. Gambaran yang seharusnya adalah para pemimpin dunia ini sangat bergantung kepada berita yang Paulus akan bagikan kepada mereka. Mereka yang memerlukan Paulus, bukan sebaliknya. Mereka tidak menentukan nasib Paulus, Pauluslah yang menentukan keselamatan mereka dengan kerelaannya membagikan berita Injil sesuai kehendak Tuhan.

Biarlah setelah merenungkan bagian ini kita semua menjadi lebih bijak. Mungkin di dalam pandangan dunia kita berada dalam posisi seperti Raja Agripa. Dianggap berarti karena memiliki kedudukan, uang, atau kepandaian. Tetapi, seperti juga Raja Agripa, kita semua tidak bisa mendongkrak keadaan kita dengan kedudukan, uang, kepandaian, bahkan kesalehan beragama kita. Ada orang-orang yang memiliki kedudukan jauh lebih mulia di dalam pandangan Tuhan, tetapi Tuhan tidak nyatakan kemuliaan itu untuk dihargai oleh dunia ini. Tuhan melihat Agripa bukan sebagai orang besar yang mengagumkan, tetapi sebagai pendosa yang memerlukan Injil. Biarlah kita datang di hadapan Tuhan dengan pengertian akan nilai diri yang tepat, yaitu bahwa kita memerlukan berita Injil Kristus karena kita hanyalah pendosa besar yang layak dibinasakan. (JP)